Mengungkap Keunikan Gumam Asa Bungkam Mata Gergaji

Kategori Esai/Sastra Oleh

III

Gumam Asa 3 ini berjudul Bungkam Mata Gergaji. Judul ini terdiri dari dua kata yaitu bungkam dan mata gergaji. Kata bungkam secara denotatif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah (1) tertutup (tutup mulut);  (2) tidak bersuara. Sedangkan kata bungkam dalam Gumam Asa 3 ini penekanannya lebih pada istilah membungkam. Kata membungkam sendiri secara denotatif menurut KBBI adalah (1) menutup mulut supayadiam; (2) membuat tidak berbunyi, tidak bersuara, tidak berbicara. Secara konotatif kata bungkam sesuai konteks Gumam Asa ini maksudnya adalah merupakan upaya paksa, menahan, mengurung, mengalahkan, menjatuhkan, mematahkan, menghentikan, memenjarakan, dan sebagainya.

Frasa mata gergaji secara konotatif sesuai dengan konteks Gumam Asa makna konotatifnya adalah suatu sistem untuk mematahkan menjadi dua berseberangan saling menuding saling tercerai berai sistem atau cara, dan untuk menang banyak menggunakan segala cara termasuk cara-cara licik dan busuk itu tidak akan dipedulikan karena bukan proses positif yang disasar tetapi puncak kemenangan walau yang lain tersungkur bahkan tak berkutik dan mata gergaj ibukan hanya satu tetapi banyak mata tajam di sana, bukan hanya satu orang yang sebenarnya berbuat tetapi konspirasi dari banyak unsur, dan biasanya yang lemah akan sangat merasakan akibatnya sebab yang kuatlah yang punya kendali, tetapi bila ‘rakyat banyak bersatu membentuk ‘mata gergajinya sendiri’ maka sulit yang lain untuk mengalahkan, sayangnya rakyat telah lebih dahulu dipisah bercerai berkeping-keping, tidak mampu bersatu untuk membentuk kekuatan melawan tirani itu, maka sama terbungkam dan sama tumpul mata gergaji.

Berdasarkan paparan di atas ternyata Gumam Asa Bungkam Mata Gergaji ini adalah: murni karya sastra puisi tetapi dalam bentuk yang berbeda dari puisi-puisi lainnya. Perbedaan yang nampak mencolok adalah pada tipografi. Gumam Asa 3 Bungkam Mata Gergaji ini tidak menggunakan bait dan larik dalam tipografinya, tetapi lebih mirip dengan prosa yang menggunakan paragraf dan kalimat. Bentuk puisi seperti ini ada juga yang menyebutnya puisi prosais. Maksudnya puisi yang menggunakan bentuk prosa. Tetapi Gumam Asa ini juga sangat berbeda dengan puisi prosais karya penyair lainnya. Perbedaan yang mencolok adalah Gumam Asa ini benar-benar mirip prosa, hanya mirip tapi tak sama. Lebih jelasnya adalah serupa tapi tidak sama. Hal ini menjadi keunikan tersendiri bahwa Gumam Asa pada umumnya menyajikan paragraf panjang, bahkan ada yang lebih dari seratus kalimat.

Layaknya sebuah puisi maka Gumam Asa 3 Bungkam Mata Gergaji ini juga dapat dihayati, diapresiasi, dan dinikmati. Karena Bungkam Mata Gergaji ini dibangun dengan diksi dan ungkapan yang dahsyat, menyentuh, memukau, dan menggugah. Semuanya itu karena pemilihan kata yang tepat dan proporsional sehingga mampu membentuk dan menciptakan rima asonansi, rima aliterasi, dan ritme atau irama yang menimbulkan keindahan. Dan pemilihan kata yang tepat ini juga mampu menciptakan imaji visual dan imaji audutif yang mampu membuat pembaca seakan-akan melihat dan mendengar apa yang diungkapkan dalam Bungkam Mata Gergaji ini. Selain itu, pemilihan kata yang tepat ini juga bisa menciptakan majas yang turut memperkuat dan memberi pendalaman kesan yang diungkapkan. Semuanya itulah yang membuat puisi ini menyentuh dan menggugah baik untuk dibaca dan direnungkan sendiri, maupun diperdengarkan di depan khalayak.

Berdasarkan isi dan cara mengungkapkannya Gumam Asa 3 Bungkam MataGergaji ini adalah puisi naratifs ekaligus juga adalah puisi deskriptif impresionistik yang menerangjelaskan dan mengungkapkan kesan penyairnya terhadap berbagai situasi dan kondisi yang terjadi di tanah air tercinta ini.

Dikatakan puisi naratif karena Bungkam Mata Gergaji ini telah mengungkapkan dan menjelaskan tentang apa dan bagaimana Bungkam Mata Gergaji itu termasuk juga sepak terjang perjalanan mata gergaji yang membungkam itu. Dan dikatakan puisi deskriptif impresionistik karena Bungkam Mata Gergaji ini telah mendeskripsikan secara terang benderang kesan penyairnya terhadap carut marut situasi dan kondisi di negara kita dalam bentuk sindiran tajam menyengat dan kritik yang menggelitik.

IV

Bungkam Mata Gergaji adalah Buku Kumpulan Gumam Asa karya Ali Syamsudin Arsi yang biasa dikenal dengan Bung ASA, salah seorang sastrawan Kalimantan Selatan. Buku ini adalah salah satu buku yang turut serta memperkaya khazanah kreativitas dunia sastra di Kalimantan Selatan khususnya dan di Indonesia umumnya.

Gumam Asa adalah salah satu kreativitas, inovasi dan gaya Ali Syamsudin Arsi dalam penulisan puisi yang tidak terikat dengan bait dan larik. Dalam hal gaya penulisan seperti ini Ali Syamsudin Arsi lebih suka menyebutnya Sastra Gumam. Atau lebih tepatnya ia lebih suka menyebutnya Gumam Asa daripada puisi.

Gumam Asa adalah gaya penulisan puisi yang unik dan dan berbeda, yang lebih menekankan pada pengungkapan isi daripada bentuk tipografi. Gumam Asa adalah sindiran tajam menyengat dan kritik menggelitik yang menggambarkan kenyataan dan ketidakpuasan penyair terhadap carut marut yang terjadi di negara kita.

Akhirnya sampailah kita pada suatu kesimpulan bahwa Buku Kumpulan Gumam Asa Bungkam Mata Gergaji ini adalah karya sastra yang dari sudut pandang mana pun tetap menarik untuk dibaca, dihayati, diapresiasi, dinikmati, dibicarakan, dicermati, ditelisik, dan diteliti oleh siapa pun. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua, bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya bagi dunia sastra, baik di Kalimantan Selatan maupun di Indonesia. Amin. ***

Banjarmasin, akhir Mei 2013

—————-

HAMBERAN SYAHBANA, lahir di Banjarmasin, 14 Juli 1948. Pensiunan Guru SMPN 12 Banjarmasin ini mulai menulis Puisi, cerpen dan esai sejak akhir tahun 70-an. Karya-karyanya dipublikasikan di media massa lokal dan beberapa antologi bersama. Tahun 2010 menerima Penghargaan HADIAH SENI bidang sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan.

Penggemar wayang kulit, gendhing dan langgam klasik, serta penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

5 Comments

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Pak Sawali yang dihormati…

    Alhamdulillah, senang dapat menyambung silaturahmi kembali ke blog yang diisi dengan sastera hebat negara Indonesia. Buku Gumam ASA yang sangat menarik dari segi bahasa dan susun kata yang indah walau hanya difahami mereka yang mengerti kata siratan yang berdampak besar jika diteliti dengan baik.

    Salam hormat takzim dari Sarikei, Sarawak. 😀

  2. Oh, maaf paparan ini bukan saya yang menuliskannya, tetapi Yang terhormat Bapak Hamberan Syahbana
    Mohon dikoreksi seperlunya, ya Bapak Sawali, saya tidak memberitahukan sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Tulisan terbaru tentang Esai

Go to Top