Home | Budaya, Politik | Sosok Oportunis

Sosok Oportunis

Sunday, 15 March 2009 (01:55) | 921 pembaca | 121 komentar | Print this Article

oportunisKonon, pada setiap peristiwa besar, akan selalu muncul sosok pahlawan dan penjahat. Pahlawan merupakan sosok yang menonjol lantaran keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Sedangkan, penjahat merupakan sosok yang menonjol lantaran ulah dan tingkahnya yang suka menaburkan benih-benih dendam dan kebencian kepada sesama; suka mengadu domba. Rongga kepalanya selalu penuh siasat-siasat licik dan culas. Mereka rela tertawa ngakak ketika menyaksikan orang lain menderita. Pendeknya, penjahat identik dengan manusia kejam dan biadab yang suka menggadaikan nilai-nilai kebenaran sejati dengan ambisi-ambisi konyol dan tidak manusiawi.

Namun, sejatinya masih ada satu sosok lagi yang juga selalu muncul ketika peristiwa-peristiwa besar tengah terjadi, yakni sosok oportunis. Konon, manusia berkarakter semacam ini bisa ”mancala putra-mancala putri”, gampang beralih rupa seperti bunglon. Senyumnya bisa melebihi pesona kelembutan seorang bidadari, tetapi pada saat yang lain, bisa dengan gampang memasang tampang sangar dan bengis. Repotnya, sosok oportunis ini tak gampang dilacak jejaknya. Mereka biasa menjalankan aksi-aksinya dengan skenario yang rapih. Ulahnya (nyaris) tak bisa lihat dengan jelas.

Sosok oportunis juga tak mau susah-susah kerja keras. Konon, mereka sangat pintar dan piawai mencuri kesempatan; cukup cerdik mengatur siasat, kapan mesti tiarap dan kapan mesti pasang dada. Yang lebih repot, para oportunis sejati dengan wajah tanpa dosa bisa dengan mudah menihilkan buah kerja keras orang lain dan mengklain sukses itu sebagai miliknya. Sebaliknya, ketika siasat-siasat liciknya gampang terendus orang lain, mereka juga bisa dengan mudah mencari kambing hitam dan sekaligus mencari celah untuk bisa menyelamatkan diri.

Saya tak tahu persis, oportunis itu sesungguhnya merupakan bawaan sejak lahir atau tempaan pengalaman dari orang-orang culas di sekelilingnya. Kalau memang bawaan sejak lahir, bisa jadi mereka memang sudah ditakdirkan menjadi sosok abu-abu yang bertugas menciptakan intrik dan konflik. Sungguh, kalau memang sebuah takdir, tak akan gampang melenyapkan peran mereka di atas panggung drama sosial dan budaya kita. Mereka akan terus hadir sepanjang peradaban umat manusia dihadapkan pada peristiwa-peristiwa besar.

Pemilu sesungguhnya juga sebuah peristiwa besar. Dari hajat itu, konon akan muncul sosok yang dengan penuh rasa pede menahbiskan dirinya sebagai pembaharu dengan membawa janji-janji perubahan. Namun, mengapa dari pemilu ke pemilu (nyaris) tak ada perubahan yang bisa dirasakan getarannya oleh rakyat? Mengapa kehidupan negeri yang sudah merdeka lebih dari enam dasawarsa ini tetap jalan di tempat, bahkan dinilai telah mengalami stagnasi? Duh, jangan-jangan selama ini gedung wakil rakyat hanya dihuni oleh sosok-sosok oportunis? ***

Kategori: Budaya, Politik | Tags: ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgBank Century, Unjuk Rasa, dan Pemakzulan (Saturday, 30 January 2010, 613 pembaca, 125 respon) Istilah “pemakzulan” belakangan ini tiba-tiba menyeruak di tengah hiruk-pikuk kerja Pansus Bank Century. Banyak kalangan menilai, istilah tersebut merupakan manifestasi sikap paranoid dan kekhawatiran yang berlebihan dari penguasa. Kalau Pansus...
imgAntara Facebooker dan Wakil Rakyat (Monday, 9 November 2009, 347 pembaca, 213 respon) Siapa bilang Facebooker itu seorang netter yang hanya bisa meng-update status di dinding, tanpa pernah berbuat apa-apa? Siapa pula bilang kalau Facebooker itu hanya berdiri di puncak menara gading dunia maya hingga tercerabut dari akar sosial-budaya dan...
imgApa yang Harus Kami Katakan? (Saturday, 3 October 2009, 296 pembaca, 205 respon) Apa yang harus kami katakan ketika murka alam bersimaharajelala ketika tangan Tuhan yang Maha Perkasa menggerakkan jarum skala richter ke angka 7,6 ketika lempeng raksasa menggeser posisi palung bumi Apa yang harus kami katakan ketika murka alam...
imgIroni di Balik Rencana Pelantikan Wakil Rakyat (Wednesday, 23 September 2009, 396 pembaca, 140 respon) Siapa bilang negara kita itu miskin? Tanya saja kepada KPU. Lembaga yang satu ini agaknya punya lumbung duwit. Sekadar untuk upacara pelantikan wakil rakyat saja, mereka tak segan-segan menggelontorkan dana 11 milyar. Byuh! 1 Oktober 2009, bisa jadi...
imgMembangun Citra Diri (Wednesday, 27 May 2009, 1,505 pembaca, 151 respon) Mari kita sejenak rileks. Perhatikan karikatur menggelitik itu. Ada tiga capres, SBY, Megawati, dan JK, yang diilustrasikan tengah berada di sebuah pasar tradisional sambil menenteng megaphone. Sementara itu, beberapa orang pasar tampak tersentak melihat...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Sosok Oportunis" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 15 March 2009 (01:55)) pada kategori Budaya, Politik. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

121 Responses to "Sosok Oportunis"

  1. jabon says:
    Menggunakan Firefox 3.6.8 Firefox 3.6.8 pada Windows XP Windows XP

    Sependapat juga, pilih yang terbaik diantara yang ada.
    Baca juga tulisan terbaru jabon berjudul Jabon dibutuhkan oleh Industri kayu LapisMy ComLuv Profile

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (195 queries: 0.862 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP