Home | Politik, Refleksi | Politik, Demokrasi, dan Anarki

Politik, Demokrasi, dan Anarki

Thursday, 12 February 2009 (02:20) | 3,835 pembaca | 169 komentar | Print this Article

Dinamika politik dan demokrasi di negeri ini, dengan nada sedih harus dikatakan, (hampir) tak dapat dipisahkan dari anarkisme. Sebagai sebuah aliran, anarkisme merupakan teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam pandangan Bakunin dikenal melalui adagium: “kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan”.

Dalam sejarahnya, kaum anarkis dengan berbagai gerakannya kerapkali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani. Bahkan, dalam menjalankan aksinya, para anarkis di Spanyol selalu meneriakkan slogan: “Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan”. (Wikipedia).

Disadari atau tidak, praktik anarkisme itu pun sudah mulai menggerus nilai-nilai kesejatian diri kita yang telah lama dikenal sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat. Dalam menggapai ambisi dan tujuan, tak jarang cara-cara anarki menjadi siasat jitu untuk memaksakan kehendak kepada pihak lain melalui cara-cara purba yang jauh dari nilai-nilai kesantunan. Kelompok dan perserikatan sudah dikendalikan oleh aksi-aksi kerumunan yang lebih mengedepankan okol ketimbang akal-budi. Maka, hancurlah fatsun kehidupan bangsa kita yang sudah lama dikagumi dunia dan berabad-abad lamanya menyandang predikat sebagai bangsa Timur yang santun. Bangsa kita tak lagi ramah. Yang tampak dalam berbagai kerumunan adalah pedang, pentungan, parang, atau peti mati. Slogan-slogan yang diteriakkan tak jauh berbeda dengan idiom-idiom kekerasan yang acapkali dikumandangkan oleh para pengikut anarkisme di Spanyol.

Persoalannya sekarang, mengapa negeri kita yang sudah lama dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi bisa demikian mudah tereduksi oleh unsur-unsur anarkisme dalam ranah politik dan demokrasi? Mengapa banyak orang yang bisa demikian mudah mengatasnamakan demokrasi dengan menggunakan cara-cara anarkis dalam menggapai tujuan dan ambisi?

Secara teoretis, anarki bisa dibilang sebagai reaksi terhadap merebaknya nilai-nilai kapitalisme yang berupaya menihilkan entitas sosial sebagai prinsip kebersamaan dalam hidup dan kehidupan. Dalam prinsip kapitalisme, nilai-nilai individualisme menjadi demikian kuat dan dominan sehingga dikhawatirkan akan membunuh “roh” sosial sebagai salah satu ciri paguyuban masyarakat secara komunal. Dalam upaya membendung gerakan kapitalisme, para pengikut anarkisme berupaya menggunakan aksi kerumunan dengan mengedepankan nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan. Namun, dalam perkembangannya, ajaran anarkisme dianggap telah jauh berubah menjadi ajaran “sesat” yang menghalalkan darah sesamanya. Melalui aksi kerumunan, mereka berupaya menciptakan situasi “anomali” dan chaos sehingga tujuan yang mereka harapkan bisa terwujud.

Anarkisme yang menggunakan jalan kekerasan pun tak jarang menyusup ke dalam pori-pori politik dan demokrasi di negeri ini. Lihat saja berbagai aksi kerumunan yang mengatasnamakan demokrasi yang tergelar di atas panggung sosial kita. Ibarat sebuah adegan teater, mereka bisa demikian mulus menjalankan peran sebagai algojo-algojo demokrasi yang tak henti-hentinya berteriak, menghujat, dan meneriakkan yel-yel pemaksaan kehendak yang tampil melalui ekspresi wajah yang beringas dan liar. Sifat-sifat individualistik mereka telah melebur ke dalam karakter kerumunan yang bengal dan tak terkendali. Demikian juga dalam berbagai aksi politik yang dengan sengaja membangkitkan sentimen-sentimen kelompok untuk mendapatkan simpati publik. Massa dan kerumunan telah berubah menjadi “penguasa” dadakan yang bisa demikian mudah melakukan tekanan dan aksi-aksi vandalistis.

Sungguh disayangkan kalau ranah politik sebagai seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan harus ternoda oleh aksi-aksi anarki dengan mengatasnamakan demokrasi yang dikendalikan melalui massa dan kerumunan. Berserikat dan berkumpul memang menjadi hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi. Namun, sungguh naif kalau lantas dimanfaatkan oleh segelintir orang atau kelompok guna menggapai ambisi kekuasaan tertentu dengan menjadikan darah dan nyawa sebagi tumbalnya. Dengan dalih dan motif apa pun penggunaan aksi massa dan kerumunan yang mengandung aroma fasisme dan anarkisme, sungguh, tak bisa ditolerir. ***

Kategori: Politik, Refleksi | Tags: , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgNilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini! (Tuesday, 1 June 2010, 1,573 pembaca, 67 respon) (Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila) Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Politik, Demokrasi, dan Anarki" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Thursday, 12 February 2009 (02:20)) pada kategori Politik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

169 Responses to "Politik, Demokrasi, dan Anarki"

  1. Menggunakan Firefox 3.6.6 Firefox 3.6.6 pada Windows 7 Windows 7

    cukup heran juga dengan orang-orang yang berpikiran mau nya selalu anarkis.

    padahal setiap persoalan bisa di selesaikan dengan baik-baik jika dikomunikasikan dengan baik

    Nice posting bang

  2. anarcho says:
    Menggunakan Firefox 3.1b3 Firefox 3.1b3 pada Windows XP Windows XP

    coba baca lebih tentang metode anarkisme bung. lebih luas dan g subjektif.. trus buat bung yang menilai orde baru lebih bagus dari sekarang,, masa iya sih bung? kita dibungkam bung, bahkan menulis atau berbicara tentang kemiskinan dan pertentangan kelas saja kita uda dianggap pembangkang. masalahny pada saat orba, pemerintah bergerak sangat lihai, menutup mulut setiap warga yang kira-kira dianggap membangkang. media pada saat itu juga di intervensi oleh pemerintah, dijadikan alat propaganda dan mesin-mesin pendukung pemerintah dalam segala hal. media menyiarkan berita yang dimaui pemerintah saja, bahkan media mebuat berita bohong demi menegakkan kekuasaan yang ada. ada protes juga pada saat itu tapi dilenyapkan, ada aksi massa juga sampai pada tindakan brutal (bukan anarki, tolong jgn pakai kata ini) tapi dibungkam oleh tindakan militer, mahasiswa pun di normalisasikan melalui Unit kegiatan Mahasiswa. sekali lagi anarkisme bukan sifat brutal atau aksi merusak. dia adalah paham anti hirarki. salam

    • Menggunakan Shiretoko 3.5.7 Shiretoko 3.5.7 pada Ubuntu 9.10 Ubuntu 9.10

      terima kasih masukannya, mas. saya tdk mengatakan bahwa orba lebih bagus dari sekarang. saya hanya ingin memberikan sebuah ilustrasi bahwa maraknya kekerasan yang terjadi pascareformasi bisa menjadi sebuah preseden dan memberikan pencitraan yang kurang bagus buat rakyat seolah2 hidup di era reformasi justru jauh lebih buruk ketimbang ketika orba berkuasa kalau kekerasan itu terus terjadi.

      • anarcho says:
        Menggunakan Firefox 2.0.0.7 Firefox 2.0.0.7 pada Windows XP Windows XP

        @Sawali Tuhusetya, ok kawan sawali, benar juga, tapi mari kita lihat akar masalahnya juga, kekerasan marak terjadi karena apa? ada ketidakpuasan dari masyarakat (kalo kekerasan itu dari masyarakat) apa pemerintah uda slesein tanggungjawabnya sebagai pelayan? sedangkan kekerasan yang marak akhir2 ni juga lebih banyak dan lebih kejam dilakukan oleh aparat (polisi, satpol pp, brimob) lebih kejam dan tak tersentuh hukum, kalo iya pun, mereka tetap dilegalkan dengan istilah “itu bukan dari instansi, itu oknum aparat”.. bah. masyarakat sekarang bebas menilai, pascareformasi ini kejahatan sistem tidak lagi terselubung, dia terbuka dan merajalela dan dibantu oleh hukum. otoritas negara dalam bentuk apapun tetap sama, membagi-bagi kelas masyarakat dan membuat jurang dalam, salam bung,, blogx tetap bagus
        Baca juga tulisan terbaru anarcho berjudul "Nyanyian-nyanyian Binatang di Negeri Manusia" My ComLuv Profile

  3. Menggunakan Shiretoko 3.5.7 Shiretoko 3.5.7 pada Ubuntu 9.10 Ubuntu 9.10

    terima kasih infonya tentang hakikat anarki. sebelumnya saya hanya bisa memaknai anarki secara leksikal seperti yang tercantum dalam kamus, yakni:

    anar·ki n 1 hal tidak adanya pemerintahan, undang-undang, peraturan, atau ketertiban; 2 kekacauan (dl suatu negara)

  4. anarcho says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.7 Firefox 2.0.0.7 pada Windows XP Windows XP

    @Sawali Tuhusetya, nah itu dia mas, itu kamus indonesia. istilah ini disalahgunakan atau dijelekkan lewat media. ini dimulai daridunia barat yang anti terhadap aksi perlawanan kaum anarko mereka kemudian mempropaganda atau menggiring paham massa sebagai aksi brutal melalui media, indonesia kemudian mengadopsinya dan memakainya sebgai gambaran aksi butal massa.. ok salam anarchy

  5. Menggunakan Shiretoko 3.5.7 Shiretoko 3.5.7 pada Ubuntu 9.10 Ubuntu 9.10

    sekali lagi, terima kasih informasinya, mas.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (238 queries: 1.130 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP