Home » Sastra » Perlukah Pengarang Melakukan “Pemberontakan”?

Perlukah Pengarang Melakukan “Pemberontakan”?

Pertanyaan yang tersirat dalam judul tulisan ini seringkali mengusik kegelisahan penulis atau calon penulis yang tengah memburu jatidiri. Dalam sebuah obrolan, banyak teman yang –entah sebagai pernyataan sikap minder atau rendah hati– bilang bahwa mereka tak punya bakat menulis. *Halah* Seperti biasanya, saya selalu “alergi” setiap kali mendengar pernyataan semacam itu. Banyak orang yang demikian “mendewakan” bakat dalam dunia kepenulisan. Padahal, sebenarnya nonsense saja. Siapakah sebenarnya yang tahu bakat seseorang? Bukankah bakat itu baru bisa dikenali setelah seseorang mampu melahirkan karya-karya hebat?

“Triyanto Triwikromo, Gus Tf. Sakai, atau Ayu Utami memang berbakat besar sebagai seorang sastrawan!” kata seorang teman suatu ketika. Yup, mereka, yang diberi label sastrawan itu diketahui berbakat setelah dari tangannya meluncur tes-teks sastra masterpiece. Hampir tak ada orang yang bisa menyebutnya seseorang itu memiliki bakat tertentu sebelum mampu membuktikan talentanya.

Saya kurang mempercayai betul adanya bakat. Keyakinan yang terlalu “mendewakan” bakat justru akan menjadi penghambat serius ketika kita sudah berniat mengibarkan bendera imajinasi kita dalam dunia kepenulisan. Tuhan menganugerahi kita dengan potensi-potensi “laten”. Semuanya butuh digali, digarap, dipupuk, dan dikembangkan hingga menjadi sebuah lahan yang subur. Baru menulis beberapa cerpen, tetapi tak satu pun yang bisa terselesaikan, lantas mengklaim dan mengutuk diri sendiri, “Kayaknya aku memang ndak berbakat nih. Bikin cerpen ndak pernah selesai!” Aduh, kenapa bisa berpandangan naif semacam itu, yak? Hehehehehe 😆

darma.jpgBudi Darma pernah bilang jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya pengarang kita belum berbobot. Kutiplah keterangan dari pengarang dunia kaleber kakap. Atau, tulislah sebuah puisi yang nyentrik. Tentu Anda akan menjadi terkenal mendadak.

Paling tidak, ada dua kandungan tafsir yang tersirat di balik pernyataan pengarang novel Olenka itu. Pertama, sebagai “pasemon” terhadap kelatahan pengarang yang suka bikin sensasi lewat eksperimentasi penciptaan yang mentah dan konyol, tanpa dibarengi akuntabilitas moral dan etik. Artinya, “pemberontakan” hanya dilakukan untuk memburu ketenaran nama an-sich, tidak berbasiskan kultur penciptaan yang dengan sangat sadar dilakukan untuk melahirkan teks-teks kreatif yang bernilai.

Kedua, “pemberontakan” bisa dimaknai sebagai upaya pengarang (baca: sastrawan) dalam melakukan perburuan kreativitas penciptaan yang lebih berbobot, sehingga mampu mengembuskan napas dan arus kesadaran baru lewat teks-teks sastra masterpiece sekaligus menyejarah. Atau lewat” pemberontakan” yang dilakukannya, sang sastrawan sanggup menancapkan tonggak sejarah baru di tengah-tengah dinamika kesusastraan.

Hampir setiap angkatan sejarah mencatat kemunculan para “pemberontak” yang berupaya melakukan pembebasan “mitos” penciptaan teks-teks sastra. “Pemberontakan” yang mereka lakukan bukanlah sikap latah yang berambisi melambungkan namanya di tengah jagat kesusastraan, tetapi lebih berupaya mencari dan menemukan bentuk pengucapan yang sesuai dengan tuntutan hati nurani dan kepekaan estetikanya.

Marah Rusli lewat Siti Nurbaya pada masa Balai Pustaka, Armyn Pane lewat Belenggu pada masa Pujangga Baru, Chairil Anwar lewat sajak “Aku” pada Angkatan ’45, Sutarji Calzoum Bachri (penyair) lewat antologi O, Amuk, Kapak, atau Danarto lewat antologi Godlob pada era 1970-an adalah beberapa nama yang bisa dibilang sukses melakukan “pemberontakan” kreatif, sehingga bobot kesastraan mereka amat diperhitungkan dalam diskursus sastra kita. Tentu masih banyak pengarang lain yang dengan sangat sadar meniupkan roh dan semangat “pemberontakan” dalam karya-karya mereka.

camus.jpgDalam sastra dunia, konon Albert Camus yang pernah mendapatkan hadiah Nobel Sastra tahun 1957, sebenarnya juga seorang “pemberontak”. Lewat bukunya L’Home Revolte (Manusia Pemberontak), ia mengatakan, manusia perlu memprotes nasibnya. Bahkan, jika perlu ia harus memprotes seluruh makhluk dan kehidupan yang ada di dunia ini sesuai dengan kondisi yang ada (Atmosuwito, 1989). Ini artinya, “pemberontakan” kreatif yang dengan sangat sadar dilakukan oleh seorang sastrawan, baik dalam aspek muatan maupun aspek penyajian, akan mampu menciptakan dan melahirkan teks sastra baru yang inovatif dan “monumental”.

sm16achmadthohari29.jpgHarus diakui, kesusastraan mutakhir kita baru memiliki beberapa gelintir sastrawan yang dengan sangat sadar melakukan “pemberontakan” kreatif lewat teks-teks sastra yang diluncurkannya, bahkan bisa dibilang miskin “pemberontakan”. Sebut saja Ahmad Tohari, seorang ulama yang sukses mengeksplorasi dunia ronggeng daerah Banyumas lengkap dengan warna lokalnya yang khas —blaka suta dan cablaka–dalam triloginya Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala. Karyanya bisa “melegenda” lantaran keberaniannya melakukan “pcmberontakan” dengan mengungkap pernik-pernik kehidupan dan kultur sosiologis masyarakat grass-root yang ditabukan bagi kalangan santri.

sm1darmanto23a.jpgDarmanto Jatman juga bisa dibilang sastrawan “pemberontak”. Lewat teks-teks puisinya, ia melakukan eksplorasi bahasa yang dipadukan dengan penggalian tema-tema manusia marginal, masyarakat paria, yang tak berdaya menghadapi bayang-bayang “adikuasa”. Demikian juga sastrawan muda Triyanto Triwikromo lewat teks-teks cerpen terornya, baik yang terkumpul dalam Rezim Seks maupun Pintu Tertutup Salju (kumpulan cerpen bersama Herlino Soleman) yang berupaya melakukan eksplorasi tema-tema peradaban yang sakit dengan corak penyajian yang dinilai “nyempal” dari tradisi penciptaan cerpen yang pernah muncul.

ayu-utami.jpgKeminiman potensi sastrawan “pemberontak”, disadari atau tidak, telah membikin sastra mutakhir kita menjadi sebuah Indonesia yang tertinggal. Hingga kini belum muncul Ahmad Tohari atau Darmanto Jatman baru yang sanggup meluncurkan teks-teks sastra kreatif yang “menghebohkan” publik dan pencinta sastra. Dalam konteks ini, Ayu Utami lewat novel Saman-nya –yang lahir dari sebuah ajang festival– bisa dikatakan sebuah fenomena. Nama yang selama ini (nyaris) tidak menampakkan gairah penciptaan teks-teks sastra lewat media cetak, tiba-tiba saja sanggup meluncurkan sebuah karya yang dipuji banyak pengamat.

Mengapa dinamika sastra mutakhir kita menjadi demikian stagnan? Selain kemiskinan “pemberontakan” kreatif yang dilakukan oleh para pengarang, menurut hemat saya, ada beberapa asumsi yang bisa dikemukakan. Pertama, negeri ini mungkin bukan ladang yang subur bagi pertumbuhan sastra. Gairah penciptaan dan kreativitas para pengarang memang terus mengalir di berbagai media cetak. Namun, hal ini belum bisa jadi bukti eksisnya kehidupan sastra di negeri ini. Apalagi, tradisi kritik, apresiasi publik, dan penghargaan finansial terhadap dunia kesusastraan masih berada pada aras yang amat rendah. Imbasnya, tidak sedikit sastrawan yang hengkang dari kampung halaman dan mengadu nasib ke kota lain. Jarang –lebih tepat dibilang langka– sastrawan yang benar-benar bisa hidup dari dunia yang digelutinya. Pameran dan peluncuran buku atau pentas dan diskusi sastra pun sepi peminat.

Kedua, kelangkaan penerbit yang memiliki idealisme untuk menggairahkan dan menghidupkan buku-buku sastra. Eksistensi seorang pengarang akan terasa makin “sempurna” bila tangannya telah mampu melahirkan sebuah buku. Namun, mewujudkan impian itu tidak mudah, apalagi penerbit mustahil mau menanggung risiko rugi jika kelak buku sastra yang diterbitkannya tak terjamah konsumen. Kondisi penerbitan yang terlalu berorientasi pada keuntungan itu jelas sangat tidak kondusif bagi idealisme pengarang.

Dan ketiga, mandulnya peran Dewan Kesenian (cq Komite Sastra) dalam memberdayakan kantong-kantong sastra di daerah. Keberadaan Dewan Kesenian tak lebih dari sebuah perpanjangan tangan birokrasi yang mengurus persoalan-persoalan administratif dan pendanaan ketimbang substansi dan esensi kesastraan. Akibatnya, potensi local genius kesusastraan tak bisa berkembang. Aktivitas sastra yang bisa dijadikan sebagai ajang untuk menggairahkan dunia penciptaan teks-teks sastra dan apresiasi publik tak pemah tersentuh. Dialog dan curah pikir kesastraan yang mestinya dilakukan secara serius dan intensif pun jarang dilakukan.

Jika kondisi di atas terus berlanjut, bukan mustahil nasib kesusastraan mutakhir kita makin merana dan tak terurus. Dalam konteks demikian, dibutuhkan kesadaran kolektif semua pihak yang masih memiliki kepedulian untuk menghidupkan dunia sastra kita.

Sebagai kreator, sastrawan dituntut memiliki nyali “pemberontakan” kreatif dalam melakukan perburuan, inovasi, eksplorasi aspek muatan hidup dan aspek penyajian sehingga mampu menancapkan tonggak yang “melegenda” dalam khazanah sastra. Jika proses ini berhasil, penerbit yang memiliki idealisme terhadap persoalan-persoalan budaya dan kemanusiaan pasti akan memburunya. Dimensi hidup dan kehidupan di tengah-tengah masyarakat perlu terus digali dan diangkat ke dalam teks-teks sastra, sehingga mampu memancarkan aura kemanusiaan bagi penikmatnya. Fenomena dan perubahan semesta kehidupan memang akan terus tcrjadi. Dengan kepekaan intuitifnya, sastrawan diharapkan mampu menafsirkan dan menerjemahkan berbagai persoalan mikro dan detil kehidupan menjadi lebih bermakna.

Para calon pengarang hendaknya juga jangan terlalu mempercayai adanya bakat. “Pemberontakan” dengan menampilkan teks-teks baru yang lebih liar dan mencengangkan justru akan lebih bernilai dan bermakna ketimbang berdebat soal ada atau tidaknya bakat kepengarangan. Proses kreatif-lah yang akan lebih menentukan keberhasilan seorang pengarang atau calon pengarang.

Masih banyak persoalan sastra yang belum tergarap secara serius, termasuk upaya meningkatkan apresiasi publik terhadap sastra. Dunia pendidikan sebagai wadah pemberdayaan generasi perlu dijadikan ajang apresiasi dan “pembumian” kesusastraan. Bahkan jika perlu, mesti ada program “sastrawan masuk sekolah” –baik secara rutin maupun insidental– untuk membantu guru-guru sastra yang selama ini dianggap gagal menanamkan apresiasi sastra kepada peserta didiknya. Nah! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Perlukah Pengarang Melakukan “Pemberontakan”?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (21 Januari 2008 @ 12:48) pada kategori Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 26 komentar dalam “Perlukah Pengarang Melakukan “Pemberontakan”?

  1. Era 90-an, sastra ada di koran.
    Era 2000-an, sastra ada di alam maya.
    Seabad kemudian, sastra entah ada di mana?

    Kenapa pula kembali ke masa pertengahan abad yang lalu. Saat sastra masih bersifat sentralistis. Saat inikan, tren desentralisasi. Sistem pemerintahan mengacu ke sana, kekuatan dunia mulai berimbang, berita bukan lagi hak mediamedia besar, dan lahan ekspresi seseorang makin mencair dan beragam. Tidak ada pusat, hanya perayaan semata. Perayaan akan keragaman.

  2. Gitu ya, pak. saya jadi mengerti. baiklah, semangat!!! saya akan menulis lagi dengan hasil sejelek apapun tanpa mengeluh tak berbakat. dan akan aku selesaikan cerpen2 ku yang sepengal2. terima kasih ya tulisannya yang sangat bermanfaat.

    Hanna Fransisca’s last blog post..Menggugat Cinta

    oOo
    Bagus banget, Mbak Hanna. Semangath! Saya siap menjadi pembaca setia cerpen2 mbak hanna itu, hehehehe 😆 jangan lagi mengeluh karena tak punya bakat :mrgreen: baca juga komen temen2 tuh. mereka umumnya juga ndak begitu percaya adanya bakat. yang lebih utama, la iyalah, menulis, menulis, dan menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *