Kamis, 2 Oktober 2014

Thursday, 19 March 2009 (03:40) | Pendidikan, Sastra | 18319 pembaca | 116 komentar

”Puisi yang baik, pada dasarnya bisa dijadikan sebagai bahan ajar puisi di sekolah,” tegas D. Zawawi Imran dalam acara Pelatihan Pemilihan Bahan Ajar Puisi di Universitas Negeri Semarang (UNNES), 15 Maret 2009 yang lalu. Ya, ya, itulah sepenggal pernyataan penting yang mengemuka dalam acara yang dihadiri tak kurang dari 70 guru bahasa Indonesia se-Jawa Tengah itu. Dengan gaya atraktif, penyair si Celurit Emas itu membacakan puisi Agus R. Sarjono yang dinilai cukup layak dipilih sebagai bahan ajar. Berikut puisi selengkapnya!

Sajak Palsu
Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.

1998

Usai membaca larik-larik puisi itu, respon beragam pun muncul dari kalangan guru. Ada seorang guru yang menilai bahwa puisi karya Agus R. Sarjono tersebut kurang layak dijadikan sebagai bahan ajar. Alasannya, dalam puisi tersebut tergambar berbagai bentuk kepalsuan yang bisa memberikan contoh yang kurang bagus buat siswa didik. “Saya cemas kalau para murid justru akan belajar hal-hal yang palsu dari puisi tersebut jika harus dijadikan sebagai bahan ajar,” kata guru tersebut. Dalam acara tanya jawab yang dipandu oleh dosen UNNES, Dr. Teguh Supriyanto, M. Hum.itu, dengan tangkas Zawawi Imran menjawab bahwa justru dengan memilih bahan ajar yang mengungkap tentang kenyataan-kenyataan sosial yang penuh kebobrokan semacam itu, guru bahasa harus bisa membimbing bahwa situasi yang penuh kepalsuan tersebut jangan sampai ditiru atau dilakukan oleh siswa. “Dengan menunjukkan hal-hal yang buruk, para siswa justru diharapkan bisa belajar tentang nilai-nilai yang baik dan yang buruk,” tegas penyair asal Madura tersebut.

bahan ajar1bahan ajar2bahan ajar3bahan ajar4Sementara itu, saya yang kebetulan didaulat untuk mengisi acara pada sesi kedua yang dipandu oleh Sendang Mulyana, M.Hum. menyatakan bahwa dalam memilih puisi sebagai bahan ajar di sekolah perlu menggunakan dua pendekatan, yakni pendekatan berbasis sastra dan pendekatan berbasis kurikulum. Dalam memilih materi ajar puisi dengan menggunakan pendekatan berbasis sastra, ada tiga aspek penting yang perlu diperhatikan, yakni bahasa, kematangan jiwa, dan latar belakang budaya siswa.

Bahasa puisi bersifat sugestif (penyaranan), asosiatif (pertalian), dan imajis (pembayangan). Mengingat sifat bahasa puisi yang semacam itu, akan terbuka peluang yang begitu luas dan terbuka kepada siswa untuk menafsirkan sendiri puisi yang bersangkutan (multitafsir). Meskipun demikian, jangan sampai sifat puisi yang multitafsir memberikan beban bagi siswa dalam menemukan keagungan nilai dan nilai keindahan yang terkandung di dalamnya. Justru perlu dimaknai sebagai nilai tambah yang akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempertajam daya apresiasi sekaligus ”menghidupkan” naluri keindahannya. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan betul aspek penggunaan bahasa yang digunakan oleh sang penyair dalam teks puisi untuk menghindari terjadinya tafsir yang jauh menyimpang dari substansi makna yang terkandung dalam teks. Dengan kata lain, guru perlu mengembangkan keterampilan khusus untuk memilih teks puisi yang sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa siswa.

Aspek kematangan jiwa siswa perlu dipertimbangkan betul ketika seorang guru menentukan teks puisi yang hendak dijadikan sebagai bahan ajar karena akan sangat besar pengaruhnya terhadap minat dan keengganan siswa didik dalam banyak hal. Tahap perkembangan jiwa juga sangat besar pengaruhnya terhadap daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan pemahaman situasi atau pemecahan masalah yang dihadapi.

Ada beberapa tahap perkembangan jiwa siswa yang perlu dijadikan sebagai rujukan guru dalam menentukan bahan ajar puisi, di antaranya: (1) tahap pengkhayal (8-9 tahun): pada tahap ini imajinasi anak belum banyak diisi hal-hal nyata, tetapi masih penuh dengan berbagai macam fantasi kekanakan; (2) tahap romantik (10-12 tahun): pada tahap ini, anak mulai meninggalkan fantasi-fantasi dan mulai mengarah pada realitas, meskipun pandangannya tentang dunia masih sangat sederhana. Selain itu, anak juga telah menyenangi cerita-cerita kepahlawanan, petualangan, atau kejahatan; (3) tahap realistik (13-16 tahun): pada tahap ini anak sudah benar-benar terlepas dari dunia fantasi dan sangat berminat pada realitas, atau apa yang benar-benar terjadi; mereka mulai terus berusaha mengetahui dan siap mengikuti dengan teliti fakta-fakta untuk memahami masalah-masalah dalam kehidupan nyata; (4) tahap generalisasi (16 tahun -…): pada tahap ini, anak sudah berminat untuk menemukan konsep-konsep abstrak dengan menganalisis sebuah fenomena. Dengan menganalisis fenomena, mereka berusaha menemukan dan merumuskan penyebab utama fenomena itu yang kadang-kadang mengarah ke pemikiran falsafati untuk menemukan keputusan-keputusan moral.

Dalam konteks demikian, teks puisi yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan tahap psikologis siswa yang berada dalam satu kelas. Memang, tidak semua siswa dalam satu kelas memiliki tahapan psikologis yang sama, tetapi setidaknya guru bisa memilih teks puisi yang secara psikologis memiliki daya tarik terhadap minat siswa untuk mengapresiasi puisi. Yang tidak kalah penting, puisi yang hendak dipilih sebagai bahan ajar juga perlu mempertimbangkan latar belakang budaya siswa. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya pengaburan tafsir teks puisi dan penggambaran suasana teks di luar batas jangkauan imajinasi siswa.

Puisi yang dipilih sebagai bahan ajar juga perlu menggunakan pendekatan berbasis kurikulum dengan cara melakukan analisis standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam standar isi kurikulum. Ini artinya, teks puisi yang dipilih hendaknya benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Dalam Standar Isi (SI) KTSP disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia.

Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. Berkaitan dengan pengajaran apresiasi sastra, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri. Sedangkan, guru diharapkan lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya.

Berdasarkan standar kompetensi semacam itu, tujuan pengajaran apresiasi sastra, antara lain: (1) agar siswa dapat menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan (2) agar siswa dapat menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Semangat dan “roh” KTSP yang memberikan kemandiran dan keleluasaan bagi guru dalam mengelola kegiatan belajar-mengajar merupakan sebuah perubahan paradigma dalam dunia pendidikan kita yang diharapkan dapat memacu semangat dan motivasi guru dalam menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran yang bermakna dan bermanfaat bagi pengembangan kompetensi siswa didik. Berkaitan dengan pemilihan teks puisi sebagai bahan ajar, guru juga diharapkan dapat “mengawinkan” antara tuntutan kurikulum dan apresiasi puisi sehingga kurikulum tidak lagi dianggap sebagai beban, tetapi justru perlu dimanfaatkan sebagai media yang akan mengantarkan siswa sebagai manusia yang berbudaya.

Persoalannya sekarang, masihkah kita mencari-cari alasan untuk mengebiri sastra dalam dunia pendidikan ketika peradaban negeri ini dinilai sedang “sakit”? Masihkah kita berdalih untuk menyingkirkan sastra dari dunia pendidikan ketika nilai-nilai kesalehan hidup gagal merasuk ke dalam gendang nurani siswa lewat khotbah dan ajaran-ajaran moral? Masihkah kita mengambinghitamkan kurikulum pendidikan ketika apresiasi sastra di kalangan pelajar menjadi mandul, bahkan banyak pelajar kita yang mengidap “rabun sastra”?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang bukan hal yang mudah untuk dijawab. Sastra bukan “sihir” yang sekali “abrakadabra” langsung bisa mengubah keadaan. Sastra lebih banyak bersentuhan dengan ranah batin dan wilayah kerohanian sehingga hasilnya tak kasat mata. Nilai-nilai kesalehan hidup yang terbangun melalui proses apresiasi sastra berlangsung melalui tahap internalisasi, pengkraban nilai-nilai, persentuhan dengan akar-akar kemuliaan dan keluhuran budi, serta pergulatan tafsir hidup yang akan terus berlangsung dalam siklus kehidupan pembacanya. Proses apresiasi sastra semacam itu akan menghasilkan “kristal-kristal” kemanusiaan yang akan memfosil dalam khazanah batin pembaca sehingga menjadi pribadi yang beradab dan berbudaya. Ini artinya, mengebiri sastra dalam kehidupan tak jauh berbeda dengan upaya pengingkaran terhadap nilai-nilai kemuliaan dan martabat manusia itu sendiri. ***

Tulisan berjudul "D. Zawawi Imran, Puisi, dan Bahan Ajar" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (19 March 2009 @ 03:40) pada kategori Pendidikan, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Jalan Menuju Gumam (Wednesday, 30 October 2013, 109519 pembaca, 6 respon) Oleh M. Nahdiansyah Abdi Empat buku gumam telah diluncurkan oleh Ali Syamsudin Arsi (ASA), yaitu Negeri Benang pada Sekeping Papan (2008), Tubuh di...

Mengungkap Keunikan Gumam Asa Bungkam Mata Gergaji (Thursday, 24 October 2013, 108673 pembaca, 5 respon) Hamberan Syahbana I Bungkam Mata Gergaji adalah sebuah buku kumpulan gumam Ali Syamsudin Arsi,yang biasa disebut dengan panggilan Bung ASA, salah...

Bang Ali Syamsudin Arsi, Umbu Landu Paranggi, dan Puisi Gumam (Monday, 16 September 2013, 96494 pembaca, 6 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Ali Syamsudin Arsi! Sastrawan yang suka menggunakan nick-name “Asa” ini memang sudah tidak asing lagi buat saya. Meski...

Tiba waktu; “Puisi Jernihkan …” (Monday, 17 June 2013, 91965 pembaca, 2 respon) Oleh: Ali Syamsudin Arsi Penghujung bulan Juni, tepatnya pada tanggal 28 nanti, bertempat di arena pentas bernama Panggung Bundar Mingguraya...

Penyair Indonesia asal Kalimantan Selatan dalam buku “Puisi Menolak Korupsi” (Thursday, 6 June 2013, 91944 pembaca, 11 respon) Oleh: Ali Syamsudin Arsi Ada sejumlah nama pengarang, katakan saja penyair, mereka tergerak menuliskan puisi-puisi untuk sebuah buku kumpulan yang...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

116 komentar pada "D. Zawawi Imran, Puisi, dan Bahan Ajar"

  1. Nuraeni says:

    emmnmpht…
    kira” kalo baca puisi
    tanpa nenggunakan texs bisa gax tuch…???he”:)

  2. chan Darso says:

    trm’s mbak aq. hidup madura , ,

  3. aang says:

    di sekolah ada tugas bahasa indonesia.
    kami bingung dengan sajak lagu olle ollang ,
    sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan olle ollang?
    :-?:-?:-?:-?:-?:-?:-?:-?:-?:-?:-?

Leave a Reply