Home | Bahasa, Refleksi | Menimbang Bobot Literer “Puisi Blog”

Menimbang Bobot Literer “Puisi Blog”

Thursday, 31 January 2008 (20:59) | 594 pembaca | 34 komentar | Print this Article

Sekitar tahun 1989, saya pernah terlibat sedikit polemik dengan Kusprihyanto Namma (KN) tentang esensi “Sajak Koran” di harian Suara Merdeka. Dalam tulisannya “Penerbitan Puisi, Sekadar Dokumentasi” itu, KN ingin menggarisbawahi dua hal. Pertama, sajak yang termuat di koran (sajak koran) terpola oleh selera media massa cetak sehingga penyair terjebak dalam sikap hipokrit (kepura-puraan). Dengan demikian, sajak bukan hasil penjelajahan proses kreativitas yang intens. Kedua, sulit menemukan antologi puisi yang mengandung ekspresi-ekspresi berbeda dan keliaran-keliaran yang mencengangkan karena penyair terbentur struktur birokrasi budaya kita yang cenderung “membatasi” daya jelajah dalam menuangkan kebebasan dan kegelisahan.

Saat itu, saya tertarik menanggapi tulisan KN karena pengaruh adagium yang pernah diluncurkan oleh Thomas Aquinas, seorang filsuf skolastik, “Pulchrum dicitur id apprensio”. Adagium yang berarti “keindahan bila ditangkap menyenangkan” itu menyiratkan makna bahwa keindahan menjadi mustahil menyenangkan tanpa media sosialiasi. Keindahan (sajak) mokal bisa dinikmati orang lain tanpa publikasi. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila dalam upaya memperoleh legitimasi kepenyairan, seorang penyair berusaha menembus barikade redaksi sastra-budaya di media cetak dalam memasyarakatkan obsesi visi dan estetisnya. Saya berkeyakinan bahwa apa yang penyair tulis di koran, murni terlahir dari kepekaan nurani, hasil pergulatan daya jelajah kreativitas yang intens. Mereka tidak harus dicurigai sebagai manusia hipokrit yang cenderung menuruti kepuasan selera media massa. Sajak koran mereka tetap menunjukkan penjelajahan rasio akal budi dan budi nurani dalam transpirasi total kepenyairan. Tanggapan saya terhadap tulisan KN bisa dibaca di sini.

Lantas, apa hubungannya dengan “sajak blog” –untuk menyebut sajak yang dimuat di blog? Yup, dalam pemahaman awam saya, sebagai media ekspresi, “sajak blog” tak jauh berbeda dengan “sajak koran”; sama-sama menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Kalau toh harus dibedakan, bisa jadi terletak pada proses publikasinya. Pada “sajak koran”, proses yang harus dilewati lebih rumit dan kompleks; harus menembus barikade, otoritas, dan selera sang redaktur. Jika dinilai layak muat oleh sang redaktur, baru terjadi proses publikasi. Jadilah “sajak koran”. Dalam konteks demikian, sang redaktur memegang otoritas tunggal terhadap lolos tidaknya sebuah sajak. Pada “sajak blog”, otoritas tunggal dipegang sepenuhnya oleh bloger sebagai pemegang admin. “Sajak blog” bisa dipublikasikan kapan pun oleh sang pemegang admin.

Persoalannya sekarang, bagaimanakah bobot “sajak blog”? Bisakah sajak-sajak blog yang belakangan ini menunjukkan intensitas publikasi yang luar biasa masif bertaburan di belantara dunia maya dipertanggungjawabkan secara literer? Dengan kata lain, bisakah sajak-sajak blog dikategorikan sebagai puisi yang memiliki kadar sastra yang membanggakan?

Jujur saja, saya tidak pernah bisa membuat puisi. Lebih baik disuruh minum racun kopi kental yang manis sambil menyedot asap kretek pembakar dada ketimbang membuat untaian kata-kata indah yang konon *halah* bisa membuai sukma dan melambungkan imajinasi hingga ke batas langit itu. Hehehehehe :mrgreen: Oleh karena itu, selama ini saya (nyaris) tak pernah memublikasikan puisi karya saya sendiri di blog ini. Namun, saya suka membaca, mengapresiasi, dan menikmati sajak-sajak blog karya teman-teman bloger. Juga hanya bisa sebatas menilai dengan pendekatan subjektivitas-personal yang jauh dari kebenaran nilai hermeneutika atau stylistika.

Menurut hemat saya, puisi yang memiliki bobot literer seperti idiom yang pernah dikemukakan oleh Horace; “dulce et utile” (menyenangkan dan berguna). Menyenangkan karena diekspresikan dengan menggunakan bahasa yang indah; diksi terjaga melalui permainan rima yang tertata. Berguna karena mengandung muatan dan pesan-pesan moral yang bermakna bagi kemaslahatan hidup umat manusia. Ini artinya, seindah apa pun bahasa yang digunakan oleh sang penulis, tetapi jika gagal menyampaikan pesan-pesan yang menyentuh nurani kemanusiaan, bisa dikatakan sebagian bobot literernya tidak terpenuhi. Sebaliknya, jika puisi hanya mengumbar pepatah-petitih sosial zonder memperhatikan keindahan bahasa, hal itu tak jauh berbeda dengan orasi kaum demonstran yang sedang melampiaskan emosi dan amarah.

Saya tetap menaruh rasa hormat dan salut kepada teman-teman bloger yang demikian produktif menulis puisi yang kadar literernya tak jauh berbeda dengan sajak koran. Ada banyak ragam tema kemanusiaan yang diangkat; mulai dari tema cinta, sosial, hingga religi. Fenomena semacam ini menjadi pertanda baik bagi perkembangan sastra di tanah air. Bagaimanapun juga, sosialisasi karya kreatif (termasuk puisi) lewat media itu penting dan strategis bagi sang penulis yang telah berniat mewartakan nilai-nilai kemanusiaan lewat gaya bertutur yang indah kepada publik.

Publikasi puisi melalui blog harus dimaknai sebagai upaya sang bloger untuk tetap bisa eksis dalam menggeluti dunianya di tengah hiruk-pikuk teknologi komunikasi yang demikian gencar menawarkan perubahan. Jangan membiarkan teks-teks puisi yang sudah menyedot banyak energi dan imajinasi hanya “memfosil” di rak draft.

Lantas, bagaimanakah “puisi blog” yang baik? Mesti panjang atau pendek? Bagi seorang penikmat puisi seperti saya, bobot literer sebuah puisi tidak bisa diukur berdasarkan panjang atau pendeknya. Namun, lebih ditentukan oleh muatan nilai dan gaya bertuturnya. Pendek tidak lantas berarti kehilangan muatan nilai, panjang pun tidak serta-merta bisa diartikan kehilangan nilai estetiknya. Setiap penyair memiliki licentia poetica yang sangat pribadi dalam pergulatan kreativitasnya. Ini artinya, setiap penyair memiliki kebebasan berekspresi dalam mengungkapkan pemikiran dan ide-ide kreatif yang terus menggerus tempurung kepalanya. Yang lebih menentukan bobot literer “puisi blog” adalah kesuntukan dan intensitas sang penulis yang tak pernah berhenti melakukan eksplorasi, baik dari sisi muatan nilai maupun gaya bertutur (estetik)-nya.

Jika aktivitas bereksplorasi terus dilakukan, saya memiliki keyakinan *halah* suatu ketika dari kompleks blogosphere ini akan bermunculan penyair-penyair cyber yang mampu menggoyang tahta sastra Indonesia mutakhir yang selama ini diduduki oleh para penyair media cetak. Apalagi, jika puisi-puisi blog tersebut bisa diabadikan ke dalam sebuah buku antologi puisi, lantas mengadakan kopdar ramai-ramai untuk launching-nya. Wuih, heboh deh! Hidup penyair blog! ***

Kategori: Bahasa, Refleksi | Tags: , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgRuang Jingga: Memadukan Kreativitas melalui Jejaring Sosial (Monday, 16 August 2010, 213 pembaca, 45 respon) Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman sebuah antologi puisi “Ruang Jingga” dari Pak Riyadi, seorang sahabat dan rekan sejawat dari Purworejo, yang piawai merawi kata-kata seperti menjadi “mantra” yang mampu “menghipnotis” dan...
imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgTemu Sastrawan Jawa Tengah 2010 dan Balsem Gosok (Saturday, 19 June 2010, 634 pembaca, 112 respon) Sabtu, 19 Juni 2010, Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) menggelar sebuah perhelatan bertajuk “Temu Sastrawan Jawa Tengah 2010” di Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT), Puri Maerakaca, Tawangsari, Semarang. Sesuai dengan namanya, pertemuan ini...
imgSi Burung Merak Itu Telah Mengepakkan Sayapnya Menuju Alam Keabadian (Thursday, 6 August 2009, 620 pembaca, 108 respon) Innalillahi wa’innaillaihi raji’un Dunia sastra Indonesia berduka. WS Rendra, seorang budayawan, sastrawan, penyair, dan teaterawan, telah meninggal dunia pada hari Kamis (6 Agustus 2009), sekitar pukul 22.15 WIB di Depok, Jawa Barat. Tokoh teater...
imgSastra Kita Miskin Pemberontakan? (Sunday, 27 July 2008, 743 pembaca, 35 respon) Sekitar tahun 1983, Budi Darma pernah menyatakan, jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya para sastrawan kita belum berbobot. Atau, tulislah sebuah puisi yang nyentrik. Paling tidak, ada dua kandungan...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Menimbang Bobot Literer “Puisi Blog”" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Thursday, 31 January 2008 (20:59)) pada kategori Bahasa, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

34 Responses to "Menimbang Bobot Literer “Puisi Blog”"

  1. TERA says:
    Menggunakan Firefox 3.0.6 Firefox 3.0.6 pada Windows Server 2003 Windows Server 2003

    wuah, diskusinya berlanjut.. salam hangat deh dari Baranangsiang..
    hehehe..

    dan saya sepakat sobat, membaca artikel di atas, kita memang satu visi.
    kita memang patut mendukung perkembangan sastra cyber itu sendiri, betul begitu khan..

    tapi justru yang belum terjawab oleh sastrawan cyber itu sendiri adalah permasalahan transliterasi yang diragukan banyak kalangan, alias sekedar memindahkan sastra cetak ke dalam blog aja, lantas apa bedanya?

    nah.. medium internet yang canggih inilah yang seharusnya memungkinkan para sastrawan kita bisa bereksplorasi, memunculkan karya sastra yang tidak sekedar memindahkan sastra cetak ke dalam blog, tapi karya sastra cyber yang khas, tidak bisa dicetak dan hanya bisa dilihat di internet.
    hehehe..

    karena itu jargon ‘code is poetry’ lah yang mesti kita junjung, dimana kita tidak lagi menulis puisi dengan kata, tapi menulis puisi dengan kode..

    saya berharap sobat bisa menuliskan tentang perkembangan ini di lain kesempatan. contoh sastra cyber yang tengah saya kembangkan ya seperti puisi di blog Makam Sastra Cetak itu.

    dan siapakah sastrawan kita hari ini?
    SASTRAWAN KITA HARI INI ADALAH BLOGGER DAN HACKER!!

    salam sastra dan persahabatan

    ——————————-
    sekedar mengutip:

    “Lantas, bagaimanakah “puisi blog” yang baik? Mesti panjang atau pendek? Bagi seorang penikmat puisi seperti saya, bobot literer sebuah puisi tidak bisa diukur berdasarkan panjang atau pendeknya. Namun, lebih ditentukan oleh muatan nilai dan gaya bertuturnya.” (SAWALI T.)

  2. TERA says:
    Menggunakan Firefox 3.0.6 Firefox 3.0.6 pada Windows Server 2003 Windows Server 2003

    ˙˙uɐʞɥǝɔǝlıp ʞɐʎuɐq ƃuɐʎ ɐısǝuopuı ɐɹʇsɐs ɥɐuɐɹ ıp ƃolq ısınd ısısod ƃuɐʇuǝʇ ʇɐqos uɐsılnʇ qɐʍɐɾuǝɯ ɐɯnɔ ‘ɐʎuɯnlǝqǝs ɐʎɐs ɹɐʇuǝɯoʞ ıp uɐʞısnʞsıp ɐʎɐs uıƃuı ƃuɐʎ ˙˙ʞoʞ ɹɐɾɐlǝq ƃuɐpǝs ɐƃnɾ ɐʎɐs ɥıu ɐʎı ‘ʇɐqos ɯɐlɐɯ

    dan saya coba menjawabnya dengan ini:

    http://makamsastracetak.blogspot.com/

    salam sastra

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (107 queries: 0.906 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP