Top

Tak Perlu Bersikap Reaktif!

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Sunday, 9 December 2007 | 33 pembaca | 0 komentar | Feed
Kategori: Budaya, Opini, Pendidikan, Politik, Refleksi

Beberapa hari belakangan ini banyak teman bloger yang terusik oleh kehadiran blog I hate Indon. Pasalnya, kehadiran blog ini dianggap makin memperkeruh suasana panas yang sudah lama terpicu oleh arogansi negeri jiran kita yang sudah berkali-kali menjadi tukang stempel budaya kita dengan branding Malingsia. Walhasil, tensi kita yang sudah lama memuncak ke ubun-ubun makin tak sabar untuk melakukan tindakan emosional berbau dendam –juga dibalut sikap nasionalisme– sebagai bukti bahwa kita bukan bangsa “bekicot” yang gampang dipermainkan. Hampir tak ada sisa 1/1000 space pun bagi I hate Indon untuk sedikit berbaik hati dengan bangsa kita. Simbol-simbol negara semacam Sang Saka Merah Putih atau Burung Garuda pun diembatnya juga. Bahkan, juga mengaitkannya dengan Polandia yang –bisa jadi– dimaksudkan untuk menghasut bangsa berbendera putih-merah itu. Berikut ini skrinsut-nya.

ganyang-indon.gif

*Makin mendidih darah di ubun-ubun.*

Iseng-iseng, saya pun tanya Om Google. Ada banyak tulisan yang membahas kehadiran I hate Indon. Salah satu di antaranya adalah blog Bung Prasetyo Andy Wicaksono. Menurut analisis Bung Pras, pemilik I hate Indon adalah orang Indonesia sendiri yang besar di Jakarta. Alasannya?

Karena pada beberapa postingan yang dia tulis sendiri [karena ada beberapa yang merupakan saduran dari website2 berita Malaysia, yang sepertinya sudah diubah-ubah biar yang baca tambah panas], dia menggunakan bahasa gaul Indonesia dengan sangat fasih.

Itulah analisis Bung Pras. Lantas, saya pun kembali iseng untuk melihat profil pemilik I hate Indon. Berikut ini skrinsutnya.

i-hate-indon.gif

Ternyata, pemilik I hate Indon adalah seorang konsultan yang tinggal di Jakarta, Bekasi, Indonesia. Benar atau tidak profil yang ditampilkan oleh sang pemilik, itulah yang masih menjadi tanda tanya. Tapi, agaknya tulisan Mas Muhammad Musadiq Marhaban makin membuktikan bahwa orang-orang Malaysia masih banyak yang waras juga. :lol: Mudah-mudahan benar adanya. Di tengah-tengah memanasnya situasi semacam itu, agaknya memang diragukan kebenarannya kalau pemilik I hate Indon benar-benar orang Malingsia.

*Tensi mulai menurun.*

Ya, ya, yah, kita berharap, mudah-mudahan “perang” itu tak terjadi. Bagaimanapun juga, antara Indonesia dan Malaysia pernah membangun sejarah peradaban sebagai bangsa bertetangga yang ikut berkiprah dalam membangun peradaban dunia yang *halah* rukun dan damai melalui ASEAN. Ini artinya, kita tak perlu –menurut hemat saya– bersikap reaktif dan terprovokasi oleh kehadiran sebuah blog yang –mungkin– sengaja dibuat untuk menambah panasnya situasi.

Persoalannya sekarang, kalau pemilik I hate Indon itu memang bukan orang Malaysia, lantas siapa? Kalau memang benar ulah bangsa kita sendiri, lantas siapakah dia sesungguhnya? Barangkali ada bloger “detektif” — seperti Mas Mbelgedez yang dulu “sukses” nguber-uber si Ratu Bloger — yang berkenan untuk menyelidikinya? *Halah, kayak ndak ada kerjaan sajah!!!*

Random Posts

0 komentar terhadap “Tak Perlu Bersikap Reaktif!”

Komentar Anda?


« Korpri dan Neofeodalisme dalam Birokrasi | Penjara »

INSPIRASI

1000buku

Sahabat BlogCatalog


Tulisan Terbaru

Pesona dari Puncak Gunung Kelir (Monday, 5 January 2009 - 64 komentar)
Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5) (Friday, 2 January 2009 - 68 komentar)
Postingan Dini Hari pada Awal Tahun (Thursday, 1 January 2009 - 131 komentar)
Perempuan Bergaun Putih di Bukit Cokrokembang (Tuesday, 30 December 2008 - 81 komentar)
Hijrah Spiritual dan Intelektual Menjelang Pergantian Tahun (Saturday, 27 December 2008 - 111 komentar)
Gaya Selebritis Para Wakil Rakyat (Wednesday, 24 December 2008 - 53 komentar)
Kontroversi di Balik Pengesahan RUU BHP (Sunday, 21 December 2008 - 156 komentar)
Terompet Ujian Nasional Itu Telah Ditiup (Wednesday, 17 December 2008 - 145 komentar)
Kekuasaan dan Seks dalam Novel Belantik (Sunday, 14 December 2008 - 115 komentar)
Pendidikan Multikultural yang Terabaikan (Friday, 12 December 2008 - 125 komentar)

FEEDJIT