Sunday, 6 January 2008 (04:45) | 1,426 pembaca | 29 komentar | Print this Article
Jika dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, muatan sastra dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tampak lebih utuh dan komprehensif. Ada keterampilan reseptif (mendengarkan dan membaca) dan produktif (berbicara dan menulis) sekaligus di dalamnya. Dengan kata lain, ada aktivitas siswa untuk mendengarkan sastra, membaca sastra, berbicara sastra, dan menulis sastra selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kalau muatan sastra dalam KTSP ini disajikan dengan baik, fenomena “rabun sastra” yang konon sudah menggejala di kalangan pelajar itu, saya yakin akan dapat teratasi.
Persoalannya sekarang, sudah benar-benar dalam kondisi siapkah para guru bahasa menyajikan muatan sastra dalam KTSP itu kepada siswa didik? Sanggupkah para guru bahasa kita memikul peran ganda; sebagai guru bahasa dan sekaligus guru sastra? Mampukah para guru bahasa kita memberikan bekal yang cukup memadai kepada anak-anak negeri ini dalam mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis sastra? Hal ini penting saya kemukakan, sebab selama ini memang tidak ada spesifikasi dalam penyajian materi bahasa dan sastra. Guru bahasa dengan sendirinya harus menjadi guru sastra.
Kalau guru bahasa memiliki kompetensi sastra yang memadai, jelas tidak ada masalah. Mereka bisa mengajak siswa didiknya untuk “berlayar” menikmati samudra sastra dan estetikanya. Melalui sastra, siswa bisa belajar banyak tentang persoalan hidup dan kehidupan, memperoleh “gizi” batin yang mampu mencerahkan hati nurani, sehingga sanggup menghadapi kompleks dan rumitnya persoalan kehidupan secara arif dan dewasa. Namun, secara jujur mesti diakui, tidak semua guru bahasa memiliki kompetensi sastra yang memadai. Minat dan kecintaan guru bahasa terhadap sastra masih menjadi tanda tanya. Tidak berlebihan jika pengajaran sastra di sekolah cenderung monoton, kaku, bahkan membosankan.
Tidak semua guru bahasa mampu menjadikan sastra sebagai “magnet” yang mampu menarik minat siswa untuk mencintai sastra. Yang lebih memprihatinkan, pengajaran sastra hanya sekadar menghafal nama-nama sastrawan beserta hasil karyanya. Siswa tidak pernah diajak untuk menggumuli dan menikmati teks-teks sastra yang sesungguhnya. Kalau kondisi semacam itu terus berlanjut bukan mustahil peserta didik akan mengidap “rabun” sastra berkepanjangan. Implikasi lebih jauh, dambaan pendidikan untuk melahirkan manusia yang utuh dan paripurna hanya akan menjadi impian belaka.
Kini sudah saatnya dipikirkan pemberdayaan guru bahasa dalam pengertian yang sesungguhnya. Format pemberdayaan guru semacam seminar, lokakarya, penataran, atau diklat yang cenderung formal dan kaku, tampaknya sudah tidak efektif. Forum non-formal semacam bengkel sastra barangkali justru akan lebih efektif. Mereka bisa saling berbagi pengalaman dan berdiskusi. Simulasi pengajaran sastra yang ideal bisa dipraktikkan bersama-sama, sehingga guru bahasa memperoleh gambaran konkret tentang cara menyajikan apresiasi sastra yang sebenarnya kepada siswa.
Guru bahasa menjadi figur sentral dalam menaburkan benih dan menyuburkan apresiasi sastra di kalangan peserta didik. Kalau pengajaran sastra diampu oleh guru yang tepat, imajinasi siswa akan terbawa ke dalam suasana pembelajaran yang dinamis, menarik, kreatif, dan menyenangkan. Sebaliknya, jika pengajaran sastra disajikan oleh guru yang salah, bukan mustahil situasi pembelajaran akan terjebak dalam atmosfer yang kaku, monoton, dan membosankan. Imbasnya, gema apresiasi sastra siswa tidak akan pemah bergeser dari “lagu lama”, terpuruk dan tersaruk-saruk.
Kini, KTSP sudah diluncurkan. Dari sisi muatan materi ajar, KTSP terkesan lebih ramping dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Namun, dari sisi pendalaman materi, KTSP terasa lebih intens dan konkret dalam memberikan bekal kompetensi kepada siswa. Secara eksplisit, KTSP sudah mencantumkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Konsekuensinya, guru harus benar-benar mumpuni dan berkompeten di bidangnya. Jika tidak, kegagalan KTSP sudah menanti, menyusul kegagalan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Demikian juga halnya dengan pengajaran sastra. Guru bahasa yang sekaligus guru sastra jelas dituntut memiliki kompetensi dan talenta sastra yang memadai.
Ada baiknya Depdiknas perlu segera melakukan pemetaan guru bahasa untuk mengetahui guru bahasa yang memiliki kompetensi dan minat di bidang sastra. Merekalah yang kelak diharapkan menjadi guru sastra yang mampu membawa dunia siswa untuk mencintai sastra. Guru bahasa yang nihil talenta dan miskin minat sastranya tidak usah dibebani tugas ganda. Biarkan mereka berkonsentrasi di bidang kebahasaan, sehingga mampu memberikan bekal kompetensi kebahasaan secara memadai. Sebaliknya, biarkan pengajaran sastra diurus oleh guru bahasa yang benar-benar memiliki kompetensi dan minat di bidang sastra. Dengan spesialisasi semacam itu, kompetensi bahasa dan sastra siswa diharapkan bisa berkembang bersama-sama tanpa ada yang dianaktirikan. ***
———————————–
Catatan: Gambar “dicuri” dari sini.





































[...] Guru Bahasa, Sastra, dan KTSP Jika dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, muatan sastra dalam Kurikulum Tingkat Sat… [...]
Assalamualaikum, Pak…
Salam kenal dari saya di Cirebon nih Pak..
Saya sedang menyusun skripsi tentang ‘Penggunaan metode implikasi konflik dalam pembelajaran menulis cerpen’…
Bisa tolong tunjukkan referensi lain gak Pak?
Misal, metode-metode yang terkait…
Terima Kasih sebelumnya,,,
Wassalam… :mrgreen:
tolong donk…saya kirimin gambaran tentang kontribusi membaca sastra yang lengkap…..
@ extremusmilitis :
saya kira bener, Bung Militis agar sastra benar diajarkan oleh guru yang tepat.
@ iman brotoseno :
model yang diterapkan di kanisius saya kira layak untuk dicontoh, Mas Imam sehingga para siswa, mau atau tidak, harus membaca karya sastra.
Sawali Tuhusetya’s last blog post..Andrea Hirata Menjadi Presiden?
ini menjadi tantangan sendiri..karena budaya sastra tidak mudah..Jadi ingat waktu SMA di kanisius dulu, buat pelajaran bahasa Indonesia, kami diwajibkan membuat sinopsis karya /roman sastra sebulan sekali..itu yang mungkin saya begitu menyukai sastra sampai sekarang
iman brotoseno’s last blog post..Telanjang ? Siapa Takut
Seperti-nya sih mending ada spesialisasi untuk Guru Sastra Pak Guru, yang emang memiliki talenta, minat, dan keinginan untuk ber-sastra ria, sehingga dapat memancing minat siswa untuk lebih men-dalami sastra.
extremusmilitis’s last blog post..Kenangan Tidak Selalu Baik
@ gempur:
kalau kita cermati muatan materi bahasa dan sastra dalam KTSP sebenarnya seimbang, Pak. Masing-masing memiliki SK dan KD tersendiri dalam keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. yang menjadi persoalan, dalam praktiknya, muatan sastra tidak disajikan secara seimbang dengan muatan bahasa. Mengapa? *halah* Yak, secara jujur harus diakui, banyak guru bahasa yang minim talenta dan minatnya terhadap sastra. akibatnya, materi sastra sering dilewati begitu saja.
Menulis itu salah satu aspeknya. Pelajaran sastra difokuskan pada keterampilan reseptif (mendengarkan dan membaca) dan produktif (berbicara dan menulis) sehingga mereka tidak lagi gagap sastra.
Sawali Tuhusetya’s last blog post..Guru Bahasa, Sastra, dan KTSP
Nuwun sewu pak awali, sepertinya pengajaran sastra dalam pelajaran bahasa indonesia sangatlah minim porsinya, kalau gak salah?! Malah sekarang namanya cuma “Bahasa Indonesia” sementara dulu “Bahasa dan SASTERA Indonesia”… Bukan begitu pak?!
Mengingat kembali masa sekolah, saya merasa, muatan linguistik atau bahasanya lebih kental ketimbang sastra..
Terlepas dari itu, sebenarnya yang membuat resah saya bukan pada “apakah siswa mampu menghasilkan teks sastra?” tapi lebih pada “apakah siswa mampu menulis?”. Terus terang, saya tak memiliki kemampuan sedikitpun untuk menulis selepasa SMA. Diminta mengarang pun, saya hanya mampu menghasilkan karangan dengan lkevel anak SD.
Kini, setelah menggeluti profesi guru, saya tak mau mengulang kesalahan yang sama, saya hanya ingin siswa saya rajin menulis dan produktif mengutarakan isi pikiran dan hatinya. Setelah mereka terbiasa menulis, harapan saya, menghasilkan teks sastra akan lebih mudah.. Meski sepandai apa pun seseorang dalam hal menulis, belum tentu mampu menghasilkan teks sastra yang berbobot.. Bagi saya, menulis sastra adalah pekerjaan besar. Lebih sulit daripada merakit komputer bahkan utaik-atik script. hehehehe
Jadi, kalau diurutkan, mencintai membaca, mencintai menulis, mencintai sastra dan menghasilkan teks sastra.. mudahan salah.. dengan begitu pasti ada penyempurnaan.. Amin..
@ Ersis WA :
makasih banget pak ersis. emang udah saatnya pak, guru beraksi nyata. ndak perlu banyak teori. halah. sepakat banget, pak.
Sawali Tuhusetya’s last blog post..Guru Bahasa, Sastra, dan KTSP