Home | Bahasa, Edukasi, Kurikulum, Sastra | Pengajaran Sastra di Tengah Fenomena Involusi Budaya

Pengajaran Sastra di Tengah Fenomena Involusi Budaya

Saturday, 7 March 2009 (10:23) | 1,030 pembaca | 68 komentar | Print this Article

buku sastraDalam dua dekade terakhir, nurani kita dikejutkan oleh berbagai ulah anomali yang dilakukan oleh kaum remaja-pelajar kita. Perilaku bringas dan kasar seolah-olah telah menjadi tontonan rutin di atas panggung sosial kita. Tawuran, ngepil, pergaulan bebas, dan berbagai ulah tak terpuji lainnya seolah-olah sudah menjadi trend yang wajar, bahkan telah menjadi bagian dari budaya “kontemporer” pelajar kita. Dengan kata lain, kehidupan kaum pelajar kita telah terperangkap ke dalam kubangan involusi budaya; gaya hidup telah kehilangan daya rem moral dan terhipnotis oleh kekaguman-kekaguman lahiriah yang mewujud dalam sikap hidup pragmatis, materialistis, dan hedonistis.

Dunia pendidikan pun tak luput terkena imbasnya. Lembaga persekolahan dituding telah gagal menjalankan fungsinya sebagai “pusat” transformasi budaya yang seharusnya mampu menghasilkan keluaran yang memiliki memiliki kecerdasan utuh dan “paripurna”; cerdas intelektual, emosional, sosial, dan spiritualnya.

Meski lebih banyak salah alamat, tudingan semacam itu memang perlu menjadi bahan refleksi bagi dunia pendidikan sehingga lebih mampu berperan dan berkiprah dalam melahirkan generasi masa depan yang beradab dan berbudaya. Dalam konteks demikian, pengajaran sastra perlu mengambil peran sebagai “katalisator” sekaligus filter yang akan mampu membentengi pelajar kita dari berbagai ulah anomali dan tak terpuji.

Manusia Berbudaya

HLB Moody pernah menyatakan bahwa pengajaran sastra yang baik akan mampu memberikan sumbangan terhadap dunia pendidikan, di antaranya dalam hal kemampuan berbahasa, pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak. Hal senada juga dikemukakan oleh Jakob Sumardjo dan Saini K.M. bahwa karya sastra mampu memberikan kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, memberikan kegembiraan dan kepuasan batin, mampu menunjukkan kebenaran manusia dan kehidupan secara universal, dapat memenuhi kebutuhan manusia terhadap naluri keindahannya, dapat memberikan penghayatan yang mendalam terhadap apa yang diketahui, bahkan dapat menolong pembacanya menjadi manusia yang berbudaya, yakni manusia yang responsif terhadap nilai-nilai keluhuran budi.

Namun, secara jujur harus diakui, pengajaran sastra di sekolah selama ini belum berlangsung seperti yang diharapkan. Ada banyak alasan yang bisa dikemukakan terhadap kegagalan pengajaran sastra di sekolah. Pertama, kurang tersedianya buku-buku sastra yang sesuai dengan latar belakang sosial-budaya pelajar. Kedua, masih minimnya guru sastra (dan bahasa) yang terlibat secara aktif dalam dunia kepenulisan teks sastra kreatif di berbagai media. Ketiga, guru seringkali tak berdaya menghadapi tuntutan dan target kurikulum, sehingga setting pembelajaran di kelas jadi kaku dan monoton. Keempat, para sastrawan kita, disadari atau tidak, cenderung asyik dengan dunianya sendiri dan jarang berdialog dengan pelajar di sekolah.

Yang lebih memprihatinkan, kebijakan pemerintah selama ini cenderung tidak berpihak kepada pendidikan nilai kemanusiaan (humaniora). Pengajaran sastra yang diharapkan mampu berperan dalam menyuburkan nilai-nilai kemanusiaan belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pengambil kebijakan. Status “nunut” kepada mata pelajaran bahasa seringkali “memandulkan” pengajaran sastra. Kondisi ini diperparah dengan minimnya guru bahasa yang benar-benar memiliki minat dan kesungguhan dalam menyajikan materi ajar sastra dengan baik.

Jika kondisi semacam itu terus berlangsung, bukan mustahil generasi masa depan yang lahir dari “rahim” dunia pendidikan kita akan terus terjebak ke dalam proses involusi budaya sehingga gagal melahirkan generasi yang “sadar budaya”. Oleh karena itu, perlu ada upaya serius dan sinergis dari berbagai elemen pendidikan agar memosisikan pengajaran sastra menjadi lebih terhormat dan bermartabat. Seidaknya, guru sastra harus memiliki keberanian untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam mendesain pembelajaran sehingga tak terjebak ke dalam aktivitas pengajaran yang kaku dan monoton. Selain itu, frekuensi dialog antara pelajar dan sastrawan perlu lebih diintensifkan. Program “Siswa Bertanya-Sastrawan Menjawab” yang pernah digagas oleh Majalah Horizon beberapa waktu yang lalu perlu direvitalisasi dan diperluas wilayah kerjanya sehingga mampu menyentuh pelajar yang tinggal di berbagai daerah.

Melalui pengajaran sastra yang berhasil diharapkan generasi masa depan negeri ini tak gampang terjebak untuk melakukan tindakan-tindakan konyol yang dapat membunuh masa depannya sendiri. Nah, bagaimana? ***

Kategori: Bahasa, Edukasi, Kurikulum, Sastra | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgUjian Nasional Mengebiri Potensi Siswa Didik (Tuesday, 9 March 2010, 852 pembaca, 137 respon) Jika tak ada aral melintang, para siswa SMA/MA, SMALB, dan SMK akan menempuh Ujian Nasional (UN) utama pada 22 – 26 Maret 2010. Sedangkan, siswa SMP/MTs dan SMPLB pada 29 Maret – 1 April 2010. Berbeda dengan tahun sebelumnya, UN tahun ini ada UN...
imgEpitaph: Kisah Berbingkai dalam Balutan Misteri (Sunday, 27 December 2009, 620 pembaca, 73 respon) Judul Buku: Epitaph Pengarang: Daniel Mahendra Penerbit: Kakilangit Kencana, Jakarta Cetakan I: November 2009 Tebal: 358 halaman Satu lagi, sebuah buku lahir dari tangan seorang Daniel Mahendra (DM). Rencananya, Epitaph bergenre novel ini akan menjadi...
imgSuicide: Potret Manusia Global yang Sarat Konflik (Saturday, 12 December 2009, 424 pembaca, 139 respon) Sepekan belakangan ini, aktivitas ngeblog saya (nyaris) tersendat. Setelah melakukan monitoring implementasi KTSP SMP berstandar nasional (SSN) di kota Tegal, Selasa (8/12/2009), Rabu-Jumat (9-11/12/2009), saya mesti mendampingi anak-anak SMP Terbuka...
imgPemantauan Implementasi KTSP untuk SSN (Sunday, 6 December 2009, 706 pembaca, 124 respon) Selama sepekan (7 s.d. 12 Desember 2009), Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Prov. Jateng akan melakukan pemantauan keterlaksanaan KTSP SD dan SMP Standar Nasional secara serentak di 35 kabupaten/kota. Tujuan pemantauan ini adalah untuk mengetahui tingkat...
imgUjian Nasional Pasca-Keputusan MA (Friday, 4 December 2009, 1,339 pembaca, 145 respon) Teka-teki jadi atau tidaknya Ujian Nasional (UN) 2010 digelar terjawab sudah setelah Depdiknas, melalui Sekjen Dody Nandika, menyatakan bahwa UN tahun 2010 akan tetap berlangsung, sebab hingga kini Depdiknas belum menerima salinan putusan Mahkamah Agung...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Pengajaran Sastra di Tengah Fenomena Involusi Budaya" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 7 March 2009 (10:23)) pada kategori Bahasa, Edukasi, Kurikulum, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

68 Responses to "Pengajaran Sastra di Tengah Fenomena Involusi Budaya"

  1. nenyok says:
    Menggunakan Opera 9.63 Opera 9.63 pada Windows XP Windows XP

    Salam
    Saya setuju Pakde klo sastra bisa jadi media yang efektif untuk menanamkan budi pekerti dan moral lah katakanlah, bukankah sastra biasanya bisa menyentuh perasaan paling sensitif dan halus dari hati manusia. *heheh sotoy ya aku ini :D
    *OOT long time no see ya Pakde, sibuk neeh *sok sibuk tea :D
    Baca juga tulisan terbaru nenyok berjudul Rimba Belantara

    • Menggunakan Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7 pada Windows XP Windows XP

      @nenyok,
      salam juga, mbak ney, hehehe … sepakat banget tuh dg pernyataan mbak ney. idealnya memang begitu. sastra bisa menjadi media yang mencerahkan dalam membangun desain peradaban yang lebih baik. btw, gpp, mbak ney, tenang saja, bagaimanapun urusan offline harus lebih diutamakan. blogwalking kan bisa dilakukan kapan saja.

  2. Novianto says:
    Menggunakan Opera 9.51 Opera 9.51 pada Windows XP Windows XP

    Masalahnya orang muda sekarang menganggap sastra sebagai sesuatu yang kolot dan ndak gaul katanya…

    Baca juga tulisan terbaru Novianto berjudul Persepsi diri itu gimana ya?

  3. Menggunakan Firefox 3.0.5 Firefox 3.0.5 pada Windows XP Windows XP

    @suryaden,
    itulah realitas yang terjadi, mas surya. pendidikan anak seharusnya melibatkan semua stakeholedr pendididikan. namun, yang terjadi selama ini urusan pendidikan seolah-olah hanya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan. makin repot kan? hehehe …

  4. Menggunakan Firefox 3.0.5 Firefox 3.0.5 pada Windows XP Windows XP

    @DV,
    hehehe … esktremnya, begitu, mas donny, hehehe …. meski pada kenyataannya sastra tak bisa melakukan perubahan sekaligus seperti orang membalik telapak tangan.

  5. Menggunakan Firefox 3.0.5 Firefox 3.0.5 pada Windows XP Windows XP

    @konsultasi kesehatan,
    yang bagus dan ideal sih sastra untuk masyarakat, pak dokter. “lecture for anggase”, hehe …

  6. marshmallow says:
    Menggunakan Firefox 3.0.5 Firefox 3.0.5 pada Windows Vista Windows Vista

    @racheedus,
    bisa jadi pendidikan berbasis budaya barat tidak tepat diterapkan di indonesia. namun menurut pengalaman dan pengamatan sederhana saya, anecdotal saja, satu yang pasti adalah mereka memasukkan sastra dengan serius di dalam kurikulum, dan guru-gurunya sangat inovatif mengembangkan metode pendidikan bagi kalangan pebelajar. sehingga kita dapati di dalam pendidikan dasar hingga highschool, anak-anak sangat baik pengetahuan sastranya, dan yang mencengangkan saya adalah daya kritis mereka terhadap karya-karya sastra. di kelas tujuh saja mereka sudah bisa memberikan review terhadap karya sastra dan seni.

    hal-hal baik seperti itu mungkin justru perlu kita tiru.

    mengenai depresi, tentunya banyak confounding factor yang lain, sehingga kurang tepat apabila kurikulum pendidikan formal yang dijadikan kambing hitam.

    Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul Soal Libur Panjang

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (142 queries: 0.966 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP