Sabtu, 25 Oktober 2014

Saturday, 27 September 2008 (21:09) | Esai, Sastra | 19738 pembaca | 70 komentar

sitor situmorangEntah, setiap kali menjelang lebaran, saya selalu diingatkan lirik Sitor Situmorang dalam puisinya “Malam Lebaran”. Puisinya hanya terdiri atas satu larik: “Bulan di atas kuburan”. Meski pendek, puisi ini menawarkan kandungan makna yang “liar” sekaligus juga imajinatif.

Dari sisi stylistika, “Malam Lebaran” bisa dibilang sebagai “pembaharu” dalam perpuisian Indonesia di tengah maraknya puisi-puisi naratif kontemporer. Meski demikian, saya tak ingin membedahnya dari sisi stylistika. Saya justru lebih tertarik untuk menelaahnya dari aspek muatan isi yang saya anggap “liar” dan imajinatif itu. Saya juga tak menggunakan pendekatan atau teori sastra tertentu, tetapi lebih pada upaya penafsiran dan pemaknaan dari sudut pandang pribadi saya sebagai seorang penikmat dan pencinta puisi yang ingin saya kaitkan dengan momentum lebaran yang sebentar lagi akan datang menjenguk kita.

Kalau kita perhatikan dengan saksama, larik pendek itu tak bisa dipisahkan dari judulnya. Secara sederhana, puisi tersebut bisa kita parafrasekan menjadi : //Pada malam lebaran, ada rembulan di atas kuburan//.

Ya, ya, ya. Dalam penafsiran awam saya, setidaknya ada tiga frasa dan kata kunci yang hendak ditekankan oleh penyair kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1924 itu, yakni “malam lebaran”, “rembulan”, dan “di atas kuburan”. Dari sisi logika, larik puisi ini jelas absurd, mustahil, dan tak masuk akal. Rembulan tak mungkin muncul pada malam lebaran, bukan? Namun, sesungguhnya larik tersebut tak bisa hanya sebatas kita maknai secara harfiah. Ada nilai-nilai kehidupan yang serba kontradiktif yang hendak didedahkan sang penyair.

Lebaran, sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat penuh kebahagiaan setelah sebulan lamanya berhasil menjalankan ibadah puasa. Hampir semua orang tenggelam dalam hiruk-pikuk kemeriahan menyambut saat-saat “pembebasan” itu. Semua orang, apa pun pangkat dan kedudukannya, baju politik warna apa pun yang dipakai, atau status sosial keseharian apa pun yang disandangnya, (nyaris) semuanya tak melewatkan momentum yang sarat berkah dan maghfirah itu. Tak salah kalau Sitor Situmorang menggunakan kata simbolik “bulan” sebagai ikon kebahagiaan dan kemeriahan.

Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan pada malam lebaran itu, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari “pembebasan” itu. Mereka tak bisa mudik dan terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan lebaran di kampung halaman. Situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan “memaksa” mereka untuk meniadakan momentum lebaran dalam “kamus” hidupnya. Mereka hanya bisa mendengarkan gema suara takbir yang terdengar pilu; tak ubahnya menikmati lengkingan orkestra yang tragis dan menyayat nurani. Tak salah juga kalau Sitor Situmorang menggunakan frasa “di atas kuburan”.

Begitulah, idealnya lebaran juga perlu dijadikan sebagai momentum untuk saling berbagi dan bersilaturahmi, khususnya kepada mereka yang bernasib kurang beruntung. Konon, di balik kekayaan dan penghasilan yang kita miliki ada hak juga bagi fakir miskin dan anak-anak telantar. Bahkan, mereka yang suka mengemplang dan mencuri harta rakyat dan negara, lebaran perlu dimaknai sebagai momentum pertobatan untuk mengembalikan kekayaan yang mereka peroleh secara tidak sah kepada negara, tanpa harus menunggu diserbu KPK. Cara semacam ini akan lebih terhormat daripada dipaksa harus memakai seragam koruptor versi KPK.

Bisa jadi, penafirsan “selengekan” semacam ini jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Sitor Situmorang. Namun, sebagai genre sastra, puisi yang multitafsir bisa dimaknai secara personal oleh apresiannya. Sampeyan memiliki penafsiran yang berbeda? ***

Tulisan berjudul "Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (27 September 2008 @ 21:09) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Pilpres, Mudik, dan Lebaran (Saturday, 26 July 2014, 536844 pembaca, 8 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Suasana Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada minggu pertama, tepatnya 9 Juli 2014, ditandai...

Jalan Menuju Gumam (Wednesday, 30 October 2013, 116480 pembaca, 6 respon) Oleh M. Nahdiansyah Abdi Empat buku gumam telah diluncurkan oleh Ali Syamsudin Arsi (ASA), yaitu Negeri Benang pada Sekeping Papan (2008), Tubuh di...

Mengungkap Keunikan Gumam Asa Bungkam Mata Gergaji (Thursday, 24 October 2013, 115508 pembaca, 5 respon) Hamberan Syahbana I Bungkam Mata Gergaji adalah sebuah buku kumpulan gumam Ali Syamsudin Arsi,yang biasa disebut dengan panggilan Bung ASA, salah...

Bang Ali Syamsudin Arsi, Umbu Landu Paranggi, dan Puisi Gumam (Monday, 16 September 2013, 102724 pembaca, 6 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Ali Syamsudin Arsi! Sastrawan yang suka menggunakan nick-name “Asa” ini memang sudah tidak asing lagi buat saya. Meski...

Tiba waktu; “Puisi Jernihkan …” (Monday, 17 June 2013, 97882 pembaca, 2 respon) Oleh: Ali Syamsudin Arsi Penghujung bulan Juni, tepatnya pada tanggal 28 nanti, bertempat di arena pentas bernama Panggung Bundar Mingguraya...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

70 komentar pada "Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup"

  1. arin says:

    ijin post ulang ya. saya akan buat kreditnya juga :)
    trima kasih :)

Leave a Reply