Home | Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi | Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa

Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa

Monday, 14 January 2008 (08:54) | 2,057 pembaca | 37 komentar | Print this Article

Entah, tiba-tiba saja saya tertarik berbicara mengenai dunia kaum perempuan, khususnya perempuan Jawa. Bukan sok sentimentil. Jujur saja, perempuan itu sosok universal yang selalu menarik diperbincangkan kapan dan di mana pun. *Halah* Lebih-lebih setelah banyak kaum perempuan yang terjun ke sektor publik. Muncul opini, kaum feminis berupaya melakukan pembebasan “mitos” kaum hawa yang bertahun-tahun lamanya merasa terpenjara akibat kultur patriarkhi yang demikian kuat mengakar di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Yup, peran perempuan Jawa pada masa lalu, konon diyakini hanya sebatas lingkup dapur (memasak), sumur (mencuci), dan kasur (melayani suami). Bahkan, ada yang lebih ekstrem menyatakan peran kaum perempuan Jawa seperti adagium: yen awan dadi theklek, yen bengi dadi lemek (kalau siang jadi sandal, kalau malam jadi selimut). Artinya, jika siang hari berperan sebagai pembantu, sedangkan pada malam hari sebagai “penghangat” tubuh suami. (Mohon maaf kalau saya terpaksa menggunakan adagium ini untuk menggambarkan betapa “suram”-nya dunia kaum perempuan Jawa masa lalu). Dengan kata lain, peran kaum perempuan Jawa tak lebih sekadar kanca wingking yang harus manut, taat, sendika dhawuh, dan rela diperlakukan sesuai kehendak suami; tanpa argumentasi.

250px-centhini50.jpg

Dalam Serat Centhini (Suluk Tambangraras yang ditulis pada tahun 1809 atas kehendak Susuhunan Paku Buwana V), digambarkan tentang hal-hal yang kontroversial, seperti ajaran Islam sebagaimana yang dipahami oleh kaum santri, ajaran mistis kejawen, puisi tentang kebijakan moral, atau cerita adegan ranjang dan sodomi yang paling vulgar dan kelewat batas hingga dituduh porno. Berikut saya kutipkan beberapa cuplikannya yang saya ambil dari sini.

Ketika malam ketujuh belas tiba, Amongraga telanjang dan duduk bersila di buritan ranjang: “Dinda, ketahuilah bahwa raga ini seperti obor, roh nyalanya, ilmu asapnya, zat cahayanya. Padahal nyala tidak dapat dipisahkan dari obor maupun asap atau cahayanya.”

Di haluan ranjang, Tambangraras membungkuk dan berkata:
-Oh, Apiku! aku mendengar dan berkenan. Tapi tolong katakan, ketika si kekasih berkata kepada terkasihnya: “Aku terbakar bagimu”, siapakah yang terbakar? Apakah si kekasih yang terbakar bagi terkasihnya, atau sang terkasih yang terbakar api kekasihnya?
-Sebenarnya, Dinda, cinta adalah nyala agung yang membakar segalanya.
Di balik sekat berkerawang, Centhini merasakan malam undur diri sebelum pudar.

Dalam Serat Centhini juga digambarkan bahwa sosok perempuan (istri) ideal ibarat lima jari tangan. Ibarat jempol, istri harus pol mengabdi kepada suami. Ibarat telunjuk, istri harus menuruti segala perintah suami. Ibarat panunggul (jari tengah), istri harus mengunggulkan suami bagaimanapun keadaannya. Ibarat jari manis, istri harus selalu bersikap manis. Ibarat jejenthik, istri harus selalu hati-hati, teliti, rajin, dan terampil melayani suami.

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan peradaban yang terus bergerak pada ranah global dan mondial, peran kaum perempuan Jawa semacam itu agaknya sudah jauh mengalami pergeseran. Asumsi ini diperkuat dengan gencarnya perjuangan kaum feminis dalam upaya melakukan pembebasan “mitos” lama yang selama ini dinilai telah amat merugikan jagat kaum perempuan. Bahkan, perempuan Jawa modern saat ini sudah banyak yang mulai mendidik anak-anaknya dengan norma androgini, yakni norma lelaki dan perempuan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan hal-hal lain pada dirinya, tanpa dibatasi stereotipe peran yang berlaku. Melalui norma ini, anak laki-laki bisa mengekspresikan kelembutan dan anak perempuan bisa mengekspresikan keberanian.

Agaknya, pandangan feodalistik yang cenderung memosisikan kaum perempuan di bawah subordinasi kaum lelaki semakin terkikis. Sudah bukan zamannya lagi seorang istri hanya hanya menunggu kepulangan sang suami sekadar ingin melolos sepatu atau dasi yang diyakini sebagai simbol kesetiaan.

Memang harus diakui, pandangan feodalistik semacam itu tidak selamanya negatif. Setidaknya, nilai etika, kesetiaan, kelembutan, dan keharmonisan merupakan nilai positif yang terpancar dari sosok perempuan Jawa sebagaimana tergambar dalam Serat Centhini itu. Dalam konteks demikian, perempuan pasca-Jawa alias perempuan Jawa modern, seringkali dihadapkan pada situasi dilematis, antara mengikuti arus modernisasi dengan segenap dinamikanya; atau tetap menjadi sosok perempuan yang sarat sentuhan nilai tradisi; lembut, serba mengalah, sendika dhawuh, dan pasrah. Meminjam istilah Emile Durkheim, kaum perempuan pasca-Jawa, sedang berada dalam kondisi anomie; masih menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap budaya Jawa, tetapi gaya hidupnya sudah universal dan modern.

Tampaknya, kaum perempuan pasca-Jawa memang harus mencermati secara serius terhadap kondisi anomie yang, mau atau tidak, mesti dilaluinya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana mewujudkan sosok perempuan pasca-Jawa yang tidak kehilangan identitasnya atau jatidiri ke-Jawa-annya di tengah-tengah kuatnya arus transformasi budaya yang demikian dahsyat?

Pertanyaan semacam itulah yang butuh jawaban serius. Artinya, di tengah fenomena pergeseran peran dari mono-peran ke dwi-peran, kaum perempuan Jawa modern tidak mengalami “keterkejutan” budaya yang justru akan makin menjauhkan figur perempuan modern dari sentuhan nilai ideal secara normatif sebagai kunci sukses hidup berumah tangga.

Mitos kanca wingking memang harus dibebaskan. Kaum perempuan dituntut untuk bisa tampil mandiri, dinamis, kreatif, penuh inisiatif, dan profesional dalam mengambil perannya di sektor publik. Meski demikian, bukan berarti harus meninggalkan “naluri” keibuan yang penuh sentuhan perhatian dan kasih sayang terhadap anak dan suami, lembut, hormat, etis, dan bermartabat tinggi. Nah, bagaimana menurut Sampeyan? ***

————————————-

Catatan:

  1. Gambar diambil dari sini.

  2. Tulisan ini juga saya persembahkan buat istri saya tersayang yang telah menjadi pencerah peradaban buat ketiga anak saya yang selama ini terlalu sering saya abaikan ketika “insomnia” saya kambuh. Mohon maaf, sayang, kalau selama ini saya belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Istriku, aku sayang kamu dan anak-anak kita. (Diilhami sentuhan lembut Pak Hadi ketika mengungkapkan rasa sayangnya kepada sang istri tercinta. Terima kasih Pak Hadi. Puisi Sampeyan menyadarkan saya betapa pentingnya bersikap romantis kepada seorang istri).

Kategori: Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi | Tags: , , , , , , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgKetika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh (Wednesday, 1 September 2010, 282 pembaca, 34 respon) Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang...
imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgKastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI (Wednesday, 9 June 2010, 737 pembaca, 97 respon) Baru-baru ini, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen), Kemendiknas, Suyanto mengungkapkan, 18 sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dicabut izinnya karena dinilai tidak memenuhi persyaratan pendirian....
imgPenafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna (Saturday, 22 May 2010, 560 pembaca, 106 respon) Dalam sebuah rapat kabinet yang gerah, wajah Rahwana memerah seperti kepiting rebus. Sorot matanya liar memerah saga. Tiupan angin yang lembut dari moncong AC yang dingin pun gagal menaklukkan hati penguasa Alengka yang tengah murka itu. Berulang-ulang...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Monday, 14 January 2008 (08:54)) pada kategori Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

37 Responses to "Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa"

  1. Menggunakan Firefox 1.5.0.12 Firefox 1.5.0.12 pada Windows XP Windows XP

    Anda seorang suami dan tidak puas bersama isteri anda? Atau anda seorang isteri yang ingin memuaskan suami anda? Ketahui tips dan panduan yang patut anda tahu

  2. rahma says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.16 Firefox 2.0.0.16 pada Windows XP Windows XP

    wah…aku baru baca neh, bagus tulisanya, blognya rame pula…nemuin tulisan ini pas lagi bingung2nya nyari artikel ttg perempuan jawa…dari tulisan ini aku jadi tahu ada si Emile Durkheim yg bilang ttg perempuan pasca-jawa (heheh..ndeso aku ya…)
    yah…salam kenal deh

    syukurlah kalau ada manfaatnya, mbak rahma. salam kenal juga :cool:

  3. Juliach says:
    Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows Vista Windows Vista

    Sebagai perempuan jawa, aku pernah mendapatkan treatment serupa, tapi aku berontak. Hasilnya aku terdupak dari rumah.

    Never mind, aku malah mendapatkan kemerdekaan penuh dan lebih mandiri ketimbang kakak/adik laki-laki.

    Juliach’s last blog post..?FITNA?

    ooo
    wew…akhirnya “pemberontakan” mbak juliach berbuah sukses yak? meski demikian, rumah juga jangan dilupakan loh, mbak, hehehehe :smile: *halah sok tahu nih*

  4. Gedang_ngadeG says:
    Menggunakan Opera 9.22 Opera 9.22 pada Windows XP Windows XP

    kalau melihat suramnya nasib perempuan jawa, berarti salah ya yang mengatakan budaya jawa itu luhur buktinya nasib perempuan dalam tulisan ini

    ooo
    tak ada budaya yang sempurna kok. demikian budaya jawa. masih ada beberapa di antaranya yang terlalu feodal!

  5. ridhocyber says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.12 Firefox 2.0.0.12 pada Windows Vista Windows Vista

    wah bener2 top pemikirannya nim pak guru!!!

    saya juga pernah mengutip beberapa type wanita jawa menurut kamasutra di blog saya!!!

    wanita itu ada dua macam, yang fisik ok, dan kepribadian ok.

    kasus yang terjadi mungkin karena wanita itu kurang sadar posisi, alias kepribadiannya lupa kodrat kali ya!!!

    ridhocyber’s last blog post..Pilih Sport Bike atau Motor Bebek?

    ooo
    wew… ridho kayaknya suka juga mengamati dunia kaum perempuan, yak, wew… salut nih!

  6. puput says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.11 Firefox 2.0.0.11 pada Windows XP Windows XP

    pakdhe, lemek itu lebih tepat diartikan sebagai : alas, bukan selimut. kalau selimut kan tempatnya di atas, kalau alas di bawah.
    :D

    puput’s last blog post..Diantara

    oOo
    Walah, baru tahu kalau lemek itu mesti di bawah, hiks. Ok, makasih infonya, yak!

  7. Siti Jenang says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.11 Firefox 2.0.0.11 pada Windows XP Windows XP

    namanya aja Amongraga. salahnya dijadiin panutan.. he he he… hidupnya ya ngurusin raganya aja. beda dengan Syeh Amongrasa dan Amongsukma *halah* :mrgreen: :cool:

    Siti Jenang’s last blog post..Tuhan Menggabungkan Do?a?

    oOo
    Kalok bisa sekalian tiga mas jenang, amograga, amungsukma, dan amungrasa. ini juga *halah*

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (110 queries: 1.008 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP