Menjaga Marwah Sastrawan Kita

Oleh: Sawali TuhusetyaSebagai salah satu produk kebudayaan, sastra berperan sebagai penjaga peradaban. Ia (baca: sastra) bagaikan “mata zaman” yang terus memancarkan nilai kearifan dalam memberikan kesaksian terhadap tanda-tanda zaman. Ia…

Perempuan yang Menggelisahkan ASA

Oleh Nailiya Nikmah JKF “Bukankah kau perempuan?” …. “Aku? Perempuan? Pertanyaan apa itu.”   1 Ada dua hal yang menjadi kebutuhan pokok seorang pengarang. Pertama, ia memerlukan saat-saat untuk mengeluarkan…

Tiba waktu; “Puisi Jernihkan …”

Oleh: Ali Syamsudin Arsi Penghujung bulan Juni, tepatnya pada tanggal 28 nanti, bertempat di arena pentas bernama Panggung Bundar Mingguraya Banjarbaru akan digelar ‘sesuatu yang beda’. Berbeda dari pelaksanaan sekali…

Semangat Aruh Sastra Kalsel

Oleh: Ali Syamsudin Arsi Di setiap pertemuan sastra yang kita tahu bahwa mata acara seminar merupakan bagian terpenting, ada rasa aneh saja bila masih terdengar pertanyaan mendasar, “Untuk apa seminar…

IDEOLOGI SASTRA INDONESIA

IDEOLOGI SASTRA INDONESIA

Maman S Mahayana

Dua tulisan tentang ideologi yang dimuat Kompas (Novel Ali, “Ideologi Media Massa” 15/4 dan Komaruddin Hidayat, “Reformasi tanpa Ideologi” 24/4) menegaskan pentingnya institusi, gerakan, dan teristimewa: bangsa, melandasi arah perjuangannya ke depan dengan sebuah ideologi. “Ideologi media massa berkaitan dengan idealisme yang mestinya menjadi dasar perjuangan pers nasional,” demikian Novel Ali. Sementara hal penting yang diajukan Komaruddin Hidayat adalah penyikapan negara menghadapi fenomena global. Di situlah, perlu diciptakan: “ideologi baru yang menyatukan kepentingan semua anak bangsa dan menjadi pengikat kohesi emosi dan cita-cita bersama ….”

***

Kesusastraan Indonesia sesungguhnya dapat memainkan peranan penting dalam menawarkan ideologi sebagai usaha membangun cita-cita bersama. Mengapa sastra? Bukankah itu cuma hayalan sastrawan belaka? Bukankah membaca karya sastra berarti membaca sebuah dunia fiksional? Bagaimana mungkin membangun cita-cita dan kepentingan bersama dapat dilakukan melalui sastra?