08Nov 2009 112 Comments
Nilai-nilai Kearifan Lokal di Balik Misteri Indonesia
Judul buku: Misteri-misteri Terbesar Indonesia 2
Pengarang: Haris Firdaus
Penerbit: Katta, 2009 (Solo)
Edisi: Cetakan pertama, November 2009
Tebal: 192 halaman
Satu lagi, buku baru telah lahir dari tangan seorang Haris Firdaus. Lelaki muda berusia 23 tahun yang juga penggiat Komunitas di Kabut Institut Surakarta ini agaknya tak pernah kekeringan ide untuk menumpahkan kreativitasnya. Usai menerbitkan buku Misteri-misteri Terbesar Indonesia, setahun kemudian muncul buku Misteri-misteri Terbesar Indonesia 2 (MTI 2) yang bisa jadi dimaksudkan sebagai “bukti historis” tentang potret kultur bangsa kita yang amat dekat dengan alam. Meski sudah banyak buku yang membidik tentang berbagai “keajaiban” dan pesona alam Indonesia, tetapi selalu saja tak pernah bisa tuntas dikupas dan dibicarakan orang. Alam Indonesia dengan segenap variannya agaknya terus melahirkan inspirasi baru yang eksotis, tetapi sekaligus juga misterius.
MTI 2, dalam pandangan awam saya, juga tak bisa dilepaskan kaitannya dengan konteks kultur bangsa kita yang sejak dulu memang sudah demikian akrab dengan alam. Saking akrabnya dengan alam, sampai-sampai bangsa kita tidak sadar bahwa kita masih berada dan hidup di tengah kepungan sejumlah misteri yang selama ini belum juga bisa terkuak. Dengan menggunakan motto “Kaya data, memikat, dan tidak membosankan”, alumnus FISIP UNS Solo itu berupaya mendedahkan sejumlah misteri Indonesia yang masih menyisakan sejumlah tanda tanya itu ke dalam sebuah ensiklopedi sekaligus narasi yang renyah. Lewat motto-nya itu, Haris berupaya menawarkan kajian beragam misteri itu dari berbagai macam sumber: serpihan fakta sejarah, teori ilmiah –arkeologi, biologi, sampai geologi– atau juga mitos dan legenda rakyat.
Maka, lahirlah: (1) Coelacanth: Ikan Purba yang Kebal Evolusi; (2) Orang-orang Bermata Biru: “Bule Asli Aceh” di Lamno; (3) Sepotong Majapahit Bernama Trowulan; (4) Gunung Kawi: Pusat Klenik Jawa-Cina; (5) Garuda yang Berselimut Tanya; (6) Kiamat Tsunami Aceh; (7) Kerajaan Kandis, Alexander Agung, dan Atlantis yang Hilang, (8) Dewi Lanjar: Penggoda Gaib dari Pantura, dan (9) Batujaya, Toleransi Agama, dan Globalisasi Prasejarah. Memang, sebagian narasi, seperti Sepotong Majapahit Bernama Trowulan, Gunung kawi: Pusat Klenik Jawa-Cina, atau Dewi Lanjar: Penggoda Gaib dari Pantura, merupakan kisah yang sudah sangat akrab dengan kultur masyarakat kita, khususnya Jawa. Meski demikian, dengan menggunakan sentuhan pendekatan yang lebih humanis dan indah, Haris berhasil menyuguhkan sesuatu yang baru.
Perhatikan saja narasi berikut ini!
Yang unik, rekonstruksi itu ternyata tidak hanya melibatkan upaya fisik. Sebuah koran menyebut, sejumlah paranormal ternyata mengajukan diri untuk terlibat dalam upaya itu. Untuk apa? Jawabannya mudah saja: untuk membantu secara “metafisik” proses rekonstruksi itu. Pada Januari 2008 lalu, sekira 15 paranomal melakukan semedi di kolam Segaran. Dan, hasilnya “tidak tanggung-tanggung”: 15 paranormal itu mengaku berhasil melakukan “wawancara” dengan Gajah Mada. Dalam “wawancara” itu, paranormal-paranormal itu berhasil melihat sosok Gajah Mada …. (“Sepotong Majapahit Bernama Trowulan” hal. 60-61).
Di Ciamsi alias tempat meramal nasib, tak ada orang dari latar belakang budaya apa pun yang diperlakukan secara berbeda. Meski budaya meramal sebenarnya merupakan tradisi Cina, orang dari Jawa atau suku lainnya boleh saja ikut meramal nasib mereka di sana. Para penjaga klenteng juga bukan orang etnis Tionghoa, melainkan Jawa. Orang-orang Tionghoa dan Jawa juga berbaur mengikuti ritual-ritual di sana. Mereka bersama-sama berdoa, sembahyang, dan memohon berkah di tempat yang sama (“Gunung Kawi: Pusat Klenik Jawa-Cina” hal. 80).
Dengan demikian, jelas sudah: meski Dewi Lanjar barangkali bukan sosok yang benar-benar ada dalam kehidupan nyata, cerita tentangnya tetap bisa memiliki arti positif bagi manusia. Jangan-jangan, yang terpenting memang bukan bertanya apakah dewi itu benar-benar ada tapi justru apakah guna cerita Dewi Lanjar bagi kehidupan manusia (“ Dewi Lanjar: Penggoda Gaib dari Pantura” hal. 166).
Begitulah beberapa contoh penggalan narasi yang disuguhkan Haris dalam buku ini. Ia tidak hanya sekadar menempel potongan-potongan puzzle, tetapi juga memermak dan memolesnya melalui opini-opini reflektif, hingga terbangun sebuah mozaik cerita yang runtut dan enak dibaca. Tentu saja, masih ada beberapa narasi lain yang tak kalah menarik untuk dibaca dan dinikmati. Sebagian besar kisah misteri yang didedahkan mengandung muatan nilai kearifan lokal sebagai pancaran aura kultural bangsa kita yang telah lama dikenal memiliki kekayaan budaya dan peradaban yang bermartabat.
Meski demikian, buku ini juga bukannya tanpa cacat. Selain masih ditemukan beberapa kesalahan ejaan –seperti klitika “pun” yang seharusnya ditulis terpisah– secara keilmuan buku ini belum bisa dibilang berhasil dalam merangsang “adrenalin” pembacanya untuk melakukan kajian-kajian lanjutan. Tidak dicantumkannya daftar pustaka bisa menjadi ganjalan tersendiri ketika sejak awal buku ini diniatkan sebagai sebuah ensiklopedi. Apalagi, Haris banyak sekali menyajikan serpihan-serpihan historis yang saya yakin berada di luar jangkauan memori sang penulis untuk mengingat sekian fakta yang detil dan rinci. Mungkinkah lantaran Haris hanya menggunakan kemampuan ber-search engine di internet ketika mendapatkan sumber-sumber historis itu dalam memperkaya kajian-kajian misterinya?
Terlepas dari kekurangan yang masih tersisa, yang pasti buku ini tetap layak dibaca dan dinikmati. Setidaknya, buku ini bisa menjadi pengingat bahwa di negeri ini masih banyak nilai kearifan lokal di balik kisah-kisah misteri yang masih perlu terus digali, dilestarikan, dan dikembangkan lebih lanjut. Sungguh, sebuah ide brilian dan kreatif, ketika buku ini hadir di tengah sinyalemen lunturnya semangat kultur-lokal akibat gerusan budaya global yang kian dahsyat. ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Nilai-nilai Kearifan Lokal di Balik Misteri Indonesia" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (8 November 2009 @ 01:26) pada kategori Budaya, Edukasi dan telah dikunjungi oleh . Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Sep 21, 2011 @ 14:55:42
Mantaaaaaaapppppp…
Dec 10, 2010 @ 14:37:11
bagus artikelnya
Dec 10, 2010 @ 23:43:25
terima kasih apresiasinya, bos.
Dec 02, 2009 @ 16:55:58
eh.. komentarku tadi masuk nggak ya pak?? ya udah deh iklas
Dec 02, 2009 @ 16:54:49
dulu saya sempat penasaran sama buku ini. tapi setelah membaca resensi pak sawali kok saya langsung gak ‘penasaran’ lagi ya pak… hehehehe. btw gimana kabarnya pak? lama saya gak mampir dimari
Dec 03, 2009 @ 02:36:53
setelah baca review jadi ndak penasaran? hiks, mas ardy ada2 saja nih, hehe … alhamdulillah, baik dan sehat, mas, semoga mas ardy dan keluarga juga demikian.
Nov 13, 2009 @ 03:10:22
Waduh review yang bagus .. selamat n turut senang tuh sama bung Haris Firdaus.. usia 23 tahun tapi dah mampu membuat karya sebagus itu ya… sukses buat Bung Haris Firdaus dan bung Sawali T nya
Nov 17, 2009 @ 18:01:55
hehe … haris memang anak muda yang punya bakat besar, mas.
Nov 12, 2009 @ 21:58:41
miseri2 terbesar di Indonesia…menarik…nti ceritain lebih lanjut ya pak hehehehe…:d
Nov 17, 2009 @ 18:00:12
iya, mas. bener banget tuh. ternyata memang masih banyak misteri indonesia yang belum terungkap.
Nov 12, 2009 @ 12:18:15
wah banyak yang mereview buku ini.. kelihatan menarik dan semakin membuat penasaran.
di jatim dah ada blom ya pak?
Nov 17, 2009 @ 17:55:17
bukunya memang menarik, mas azaxs. wah, sudah ada atau belum di jatim, mungkin mas haris dan penerbitnya yang bisa menjawabnya.
Nov 12, 2009 @ 10:25:32
oh pak sawali juga sudah mereview ternyata….
.-= Baca juga tulisan terbaru ciwir berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia jilid 2 =-.
Nov 17, 2009 @ 17:52:56
hehe …. kan dapat kiriman buku dari haris, mas santri.
Nov 11, 2009 @ 11:44:40
berat….
tapi tertarik juga untuk beli
.-= Baca juga tulisan terbaru Ria berjudul Tempat & Waktu =-.
Nov 17, 2009 @ 03:00:09
hehe … ndak2 berat2 amat kok, mbak ria.
Nov 11, 2009 @ 11:02:09
maaf pak saya gak suka membaca buku yang ada misterinya kayaknya sereem takut ah.
Nov 17, 2009 @ 02:59:06
hehehe … buku misteri yang ini beda loh, mas?
Nov 10, 2009 @ 12:12:17
begitu banyak cerita di masyarakat yang legenda selalu jadi panutan, sebenarnya bagus juga sih pak. tapi kalo kita lihat ini yang dimanfaatkan bangsa lain untuk menjajah negara kita karena terlalu percaya dengan misteri.
Nov 17, 2009 @ 02:42:21
misteri di buku ini beda loh, mas putut, hehe …
Nov 10, 2009 @ 08:38:50
wah buku yang wajib baca nih Pak
Nov 17, 2009 @ 02:37:41
mangga, silakan diburu, pak tomy, hehe …
Nov 09, 2009 @ 16:35:11
wah kudu hunting nih di toko buku
Nov 09, 2009 @ 23:55:23
mangga, silakan, mas rifky. semoga segera dapat bukunya.
Nov 09, 2009 @ 13:36:31
ya begitulah kangmas…sering sekali mitologi atau legenda itu hanya berisi problem setting ketimbang problem solving…o ya dewi lanjar itu punya tetangga lho didaerah pemalang namanya nyai widuri penunggu pantai widuri…haalaah malah nambahin masalah hihihihi..
.-= Baca juga tulisan terbaru m4stono berjudul Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 6 =-.
Nov 09, 2009 @ 23:55:02
wow… saya malah baru dengar kalau ada nyai widuri di pemalang, mas tono. makasih infonya.
Nov 09, 2009 @ 11:45:54
Bacaan yang dapat menambah khasanah ilmiah. Thanks for pak Sawali. Jayalah kita.
Nov 09, 2009 @ 23:53:56
betul, mas. bagaimanapun buku termasuk referensi penting dalam khazanah keilmuan. makasih apresiasinya.
Nov 09, 2009 @ 11:36:32
Setiap penulis buku itu memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda ya, Pak Sawali. Dan itulah yang mungkin dijadikan ciri khas untuk membedakan dirinya dengan penulis lain.
Namun, kalau menurut saya, kesalahan-kesalahan penulisan seperti itu sangat wajar dijumpai di setiap penulisan buku. Kritik dan masukan pastilah ada. Yang penting bagaimana kita menyikapi kritik dan masukan itu menjadi hal yang positif.
.-= Baca juga tulisan terbaru Edi Psw berjudul Five Minutes Bakal Tampil di Surabaya =-.
Nov 09, 2009 @ 23:53:13
betul sekali, pak edi. kesalahan penulisan memang hal yang wajar dalam sebuah buku yan diterbitkan. saya kira masih wajar kok asalkan tidak sampai mengubah substansi isi buku.
Nov 09, 2009 @ 11:32:31
awali dengan hati lapang dada agar indonesia mempunyai kearifan di mata dunia.
Nov 09, 2009 @ 23:52:04
amiiin, semoga demikian, mas.
Nov 09, 2009 @ 10:52:45
wow.. sungguh luar biasa pak, masih muda mas haris sudah bisa mwngeluarkan pemikirannya dengan merelease sebuah buku, salut
.-= Baca juga tulisan terbaru arifudin berjudul Grebeg Suro 09 Ponorogo =-.
Nov 09, 2009 @ 23:51:49
iya, nih, mas. mas arif, saya kira juga bisa kok, kumpulkan postingan2 di blog, lalu tawarkan ke penerbit. insyaallah bisa.
Nov 09, 2009 @ 10:25:53
Kalau menilik reviewnya kayaknya perlu beli nih hehehe
makasih pak Sawali
.-= Baca juga tulisan terbaru ajengkol berjudul Fenomena Mbah Gendeng =-.
Nov 09, 2009 @ 23:50:53
mangga, mbak ajeng, selamat memburu.
Nov 09, 2009 @ 09:07:44
Saya sudah baca review singkat dari blognya mas Haris sendiri, tapi masih belum ada gambaran. Nah, dari review pak Sawali ini rasanya semakin membuat penasaran, terlepas masih ada beberapa kekurangan.
Nov 09, 2009 @ 23:50:35
mangga dicari bukunya, mas nur, semoga segera dapat.
Nov 09, 2009 @ 08:03:54
bukunya memang bagus…:)
Nov 09, 2009 @ 23:50:01
memang benar, mas. memang menarik kok.
Nov 09, 2009 @ 07:51:10
kenapa tidak membahas misteri cicak dan buaya Pak? atau misteri anggodo? hihihi..
salam.yanti
.-= Baca juga tulisan terbaru yanti tukang kerupuk berjudul Kerja keras adalah energi kita ternyata tidak murni kontes SEO =-.
Nov 09, 2009 @ 23:49:33
hehehe … istilah itu jujur saja, kurang menarik utk dibahas. itu menurut saya loh, mbak, hehe …
Nov 09, 2009 @ 07:48:27
maaf, baru sempat bersilahturahmi ..
sudah seminggu saya plesiran, hehehe.
salam.yanti
.-= Baca juga tulisan terbaru yanti tukang kerupuk berjudul Kerja keras adalah energi kita ternyata tidak murni kontes SEO =-.
Nov 09, 2009 @ 23:48:59
gpp, mbak yanti, semoga plesirannya menyenangkan.
Nov 09, 2009 @ 07:42:00
pak sawali pakai ubuntu ya
.-= Baca juga tulisan terbaru hmcahyo berjudul Rejeki =-.
Nov 09, 2009 @ 23:48:40
iya, nih, sedang belajar pakai, belum lama, kok.
Nov 09, 2009 @ 07:41:05
kok tahu-tahunya blog saya menang
Nov 09, 2009 @ 23:48:08
hehe … saya barusan baca pengumuman di webnya, mas heri. selamat, yak.
Nov 09, 2009 @ 00:52:21
jika sandaran yang digunakan untuk memotret masa lalu adalah historis materialisme, maka referensi ilimiah memang menjadi sesuatu yang tak kalah penting untuk dicantumkan.
namun jika sandaran yg digunakan adalah historis spiritualisme, maka referensi ilmiah bukan sebuah kemutlakan.
seberapa besar apresiasi atas buku tersebut sangat tergantung pada maqam spiritual pembacanya.
wakakakakakak…
Nov 09, 2009 @ 23:46:09
wah, istilah baru nih, mas love. maqam spiritual pembaca. wah, mantab. tapi karena ini dimaksudkan semacam buku ensiklopedi, agaknya memang diperlukan tuh daftar pustakanya.
Nov 09, 2009 @ 00:46:52
ya susah Kang untuk bikin Bibliografi kalau narasumbernya Gajah Mada… piye jal?
Nov 09, 2009 @ 23:45:11
hah? daftar pustaka yang digunakan dalam bukunya itu loh, mas, hehe … bukan tentang gajah madanya.
Nov 09, 2009 @ 00:31:43
pengen baca bukunya..keliatane sarat makna…lama gak berkunjung ke rumah pak sawali..tetep dengan idealisme ya pak..sukses
Nov 09, 2009 @ 23:44:21
mangga dicari, mas noersam, semoga cepat dapat bukunya. makasih supportnya.
Nov 09, 2009 @ 00:13:49
Misteri bisa juga, tp aku lebih berpendapat kepada sebuah manipulasi seorang penguasa negara dalam mempertahankan kekuasaannya menghalalkan berbagai macam konsep, karena masyarakat kurang berani dlm menghadapi tantangan kedepan,…
Nov 09, 2009 @ 23:43:46
hehe … ini tidak sedang bicara tentang masalah kekuasaan, loh, mas pri, hehe …
Nov 08, 2009 @ 21:58:56
dari narasinya wempi dibuat berpikir dengan kalimat-kalimatnya.
wempi lebih suka narasi kalimat yang mengalir… hehe…
.-= Baca juga tulisan terbaru Wempi berjudul Google Reader Wempi Sepi Tulisan =-.
Nov 09, 2009 @ 23:43:08
hmmm … narasi dengan kalimat yang mengalir memang enak dibaca, mas wempi.
Nov 08, 2009 @ 20:53:09
Resensi buku yang manarik pak Sawali. Saya jadi semakin lapar untuk segera membaca buku Mas Haris Firdaus yang juga seorang blogger ini. Semoga di Gramedia Pekalongan buku tersebut sudah ada.
.-= Baca juga tulisan terbaru M Mursyid PW berjudul Kegiatan Latihan Qurban di Sekolah, Perlukah? =-.
Nov 09, 2009 @ 23:42:34
mangga, pak mursyid. semoga cepat dapat.
Nov 08, 2009 @ 20:22:05
makasih repferensinya….
kyaknya bukunya menarik…. :d/
Nov 09, 2009 @ 23:42:08
sama-sama, mbak uny. makasih.
Nov 08, 2009 @ 20:13:24
buku yang bagus pak, dan kalaupun ada cacatnya, seperti ejaan yang salah itupun mungkin akan tertutupi dengan isi buku tersebut yang bagus :d
Nov 09, 2009 @ 23:41:53
betul, mas rifky. kesalahan ejaan seperti itu memang hal yang wajar terjadi kok, asalkan ndak mengubah substansi isinya.
Nov 08, 2009 @ 20:12:41
sepertiinya bukunya bagus….
pengen baca neyh….
Nov 09, 2009 @ 23:41:14
mangga, silakan baca kalau pasa dapat bukunya, mbak ade.
Nov 08, 2009 @ 19:20:21
dari dulu pemilik blog yang satu ini paling baru ngasih kabar tentang buku buku baru.., gimana nasib anak anak sekarang ini yah mas yang semakin malas membaca buku seperti saya
maaf mas saya baru bisa mampir ke blog mas sawali…:)>-
.-= Baca juga tulisan terbaru tresna berjudul Respon sentuhan = seks =-.
Nov 09, 2009 @ 23:20:28
walah, kebetulan saja dapat kiriman, kok, mbak, hehe … hmmm … tentang budaya membaca di kalangan anak sekarang mungkin lantaran besarnya pengaruh dan godaan tv, mbak, hehe …
Nov 08, 2009 @ 17:27:27
teringat gajah mada, kenapa yang ditampilin di buku-buku sejarah sosoknya begitu jelek, berbeda dengan bung tomo, untung suropati,pattimura,dll.
jangan-jangan saat ‘ketemu’ paranormal dalam salah satu judul di buku tersebut wajahnya beda. minimal protes atas perlakukan sejarah Indonesia dalam hal foto:D
.-= Baca juga tulisan terbaru novi berjudul One Spirit One Nation, Gagalnya Persatuan Demi Pera-one =-.
Nov 08, 2009 @ 18:56:21
keke … foto gajamada yang ada dalam buku sejarah kan keren menurut ukuran zamannya, mas novi, hehe …
Nov 08, 2009 @ 17:17:13
Wah perlu juga membaca buku itu, kelihatannya menarik.
Mas mau jadi Superman enggak ? Ikuti SupermanShow dihttp://abdulcholik.com/kuliner/supermanshow-la-tetates-de-timbele.
Dijamin nyali jadi mantap deh.
Salam hangat dari Surabaya
Nov 08, 2009 @ 18:54:22
mudah2an menarik, pakdhe. wah, pakdhe mengadakan kontes lagi? wah, kalau urusan kuliner, saya tiarap pakdhe, wakaka …
Nov 08, 2009 @ 16:45:01
nice review…
masih muda bnaget ya pak penulisnya
.-= Baca juga tulisan terbaru sibaho way berjudul Cinta ini milik kita =-.
Nov 08, 2009 @ 18:53:24
haris memang masih cukup muda, mas baho, kelahiran 1986.
Nov 08, 2009 @ 16:41:13
kearifan lokal dengan bahasan model klenik kayaknya, ya pak? ini menurut saya malah membuat generasi sekarang makin antipati. dulu orang melihat Soeharto sebagai contoh orang yg sangat jawa… maka sekarang orang yg jawa dikhawatirkan seperti dia mungkin. padahal contoh ideal orang jawa itu ya macam Sri Sultan HB IX itu kan
.-= Baca juga tulisan terbaru S™J berjudul Siapa Tidak Menyembah? =-.
Nov 08, 2009 @ 18:51:50
bukan klenik, mas jenang. haris malah membedahnya dari berbagai sisi. ada nilai historis, pendekatan keilmuan, dan menganalisisnya berdasarkan sudut pandang pribadinya. yang menarik dari buku ini justru upaya haris utk menjauhkan sikap2 perklenikan. dari sini, haris mengajak pembaca agar lebih arif dalam memahami berbagai misteri yang dituturkan.
Nov 08, 2009 @ 16:27:35
Ulasan tentang bukunya menarik …. memang masih banyak misteri (atau setidaknya dianggap misteri oleh sebagian orang) yang menarik rasa ingin tahu kita.
Tetapi, tentang kearifan lokal? Ini yang tidak begitu jelas tergambar dalam ulasan ini, karena yang dianggap misteri tidak sama dengan kearifan lokal. Atau, dalam buku tersebut antara misteri dengan kearifan lokal dianggap sama.
.-= Baca juga tulisan terbaru HE. Benyamine berjudul ANGGREK MERATUS (4) =-.
Nov 08, 2009 @ 18:49:28
hehe … memang tidak semua kisah misteri yang tersaji dalam buku ini mengandung nilai-nilai kearifan lokal, bang ben. nilai kearifan lokal sangat erat kaitannya dengan perilaku hidup yang bersandar pada nilai-nilai budaya lokaltas yang sarat dengan kebajikan dan keluhuran budi. karena itu saya hanya mencomot 3 kisah misteri yang saya quote itu.
Nov 08, 2009 @ 16:04:20
indonesia memang penuh dengan misteri,… :-w [-(
.-= Baca juga tulisan terbaru dameydra berjudul Update Page Rank =-.
Nov 08, 2009 @ 18:46:45
memang benar, mas damey. mungkin yang diungkap haris baru sebagian kecil saja.
Nov 08, 2009 @ 16:02:23
Reviewnya mantab pak Wali…..=d>=d>=d>
Setidaknya kehadiran buku-buku ini akan memperkaya khazanah literatur dari bumi pertiwi.
Selain itu kearifan lokal yang nyatanya hidup dan menggeliat di kultur penduduk negeri ini mampu disajikan untuk ditelaah oleh generasi muda, tentunya dengan segala perbedaan prespektifnya.
Nov 08, 2009 @ 18:46:15
terima kasih apresiasinya, mas xit. memang benar, perlu ada upaya serius utk merevitalisasi nilai2 kearifan lokal agar generasi mendatang tdk kehilangan jejak2 sejarah bangsa dan leluhurnya.
Nov 08, 2009 @ 16:00:12
ditunggu juga bukunya pak sawali ^_^
Nov 08, 2009 @ 18:45:10
hmmm … doakan ya, mas, semoga punya kesempatan juga utk menerbitkan buku lagi, hehe …
Nov 08, 2009 @ 15:46:19
Penasaran .. besok mampir toko buku deh :-w
.-= Baca juga tulisan terbaru Rindu berjudul Gelap … =-.
Nov 08, 2009 @ 18:44:35
mangga, mbak rindu, semoga bisa mendapatkannya.
Nov 08, 2009 @ 14:54:09
wah, sangat menarik membaca ulasannya pak… apalagi penulisnya masih sangat muda, 23 tahun. Tentu pemikiran dan ide-idenya yang fresh layak dibaca nih…
Nov 08, 2009 @ 18:16:13
bener banget, mas. selain masih muda, haris tergolong penggiat komunitas sastra yang cukup produktif.
Nov 08, 2009 @ 14:14:04
terima kasih pak sawali atas masukan-masukannya. review yg komplet.
.-= Baca juga tulisan terbaru haris berjudul Makan dan Makam =-.
Nov 08, 2009 @ 12:24:31
Ini masuk ke list buku yang harus saya beli pas mudik ke Indonesia nanti, Pak Sawali.
Saya mencari buku2 seperti ini ketimbang buku agama dan buku2 lainnya yang intinya adalah penyebaran arus globalisasi yang melindas kearifan lokal kayak gini….
.-= Baca juga tulisan terbaru DV berjudul This Is It, tentang cinta yang hidup untuk selamanya =-.
Nov 08, 2009 @ 18:10:05
mangga, mas donny. tidak salah kalau mas donny menjadikan buku ini sebagai salah satu rujukan yang perlu diburu.
Nov 08, 2009 @ 11:21:38
menarik juga ceritanya sayang saya belum punya bukunya, hanya baca sinopsisnya saja
salam,
.-= Baca juga tulisan terbaru andif berjudul Buah Nangka =-.
Nov 08, 2009 @ 18:08:54
hehe .., saya juga belum tahu nih, mas felani. di batam ada ndak, ya, hehe …
Nov 08, 2009 @ 11:10:31
memang mangtafff kalau seorang guru yang bercerita
.-= Baca juga tulisan terbaru PNPM berjudul Jembatan Penghubung Dusun Damarwulan dan Banjaranyar =-.
Nov 08, 2009 @ 18:08:25
widih, biasa saja kok, mas.
Nov 08, 2009 @ 11:09:13
mau nyari bukunya dulu ah pakdhe
.-= Baca juga tulisan terbaru Pencerah berjudul Buaya Mabok Duren =-.
Nov 08, 2009 @ 18:07:51
mangga, silakan, mas pencerah.
Nov 08, 2009 @ 10:13:45
Jadi pengen beli bukunya neh…..hehehehe…..
Loading webnya wuihhhh….kudu sabar…..
Lams kenal kang…
.-= Baca juga tulisan terbaru Pembuat Theme WordPress berjudul Teknik Rahasia Hacking Facebook =-.
Nov 08, 2009 @ 18:07:35
mangga, mas, silakan dicari. wah, tergolong berat load-nya, ya, mas. mohon maaf, padahal sudah saya buat seminimalis mungkin loh, hehe … makasih infonya.
Nov 08, 2009 @ 09:04:23
wah review manntep Pak bikin penasaran seluruh isi buku tersebut
.-= Baca juga tulisan terbaru genthokelir berjudul Yanto Heryanto =-.
Nov 08, 2009 @ 18:06:47
hehe … coba langsung kontak ke penulisnya, mas totok, hehe …
Nov 08, 2009 @ 07:36:00
bukunya menarik untuk dibaca pak guru..apakagi sekarang sudah banyak diantara generasi muda kita yang sudah lupa akan kearifan lokal bangsanya
Nov 08, 2009 @ 18:05:58
bener sekali, mas amsi. buku seperti ini penting utk dibaca anak2 muda zaman sekarang.
Nov 08, 2009 @ 07:13:50
Wah..saya malah belum baca seri pertamanya
/:)
Nov 08, 2009 @ 18:05:26
ndak apa2, mas love. tak ada keharusan utk baca buku sebelumnya. karena memang bukan buku serial.
Nov 08, 2009 @ 05:45:03
wah Pak Sawali mengkritisi metodolognya juga
MANTAP Pak, soalnya EYD juga masih berlaku dan harus dipakai dengan benar
.-= Baca juga tulisan terbaru IHSAN berjudul Berkarya Nyata Lewat Blog =-.
Nov 08, 2009 @ 18:04:46
walah, hanya review sederhana, kok, mas ihsan.
Nov 08, 2009 @ 03:41:02
beberapa blog yang saya kunjungi malam ini mengulas buku ini
hum saya jadi penasaran dengan buku ini
sepertinya layak untuk di baca untuk menumbuhkan semangat kultur lokal
.-= Baca juga tulisan terbaru dafhy berjudul Aku Bosan Dengan Mataku =-.
Nov 08, 2009 @ 03:38:24
izinkan pertmaX dulu ya pak:”>
.-= Baca juga tulisan terbaru dafhy berjudul Aku Bosan Dengan Mataku =-.
Nov 08, 2009 @ 18:03:54
hehe …
Nov 08, 2009 @ 03:37:22
keliatannya buku yang bagus ini pak, coba saia hunting besok…
.-= Baca juga tulisan terbaru gajah_pesing berjudul Percobaan Keyword =-.
Nov 08, 2009 @ 18:03:36
memang bener, mas fay, setidaknya bisa mengingatkan kita bahwa negara kita memang kaya dengan berbagai macam legenda dan folklore.