Home | Refleksi, Tradisi | Sang Bunga Layu Sebelum Mekar

Sang Bunga Layu Sebelum Mekar

Saturday, 16 February 2008 (23:21) | 170 pembaca | 19 komentar | Print this Article

(Ini hanya sekadar “ngrumpi” dan fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama, itu hanya kebetulan semata).

Dada Pak Warsam serasa terbakar. Panas, nyeri, dan perih. Pandangan matanya berkunang-kunang. Napasnya sesak dan berat. Tengkorak kepalanya terasa pening. Nyut-nyutan. Sudah hampir satu jam lelaki tambun itu termangu di sudut tempat tidur. Bu Warsam ketar-ketir. Dengan perasaan ragu yang menyelinap di rongga dada, perempuan bertubuh sintal itu berusaha menghibur dan ngereh-ereh guru laki-nya itu.

“Sudahlah, Pak, jangan terlalu dipikirkan! Tidak baik buat kesehatan Bapak. Mungkin itu sudah menjadi garis nasib anak kita.”

Pak Warsam tetap membisu. Benaknya menerawang. Tampaknya, pegawai pemda yang cukup disegani itu belum bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa anak gadisnya yang bunting sebelum menikah. Ibarat bunga, anak gadisnya telah layu sebelum mekar. Berkali-kali, ia menangkupkan jari-jari tangan ke raut wajahnya yang mendung. Bu Warsam bergeser dari tempat tidur, mendekati suaminya.

“Zaman sudah berubah, Pak! Toh, mungkin bukan hanya anak kita saja yang mengalami. Banyak juga gadis lain yang bernasib sama!” Tiba-tiba saja, telinga Pak Warsam seperti disengat kalajengking mendengar kata-kata istrinya. Jidatnya yang licin berkiat-kilat ditimpa sinar lampu 25 watt. Bola matanya membelalak. Dia bangkit dari duduknya, lantas memberondong istrinya dengan pepatah-petitih panjang lebar.

“Iblis mana yang telah menuntun pandangan Ibu seperti itu. Zaman boleh berubah, tapi yang namanya moral, etika, sopan santun, budi pekerti, harus tetap dijunjung tinggi. Kita ini orang Timur, Bu! Hanya orang gila yang memaklumi kehamilan anak gadisnya tanpa suami!”

“Emmm …. maksudku, kenyataan itu sudah telanjur menimpa anak kita, Pak! Tidak ada gunanya terus-terusan disesali. Yang penting sekarang, segera kita carikan jalan keluarnya!”

Gimana kalau kandungan itu digugurkan saja?” Kali ini gantian gendang telinga Bu Warsam yang mendesing-desing. Tersentak.

Sampeyan jangan keblinger, Pak! Jangan menambah dosa! Janin dalam kandungan Tarti itu suci-bersih. Jangan sampai kita jadi pembunuh hanya demi membungkus aib! Dosa, Pak, dosa!” Usai berkata demikian, Bu Warsam berjingkat keluar kamar sambil membanting pintu. Pak Warsam tergeragap. Tampaknya, istrinya benar-benar marah. Pak Warsam termangu. Wajahnya berkabut. Detak jatungnya melebihi kecepatan dengus napasnya yang sesak. Pikirannya benar-benar buntu. Di layar benaknya tiba-tiba berkelebat bayangan teman-teman sekantornya yang sinis memandangnya. Pada saat lain, muncul bayangan Trajang, pacar anaknya, yang diduga telah berbuat tak senonoh. Pemuda sundal yang belum tamat kuliah itu seperti tengah menari-nari, menginjak-injak kepalanya. Kehormatan dan martabatnya sebagai orang terhormat dan disegani seolah-olah telah hancur. Ingin rasanya dia menghajar pemuda brengsek itu. Kalau mau, bukanlah hal yang sulit bagi dia untuk melakukannya. Pada zaman yang serba sulit seperti sekarang, amat mudah menemukan para preman yang tega membunuh demi uang puluhan ribu.

***

Jam kantor. Pada saat-saat seperti ini, biasanya Pak Warsam duduk di belakang meja, menandatangani setumpuk berkas yang disodorkan para stafnya. Tapi, kali ini kursi itu kosong. Di atas meja, tumpukan stofmap menggunung tak tersentuh. Para pegawai yang berpakaian dinas lengkap dengan atribut resminya hanya bisa geleng-geleng kepala. Entah dari mana sumbernya, tiba-tiba saja aib yang menimpa keluarga Pak Warsam tercium juga oleh mereka.

“Kasihan Pak Warsam, orang terhormat tapi gagal mendidik anak!” seloroh seorang staf berkaca mata minus. Pegawai yang lain saling berpandangan.

“Pergaulan anak sekarang memang sudah kebablasan. Sesuatu yang sakral, kini telah dianggap barang remeh! Perkawinan hanya dipahami sebatas surat nikah, telah kehilangan makna yang sesungguhnya,” sahut seorang pegawai perempuan disambung komentar miring dari mulut para abdi negara yang lain. Sesekali mereka juga mengobral pergunjingan tentang tabiat Pak Warsam yang kabarnya suka berselingkuh dengan perempuan lain.

Mereka baru kelimpungan ketika tiba-tiba dari balik pintu muncul lelaki separo baya bertubuh tambun yang baru saja dipergunjingkan. Buru-buru, mereka menunduk hormat sambil tersenyum. Pak Warsam bersikap cuek dan dingin, lantas menerobos ruang kerjanya sambil menutup pintu rapat-rapat. Para pegawai saling bertatapan.

Di ruang kerjanya yang dingin ber-AC, Pak Warsam merasa gerah. Berkali-kali, jemarinya mengusap-usap keringat dingin yang mencair di jidatnya. Pikirannya benar-benar kalut. Baru saja ia bertemu Pak Robani, sejawatnya sejak SMA. Kepada lelaki kurus-jangkumg itulah dia sering meminta nasihat.

“Pendapat istrimu benar, Sam. Terlepas bagaimana prosesnya, yang jelas anakmu Tarti telah diberi karunia Tuhan, seorang khalifah di bumi. Sungguh berdosa bagi mereka yang menyia-nyiakannya!” tutur Pak Robani. Pak Warsam belum bisa memahami sepenuhnya makna kata “karunia” di balik aib yang menghajar keluarganya.

“Coba bicaralah baik-baik sama calon besan dan menantumu. Ajaklah mereka rembugan. Dan ingat, Sam, jangan sekali-kali menggunakan cara kekerasan,” lanjut Pak Robani dengan pancaran wajah penuh kearifan.

Pak Warsam tergeragap ketika gendang telinganya menangkap suara ketukan pintu. Ketika dia mempersilakan masuk, dilihatnya empat orang staf dengan santun menyodorkan setumpuk stofmap yang berhari-hari tak disentuh. Buru-buru Pak Warsam membenarkan posisi duduk layaknya seorang kepala bagian; tenang dan wibawa. Dengan cepat, alat tulisnya menari-nari di atas kertas yang terketik rapi.

***

Setiba di rumah, Pak Warsam terkejut menyaksikan pelataran rumahnya penuh dengan mobil yang berjajar rapi. Dengan dada dipenuhi tanda tanya, kakinya melangkah berat saat memasuki rumah. Lelaki tambun itu tersentak ketika bola matanya menatap belasan tamu tak dikenal, lantas mengajaknya berjabat tangan. Dengan sikap kaku dan senyum hambar, Pak Warsam membalas sikap hormat para tamunya.

Bola mata Pak Warsam berkaca-kaca menyaksikan Tarti dan Trajang dengan bersikap takzim melakukan sungkem. Dia baru mengerti ketika istrinya mengatakan bahwa orang tua Trajang telah melakukan lamaran secara resmi. Tanpa disadari rasa haru pelan-pelan menyelusup ke dalam lorong dadanya. Kabut yang berhari-hari menyelimuti wajahnya pun sirna. Namun, Pak Warsam akan lebih merasa bahagia seandainya lamaran itu dilakukan jauh-jauh hari sebelum rahim anak gadisnya ditaburi benih kejantanan Trajang. Tapi, apa boleh buat! ***

ooo

Keterangan: Gambar diambil dari sini.

Kategori: Refleksi, Tradisi | Tags: , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgProstitusi Pelajar dan Beban Sosial Bangsa (Saturday, 28 February 2009, 1,628 pembaca, 114 respon) Berita “Metropolitan” Kompas (27/2/2009, halaman 27) sungguh menyentakkan nurani kita. Sebuah jaringan prostitusi yang ”menjual” pelajar SMP dan SMA sebagai pekerja seks komersial (PSK) berhasil dibongkar aparat. Dalam berita itu dikabarkan, tiga...
imgBanjir! (Monday, 9 February 2009, 2,875 pembaca, 178 respon) Minggu hingga Senin, 8-9 Februari 2009, Kendal, Jawa Tengah, terendam banjir. Praktis bah yang terbilang cukup besar di bulan kedua Tahun Kerbau ini (nyaris) melumpuhkan aktivitas warga. Meski tak sampai masuk rumah, keberangkatan saya ke LPMP Semarang...
imgPertemuan Tak Terduga dengan Sahabat-Sahabat TPC (Wednesday, 28 January 2009, 1 pembaca, 36 respon) Sungguh, saya terharu ketika dikontak Pak Gempur, Minggu sore, 25 Januari yang lalu. Masih berada di wilayah Gunung Kelir dalam rangkaian “Ziarah Wali Bloger Timur-Tengah”, beliau menyampaikan keinginan mengajak teman-teman dari TPC Surabaya untuk...
imgAnak-anak dan Imajinasi tentang Perang (Thursday, 15 January 2009, 595 pembaca, 152 respon) Perang-perangan termasuk salah satu mainan favorit anak-anak kampung. Dengan menggunakan senjata mainan dari pelepah daun pisang, anak-anak bisa dengan sangat bangga mencitrakan dirinya sebagai pahlawan. Lewat bunyi onomatope ”dor!” dari mulut...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Sang Bunga Layu Sebelum Mekar" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 16 February 2008 (23:21)) pada kategori Refleksi, Tradisi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

19 Responses to "Sang Bunga Layu Sebelum Mekar"

  1. alifahru says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.18 Firefox 2.0.0.18 pada Windows 98 SE Windows 98 SE

    hari gini masih perawan!…. :) tragis memang…banyak anak gadis yang sudah menjanda walaupun belum punya akte nikah….waktu pacaran dia sudah melakukan ML. Setelah putus, statusnya apa? Dibilang janda kapan nikahnya, dibilang gadis tapi dah nggak perawan…. :)

    Baca juga tulisan terbaru alifahru berjudul Sekilas Jawaban Subdomain

  2. Ina says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.12 Firefox 2.0.0.12 pada Windows XP Windows XP

    Mantap banget pak ceritanya.

    Masalah ini kok trus jadi dilema berkepanjangan yg nga kunjung usai.
    entah gimana penyelesaiannya.
    *sok

    Ina’s last blog post..Time OuT…!

    ooo
    wah, kayaknya kejadian semacam itu masih akan sering terjadi, mbak ina. *halah sok tahu yak* kita saja yang mesti hati2, halah! setelah telanjuur terjadi biasanya baru menyesal. meski demikian, keluarga dari ke-2 belah pihak harus duduk 1 meja utk cri solusinya. kalo terus dibiarkan, kasih juga si ceweknya.

  3. anakrimba says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.12 Firefox 2.0.0.12 pada Windows XP Windows XP

    Semoga gk terjadi ke unda, maupun turunan unda.
    komunikasi ma kontrol orang tua,
    weks, dah basi banget tuh, tpi tetap aja yang ngedengerin sedikit.

    Pak guru, klo masih pacaran sekarang banyak emang pak. Lah klo yang nghamilin malan ayah sendiri, apa gk tambah ngeri nih dunia?

    Tapi unda rasa, masih banyak kok anak-orang tua baik-baik jaman sekarang pak.
    Menurut penerawangan unda (halah), fenomena hamil di luar nikah gk bakal meningkat lah. 3 sampe 5 tahun ke depan Indonesia dah sadar kok.

    Klo dah ditimpa bencana banyak gini gk sadar-sadar juga kelewatan dah rasanya ya? :)

    anakrimba’s last blog post..Mencari 1 Juta dalam 2 Minggu

    ooo
    semoga terawangan unda itu benar, hehehehe :lol: yang penting hormati kehormatan dan martabat kaum perempuan, *halah, sok tahu, yak!*

  4. Nazieb says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.12 Firefox 2.0.0.12 pada Windows XP Windows XP

    Weleh, cerita yang mantap. Sedikit tapi bermakna..

    Tapi saya kok jadi merasa bahwa si Tarjang itu endingnya jadi seperti pahlawan ya? Jadi seperti seorang lelaki yang berani bertanggung jawab. Padahal dia sudah berbuat nista kepada si Tarti..

    *komen pembaca awam
    :mrgreen:

    Nazieb’s last blog post..I Miss My Family?

    ooo
    sebenarnya ndak harus dianggap pahlawan, mas nazieb, lha wong dia yang memang nyata2 yang berbuat kok, hiks.

  5. tomy says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.11 Firefox 2.0.0.11 pada Windows XP Windows XP

    jadi alasan utama nih mengapa pelajaran kontrasepsi begitu diperlukan :D
    eh maaf salah, yang bener pelajaran budipekerti nggih Pak

    tomy’s last blog post..Orang Muda, siapkan dirimu..!!

    ooo
    kok, njujugnya ke kontrasepsi, pak tomy, halah.

  6. tukangkopi says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.12 Firefox 2.0.0.12 pada Windows XP Windows XP

    entah kenapa ada sedikit amarah membaca cerita ini. saya paling benci sama lelaki yang tidak menghargai perempuan. bukannya saya sok suci, saya pernah juga hampir terjerumus ke dalam pergaulan seperti itu. tapi Allah masih sayang sama saya. kalo misalnya abis Tarti melahirkan terus Trajang bikin masalah supaya cerai..wuahhh…saya habisin itu lelaki!! :evil:

    *emosi abis* :lol:

    tukangkopi’s last blog post..Hati kecil dan logika

    ooo
    hehehehehe :lol: sabar, mas, sabar, jangan keras2, nanti pak warsam dengar. jadi ikutan emosi nanti, hiks. lagian, trajangya bertanggung jawab, kok. BTW, saya sepakat mas, kita mesti menghargai kaum perempuan dengan ikut menjaga mertabat dan harga dirinya.

  7. Yari NK says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Biasanya anak gadis hamil di luar nikah, kesalahan juga ada di fihak orang tua yang kurang memperhatikan perkembangan anak gadisnya atau tidak cukup memberikan edukasi yang baik (atau mungkin orang tuanya juga nggak mengerti).

    Kalau sudah terjadi, baru menyesal kemudian, namun yah seperti pepatah klise, “Nasi sudah menjadi bubur”, sepertinya kalau sudah terjadi tidak begitu perlu lagi mengungkit2 siapa yang salah, malah seharusnya seluruh keluarga bersatu merundingkan apa yang terbaik bagi kehidupan si gadis selanjutnya. Satu hal yang perlu dicatat, hamil di luar nikah bukan berarti “kiamat” bagi masa depan si gadis (yang udah nggak gadis lagi! :mrgreen: ) **halaah**

    Yari NK’s last blog post..Nama-Nama Tempat Terpanjang di Dunia

  8. -tan says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.3 Firefox 2.0.0.3 pada Windows XP Windows XP

    “Zaman sudah berubah, Pak! Toh, mungkin bukan hanya anak kita saja yang mengalami. Banyak juga gadis lain yang bernasib sama!”

    meskipun faktanya begitu, tetap aja tak bisa jadi pembenaran ya pak?! prihatin juga, semakin lama malah makin banyak dan makin dianggap lurah (lumrah maksudnya):mrgreen:

    -tan’s last blog post..Penghianat

    ooo
    yap, bener sekali, mas. masyarakat ndak boleh bersikap permisif.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (92 queries: 0.951 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP