Home | Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi | Menjadi Shi Fu

Menjadi Shi Fu

Tuesday, 22 January 2008 (14:52) | 300 pembaca | 28 komentar | Print this Article

Ketika iseng membaca sebuah artikel, tiba-tiba saya tertarik pada pepatah klasik Cina: “Yi ri wei shi, zhong sheng wei fu” (sehari menjadi guru, seumur hidup menjadi orang tua). *Maaf kalau salah ejaan dan artinya. * Jujur saja, saya shock ketika berusaha memahami makna idiom ini. Benar-benar menohok ulu hati saya yang selama ini telanjur mengagung-agungkan guru sebagai sebuah profesi. Padahal, sejatinya guru bukanlah sebuah profesi, melainkan status.

Loh! Bukankah pemerintah baru saja meluncurkan UU Guru dan Dosen yang jelas-jelas menahbiskan guru sebagai profesi yang selama ini dinilai telah terpinggirkan? Bukankah dengan menaikkan derajat guru menjadi sebuah profesi akan menjanjikan kesejahteraan yang lebih baik sehingga para guru tidak lagi naik sepeda kumbang di atas jalan berlobang seperti yang sering disindir oleh Iwan Fals? Bukankah tuntutan itu yang selama ini menggema di balik demo para guru sehingga terpaksa harus mangkir mengajar dan mendidik demi memperbaiki kesejahteraan hidup?

Tunggu dulu! Kesejahteraan guru harus lebih baik, itu jelas. Guru tidak lagi naik sepeda kumbang ketika menunaikan tugas, itu wajar. Guru tidak lagi pusing memikirkan isi periuk di dapur, itu sudah pasti. Guru tidak lagi repot harus hutang ke sana kemari ketika tiba-tiba anaknya masuk rumah sakit, itu juga sangat beralasan. Guru tidak lagi nyambi jadi tukang ojek atau penjual rokok ketengan, *halah* itu sudah jelas masuk akal.

Namun, ada pesan moral yang lebih agung dan mulia di balik adagium Cina klasik itu. Guru bukan semata-mata sebuah profesi, melainkan status; sebagai Shi Fu; guru yang sekaligus berstatus sebagai orang tua. Yup, alangkah luhur dan mulianya status yang disandang oleh para guru. Mereka tak sekadar mentransfer ilmu pengetahuan an-sich, melainkan juga membangun karakter. Mereka tak hanya pintar memberikan punishment, tetapi juga bijak memberikan reward. Ada sentuhan tangan sang guru yang lembut, penuh perhatian, dan sarat nilai kasih sayang kepada para murid ketika sedang bergulat di tengah rimba belantara dunia pendidikan. Ada simpul-simpul syaraf kemanusiaan yang dengan amat sadar dialirkan ke ruang-ruang kelas, sehingga atmosfer yang terbangun menjadi lebih beradab dan berbudaya.

Itulah sebabnya, saya menjadi sangat shock ketika mencoba menghitung “dosa-dosa” saya selama menjadi guru. Betapa selama ini saya merasa cukup bangga disebut sebagai guru profesional. Betapa wibawanya saya di depan siswa didik saya yang dengan otoritas yang saya miliki, saya bisa menjadi “aktor” tunggal yang diperhatikan dengan puluhan sorot mata penuh ketakutan. Betapa bangganya saya bisa menakut-nakuti murid dengan ancaman tidak naik kelas atau gagal lulus, bahkan mengeluarkan mereka dari sekolah apabila mereka mau main-main dengan peraturan dan tata tertib sekolah.

Cobalah kita tengok sebentar suasana ruang-ruang kelas yang berlangsung selama ini. Para murid bagaikan objek mati yang gampang dikebiri melalui otoritas sang guru. Para murid hanya jadi robot. Sang gurulah pengendalinya. Para murid sekadar mengikuti sinyal “remote control” yang disetir sang guru. Robot-robot yang sedang “error” tak segan-segan dibuang dan disingkirkan. Ancaman menjadi senjata ampuh bagi sang guru dalam menegakkan wibawa dan kharismanya. Tak heran jika selepas dari ruang kelas yang angker bak kerangkeng penjara, para murid seperti terbebas dari sekapan medan karantina berbau busuk. Lantas, mereka mencari pelampiasan dengan melakukan aksi yang sesuai dengan naluri agresivitasnya. Tawuran, pesta pil setan, pergaulan bebas, dan perilaku tak terpuji lainnya gampang sekali membius mereka.

mendongeng2.jpg

Betapa naifnya saya setelah pantulan dari cermin kehidupan itu menampar wajah saya yang penuh bopeng dan dosa. Saya telah berlaku biadab dan kejam terhadap anak-anak bangsa negeri ini. Mereka saya perlakukan semau gue, sesuka gaya saya. Kapan pun mau, saya bisa meminta mereka untuk menjilati tembok dinding ruang kelas yang kasar dengan lidah mereka apabila mereka nyata-nyata melanggar aturan. Saya bisa menghakimi siswa didik saya untuk menguras WC yang berbulan-bulan lamanya lupa dikuras oleh petugas sekolah. Bahkan, saya sering mempermalukan murid-murid saya dengan cara menggantung kaki sebelah ketika mereka terlambat masuk kelas. Saya jarang tersenyum karena takut kehilangan wibawa. Saya harus lebih banyak menciptakan ketegangan di ruang kelas, agar mereka memusatkan perhatian pada materi ajar yang saya sajikan. Kalau ada murid yang berotak pas-pasan, tak segan-segan saya memvonis mereka dengan label “bodoh atau tolol”. Celakanya, saya beranggapan, mereka hanyalah anak orang lain yang dititipkan ke sekolah, sekadar untuk cari selembar ijazah.

mendongeng1.jpg

Selama ini ternyata saya bukanlah seorang guru. Saya hanya menjadi tukang ajar. Saya sering mengatakan, “Saya punya ilmu, kamu punya uang!” Jadilah transaksi. Sekolah jadi ladang bisnis. Tak ada nilai karakter dan budi pekerti yang saya tanamkan kepada murid-murid saya. Tugas saya semata-mata hanya mengantarkan anak-anak negeri ini bisa memperoleh ijazah. Titik. Tak ada pertautan nilai kemanusiaan yang tersalur ke dalam gendang nurani siswa didik saya. Kalau ada siswa yang berotak pas-pasan, sering saya tinggalkan begitu saja. Saya tak peduli, toh anak orang lain, salahnya sendiri bodoh! Selama ini ternyata darah yang mengalir dalam tubuh saya bukanlah darah seorang guru, melainkan darah seorang pekerja dan pencari penghasilan.

Bertahun-tahun lamanya, saya terpasung dalam suasana semacam itu. Idiom klasik Cina itu telah mengingatkan saya agar menjadi seorang shi fu; menjadi guru sekaligus orang tua. Guru tak hanya sebatas memainkan peran sebagai tukang ajar, tetapi juga sekaligus sebagai orang tua yang mengemban misi mendidik. Kalau ada anak yang berotak pas-pasan, sudah seharusnya diajak untuk mengembangkan potensi kecerdasannya; dbimbing dan dilatih dengan penuh sentuhan perhatian dan kasih sayang; tak ubahnya kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Kalau ada murid yang melanggar aturan, mereka perlu diajak dan dilibatkan untuk membuat “kontrak sosial” agar mereka patuh terhadap aturan main yang telah disepakati.

Guru juga tak hanya mengemban misi mencerdaskan otak siswa, melainkan juga membangun pilar-pilar karakter yang kuat agar kelak anak-anak negeri ini juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial. Sungguh, betapa dalam dan luasnya makna shi fu itu ketika saya silau oleh predikat sebagai guru profesional. Semoga, negeri ini akan bermunculan shi fu-shi fu baru yang benar-benar memiliki darah “guru sejati” yang memperlakukan siswa didiknya tak ubahnya seperti anak-anak kandungnya. Hanya dengan sentuhan tangan yang lembut, bijak, penuh perhatian, dan sarat belaian kasih sayang, anak-anak negeri ini akan menemukan dunianya yang beradab dan berbudaya. ***

Kategori: Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi | Tags: , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgKetika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh (Wednesday, 1 September 2010, 280 pembaca, 34 respon) Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang...
imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgKastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI (Wednesday, 9 June 2010, 737 pembaca, 97 respon) Baru-baru ini, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen), Kemendiknas, Suyanto mengungkapkan, 18 sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dicabut izinnya karena dinilai tidak memenuhi persyaratan pendirian....
imgPenafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna (Saturday, 22 May 2010, 560 pembaca, 106 respon) Dalam sebuah rapat kabinet yang gerah, wajah Rahwana memerah seperti kepiting rebus. Sorot matanya liar memerah saga. Tiupan angin yang lembut dari moncong AC yang dingin pun gagal menaklukkan hati penguasa Alengka yang tengah murka itu. Berulang-ulang...
imgMembangun Karakter Bangsa melalui Festival dan Lomba Seni (Thursday, 29 April 2010, 756 pembaca, 47 respon) Tanggal 26-28 April 2010, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi juri dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa SD Tingkat Prov. Jawa Tengah Tahun 2010 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Dalam pandangan awam saya, festival dan lomba...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Menjadi Shi Fu" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Tuesday, 22 January 2008 (14:52)) pada kategori Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

28 Responses to "Menjadi Shi Fu"

  1. WordPress abc WordPress abc

    [...] status yang otonom dan mandiri. Dengan kemandirian tersebut, guru diharapkan dapat menjadi figur shi fu yang membawa suasana kelas bagaikan magnet yang mampu memikat dan menarik anak didik untuk belajar [...]

  2. z4di3s says:
    Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

    sekali bangsa bodoh sampai kiamat tetap bodoh
    bangsa pesek mau masuk surga?lupakanlah.emangnya mo ngotorin surga?!

    Baca juga tulisan terbaru z4di3s berjudul Pulang kampung

  3. WordPress 2.5.1 WordPress 2.5.1

    [...] hari ini, saya membaca tulisan Pak Sawali, tentang potret guru. Dimata saya, tulisan itu justru mengingatkan saya pada tontonan Aa’ Gym. [...]

  4. WordPress 2.3.3 WordPress 2.3.3

    [...] yang telah mengglobal, sedangkan aku menekuni duniaku sebagai seorang guru, menjadi seorang shi fu yang terkesan ndesa dan katrok. [...]

  5. STR says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.11 Firefox 2.0.0.11 pada Windows XP Windows XP

    Yang kemudian perlu dipikirkan adalah berapa jumlah ideal murid yang harus dibimbing secara intens oleh seorang shi fu?

    Yang saya lihat sekarang, terkadang seorang guru harus membimbing puluhan murid, sehingga proses mentoring tidak bisa optimal. Jangankan nilai-nilai kemanusiaan dan karakter, materi kognitif dalam pembelajaran saja tidak tersampaikan dengan baik kok.

    STR’s last blog post..Guru yang Baik Adalah Guru yang Menggaji Muridnya: Kuantitas Lawan Kualitas

  6. WordPress 2.3.2 WordPress 2.3.2

    [...] status yang otonom dan mandiri. Dengan kemandirian tersebut, guru diharapkan dapat menjadi figur shi fu yang membawa suasana kelas bagaikan magnet yang mampu memikat dan menarik anak didik untuk belajar [...]

  7. suandana says:
    Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    Laporan dulu, Pak…
    Situs ini kok susah sekali diakses dari tempat saya, ya? Seringnya yang muncul itu tulisan kalo bandwidth-nya melebihi kapasitas (intinya begitu…, redaksionalnya lupa…) atau kadang tulisan kalau server-nya tidak bekerja…
    Laporan selesai…

    Soal tulisan ini, saya jadi… gimanaaaa gitu. Untunglah, selama ini, di sekolah, saya dan rekan-rekan pengajar IT disebut berstatus sebagai instruktur… :cool:

    Saya jadi kepikiran nih, Pak… Layakkah saya disebut sebagai guru? Sanggupkah saya menyandang status itu?

    suandana’s last blog post..lagu-lagu?

  8. Goop says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.11 Firefox 2.0.0.11 pada Windows XP Windows XP

    sehari menjadi guru, seumur hidup menjadi orang tua

    wah hebat :mrgreen: menjadi orang tua seumur hidup…
    tidak mudah memang, disaat sebagian orang tua berfikir tugas orang tua selesai saat putra putri menikah…
    guru, masih harus tetap menjadi orang tua…
    semoga putra-putri didiknya menjadi soleh dan solehah, sehingga bila guru telah tiba pada titi mongsonya… do’a-do’a dari para putra-putri ini tetap mengalir…
    amien

    oOo
    Yup, makasih mas goop doanya. BTW, kok dikait-kaitkan dengan masalah nikah, sih, hiks. :lol:

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (102 queries: 1.058 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP