Refleksi Menjelang Ramadhan
Tanpa terasa, jejak-jejak Ramadhan akan kembali hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Sebuah momentum yang amat ditunggu-tunggu umat muslim di berbagai belahan dunia. Kehadiran bulan suci diharapkan akan memberikan ”pencerahan” baru setelah (hampir) setahun lamanya kita bersikutat dengan persoalan-persoalan duniawi yang tak jarang membuat kita abai terhadap nilai-nilai spiritual. Dalam pandangan awam saya, ibadah puasa di bulan Ramadhan tak cukup hanya dimaknai secara lahiriah dengan menahan diri dari makan dan minum, tetapi justru yang lebih... (Selanjutnya bagaimana?)
Saya Sedang Mencari Tuhan
Untuk ke sekian kalinya, Aula Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi, Kabupaten Kendal, menjadi saksi sebuah perhelatan sastra. Minggu, 24 Agustus 2008 (pukul 09.00-13.30), penyair Dharmadi (Purwokerto) hadir menemui publik sastra Kendal. Tak kurang, sekitar 100 peminat dan pencinta sastra dari kalangan guru, mahasiswa, siswa SMP/SMA/MAN, dan masyarakat umum mengapresiasi sekaligus membedah teks-teks puisi karya penyair kelahiran Semarang, 30 September 1948, itu. Secara khusus, penyair yang kini menetap di Tegal (Jateng) itu mendedahkan antalologi... (Selanjutnya bagaimana?)
Tragedi Pasca-Pesta Karnaval
Dalang: Ki sawali Tuhusetya Sesuai sumpahnya, Bhisma tak akan terusik persoalan duniawi. Harta, tahta, dan wanita, sudah tak ada lagi dalam kamus hidupnya. Kecintaannya pada Hastina, negeri besar yang telah melahirkan dan membesarkannya, melebihi kecintaannya pada diri sendiri. Sebagai lelaki normal, sesekali dia ingin juga mencium aroma ketiak perempuan yang sanggup merangsang naluri kelelakiannya. Lantas, menuntaskan gairah asmara yang berlipat-lipat di dalam keremangan sebuah bilik bertaburkan bunga-bunga narwastu dari syurga. Namun, keteguhan... (Selanjutnya bagaimana?)
Yang Tersisa Setelah “Pesta” Karnaval
Sudah jadi “ritual”, 17 Agustus-an tanpa karnaval, agaknya seperti ijab kabul tanpa dilanjutkan makan-makan. Entah sejak kapan bangsa kita memulainya. Yang jelas, karnaval seperti telah menjelma jadi sebuah “pesta”. Rakyat jadi gegap-gempita menyambutnya. Begitulah yang terjadi di Kendal, 18 Agustus 2008 kemarin. Matahari yang memanggang bumi, agaknya tak menyurutkan semangat para peserta maupun penonton untuk menuntaskan kemeriahan “pesta” itu. Jalur Pantura yang memang sudah biasa padat-merayap jadi makin macet total sejak... (Selanjutnya bagaimana?)
Tulisan Terbaru
Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global (93 pembaca)Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender (183 pembaca)
Dunia Pendidikan, Realitas Sosial, dan Ujian Nasional (199 pembaca)
Mencermati Pembusukan Penggunaan Bahasa Indonesia (392 pembaca)
Makna Kekerabatan di Balik Mudik Lebaran (392 pembaca)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H (491 pembaca)
Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup (376 pembaca)
Refleksi Menjelang Lebaran (233 pembaca)
Di manakah Allah ? (128 pembaca)
Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam” (266 pembaca)














