Home | Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi | Reformasi Sekolah, Apa Kabar?

Reformasi Sekolah, Apa Kabar?

Friday, 25 January 2008 (14:19) | 529 pembaca | 25 komentar | Print this Article

Sudah hampir satu dasa warsa peristiwa heroik itu berlangsung. Ya, seperti dikomando, para mahasiswa bergerak bersama-sama untuk melakukan perubahan; mendobrak sebuah rezim yang dinilai telah “mengkhianati” cita-cita luhur bangsa. Meski “intro”-nya cukup tragis dan perih menyayat-nyayat lantaran harus ada beberapa mahasiswa yang jadi “tumbal”, gerakan itu tidak sia-sia. Reformasi berhembus kencang di segala penjuru nusantara. Kebebasan berpendapat dan berserikat yang selama ini terbelenggu di atas tungku kekuasaan orde baru, akhirnya menemukan muaranya. Semuanya bebas berteriak dan menggemakan yel-yel reformasi yang terus menggema di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat.

reformasi.jpg

Sudah hampir satu dasa warsa peristiwa heroik itu berlangsung. Namun, sudahkah benih-benih reformasi itu tumbuh subur di ladang-ladang peradaban negeri ini? Berhasilkah reformasi mengembangkan sayapnya sehingga mampu memberikan katharsis dan pencerahan di tengah-tengah peradaban yang sedang sakit, bahkan mati suri? Mampukah kepakan sayap reformasi memberikan imbas positif terhadap lahirnya para elite negara yang memiliki kepekaan terhadap nasib jutaan rakyat? Lantas, bagaimana dengan reformasi yang berhembus di tengah-tengah atmosfer dunia persekolahan kita yang diyakini sebagai “kawah candradimuka peradaban”, tempat menggembleng jutaan anak negeri yang kini tengah memburu ilmu?

***

Seiring dengan digulirkannya otonomi pendidikan, reformasi sekolah idealnya sudah bukan lagi sekadar wacana yang mengapung-apung dalam bentangan slogan dan retorika, melainkan sudah menjadi sebuah keniscayaan sejarah, menjadi realitas praksis dalam dunia persekolahan kita. Mengapa reformasi sekolah demikian penting dipersoalkan? Setidaknya ada tiga argumen yang layak dikemukakan. Pertama, sekolah merupakan “ikon” masyarakat mini yang diharapkan mampu memberikan bekal hidup (life skills) yang sesungguhnya kepada peserta didik. Ini artinya, sekolah mesti menjadi institusi yang “merdeka” dalam menentukan masa depan bagi si anak yang hanya bisa terwujud jika angin reformasi berhembus segar ke sekolah-sekolah.

Kedua, sekolah merupakan lembaga publik yang memberikan layanan kemanusiaan kepada peserta didik. Sebagai lembaga publik, sekolah dituntut untuk memiliki tingkat akuntabilitas, akseptabilitas, dan kredibilitas yang baik di mata publik sebagai “konsumen”-nya. Hanya melalui iklim reformasi yang sehat sekolah dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara terhormat dan bermartabat kepada publik.

Ketiga, sekolah merupakan salah satu agen transformasi menuju masyarakat masa depan yang sesuai tuntutan perubahan dan dinamika global. Dalam menghadapi tuntutan semacam itu, sekolah harus memosisikan diri sebagai institusi yang terbuka dan demokratis, sehingga dapat membangun dan membumikan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan kepada peserta didik.

Namun, secara jujur harus diakui bahwa reformasi sekolah masih “jauh panggang dari api”. Sekolah belum dipahami sebagai institusi yang “merdeka”, tetapi masih dianggap sebagai subsistem dari sebuah struktur birokrasi pendidikan yang rumit dan kompleks. Para birokrat pendidikan pun masih menampilkan diri bagaikan “borjuis-borjuis” kecil yang berkarakter feodal, sehingga kebijakan-kebijakan yang muncul belum sepenuhnya berpihak kepada sekolah beserta stakeholder-nya. Sekolah hanya menjadi perpanjangan tangan dari birokrasi pendidikan yang acapkali berbenturan dengan kebutuhan dan kondisi riil di lapangan. Sudah lama sekolah mendapat “stigma” sebagai produsen ijazah. Esensi fungsi dan perannya sebagai lembaga yang mampu melahirkan manusia-manusia unggul dinilai telah terabaikan.

Jika kondisi semacam itu terus berlanjut, bukan mustahil citra dan pamor sekolah akan meredup, bahkan mungkin kian hilang ditelan zaman. Kini, sudah saatnya dilakukan upaya serius untuk menata sekolah melalui proses reformasi dalam arti yang sesungguhnya.

Pertama, reformasi pada aras manajemen sekolah. Kepala sekolah sebagai top-leader harus menyadari sepenuhnya bahwa sekolah yang dipimpinnya bukanlah warisan dan milik pribadi yang boleh dikelola “semau gue”. Setiap kebijakan yang hendak diambil sudah seharusnya melalui proses musyawarah yang melibatkan seluruh komponen sekolah (termasuk orang tua dan masyarakat).

Komite sekolah sebagai penjelmaan BP3 harus benar-benar diberdayakan, tidak sekadar menjadi “stempel” yang menjustifikasi kebijakan kepala sekolah seperti pada masa lalu. Para pengawas sekolah pun tidak lagi memosisikan diri sebagai “malaikat” yang menghambat karier kepala sekolah dan guru yang ingin melakukan perubahan-perubahan fundamental dalam lingkungan sekolah, tetapi justru harus mampu menciptakan iklim yang kondusif bagi perwujudan reformasi sekolah.

Kedua, reformasi pada aras pembelajaran di kelas. Agar dapat mewujudkan reformasi pembelajaran di kelas, guru harus benar-benar memiliki status yang otonom dan mandiri. Dengan kemandirian tersebut, guru diharapkan dapat menjadi figur shi fu yang membawa suasana kelas bagaikan magnet yang mampu memikat dan menarik anak didik untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan dan efektif.

Ketiga, reformasi pada aras evaluasi. Dihapuskannya evaluasi belajar tahap akhir nasioanl (ebtanas) menjadi ujian akhir nasional tidak akan memberikan imbas positif apa pun dalam dunia persekolahan selama bentuk yang digunakan masih berupa soal pilihan ganda. Selain tidak memotivasi guru mengoptimalkan proses pembelajaran di kelas, bentuk soal pilihan ganda hanya memperpanjang daftar keluaran yang tinggi nilai akademiknya, tetapi “bebal” sikap kritis dan daya nalarnya. Oleh sebab itu, untuk melahirkan tamatan yang benar-benar teruji kadar kecerdasannya, mereka perlu diuji melalui soal-soal uraian yang memerlukan daya nalar tingkat tinggi.

Persoalannya sekarang adalah, sudah siapkah pihak yang memiliki otoritas di bidang pendidikan menggulirkan “bola” reformasi dalam arti yang sesungguhnya kepada sekolah? Siap jugakah para praktisi pendidikan di lapangan menafsirkan dan menerjemahkannya menjadi tindakan dan aksi yang benar-benar menguntungkan dunia pendidikan? Nah, bagaimana? ***

Kategori: Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi | Tags: , , , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgGerakan Apolitis Kaum Muda Negeri Kelelawar (Friday, 30 October 2009, 330 pembaca, 142 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-11 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgKIB II dan Pupusnya Kekuatan Oposisi (Friday, 23 October 2009, 429 pembaca, 157 respon) Didampingi Wapres, Budiono, Presiden SBY telah melantik dan mengambil sumpah para menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II) di istana negara pada hari Kamis, 22 Oktober 2009. Berikut ini daftar menteri dan pejabat negara dalam kabinet baru yang...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Reformasi Sekolah, Apa Kabar?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Friday, 25 January 2008 (14:19)) pada kategori Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

25 Responses to "Reformasi Sekolah, Apa Kabar?"

  1. b_boy says:
    Menggunakan Firefox 3.0.4 Firefox 3.0.4 pada Windows XP Windows XP

    .salam kenal. . .

    i’am newbie
    Baca juga tulisan terbaru b_boy berjudul Ferdinand Fans Liverpool My ComLuv Profile

  2. bobby says:
    Menggunakan Firefox 3.0.4 Firefox 3.0.4 pada Windows XP Windows XP

    .berkunjung nih. .
    salam kenal….

  3. WordPress MU WordPress MU

    [...] dengan ide jeniusnya mengajak para Blogger untuk ikut memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, juga Pak Sawali yang begitu concern dengan pendidikan anak [...]

  4. tomy says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.11 Firefox 2.0.0.11 pada Windows XP Windows XP

    jadi senada sama Bang STR gitu loh :mrgreen: :mrgreen:

    tomy’s last blog post..LAYUNG-LAYUNG JINGGA

  5. tomy says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.11 Firefox 2.0.0.11 pada Windows XP Windows XP

    reformasi itu bagi saya cuma menambal kain yang robek Pak :mrgreen:
    karena kainnya udah tua tambalannya malah akan tambah merobeknya *halah sok tau loh*
    yang kita perlukan kayaknya revolusi Pak
    =perubahan mendasar paradigma cara berpikir kita sebagai bangsa= :idea:
    untuk menjadikan bangsa kita menjadi bngsa unggul memang diperlukan revolusi yang pertama-tama *harus* dari revolusi pendidikan & kebudayaan
    saya dukung Pak Sawali untuk menjadi Mendikbud guna memulai revolusi di bidang pendidikan & kebudayaan :wink:

    tomy’s last blog post..LAYUNG-LAYUNG JINGGA

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (97 queries: 1.007 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP