Home » Esai » Sastra » Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup » 32011 pembaca

Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup

sitor situmorangEntah, setiap kali menjelang lebaran, saya selalu diingatkan lirik Sitor Situmorang dalam puisinya “Malam Lebaran”. Puisinya hanya terdiri atas satu larik: “Bulan di atas kuburan”. Meski pendek, puisi ini menawarkan kandungan makna yang “liar” sekaligus juga imajinatif.

Dari sisi stylistika, “Malam Lebaran” bisa dibilang sebagai “pembaharu” dalam perpuisian Indonesia di tengah maraknya puisi-puisi naratif kontemporer. Meski demikian, saya tak ingin membedahnya dari sisi stylistika. Saya justru lebih tertarik untuk menelaahnya dari aspek muatan isi yang saya anggap “liar” dan imajinatif itu. Saya juga tak menggunakan pendekatan atau teori sastra tertentu, tetapi lebih pada upaya penafsiran dan pemaknaan dari sudut pandang pribadi saya sebagai seorang penikmat dan pencinta puisi yang ingin saya kaitkan dengan momentum lebaran yang sebentar lagi akan datang menjenguk kita.

Kalau kita perhatikan dengan saksama, larik pendek itu tak bisa dipisahkan dari judulnya. Secara sederhana, puisi tersebut bisa kita parafrasekan menjadi : //Pada malam lebaran, ada rembulan di atas kuburan//.

Ya, ya, ya. Dalam penafsiran awam saya, setidaknya ada tiga frasa dan kata kunci yang hendak ditekankan oleh penyair kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1924 itu, yakni “malam lebaran”, “rembulan”, dan “di atas kuburan”. Dari sisi logika, larik puisi ini jelas absurd, mustahil, dan tak masuk akal. Rembulan tak mungkin muncul pada malam lebaran, bukan? Namun, sesungguhnya larik tersebut tak bisa hanya sebatas kita maknai secara harfiah. Ada nilai-nilai kehidupan yang serba kontradiktif yang hendak didedahkan sang penyair.

Lebaran, sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat penuh kebahagiaan setelah sebulan lamanya berhasil menjalankan ibadah puasa. Hampir semua orang tenggelam dalam hiruk-pikuk kemeriahan menyambut saat-saat “pembebasan” itu. Semua orang, apa pun pangkat dan kedudukannya, baju politik warna apa pun yang dipakai, atau status sosial keseharian apa pun yang disandangnya, (nyaris) semuanya tak melewatkan momentum yang sarat berkah dan maghfirah itu. Tak salah kalau Sitor Situmorang menggunakan kata simbolik “bulan” sebagai ikon kebahagiaan dan kemeriahan.

Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan pada malam lebaran itu, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari “pembebasan” itu. Mereka tak bisa mudik dan terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan lebaran di kampung halaman. Situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan “memaksa” mereka untuk meniadakan momentum lebaran dalam “kamus” hidupnya. Mereka hanya bisa mendengarkan gema suara takbir yang terdengar pilu; tak ubahnya menikmati lengkingan orkestra yang tragis dan menyayat nurani. Tak salah juga kalau Sitor Situmorang menggunakan frasa “di atas kuburan”.

Begitulah, idealnya lebaran juga perlu dijadikan sebagai momentum untuk saling berbagi dan bersilaturahmi, khususnya kepada mereka yang bernasib kurang beruntung. Konon, di balik kekayaan dan penghasilan yang kita miliki ada hak juga bagi fakir miskin dan anak-anak telantar. Bahkan, mereka yang suka mengemplang dan mencuri harta rakyat dan negara, lebaran perlu dimaknai sebagai momentum pertobatan untuk mengembalikan kekayaan yang mereka peroleh secara tidak sah kepada negara, tanpa harus menunggu diserbu KPK. Cara semacam ini akan lebih terhormat daripada dipaksa harus memakai seragam koruptor versi KPK.

Bisa jadi, penafirsan “selengekan” semacam ini jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Sitor Situmorang. Namun, sebagai genre sastra, puisi yang multitafsir bisa dimaknai secara personal oleh apresiannya. Sampeyan memiliki penafsiran yang berbeda? ***

Tulisan berjudul "Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (27 September 2008 @ 21:09) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!
Share to: Twitter Facebook Google+ Linkedin Pinterest

10 Comments

  1. pertama, selamat idul fitri dulu pak sawali. maafkan segala salah saya, segala tindakan, atau tulisan yang mungkin menyebabkan hati nggak enak dan tidur gak nyenyak. maaf lahir batin.

    kedua, tentang puisi sitor di atas, itu termasuk favorit saya saat kuliah. ah jadi mengenang nostalgia di kampus sastra universitas andalas padang dulu. beberapa pendapat peneliti sastra memang dapat dimengerti, walau menurut sitor sendiri puisi itu lahir begitu saja. ia barusan pulang setelah sebelumnya bertamu dan tidak ketemu si tuan rumah. kejadiannya malam hari beberapa hari setelah lebaran. pada saat pulang itu, langkah sitor terhenti pada tempat pemakaman. ada cahaya bulan menimpa beberapa makam/kuburan. dalam pikirannya terlontar begitu saja kata-kata ‘malam lebaran’ diikuti dengan ‘ada bulan di atas kuburan’.
    itu cerita sitor pada buku proses kreatif yang kalau tak salah disusun pamusuk.

    ketiga, saya memahami puisi itu sebagai 2 kejadian yang sebenarnya bertolak belakang. meski sitor menceritakankan proses kreatifnya seperti di atas, saya setuju apa yang dikatakan penyair upita agustine, bahwa kepada puisi tidaklah dicari apa maknanya melainkan ia hadir untuk dimaknai. jadi bila dikembalikan pada puisi di atas jelaslah, lebaran suasana gembira, suasana menyambut kemenangan. Di sisi lain kuburan menyiratkan kesedihan. Jadi? Ya kegembiraan di balik kesedihan atau kesedihan di antara kegembiraan.

    keempat, persoalannya sekarang pada saat kita menyongsong lebaran dengan suasana gembira, adakah kita peduli dengan tetangga atau orang yang ada di sekitar kita? mereka menangis, merintih, berduka lantaran tak memiliki apa-apa, ditimpa musibah, digusur, dan sebagainya. inilah simbolisme lain yang ingin ditawarkan oleh sitor bila kita kaitkan dengan suasana sekarang.

  2. Wah puisinya sependek itukah?
    tapi penjelasannya sepanjang ini, benar2 sastrawan itu multi tafsir. Tapi menarik dari penjelasan pak Sawali, saya jadi memahami dan merenungi makna lebaran dari ungkapan ini:

    Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan pada malam lebaran itu, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari “pembebasan” itu.

    :d

    N/B: Maaf pak saya selalu eror kalau ke mari. Browserku mozilla, tapi setelah ganti googlechrome jadi teng ting teng… 😀

  3. wah, beberapa hari puasa ngeblog, saya ketinggalan banyak tulisan nih.
    tulisan ini dulu yang saya pilih, karena momennya pas, lagi kangen sama kampung halaman menjelang lebaran, momen yang penuh kemenangan.
    saya awam sekali dengan puisi, pak sawali.
    membaca apresiasi anda justru mencerahkan pengetahuan saya.
    makasih banyak loh, pak.
    jadi agak melek deh sekarang.
    selamat idul fitri ya, pak?
    “pesanan” fiksi dengan backdrop australia udah matang tuh di blog saya.
    heheh…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*