Top

Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Saturday, 27 September 2008 | 521 pembaca | 63 komentar | Feed
Kategori: Bahasa, Budaya, Esai, Opini, Pendidikan, Politik, Refleksi, Sastra

sitor situmorangEntah, setiap kali menjelang lebaran, saya selalu diingatkan lirik Sitor Situmorang dalam puisinya “Malam Lebaran”. Puisinya hanya terdiri atas satu larik: “Bulan di atas kuburan”. Meski pendek, puisi ini menawarkan kandungan makna yang “liar” sekaligus juga imajinatif.

Dari sisi stylistika, “Malam Lebaran” bisa dibilang sebagai “pembaharu” dalam perpuisian Indonesia di tengah maraknya puisi-puisi naratif kontemporer. Meski demikian, saya tak ingin membedahnya dari sisi stylistika. Saya justru lebih tertarik untuk menelaahnya dari aspek muatan isi yang saya anggap “liar” dan imajinatif itu. Saya juga tak menggunakan pendekatan atau teori sastra tertentu, tetapi lebih pada upaya penafsiran dan pemaknaan dari sudut pandang pribadi saya sebagai seorang penikmat dan pencinta puisi yang ingin saya kaitkan dengan momentum lebaran yang sebentar lagi akan datang menjenguk kita.

Kalau kita perhatikan dengan saksama, larik pendek itu tak bisa dipisahkan dari judulnya. Secara sederhana, puisi tersebut bisa kita parafrasekan menjadi : //Pada malam lebaran, ada rembulan di atas kuburan//.

Ya, ya, ya. Dalam penafsiran awam saya, setidaknya ada tiga frasa dan kata kunci yang hendak ditekankan oleh penyair kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1924 itu, yakni “malam lebaran”, “rembulan”, dan “di atas kuburan”. Dari sisi logika, larik puisi ini jelas absurd, mustahil, dan tak masuk akal. Rembulan tak mungkin muncul pada malam lebaran, bukan? Namun, sesungguhnya larik tersebut tak bisa hanya sebatas kita maknai secara harfiah. Ada nilai-nilai kehidupan yang serba kontradiktif yang hendak didedahkan sang penyair.

Lebaran, sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat penuh kebahagiaan setelah sebulan lamanya berhasil menjalankan ibadah puasa. Hampir semua orang tenggelam dalam hiruk-pikuk kemeriahan menyambut saat-saat “pembebasan” itu. Semua orang, apa pun pangkat dan kedudukannya, baju politik warna apa pun yang dipakai, atau status sosial keseharian apa pun yang disandangnya, (nyaris) semuanya tak melewatkan momentum yang sarat berkah dan maghfirah itu. Tak salah kalau Sitor Situmorang menggunakan kata simbolik “bulan” sebagai ikon kebahagiaan dan kemeriahan.

Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan pada malam lebaran itu, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari “pembebasan” itu. Mereka tak bisa mudik dan terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan lebaran di kampung halaman. Situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan “memaksa” mereka untuk meniadakan momentum lebaran dalam “kamus” hidupnya. Mereka hanya bisa mendengarkan gema suara takbir yang terdengar pilu; tak ubahnya menikmati lengkingan orkestra yang tragis dan menyayat nurani. Tak salah juga kalau Sitor Situmorang menggunakan frasa “di atas kuburan”.

Begitulah, idealnya lebaran juga perlu dijadikan sebagai momentum untuk saling berbagi dan bersilaturahmi, khususnya kepada mereka yang bernasib kurang beruntung. Konon, di balik kekayaan dan penghasilan yang kita miliki ada hak juga bagi fakir miskin dan anak-anak telantar. Bahkan, mereka yang suka mengemplang dan mencuri harta rakyat dan negara, lebaran perlu dimaknai sebagai momentum pertobatan untuk mengembalikan kekayaan yang mereka peroleh secara tidak sah kepada negara, tanpa harus menunggu diserbu KPK. Cara semacam ini akan lebih terhormat daripada dipaksa harus memakai seragam koruptor versi KPK.

Bisa jadi, penafirsan “selengekan” semacam ini jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Sitor Situmorang. Namun, sebagai genre sastra, puisi yang multitafsir bisa dimaknai secara personal oleh apresiannya. Sampeyan memiliki penafsiran yang berbeda? ***

Tulisan Terkait:

63 komentar terhadap “Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup”

  1. marshmallow | Saturday, 27 September 2008 | @ 21:29

    wah, beberapa hari puasa ngeblog, saya ketinggalan banyak tulisan nih.
    tulisan ini dulu yang saya pilih, karena momennya pas, lagi kangen sama kampung halaman menjelang lebaran, momen yang penuh kemenangan.
    saya awam sekali dengan puisi, pak sawali.
    membaca apresiasi anda justru mencerahkan pengetahuan saya.
    makasih banyak loh, pak.
    jadi agak melek deh sekarang.
    selamat idul fitri ya, pak?
    “pesanan” fiksi dengan backdrop australia udah matang tuh di blog saya.
    heheh…

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 14:57

    wah, nggak juga, mbak yulfi, baru ada 2 postingan. yang satu itu tulisan penyusupan dari seseorang yang sengaja membobol admin blog saya , mbak. btw, selamat idul fitri juga, mbak yulfi, mohon maaf lahir dan batin.

    [Reply]


  2. masarif | Saturday, 27 September 2008 | @ 21:42

    Ah.. saya buta perihal beginian, gak bisa berkutik!
    Mengingat “Langit, bumi dan Malaikat Menangis, karena ramadhan pergi…” (Hadis) boleh nggak saya menafsirkan puisinya seperti http://masarif.net/ramadhan-kareem-dont-leave-me/

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 14:58

    walah, mas arif sukanya kok merendah, haks. boleh saja, sesuai dengan sifatnya yang muktitafsir, siapa pun berhak utk memberikan penafsiran yang berbeda terhadap sebuah puisi.

    [Reply]


  3. kurt | Saturday, 27 September 2008 | @ 22:21

    Wah puisinya sependek itukah?
    tapi penjelasannya sepanjang ini, benar2 sastrawan itu multi tafsir. Tapi menarik dari penjelasan pak Sawali, saya jadi memahami dan merenungi makna lebaran dari ungkapan ini:

    Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan pada malam lebaran itu, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari “pembebasan” itu.

    :d

    N/B: Maaf pak saya selalu eror kalau ke mari. Browserku mozilla, tapi setelah ganti googlechrome jadi teng ting teng… :D

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 14:54

    hehehehe …. malasih mas kyai kurt. wah, soal yang satu ini saya nsak paham sama sekali mas kayi, hehehe …. btw, selamat hari raya idul fitri, mas kyai, mohon maaf lahir batin kalau ada salah2 kata.

    [Reply]


  4. Zulmasri | Saturday, 27 September 2008 | @ 23:42

    pertama, selamat idul fitri dulu pak sawali. maafkan segala salah saya, segala tindakan, atau tulisan yang mungkin menyebabkan hati nggak enak dan tidur gak nyenyak. maaf lahir batin.

    kedua, tentang puisi sitor di atas, itu termasuk favorit saya saat kuliah. ah jadi mengenang nostalgia di kampus sastra universitas andalas padang dulu. beberapa pendapat peneliti sastra memang dapat dimengerti, walau menurut sitor sendiri puisi itu lahir begitu saja. ia barusan pulang setelah sebelumnya bertamu dan tidak ketemu si tuan rumah. kejadiannya malam hari beberapa hari setelah lebaran. pada saat pulang itu, langkah sitor terhenti pada tempat pemakaman. ada cahaya bulan menimpa beberapa makam/kuburan. dalam pikirannya terlontar begitu saja kata-kata ‘malam lebaran’ diikuti dengan ‘ada bulan di atas kuburan’.
    itu cerita sitor pada buku proses kreatif yang kalau tak salah disusun pamusuk.

    ketiga, saya memahami puisi itu sebagai 2 kejadian yang sebenarnya bertolak belakang. meski sitor menceritakankan proses kreatifnya seperti di atas, saya setuju apa yang dikatakan penyair upita agustine, bahwa kepada puisi tidaklah dicari apa maknanya melainkan ia hadir untuk dimaknai. jadi bila dikembalikan pada puisi di atas jelaslah, lebaran suasana gembira, suasana menyambut kemenangan. Di sisi lain kuburan menyiratkan kesedihan. Jadi? Ya kegembiraan di balik kesedihan atau kesedihan di antara kegembiraan.

    keempat, persoalannya sekarang pada saat kita menyongsong lebaran dengan suasana gembira, adakah kita peduli dengan tetangga atau orang yang ada di sekitar kita? mereka menangis, merintih, berduka lantaran tak memiliki apa-apa, ditimpa musibah, digusur, dan sebagainya. inilah simbolisme lain yang ingin ditawarkan oleh sitor bila kita kaitkan dengan suasana sekarang.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:10

    wah, makasih banget tambahan infonya, pak zul, makin memperkaya terhadap telaah puisi sitor, selamat idul fitri juga, pak zul, mohon maaf lahir dan batin.

    [Reply]


  5. aRuL | Sunday, 28 September 2008 | @ 00:02

    wah ternyata maknanya dalam banget…
    kalo saya sih menafsirkan bahwa kadang kita tidak mengetahui bahwa di lebaran itu jg ada duka :D

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:11

    wew…. meski pendek, penafsiran mas arul nggak salah juga kok.

    [Reply]


  6. Daniel Mahendra | Sunday, 28 September 2008 | @ 01:05

    Setiap penafsiran tentu mempunyai tempat, Pak Sawali. Karena posisi kita sudah di luar orbit si penyair itu sendiri. Betapa pun aku setuju dengan tafsir Njenengan. Dalam 9 tahun ke belakang ini, aku tiba-tiba merasa dan menyadari bahwa sajak Sitor Situmorang itu benar 100 persen. Apa boleh buat, ini soal pengalaman. Dan pengalaman hidup seseorang tentu mengajarkan laku orang yang bersangkutan. Dalam hal ini aku sepakat dengan Sitor Situmorang. Terutama sepakat dengan Njenengan. Salam lebaran!

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:12

    walah, makasih banget apresiasinya, mas daniel. salam lebaran juga.

    [Reply]


  7. laporan | Sunday, 28 September 2008 | @ 03:02

    Hanya satu larik tetapi berisi kontradiksi. Sampai kapan Indonesia seperti ini, pak Sawali. Seperti kejadian yang baru lalu, bagi-bagi uang dari orang kaya, berdesakan hingga banyak yg tewas. Saya pribadi melihat kejadian tersebut merasa iba dan malu. Dua perasaan ini gambaran saat ini, melihat jutaan fakir miskin di negeri ini, jadi muncul rasa iba sekaligus malu.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:13

    wah, ndak tahu juga sampai kapan pemandangan seperti itu masih akan terus berlangsung di negeri ini, pak aryo. kita hanya bisa berharap dan berharap semoga para elite negeri ini memiliki kepekaaan terhadap nasib kaum dhuafa.

    [Reply]


  8. Andy MSE | Sunday, 28 September 2008 | @ 04:48

    Sebetulnya salahsatu manfaat zakat kan untuk menghilangkan ketragisan itu pak! makanya wajib diberikan sebelum idul fitri…

    *maaf, saya gak bisa apresiasikan puisinya, jadi langsung komentari ulasan pak Sawali aja! hehe

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:14

    yaps, betul sekali, mas andy. zakat diharapkan dapat membantu saudara2 kita yang sedang kurang beruntung.

    [Reply]


  9. mantan kyai | Sunday, 28 September 2008 | @ 07:41

    wah saya baru tahu kalau puisi ini judulnya malam lebaran. padahal dulu waktu sma saya pernah di kasitau sama guru bahasa indo saya. bahwa puisi ini tercipta lantaran penyairnya kesasar. apa betul demikian pak sawali???

    tentang kontradiksi lebaran. sudah dimulai sejak di awal ramadhan. pernahkah kita merenungkan makna puasa kita? sebab terkadang saya merasa puasa saya ini absurd. bagaimana tidak. saya berpuasa hanya sebagai orang yang KELAPARAN di siang hari dan KEKENYANGAN di malam hari :D

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:16

    hehehe … tentang kesasar apa tidak, mas ardy bisa mbaca komennya pak zulmasri tuh. yaps, ttg kontradiski lebaran. agaknya bener juga tuh ulsan mas ardy. sip.

    [Reply]


  10. Syamsuddin Ideris | Sunday, 28 September 2008 | @ 08:21

    Iya nih Pak Sawali….

    Tidak mungkin di malam lebaran rembulan terlihat karena umur bulan baru beberap jam dan ukurannya sangat kecil sekali. Tapi entah ini sengaja atau memang ketidaktahuan penulis puisi ya, yang jelas imajinasi saya juga “liar” ketika membayangkan rembulan di atas kuburan pada malam lebaran. Berbagai gambaran dan sketsa imajinasi muncul sesuai pengalama yang telah diperoleh.

    Sastra..sastra..sungguh menarik untuk dinikmati ya?

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:17

    hehehe … makasih apresiasinya, pak sya,. sastra memang menawarkan banyak renungan, refleksi, dan kontemplasi, pak syam. salam kreatif!

    [Reply]


  11. Baru Muncul | Sunday, 28 September 2008 | @ 09:16

    Bagi orang awam seperti saya ini yang paling pas hanya bilang
    Setuju pendapan sampean, makna dan memaknai.

    Agar tidak tambah salah, mendingan saya ucapkan
    selamat lebaran.

    sumintar.com

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:18

    walah, selamat lebaran juga, pak sumintar, makasih apresiasinya.

    [Reply]


  12. Yari NK | Sunday, 28 September 2008 | @ 10:26

    Kalau menurut tafsiran saya (saya mencoba menafsirkan yang nggak kalah selengekannya….. huehehe….) itu berarti ada juga mereka yang dulu mendapatkan keuntungan besar, kini hanya tinggal “gigit jari”. Seperti penjual kartu lebaran, karena SMS, MMS dan e-mail sudah menggantikan posisi kartu lebaran.

    Tapi bisa jadi juga ada tafsiran mulia, yaitu di malam Lebaran banyak orang yang tidak bisa mudik, bahkan harus terus bekerja demi keselamatan banyak orang. Seperti: dokter jaga, penjaga lintasan kereta api, polisi, satpam dan lain sebagainya. Di saat semua orang bergembira, mereka harus tetap membanting tulang demi menjaga keselamatan atau keamanan orang lain. Sungguh mereka2 itu merupakan rembulan di tengah2 malam lebaran…… :)

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:19

    wah, ternyata bung yari piawai juga menafsirkannya, hehehe … salut. bisa jadi bener bung yari. banyak juga yang tak bisa mudik karena tuntutan tugas dan pekerjaan.

    [Reply]


  13. Gelandangan | Sunday, 28 September 2008 | @ 11:30

    Renungan hidup Mas

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:20

    yaops, bener juga, mas maulana.

    [Reply]


  14. Anang | Sunday, 28 September 2008 | @ 12:27

    dalam hidup pasti terselip suka dan duka.. tapi bagaimana kita menjaga bahwa duka itu datang lebih dulu daripada suka.. sehingga seperti film-film itu. .dimana duka akan tertutup dengan suka di akhir.. begitupun dengan lebaran dan mudik pak guru…. duka akan dijalani dengan sepenuh hati untuk mendapatkan suka di kampung halaman… ah.. indonesia ku…. ayo mudik mudik

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:21

    wah, hidup kan ndak sama yang di film2 itu, mas anagku, hehehehehe …. yaps, mas anang mudik nggak?

    [Reply]


  15. Fikar | Sunday, 28 September 2008 | @ 14:16

    Selamat Lebaran Pak Sawali

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:21

    selamat lebaran juga mas fikar., makasih salamnya.

    [Reply]


  16. Rindu | Sunday, 28 September 2008 | @ 14:58

    iya, saya jadi teringat sahabat saya yang berlebaran di Dharmais … ya ALLAH beri mereka kekuatan :((

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 15:24

    wah, ternyata mbak rindu punya sahabat di dharmais juga, yak, semoga mereka sabar dan tabah, mbak.

    [Reply]


  17. Rafki RS | Sunday, 28 September 2008 | @ 15:17

    Suatu karya sastra yang pendek memang mengandung lebih banyak makna menurut saya dibanding karya sastra yang panjang dan gamblang. Si penulis sengaja membuat pembacanya bertanya-tanya dan menerjemahkan sendiri sesuai dengan latar belakang si pembaca.

    Sungguh Pak Sawali mengartikannya dengan sangat mendalam. :smile:

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 28th, 2008 @ 18:32

    bener banget, pak rafky, hehehe … makasih apresiasinya, pak, hanya analisis model slengekan kok, pak, haks.

    [Reply]


  18. genthokelir | Sunday, 28 September 2008 | @ 18:53

    betul juga ya pak Sawali kalo memahami puisi membesarkan logika jelas sekali tak mungkin mampu menafsirkannya jadi memang dengan perasaan dan naluri saja ya pak ….. kadang kalau membaca puisi atau sejenisnya kalo memaknai sekedar logika tak masuk diakal dan tak ketemu …kata guru saya resapi pakai perasaan dan gunakan hati saya untuk memahaminya ( halah kali ya )

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 29th, 2008 @ 02:44

    wew… memang bener mas totok. puisi perlu dinikmati dengan hati dan perasaan, bukan dengan akal, hehehe =d>=d>

    [Reply]


  19. Siti Jenang | Sunday, 28 September 2008 | @ 21:12

    kalo saya, ada yg dikuburkan sementara cahaya rembulan muncul di atasnya. mati sakjeroning urip… haks :-\”

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 29th, 2008 @ 02:44

    wah, mati sajeroning urip. waduh, itu malah lebih tragis, mas jenang, haks. ~X(

    [Reply]


  20. Donny Verdian | Sunday, 28 September 2008 | @ 23:02

    Yang saya heran dan pernah saya tanyakan pada teman saya, DM, kenapa puisi yang hanya selarik begini bisa bagus ditangan seorang sastrawan sementara hal yang demikian belum tentu mungkin terjadi bila ditulis oleh seorang saya atau siapa yang bukan sastrawan hahaha…

    Tapi barangkali puisi itu indah bila dilihat dari keseluruhan karya sastra lainnya, tidak bisa dipandang hanya per satu-satu puisinya, Pak Sawali …

    Demikian, barangkali.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 29th, 2008 @ 02:46

    wah, bisa jadi juga karena pengaruh kebesaran nama, mas donny, hehehe …. kayak sutardji calzoum bachri juga. bikin puisi “Luka”, baitnya hanya dua suku kata: “ha ha”, ternyata bisa jadi fenomena juga. menjadi perhatian serius para pengamat sastra.

    [Reply]


  21. yudios | Monday, 29 September 2008 | @ 00:03

    pagi pagi menebar benih
    pulangnya di hari senja
    sebentar lagi lebaran nih
    maafkan ane jika ada salah ya

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 29th, 2008 @ 02:47

    burung belibis pulang ke kandang
    sayapnya patah jatuh ke sungai
    sebentar lagi lebaran kan datang
    semoga kita kembali ke fitri

    *haks, niru2 bikin pantun kok jadi wagu*

    [Reply]


  22. izandi | Monday, 29 September 2008 | @ 00:50

    selamat idul fitri pak
    mohon maaf lahir dan batin :d

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 29th, 2008 @ 02:48

    selamat indul fitri juga mas izandi, mohon maaf lahir dan batin, semoga kita semua bisa kembali ke fitrah-Nya.

    [Reply]


  23. nindityo | Monday, 29 September 2008 | @ 02:42

    ikutan muli tafsir ya pak..

    kedatangan bulan umumnya pertanda baik. juga bagi seonggok kuburan. sebab hanya pada lebaran lah, umumnya kuburan baru di ziarahi. :) dibasahi, ditaburi, dan didoai.

    aniwei, selamat idul fitri pak. mohon maap lahir batin.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 29th, 2008 @ 03:18

    hehehe … silakan, mas nin. bener juga tuh, mas. yaps, selamat idul fitri juga, mas nin, mohon maaf lahir dan batin, mudik ke semarang, ndak?

    [Reply]

    nindityo menjawab pada September 29th, 2008 @ 12:42

    enggak mudik pak.. disana malah ngrepotin.. kan si mbak disana juga mudik :D di rumah aja deh.. jagain monas.. (padahal ada reuni smp juga :(( )

    [Reply]



  24. aziz | Monday, 29 September 2008 | @ 06:49

    puisi itu bisa mengandung banyak penafsiran jadi dalam satu kata saja, bisa juga berisi beribu makna….

    “bulan di atas kuburan” kata ini bisa memiliki banyak arti karena penafsiran antar individu sangatlah berbeda, subyektifitas sangat menonjol dalam pengartian kata dalam suatu karya sastra….

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 29th, 2008 @ 12:57

    yaps bener banget, mas azis. memang subjektivitas penafsiran terhadap karya sastra sulit dihindarkan.

    [Reply]


  25. eNPe | Monday, 29 September 2008 | @ 10:43

    Jadi ini cerita sajak yang ita kira lirik lagu, kekekke… :”> *jadi maluuu*

    btw, Selamat Hari Raya Idul Fitri, pak
    Ita mohon maaf lahir n bathin jika ada salah2 kata selama ngblog :)

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 29th, 2008 @ 12:58

    hehehe …. iya, bu ita, haks. maaf hanya sekadar iseng aja, bu. selamat idul fitri juga, bu ita, mogon maaf lahir dan batin. semoga kita bisa kembali ke fitrah-Nya, amiin.

    [Reply]


  26. edratna | Monday, 29 September 2008 | @ 11:36

    Menjelang Lebaran adalah waktu untuk berbagi…..
    Dan kita harus menghargai orang-orang yang tidak bisa berlibur karena harus melayani masyarakat.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 29th, 2008 @ 12:59

    bener sekali, bu enny, mereka berjasa besar bahkan rela utk tdk mudik demi memerikan pelayanan kepada publik.

    [Reply]


  27. Trilsky | Monday, 29 September 2008 | @ 11:44

    nice review, jadi ngerti yang tadinya ga ngerti

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada September 29th, 2008 @ 12:59

    walah, biasa aja, mas makasih apresiasinya..

    [Reply]


  28. dana | Tuesday, 30 September 2008 | @ 07:01

    Bulan memang diatas kuburan. Selamat lebaran dan mohon maaf lahir dan batin pak.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 2nd, 2008 @ 19:55

    selamat hari raya idul fitri juga mas dana, mohon maaf lahir dan batin.

    [Reply]


  29. aakdidik | Tuesday, 30 September 2008 | @ 10:29

    Makasih kang wali. kau beri wawasan baru lagi. tapi jujur saya kurang pas dengan kata “pembebasan” kok kelihatannya ada ketidak ikhlasan dalam menjalankan. sebab kalimat selanjutnya bebas dari puasa.
    maaf lho kang. walaupun sampeyan juga memberi tanda “….”.
    hehe tapi aku benar-benar belajar dari sampeyan

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 2nd, 2008 @ 19:57

    makasih koreksinya, pak didik. selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.

    [Reply]


  30. Hery Azwan | Tuesday, 7 October 2008 | @ 13:20

    Penafsirannya boleh juga tuh, Pak.
    Kontradiksi yang tercipta ini persis yang disampaikan khotib Idul Fitri tempat saya bersalat.
    Saat menggapai hari kemenangan atas hawa nafsu, kok kita malah berpesta pora mengumbar hawa nafsu saat lebaran.

    Hery Azwans last blog post..Catatan Seputar Lebaran

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 7th, 2008 @ 19:43

    hehehehe …apa yang dikemukakan sitor agaknya memang bisa menjadi bahan refleksi, mas azwan.

    [Reply]


  31. bayu200687 | Tuesday, 28 October 2008 | @ 11:32

    baru kali ini saya baca penafsiran seperti ini. salut pak!
    dlu saya pikir beliau (Sitor S) ga mengerti penanggalan islam.

    tapi memang puisi2 sitor s cukup absurd sih.
    bunga di atas batu/ di bakar sepi//

    klo puisinya SCB dah pernah di ulas belum pak? hehe, maklum, baru kali ini berkunjung…
    Kalian/ pun//

    Baca juga tulisan terbaru bayu200687 berjudul engkau adalah sebutir benih

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 28th, 2008 @ 12:48

    walah, hanya sekadar mencoba saja, kok, mas bayu, hehehe … utk puisi sutarji, belum pernah menguoas. berhadapan dengan mntra sutarji, mesti bertapa dulu nih utk membedahnya, kekeke ….

    [Reply]


Komentar Anda?


« Refleksi Menjelang Lebaran | Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H »

INSPIRASI

1000buku

Sahabat BlogCatalog


Tulisan Terbaru

Setahun Usia Blog dan Kontes Review Cerpen (Thursday, 8 January 2009 - 0 komentar)
Pesona dari Puncak Gunung Kelir (Monday, 5 January 2009 - 80 komentar)
Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5) (Friday, 2 January 2009 - 68 komentar)
Postingan Dini Hari pada Awal Tahun (Thursday, 1 January 2009 - 134 komentar)
Perempuan Bergaun Putih di Bukit Cokrokembang (Tuesday, 30 December 2008 - 81 komentar)
Hijrah Spiritual dan Intelektual Menjelang Pergantian Tahun (Saturday, 27 December 2008 - 111 komentar)
Gaya Selebritis Para Wakil Rakyat (Wednesday, 24 December 2008 - 53 komentar)
Kontroversi di Balik Pengesahan RUU BHP (Sunday, 21 December 2008 - 158 komentar)
Terompet Ujian Nasional Itu Telah Ditiup (Wednesday, 17 December 2008 - 145 komentar)
Kekuasaan dan Seks dalam Novel Belantik (Sunday, 14 December 2008 - 115 komentar)

FEEDJIT