Home » Opini » Kemerdekaan, Ramadhan, dan Bangsa yang Berdaulat

Kemerdekaan, Ramadhan, dan Bangsa yang Berdaulat

Bulan Agustus tahun-tahun sebelumnya, saya masih bisa merasakan geliat kampung kami menyongsong dan memeriahkan hari kemerdekaan. Bendera Merah-Putih, umbul-umbul, pekik merdeka, lagu-lagu Hari Kemerdekaan, puisi-puisi heroik, berbaur dalam kemeriahan suasana yang serba-heroik dan mengharukan. Acara lomba marak digelar dengan melibatkan anak-anak, remaja, hingga orang tua, jauh-jauh hari sebelum puncak acara 17 Agustus-an berlangsung. Namun, geliat kemeriahan itu sungguh berbeda untuk tahun ini. Mungkinkah lantaran berbarengan dengan hadirnya bulan suci Ramadhan hingga akhirnya –seperti dikomando—berbagai acara lomba dan gebyar Agustus-an ditiadakan?

proklamasi kemerdekaanYa, ya, kalau kita melakukan kilas balik sejarah, Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 Tahun Masehi, atau 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, memang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Bisa jadi, ini bukan karena faktor kebetulan semata, melainkan ada siratan makna simbolik yang menggabungkan antara nilai perjuangan dan spiritual dalam melahir-wujudkan sebuah negeri yang merdeka.

Sebagaimana kita ketahui, detik-detik menjelang proklamasi merupakan masa-masa yang sarat dengan ketegangan. Dalam versi wikipedia disebutkan bahwa perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 – 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.[4]. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.

Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.

Setelah itu, Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.
***

Detik-detik proklamasi yang menegangkan itu memang telah jauh melewat. Namun, peristiwa heroik yang telah mencapai rentang usia 66 tahun mustahil akan terlupakan dalam memori bangsa. Dari generasi ke generasi, proklamasi kemerdekaan, dengan berbagai macam bentuk dan cara, akan terus dikenang sebagai bagian dari sejarah bangsa yang telah memakan banyak korban.

Tahun ini, meski berkurang kemeriahannya lantaran hadirnya suasana khusyu’ dalam bulan Ramadhan, detik-detik proklamasi juga akan tetap dikenang sebagai bagian dari dinamika peradaban bangsa yang merdeka dan berdaulat. Kita semua berharap, usia kemerdekaan yang sudah mencapai tahap “kematangan” sebagai sebuah bangsa, mudah-mudahan kaum elite yang kini berada di puncak tahta kekuasaan, tak akan melupakan rakyatnya yang masih banyak yang hidup dalam suasana ketidakadilan dan ketidakmakmuran. Kita juga sangat berharap, negeri yang sempat porak-poranda akibat pergantian rezim ini pamornya kembali cemerlang mengangkasa dan mampu mengabarkan kepada dunia bahwa bangsa kita yang berdaulat ini mampu membangun bangsa di atas kaki sendiri; bukan belas kasihan bangsa lain.

Yang tidak kalah penting, tema HUT ke-66 Proklamasi Kemerdekaan sebagaimana telah dibentangkan dalam slogan dan spanduk megah:

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kesadaran Hidup dalam ke-Bhinneka-an untuk Kokohkan Persatuan NKRI, Kita Sukseskan Kepemimpinan Indonesia dalam Forum ASEAN untuk Kokohkan Solidaritas ASEAN

Semoga bisa menjadi spirit bangsa untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan terhormat. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Kemerdekaan, Ramadhan, dan Bangsa yang Berdaulat" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (9 Agustus 2011 @ 03:44) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 31 komentar dalam “Kemerdekaan, Ramadhan, dan Bangsa yang Berdaulat

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *