Home » Esai » Sastra » Tiba waktu; “Puisi Jernihkan …”

Tiba waktu; “Puisi Jernihkan …”

Oleh: Ali Syamsudin Arsi

Penghujung bulan Juni, tepatnya pada tanggal 28 nanti, bertempat di arena pentas bernama Panggung Bundar Mingguraya Banjarbaru akan digelar ‘sesuatu yang beda’. Berbeda dari pelaksanaan sekali dalam sebulan setiap malam Sabtu-nya.

Panggung Bundar Mingguraya akan dihadiri oleh banyak pembaca puisi dari pulau Jawa dan Sumatera. Bahkan juga ada kemungkinan Denny Indrayana ikut membaca puisi bersama pembaca lainnya, tentu tak ketinggalan pembaca dari Kalimantan Selatan.

Rombongan dari luar Kalsel akan dipimpin oleh Sosiawan Leak sebagai koordinator/penggagas/penyunting buku “Puisi Menolak Korupsi”. Ini peristiwa penting dan bersejarah.

Malam Sabtu, yang memang sudah rutin dilaksanakan sekali dalam setiap bulan, malam di angka penanggalan 28 bulan Juni ini adalah sebuah rangkaian acara yang dimulai dari bulan Maret tahun 2012 lalu, berarti hingga saat ini memasuki bulan ke-15. Bulan-bulan sebelumnya dengan tema berbeda-beda, dan pada bulan ini dibalut tema : “Mereka telah menghisap sampai ke tulang-tulang, karena kau manusia”  Tema yang memang disesuaikan dengan acara pembacaan puisi-puisi dari buku “Puisi Menolak Korupsi”.

Pada kesempatan ini akan kita perkenalkan ‘tamu-tamu dari luar Kalsel tersebut’ yang akan hadir di Panggung Bundar Mingguraya nanti, mereka adalah: 1. Sosiawan Leak, 2. Bambang Eka Prasetya, 3. Acep Syahril, 4. Didit Endro, 5. Wage Tegoeh Wijono (pembaca puisi, pemerhati road show PMK), 6. Hardho Sayoko SPB, 7. Kidung Purnama, 8. Lukni Maulana, 9. Beni Setia, 10. Lennon Machali, 11. Murdoks Sastra Riau, 12. Ajuk (aktris monolog), 13. Dimas Indiana Senja (pembaca puisi, pemerhati road show PMK), 14. Heru Mugiarso, 15. Denny Indrayana.

Untuk nama Denny Indrayana sendiri memang tidak terdapat di dalam buku “Puisi Menolak Korupsi”, tetapi dengan gaya yang sangat meyakinkan dari seorang Penyair Gila, abah Arsyad Indradi menegaskan bahwa Denny Indrayana yang kini menjabat sebagai wakil menteri Kehakiman dan HAM siap hadir dan membaca puisi, “Siap. Denny Indrayana telah menjawab sms abah, ia siap hadir dan ikut membaca puisi di Banjarbaru, yaitu di Panggung Bundar Mingguraya,” jelas Penyair Gila. Semoga saja benar-benar hadir, dan bila pun tidak maka Panggung Bundar Mingguraya tetap dilaksanakan dan tidak mengurangi makna acara yang sudah dirancang oleh panitia. “Kami tidak terlalu berharap banyak kepada kehadiran Denny Indrayana karena memahami tugas kerja yang padat di pundak beliau, tetapi bila pun hadir maka kita menyambutnya dengan penuh rasa persaudaraan, sebab beliau ‘dangsanak kita jua’ yang kini dipercaya dalam tugas negara sebagaimana kita ketahui bersama,” ungkap HE. Benyamine selaku koordinator lapangan di agenda Panggung Bundar Mingguraya.

Berikut nama para tamu yang karyanya tercantum di dalam buku “Puisi Menolak Korupsi”.

Sosiawan Leak, lahir di Solo, 23 September 1967. Menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNS, Solo. Menulis puisi, esai, dan naskah teater di samping menjadi actor dan sutradara beberapa grup teater. Kini tinggal di Solo, Jateng.

Dalam buku PMK (Puisi Menolak Korupsi) dapat dibaca puisinya berjudul MESIN TANAH: mulutmu/ seperti mesin tanah/ selalu memamah pecahan genting/ batu bata dan bengkah sawah// mengunyahnya/ dalam ketidakpastian hokum agraria/ tragedi kebakaran terencana/ atau eksekusi yang diprovokasi pentungan dan senjata/ bersama para seragam dan gerombolan preman/ usai menenggak darah dan nanah kebrutalan/ sembari pesta narkoba yang dilindungi/ persekutuan setan berwajah nabi// mulutmu/ seperti mesin tanah/ selalu bicara soal lahan kubur yang tak terjaga/ meneriakkan ranah subur dalam hitungan angka-angka/ yang meledak menjadi serpihan kaca/ karat besi dan hujan asam di tubuh para harga/ merajang-rajang cangkul, bajak dan sapi/ membeset-beset perahu, jarring dan jala/ membedah tanggul anggaran/ yang kau bangun bersama para tikus dan ular!// mulutmu/ seperti mesin tanah/ yang selalu menjanjikan kesuburan dan harapan/ tiap kali memimpin upacara penghormatan/ saat mengerek panji-panji demokrasi/ bergambar otak udang/ dan belatung hati !/// (halaman 324).

Bambang Eka Prasetya, lahir di Jombang, 5 Desember 1952. Menulis di sela-sela kesibukannya sebagai Direktur Utama PT. Tata Banua Adinusa, Banjarbaru, Kalsel. Kini tinggal di Malang, Jatim. Alamat: Pandansari Utara 24 Rt 07/10, kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang 56172.

Dalam buku PMK dapat dibaca puisinya berjudul SELAMAT DATANG DI NEGERI SETAN: Selamat datang di negeriku / Negeri yang menebar benih-benih janji/ Tunas tumbuh berbalut kebohongan/ Bencana melanda tak pula membawa jera//Inilah wajah negeriku/ Negeri sakit jiwa bernahkoda korup serakah/Perebutan kekuasaan dan kekayaan hal lumrah/ Di setiap pelataran pertarungan kepentingan// Inilah negeri jajahan setan/ Negeri yang dijejali rakyat miskin dan lapar/ Dengan makanan berwajah setan/ Nun di atas  panggung sana mereka tak henti bertengkar/// (halaman 109).

Acep Syahril, lahir di Kuningan, 25 November 1963. Kini tinggal di Blok Senerang Desa Sudikampiran, Indramayu, Jawa Barat.

Dalam buku PMK terbaca puisinya di bawah judul: GURU KAMI TUKANG SAPU NEGARA : Kami tahu guru kami yang sesungguhnya tidak pernah berfropesi ganda apalagi merangkap sebagai tukang sapu tapi akhir-akhir ini mereka sering terjebak dalam masalahnya sendiri dan diam-diam mereka merubah wujudnya jadi ikan sapu-sapu yang bergerak ke segala ruang bahkan menyusup ke jalan jalan darah mereka tidak hanya menghisap kotoran tapi juga memakan urat-urat otot seperti persendian tulang anak istri kami dan tanpa dengki guru bersama teman-temanya sangat rajin menyapu siang malam mereka berfikir keras dengan imajinasinya agar bisa menyapu semen beton besi kertas tiket perjalanan panti asuhan gedung sekolah gedung perkantoran wc kamar mandi sampai ke jembatan mereka sapu //Lalu keselokan paginya di lapangan upacara guru menganjurkan agar kami selalu berfikir pakai logika hari ini mau makan apa besok mau dapat uang dari mana dan kita harus bekerja keras katanya tapi lagi-lagi bila malam tiba guru-guru kami selalu berfikir dengan imajinasi mereka berfikir bagaimana caranya menyapu uang Negara namun tak berbekas tidak seperti penggasak sandal jepit atau maling ayam tetangga //Ow ow sungguh kami malu jadi tukang sapu seperti guru, /// 2011(halaman 9).

Didit Endro S, lahir di Grobogan 26 April 1970. Kini tinggal di Jepara, Jateng.

Dalam buku PMK terdapat puisinya berjudul BERANG-BERANG: berang-berang beringas/ mecakari segala yang ada/ sang tupai mengintip pada celah dedaunan/ sementara/ sang rase menyelinap/ di balik akar gelap// berang-berang menggila/ akar-akar ludes/ batang-batang tumpes/ mengganas tanpa tegur sapa/ melibas sekitarnya/ dan,/ dor !!!/ tak seberapa lebar/ peluru itu merobek punggungnya/ tetapi darah itu/ mengalir tembus hingga dada/ berang-berang lunglai/ meletakkan kepala/ pada ujung akar yang dikeratnya/ tak ada negosiasi/ tak ada lagi konspirasi/ berang-berang mati/ tak ada lagi yang bisa dibeli/// jepara (halaman 150).

Hardho Sayoko SPB, lahir di Ngawi 16 Juli 1955. Kini tinggal di Ngawi, Jateng.

Dalam buku PMK terpampang puisinya berjudul KAWULA NEGERI ATAS ANGIN: berdalih demi berkesinambungan pembangunan negeri Atas Angin walau setiap musim upeti dan aneka pungutan selalu merangkak tak soal sebab unjuk rasa sambil memaki moyangnya Ifrit tidak dilarang mendapat bonus membakar ban bekas dan menginjak-injak poster meski sejatinya semua untuk kesejahteraan upah pengelola kerajaan  dan rekreasi para pengaku wakil meski sering mangkir saat pasewakan selain disedot garong lewat proposal yang tersusun di meja kekuasaan setiap menyediakan prasarana untuk para kawula yang kelaparan// Petinggi parpol lebih tinggi dari malaikat/ tidak takut disidik jika terlihat perbuatannya jahat/ saat muncul di tivi sosoknya bak selebriti/ dalam tayangan berita criminal penyalah gunaan jabatan/ di negeri Atas Angin tak mudah menjadikan maling jadi tersangka karena asas praduga tidak bersalah menjamin setiap warga Negara anehnya maling singkong lebih cepat dijebloskan ke dalam penjara// Di negeri Atas Angin yang sebenarnya sangat amat kaya raya/ karena salah kelola rakyatnya miskin dan banyak yang terlunta di negeri orang/ menjadi buruh dan babu karena pemerintah tak menyediakan lapangan keraj/ raja yang dipilih lewat perhelatan meriah dengan mengobral berlaku mimpi/ meski terbukti ingkar janji setelah berhasil mengenakan mahkota bersusun tiga/ tak merasa malu karena merasa diberi contoh para penguasa sebelumnya/ justru para pengusungnya mencari celah untuk mengabadikan kekuasaannya/ selain tetap aman jika terus memerintah juga ingin terciprat proyek triliyunan /// kedunggalar, 21 Oktober 2012/30/april 2013, halaman 201.

Kidung Purnama, lahir di Ciamis, 3 Januari 1969. Tinggal di Jalan Bojonghuni no. 16, Ciamis, Jabar.

Dalam buku PMK terbaca puisinya berjudul, CATATAN PERJAMUAN MALAM: Dalam segelas anggur merahmu/ Kau tebarkan pesona senyuman/ Kemabukan malam-malam itu kian menjalar/ Mengulur waktu melewati kegelisahan hari/ Dalam jari-jemarinya merenggut kesempatan/ Di antara tiang-tiang beton kekuasaan silih berganti/ Tumpang tindih menguras keringat kemiskinan negeri///

2013 halaman 240.

Lukni Maulana, lahir di Semarang, 24 Juli 1984. Kini tinggal di Semarang.

Dalam buku PMK terdapat puisinya berjudul, UANG LEGISLASI: Kita mengira korupsi berurusan dengan mata uang/ Uang rakyat tentunya/ Coba sedikit renung akar masahnya/ Korupsi memang bahaya/ Sekali tembak satu juta penduduk/ Hilang seketika// Otak kita dipenuhi dengan bahan material/ Adanya uang dan uang/ Lupa korupsi sesungguhnya/ Awas bahaya laten, katanya// Korupsi bukan soal uang semata/ Paling bahaya korupsi legislasi dan aturan/ Sehingga siap-siaplah engkau/ Jadi korban seterusnya/// Semarang, 7/04/13 halaman 265.

Beni Setia, lahir di Soreang, 1 Januari 1954. Kini tinggal di Caruban, Kabupaten Madiun, Jatim.

Dalam buku PMK tampak puisinya dalam judul, GENETIKA KORUPSI, 5: Setelah imsak kita menagguhkan segalanya/ Hasrat, syahwat, dan kesepakatan win win/ Sampai maghrib- setan mengumandangkan:/ Isyarat korupsi berjamaah 1.000.000 rakaat// Mendaras kuintansi fiktif, baiat bagi fee dari/ proposal serta tender t-s-t, lantas begadang:/ mengatur bagi-bagi proyek ikwanul dajjal,/ serta menghitung sisa anggaran mark-up-iah// merah putih di mana-mana, pekik “merdeka”/ di mana-mana, dzikir komisi di mana-mana/ – dirgahayu korupsi, dirgahayu kongkalikong/ – semoga panjang tangan di selalu mungpung/// halaman 121

Lennon Machali, Tinggal di Gresik, Jatim.

Di buku PMK terlihat puisinya di bawah judul, PARADOKS : sudah kelewat batas rimba hokum ini kamu masuki dari bukit dan lembah/ yang dulu bersemayam raja baung cikal bakal naluri hitam merasuki kuasamu/ kuasa atas moncong srigala yang menganga dalam goa persidangan satwa liar itu/ satwa liar yang rakus telah menambah segala buah jatah semua penghuni belantara/ dan siap berbagi jatah atas nama air liur dari mulutmu para pelalap para pemangsa/ yang tersudut di batang pohon ringin tua, ringin tua yang kau usir dan yang perbawanya// apa yang mestinya bisa kuteriakkan, memantul gema suara kembali pada dinding kesunyian/ ditelan hutan musim badai yang bertubi menghajar cahaya kelam nyaris gulita/ cahaya kelam aura para pembela jailangkung, percik apa ia mainkan dalam persidangan, perambah hutan, aksara menjadi mantra, kalimat acrobat menjelma azimat raja tipu daya/ sebab akibat kelalaian yang aku punya, memenangkan jurus singa dari pesilat lidah berdarah/ lidah singa yang paling lantang suara aumnya// taubat ya aum itu pembelah rimba/ yang berwajah sanca/ kau tiup sangkakala/ berbaris pagebluk/ sampai ke kampong/ tanpa ladang dan sawah /// Gresik 2013 halaman 260.

Suryahardi, lahir di Aceh tahun 1969. Kini tinggal di Jalan Sultan Agung/ Sukoharjo no. 34 Pekanbaru, Riau 28133.

Dalam buku PMK terpampang puisinya dibalutan judul, BERBISIK: mari kita berbisik/ pada hutan/ pada daun/ pada ranting/ pada batang/ pada penguasa// mari kita berbisik/ pada laut/ pada karang/ pada pulau/ pada pantai/ pada nasib habitatnya// mari kita berbisik/ tentang segepok uang cucian/// Pekanbaru, 06.03.2013 halaman 346.

Heru Mugiarso, lahir di Purwodadi Grobogan, 2 Juni 1961. Kini tinggal di Semarang.

Dalam buku PMK terkuak puisinya dalam selimut judul, PUISI BERTERIAK: “Seandainya Tanganku mengepal dan Mulutku berteriak,” gumam penyair itu/ maka adakah langit akan terbuka dan cakrawala berubah warna?// Dan di kamarnya, perjalanan sunyi menggiringnya/ pada gemuruh ombak yang melembur pasang/ tapi, adakah ia cukup bernapas panjang ?// sementara di meja selembar harian pagi/ memotret petinggi partai menjadi calon pesakitan/ lalu editorial pun luruh/ ke dalam berita yang gaduh// “Seandainya puisi mampu menolak korupsi …”/  Gumam itu kembali disimpannya rapi// di luar: cahaya bulan dank abut bergaram/ berangkat raib dalam igauan malam /// halaman 205.

Berita menarik datang pula dari Sosiawan Leak, bahwa ia akan mulai menerima puisi-puisi Menolak Korupsi untuk menjadi buku jilid 2, batas waktu pengiriman puisi sampai tanggal 31 Juli 2013,  jumlah puisi yang dikumpulkan minimal 5 buah, lebih lanjut untuk lebih lengkapnya kabar ini silakan buka facebook “Puisi Menolak Korupsi” atau hubungi langsung Sosiawan Leak dengan nomor kontak 081392853878.

Bahkan gerakan yang berlandaskan kebersamaan ini akan terus bergulir sampai batas waktu yang terlalu sulit untuk dihentikan.

Sangat berharap rekan-rekan sastrawan juga pemerhati, penikmat sastra, atau siapa saja karena Anda adalah orang istimewa yang ditunggu oleh panitia, malam Sabtu tanggal 28 di Mingguraya. Terlebih kepada para pembaca yang tentu tak mungkin melepaskan kesempatan ini agar suara kita tentang apa dan bagaimana juga mau dibawa ke mana serta siapa saja, sebuah persembahan yang unik dan luar biasa, bahkan sejarah akan mencatatnya. Banjarbaru persingahan dari road show kota ketiga, sebelumnya kota Blitar dan Tegal, kemudian bulan berikutnya di Palu, Jakarta, Semarang serta Mojokerto. Semoga Bandung siap sedia, bahkan sampai Medan Aceh dan Pekanbaru. Apakah Batam diam saja? Semoga tidak, karena getar-getarnya akan merambah sampai ke ujung-ujung, sampai ke celah-celah. Tiba waktu; “puisi jernihkan kisruh langit dan keruh bumi” (gumam asa)

Akademi Bangku Panjang Mingguraya, Banjarbaru 16 Juni 2013

tentang blog iniTulisan berjudul "Tiba waktu; “Puisi Jernihkan …”" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (17 Juni 2013 @ 17:29) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 2 komentar dalam “Tiba waktu; “Puisi Jernihkan …”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *