Home » Negeri Kelelawar » Lelang Jabatan Kepala Sekolah di Negeri Kelelawar

Lelang Jabatan Kepala Sekolah di Negeri Kelelawar

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Negeri Kelelawar menggelar Lelang Jabatan Kepala Sekolah. Semua rakyat Negeri Kelelawar paham, Kepala Sekolah (Kasek) merupakan jabatan yang cukup “bergengsi” dalam sebuah institusi pendidikan (baca: sekolah). Fungsi dan peran Kasek sangat menentukan “hitam-putih”-nya sebuah sekolah. Sekolah yang dikelola dengan benar dan visioner akan memiliki kultur kondusif yang mampu menciptakan atmosfer pendidikan yang beradab dan berbudaya. Sebaliknya, sekolah yang dikelola dengan mind-set kacangan yang orientasinya hanya bertumpu pada uang dan kekuasaan bisa dipastikan akan mengalami situasi “anomali” yang akan berdampak buruk pada kinerja pendidik dan tenaga kependidikan serta out-put yang dihasilkannya.

lelangInisiatif gelar Lelang Jabatan Kasek di Negeri Kelelawar diilhami dari semangat Negeri Antah-Berantah yang berkeinginan untuk melahirkan pejabat mumpuni, berkompetensi hebat, berintegritas tinggi, dan berkarakter unggul. Meski belum teruji benar produk pejabat yang dihasilkan dari proses lelang itu, tetapi setidaknya sudah ada “kemauan politik” untuk menciptakan proses rekrutmen pejabat yang dianggap lebih fair dan transparan. Proses lelang jabatan juga merupakan sikap responsif terhadap berbagai kritik publik yang menilai proses rekrutmen pejabat di berbagai ranah dan lini birokrasi selama ini berlangsung tertutup, serba-politis, sarat kongkalingkong dan permufakatan licik, memiliki kedekatan personal dengan penguasa, bersedia menjadi penjilat, dan mau setor upeti sesuai keinginan penguasa. Dalam situasi seperti itu, diakui atau tidak, setelah menjadi pejabat, orientasinya bukan untuk menjadi pioner kepemimpinan yang berkiblat pada rakyat, melainkan hanya ingin melangggengkan kekuasaan ala Machiavelli yang menghalalkan segala cara untuk menyenangkan atasan dan memenuhi naluri korupnya untuk memanjakan hasrat hedonisnya. Dalam situasi demikian, disadari atau tidak, rakyatlah yang harus menjadi tumbal keserakahan pejabat-pejabat yang korup dan bermental licik.

“Syukurlah kalau sudah ada niatan untuk menggelar lelang jabatan kepala sekolah,” ujar seekor kelelawar bertubuh tambun bermata juling di sebuah senja yang temaram di pojok sebuah goa yang singup. Beberapa kekelawar yang berkerumun di sekelilingnya saling bertatapan. Sementara, di ujung goa sana terdengar cericit sekelompok kelelawar yang riuh, entah apa yang tengah diperbincangkan.

“Loh, memang benar kabar itu, Bos?” sahut seekor kelelawar yang sedari tadi klepas-klepus menyedot kretek kesukaannya.

“Walah, Sampeyan itu kelelawar macam apa? Hare gene masih juga ketinggalan info-info terhangat. Apa Sampeyan ndak pernah buka internet? Yang disampaikan Bos kita itu ya benar adanya!” sergah kelelawar lain sambil memlintir kumis panjangnya yang tumbuh jarang-jarang.

“Lelang jabatan memang bertujuan bagus untuk menghasilkan pejabat yang bagus dan bersih. Tapi saya kok belum juga percaya! Jangan-jangan hanya sekadar ganti label doang, tapi prosesnya seperti yang sudah-sudah! Penuh rekayasa dan tetap saja para kandidat yang tak punya kedekatan dengan lingkaran kekuasaan akan bernasib sial!” seloroh kelelawar bertubuh ceking.

“Walah, Sampeyan ya jangan berprasangka buruk seperti itu! Kita sangat berharap proses lelang ini benar-benar bersih dari suap dan berbagai ulah licik lainnya!”

Perbicangan semakin hangat. Sementara di sebelah barat sana, senja kian meredup. Para kelelawar mulai berkeliaran keluar sarang. Lantas, menggemakan suara cericit yang memantul-mantul hingga ke dinding langit, merayap-rayap ke seantero goa dan lembah.

Kabar tentang lelang jabatan Kasek itu kian kecang berhembus di setiap sudut lembah Negeri Kelelawar. Seluruh kawula Negeri Kelelawar berharap proses lelang jabatan itu benar-benar mampu menghasilkan sosok kepala sekolah yang tidak hanya cerdas dan memiliki skill-leader yang bagus, tetapi juga memiliki moral, komitmen, dan integritas yang tinggi. Dengan sosok kepala sekolah semacam itu, sekolah-sekolah di Negeri Kelelawar di berbagai jenjang pendidikan formal diharapkan mampu mewujudkan kultur sekolah yang terhormat, beradab, dan berbudaya, sehingga sanggup menghasilkan generasi kelelawar yang cerdas, baik secara intelektual, emosional, spiritual, maupun sosial.

Namun, siapa yang mampu menduga kalau pada akhirnya proses lelang jabatan Kasek itu ditengarai sarat dengan rekayasa dan tipu-tipu. Sekelompok aktivis LSM yang sejak awal mengikuti proses lelang jabatan itu menemukan fakta yang sulit dibantah kebenarannya. Konon, beberapa kandidat Kasek “incumbent” yang dijagokan bakal kembali menduduki jabatannya di-“karantina” di sebuah tempat yang sangat dirahasiakan. Lantas, oleh oknum Kepala Dinas Pendidikan, para “incumbent” diminta melakukan aksi tutup mulut dengan menyerahkan upeti yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah perkepala. Dengan amat rapi dan sistematis, sang oknum kepala dinas memanfaatkan wewenangnya untuk memanfaatkan celah suap-menyuap yang masih bisa ditembus.

Namun, serapat-rapatnya kebusukan dibalut dan ditutup berlipat-lipat, akhirnya terendus juga hingga akhirnya tercium oleh panitia penyelenggara yang berhasrat menggelar lelang dengan cara yang bersih dan jujur. Walhasil, setelah melalui proses investigasi mendalam ditemukan bukti yang sah dan meyakinkan bahwa sang oknum kepala dinas telah menyalahgunakan jabatan dan wewenangnya. Tanpa melalui prosedur bertele-tele, sang oknum kepala dinas diberhentikan secara tidak hormat dari jabatannya. Tak hanya itu. Kandidat Kasek “incumbent” yang terbukti telah melakukan praktik penyuapan digugurkan haknya untuk menjadi kepala sekolah.

Kabar praktik suap-menyuap di balik proses lelang jabatan Kasek itu dengan sendirinya langsung terendus oleh para netter. Status dinding facebook dan twitter penuh dengan tautan-tautan berita tentang praktik tak terpuji itu.

Para kawula Negeri Kelelawar yang makin melek informasi merasa bersyukur atas terbongkarnya praktik suap-menyuap dalam proses lelang jabatan Kasek.

“Mau jadi apa dunia pendidikan di negeri ini kalau praktik suap-menyuap yang dilakukan secara rapi dan sistematis seperti itu tidak terbongkar? Syukurlah, di tengah zaman yang sedang sekarat seperti ini masih ada pihak-pihak tertentu yang peduli!” teriak seekor kelelawar berikat kepala hitam di tengah kerumunan kelelawar di sebuah malam yang dingin. Para kelelawar yang lain mengangguk-angguk sebelum akhirnya mereka terbang melintasi kawasan lembah dan ngarai Negeri Kelelawar yang dingin dan beku. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Lelang Jabatan Kepala Sekolah di Negeri Kelelawar" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (17 Desember 2013 @ 19:04) pada kategori Negeri Kelelawar. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 23 komentar dalam “Lelang Jabatan Kepala Sekolah di Negeri Kelelawar

  1. Terima kasih gan atas informasinya, sudah beberapa hari ini saya mencari informasi ini, ini sungguh sangat membantu saya . mulai sekarang saya akan bookmark blog ini agar saya bisa kembali dan melihat informasi yang terbaru.
    mungkin agan atau pengunjung blog agan juga membutuh kan infomasi dari saya, silahkan liat artilek saya yang sangat Mohon kunjungi website kami
    http://www.168sdbet.com
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *