Pesona Uang dan Kekuasaan
Monday, 20 October 2008 | 514 pembaca | 172 komentar
Kalau mau jujur, siapakah yang tidak tergiur dengan kemerincing dhuwit? Siapa pula yang tak ingin hidup serba enak-kepenak di atas kursi kekuasaan yang dielu-elukan banyak pengagumnya? Bisa jadi, retorika semacam itu tak berlaku bagi seorang rohaniwan suci yang sudah tak mau lagi bersentuhan dengan soal-soal duniawi. Sisa-sisa hidup mereka semata-mata hanya untuk mengabdikan diri kepada Sang Pemilik Kehidupan. Namun, bagi orang awam, lebih-lebih saya, yang masih terdiri dari roh dan daging, punya keluarga, punya setumpuk kebutuhan duniawi, jujur saja, masih sangat tergiur oleh pesona uang dan kekuasaan. Uang dan kekuasaan, konon bisa membuat hidup menjadi lebih terhormat dan bermatabat. Uang dan kekuasaan bisa membuat jari-jari tangan menjadi... (Silakan baca lanjutannya!)
Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)
Thursday, 16 October 2008 | 532 pembaca | 161 komentar
Seekor kelelawar berpakaian necis, parlente, dan berdasi, berdiri di atas mimbar kehormatan. Bola matanya memancarkan pesona dan kekaguman. Ribuan kelelawar yang berdesak-desakan di alun-alun rela dipanggang terik matahari demi menyimak kata demi kata yang terlontar dari kelelawar parlente itu. “Wahai Sudara-saudaraku! Negeri kta ini membutuhkan sebuah perubahan. Rezim masa lalu telah jatuh tersungkur untuk menerima karmanya,” kata sang kelelawar berdasi dengan penuh semangat. Sesekali tangannya mengepal untuk memberikan tekanan kata-kata kunci yang dihamburkan ke tengah massa. “Sekali lagi, negeri kita perlu perubahan! Ya, perubahan! Tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik. Kita perlancar roda ekonomi, kita tekan angka kemiskinan... (Silakan baca lanjutannya!)
Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan
Tuesday, 14 October 2008 | 633 pembaca | 119 komentar
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. *** Kita pasti masih sangat hafal dan fasih dengan ikrar Sumpah Pemuda semacam itu. Jelas bukan persoalan yang mudah untuk merumuskan sebuah teks yang sanggup mengakomodasi aspirasi semua golongan ketika situasi masih sangat kental dengan warna lokal dan atribut-atribut lain yang berporos pada hal-hal yang bersifat kedaerahan. Namun, agaknya warna lokal dan berbagai atribut primordialisme semacam itu berhasil ditepis oleh para pendahulu negeri ini. Pada Kongres... (Silakan baca lanjutannya!)

















