Buku Tamu

Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Lahir di sebuah dusun, 19 Juni 1964, di daerah Kabupaten Grobogan, salah satu di antara 35 kabupaten di Jawa Tengah yang telah tercitrakan sebagai kawasan yang kering, gersang, dan miskin. Sejak kecil telah berminat dan bercita-cita menjadi guru berkat sugesti yang begitu kuat dari guru-guru SD di kampungnya yang sunyi. Selepas lulus SPG (1983) melanjutkan studi ke IKIP Semarang Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (lulus tahun 1988). 1989-1995 mengabdikan diri menjadi guru Bahasa Indonesia di SMA Islam Karangrayung-Grobogan. Sejak 1995 hingga sekarang menjadi guru di SMP 2 Pegandon, Kendal, Jawa Tengah. Kini, hidup bahagia bersama istri dan ketiga anaknya di sebuah kawasan Perumnas yang sepi. Di sela-sela tugasnya sebagai guru, juga nyambi jadi penulis. Beberapa tulisannya, seperti cerpen, artikel opini, dan esai sastra pernah dimuat di Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Republika, Suara Merdeka, Wawasan, dan Solopos. Tahun 2003, atas biaya sendiri melanjutkan studi di Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (lulus tahun 2005) dengan judul tesis: Karakteristik, Fungsi, dan Latar Belakang Penggunaan Kekeliruan Inferensi Percakapan dalam Novel Belantik. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia). Silakan baca selengkapnya di sini! Untuk kontak lebih lanjut, silakan hubungi lewat email: sawali64[at]gmail[dot]com.

Salam Budaya,

Sawali Tuhusetya

Ada 1.575 komentar dalam “Buku Tamu

  1. assalamuaiaikum pak sawali, aku somad guru mts ittihadul muslimin kerso jepara, yang tadi jenengan kasih ilmu, oh ya aku mau tanya pak, penulisan pada Yth. Bapak Bupati Jepara atau Yth. Bupati Jepara pada alamat surat kadang ada yang pakai dan ada yang tidak mana yang benar pak, pakai bapak atau langsung bupati pak…mohon penjelasan, atas berkenan membalas saya ucapkan banyak terima kasih, senoga bapak makin sukses…amin…

    • Wa’alaikum salam, Pak Somad. Terima kasih atas kunjungan dan pertanyaannya. Terkait dengan penulisan alamat surat: Mengacu pada kaidah EYD sesuai dengan Permendiknas NOMOR 46 TAHUN 2009, nama jabatan dalam suatu instansi tidak perlu diawali dengan kata sapaan, seperti: Bapak, Ibu, Sdr., dll., Penggunaan kata sapaan hanya digunakan jika alamat surat ditujukan kepada orangnya.
      Contoh:
      Yth. Bupati Jepara
      atau
      Yth. Bapak K.H. Ahmad Marzuqi, S.E.
      Bupati Jepara

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *