Home | Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi | Hilangnya “Aura” Kesenian Kota Semarang

Hilangnya “Aura” Kesenian Kota Semarang

Saturday, 26 January 2008 (14:29) | 657 pembaca | 16 komentar | Print this Article

Pada era ’80-an, Semarang masih memiliki iklim dan “aura” kesenian yang mampu menghidupkan para penggiat seni untuk berkiprah. GOR Simpang Lima saat itu tidak melulu hanya digunakan sebagai ruang unjuk kemampuan dan kompetisi para atlet dari berbagai penjuru kota. Banyak agenda kesenian yang bergaung dari balik gedung yang cukup besar dan bergengsi tersebut. Si Burung Merak, WS Rendra pun pernah pentas di gedung yang kini telah tersulap menjadi pusat perbelanjaan mewah yang memanjakan selera konsumtif orang-orang berkantong tebal.

kota-lama1.jpg

Namun, seiring dengan kibaran bendera modernisasi yang mengusung gaya hidup kapitalistis, konsumtif, materialistis, dan hedonis, Kota Semarang (nyaris) kehilangan “aura” keseniannya. Kini, hampir sulit ditemukan gedung-gedung “bergengsi” yang berkenan menampung agenda-agenda kesenian dan kebudayaan lantaran secara finansial dianggap sangat tidak menguntungkan.
Pentas-pentas seni dan budaya hanya digelar di ruang-ruang sempit yang relatif tidak memiliki “magnet” yang mampu menyedot publik untuk berduyun-duyun mendatanginya. Gedung-gedung kesenian yang telah menjadi pusat kegiatan seni Kota Atlas ini sudah lama digusur oleh mesin-mesin kapitalisme. Gedung GRISS dan Ngesti Pendawa sudah tak tercium lagi aromanya, tergilas “roda-roda” zaman beberapa tahun silam.
***

kota-lama2.jpgMemasuki kota Semarang saat ini tak ubahnya berada di tengah rimba belantara bisnis lengkap dengan segenap aksesori kapitalistisnya yang tidak ramah dengan kaum pekerja seni, pengap, dan tidak kondusif bagi perkembangan dunia kesenian. Setiap jengkal tanah Kota Semarang di mata pemilik modal seolah-olah harus memiliki “nilai jual” yang menggiurkan dan menguntungkan secara finansial. Praktis, “rahim” ibukota Jateng ini dalam beberapa tahun terakhir hampir tidak pernah mampu melahirkan seniman sekaliber almarhum Ki Narto Sabdo. Talenta generasi berdarah seniman sudah “terbunuh” lantaran tak ada ruang yang cukup untuk melakukan eksplorasi dan eskperimentasi berkesenian.

Yang memprihatinkan, Sobokartti, salah satu gedung seni tradisional yang masih tersisa –yang pernah menjadi saksi sejarah bersinarnya pamor kesenian Kota Semarang– pernah juga memicu kontroversi, bahkan konflik. Yup, kaum pemilik modal –kalau memang hendak dijual kepada mereka– mana yang tak tergiur? Mereka yang punya naluri bisnis jelas akan memandang Sobokartti sebagai obyek yang nyaman dan menguntungkan.

kota-lama3.jpgMenyaksikan “sengketa” Sobokartti tak ubahnya menyimak “pertarungan” antara kapitalisme dan idealisme para pekerja seni. Yang berhasrat untuk menjual barangkali memandang Sobokartti sudah tidak efektif lagi bagi perkembangan dunia kesenian. Bangunannya dianggap sudah terlalu tua dan sudah tampak kedodoran dalam menampung agenda-agenda kesenian. Dengan menjualnya, barangkali akan didapatkan pengganti gedung kesenian yang lebih bagus dan representatif. Namun, bagi kaum pekerja seni yang masih memiliki idealisme, Sobokartti sudah dianggap sebagai ruang publik yang mampu memberikan inspirasi tersendiri dalam kiprah berkesenian. Terlalu mahal risiko kulturalnya jika harus dijual.

Namun, bagi saya, yang lebih substansial sebenarnya bukan semata-mata menjadikan Sobokartti sebatas simbol Kota Lama yang harus dilestarikan keberadaannya, melainkan harus ada komitmen secara kolektif dari semua pihak untuk menjadikan Sobokartti sebagai ruang publik yang mampu menghidupkan kembali denyut kesenian rakyat Kota Semarang, bahkan Jateng.

Sudah saatnya ingar-bingar Kota Semarang yang tengah mengalami proses “metamorfosis” menuju kota metropolitan diimbangi dengan berdayanya gedung-gedung kesenian rakyat sebagai sumbu kekuatan kultural para pekerja seni. Sungguh naif jika Kota Semarang yang telah lama dikenal sebagai kota kesenian akhirnya harus mengalami nasib tragis; kehilangan warisan bernilai dan kehabisan napas untuk berkesenian. Semetropolis apa pun sebuah kota akan kehilangan “roh”-nya apabila sudah tidak memiliki denyut dan dinamika berkesenian.

Mestinya kita bisa meniru Pemerintah Cina dan Jepang dalam menghidupi kesenian tradisional. Menurut I Made Bandem, Rektor ISI Yogyakaita (dalam Direktori Seni Tradisi Jawa Tengah, 2003: xii), seni tradisional di Cina dan Jepang pada awalnya berada pada posisi minoritas. Namun, setelah mendapatkan banyak masukan, akhirnya disadari perlunya pembuatan kebijakan dan pembelaan terhadap kesenian tradisional. Dengan amat sadar, pemerintah Cina dan jepang membangun museum kesenian, kantong-kantong ekspresi seni tradisi, atau panggung terbuka. Seni tradisi diberi dana, bahkan dicarikan dana hibah dari berbagai negara. Ya, dua “Macan Asia” ini akhinrya menjadi negara maju tanpa harus kehilangan seni tradisionalnya.

Di negeri kita? Oh, alih-alih menghidupi kesenian tradisional, gedung-gedung bersejarah yang memiliki “aura” kesenian pun kalau perlu dijual kepada kaum pemilik modal. ***

Kategori: Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi | Tags: , , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgKetika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh (Wednesday, 1 September 2010, 282 pembaca, 34 respon) Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang...
imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgKastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI (Wednesday, 9 June 2010, 737 pembaca, 97 respon) Baru-baru ini, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen), Kemendiknas, Suyanto mengungkapkan, 18 sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dicabut izinnya karena dinilai tidak memenuhi persyaratan pendirian....
imgPenafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna (Saturday, 22 May 2010, 560 pembaca, 106 respon) Dalam sebuah rapat kabinet yang gerah, wajah Rahwana memerah seperti kepiting rebus. Sorot matanya liar memerah saga. Tiupan angin yang lembut dari moncong AC yang dingin pun gagal menaklukkan hati penguasa Alengka yang tengah murka itu. Berulang-ulang...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Hilangnya “Aura” Kesenian Kota Semarang" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 26 January 2008 (14:29)) pada kategori Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

16 Responses to "Hilangnya “Aura” Kesenian Kota Semarang"

  1. Nisya says:
    Menggunakan Firefox 1.5.0.12 Firefox 1.5.0.12 pada Windows XP Windows XP

    kalo ga salah bapak kan asli Kendal, tolong beri ulasan tentang Kendal donk pak, terutama weleri. cuz sebentar lagi ada seseorang yang akan bekerja di sana. :oops:

    Nisya’s last blog post..SUATU PEMBACAAN ULANG MENGENAI ARTI BUNUH DIRI DI JEPANG

    oOo
    walah, saya bukan asli kendal, bu nisya, hiks. lupa, yak? tapi kalo weleri tahu dikit2, hiks. BTW, seseorang yang akan bekerja di weleri tuh sapa? temen bu nisya kah? saya siap jadi pemandunya, bu!

  2. Nisya says:
    Menggunakan Firefox 1.5.0.12 Firefox 1.5.0.12 pada Windows XP Windows XP

    permasalahanya ada pada penikmat seni. di negara ini banyak orang yang melupakan seni budaya bangsa NKRI, mereka banyak meniru seni bangsa asing. padahal bangsa asing banyak yang ingin atau telah mematenkan budaya asli NKRI :roll:

    Nisya’s last blog post..SUATU PEMBACAAN ULANG MENGENAI ARTI BUNUH DIRI DI JEPANG

  3. anakrimba says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.11 Firefox 2.0.0.11 pada Windows XP Windows XP

    Itulah pak sawali. Mending klo keuntungannya dipake bareng-bareng, eh malah dinikmatin orang-orang tertentu dan itu-itu aja.
    Gk usah masa depan pak sawali, sekarang aja mau dimana coba ngeliat pentas kesenian gitu, sudah gk laku pak. Lebih banyak yang nongkrong di mall daripada ke museum, kuno, kuno, :twisted:
    Sekarang kita (baca: rakyat kecil) mau protes, mau protes dimana, orang wakil rakyatnya aja dah menutup mata.
    Di surabaya gk sedikit kejadian warga mempertahankan akhirnya kalah juga, yai iya lah kalah, orang emang dah bener di jualin kok asetnya, jadi mau ngomong gimana juga ya kalah aja, :mrgreen:

    anakrimba’s last blog post..Kampus, Kampus, Jangan Gila

    oOo
    walah, itulah yang jadi persoalan, mas. para pekerja seni selama ini hampir tak dilirik oleh para pengambil kebijakan sehingga mau pentas saja ndak pernah dapat tempat. jika perlu tempat2 berkesenian digusur, lantas disulap jadi supermall. wah, ironis.

  4. anakrimba says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.11 Firefox 2.0.0.11 pada Windows XP Windows XP

    Gk cuman di semarang pak guru gedung-gedun historis gitu pada di jualin, alasannya klasik, demi PAD, tapi ya itu, benernya gk ternilai nilai historis tempat itu.
    Jaman sekarang asal bisa menghasilkan uang, apa aja dijual pak,

    *Menunggu kesadaran para petinggi* :(

    anakrimba’s last blog post..Kampus, Kampus, Jangan Gila

    oOo
    wah, repot juga ya Unda kalo situs-situs bersejarah dijual demi mencari keuntungan sekelompok orang. Bisa jadi anak-anak masa depan negeri ini ndak bisa menyaksikan lagi peninggalan2 sejarah bangsanya sendiri. Takluk oleh kibaran bendera materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme.

  5. Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows Vista Windows Vista

    Sebenarnya ada contoh yang sulit ditiru oleh Indonesia, yaitu Singapura.
    Di awalnya Singapura, memacu ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan. Lee Kwan Yu, sang diktator membuat Singapura menjadi bersih dan ramah lingkungan. Ia menjalankan program perbaikan lingkungan dengan tangan besi. Begitu juga program pembangunan ekonominya juga dipacu dengan cara yang hampir sama.

    Sekarang, Singapura mempromosikan dirinya menjadi pusat seni dan budaya Asia, setelah ekonominya maju pesat. Singapura mau menjadi kota seni kelas dunia.

    Tapi sangat sulit membandingkan diktator Singapura dengan diktator Indonesia. Diktator Singapura meninggalkan warisan yang baik, sedangkan diktator Indonesia meninggalkan ekonomi porak-poranda, seni dan budaya yang kacau balau. Periode kedua diktator itu hampir sama.

    Togar Silaban’s last blog post..Antara Pilkada Indonesia dan film Robin William ?Man of the Year?

    oOo
    itulah bedanya Indonesia dan singapura, bung. sama2 dipimpin diktator, singapura bisa leading, sementara Indonesia justru hanya jadi sarang KKN. Repot.

  6. tomy says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.11 Firefox 2.0.0.11 pada Windows XP Windows XP

    jadi ingat ujar-ujar ‘ela elo wong jawa kari separo
    sebuah puisi lahir dari kegelisahan jiwa & tangisan hati
    mohon sudi menyimak :

    Bahasa yang indah adalah bahasa Tuan
    Bahasa kami gonggongan anjing liar
    Pikiran yang mulia adalah pikiran Tuan
    Pikiran kami pikiran otak udang

    Kami bangsa taklukan
    Diperbudak di tanah moyang
    Para perempuannya pemuas zakar
    Lelakinya penjilat pantat
    Kaum muda layu tunas tidak berakar
    Kaum tua lapuk kayu dimakan ngengat

    Jangan minta kami berjuang
    Kemerdekaan cuma bidaah besar
    Upah kami surga di tangan
    Kau bilang fatamorgana ?

    Enyah kau setan !!!
    Lolonganmu tak kami butuhkan
    Kami dilahirkan dari kebohongan
    Kami dihidupi oleh kebohongan
    Jangan pernah kau ambil dari kami
    Karena hanya itu …
    Sisa-sisa hajat untuk kami makan

    tomy’s last blog post..LAYUNG-LAYUNG JINGGA

    oOo
    Yup, mudah2an bangsa ini bisa belajar dari sejarah masa lalunya yang hitam, pak tomy.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (89 queries: 0.925 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP