Home » Opini » Politik, Demokrasi, dan Anarki

Politik, Demokrasi, dan Anarki

Dinamika politik dan demokrasi di negeri ini, dengan nada sedih harus dikatakan, (hampir) tak dapat dipisahkan dari anarkisme. Sebagai sebuah aliran, anarkisme merupakan teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam pandangan Bakunin dikenal melalui adagium: “kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan”.

Dalam sejarahnya, kaum anarkis dengan berbagai gerakannya kerapkali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani. Bahkan, dalam menjalankan aksinya, para anarkis di Spanyol selalu meneriakkan slogan: “Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan”. (Wikipedia).

Disadari atau tidak, praktik anarkisme itu pun sudah mulai menggerus nilai-nilai kesejatian diri kita yang telah lama dikenal sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat. Dalam menggapai ambisi dan tujuan, tak jarang cara-cara anarki menjadi siasat jitu untuk memaksakan kehendak kepada pihak lain melalui cara-cara purba yang jauh dari nilai-nilai kesantunan. Kelompok dan perserikatan sudah dikendalikan oleh aksi-aksi kerumunan yang lebih mengedepankan okol ketimbang akal-budi. Maka, hancurlah fatsun kehidupan bangsa kita yang sudah lama dikagumi dunia dan berabad-abad lamanya menyandang predikat sebagai bangsa Timur yang santun. Bangsa kita tak lagi ramah. Yang tampak dalam berbagai kerumunan adalah pedang, pentungan, parang, atau peti mati. Slogan-slogan yang diteriakkan tak jauh berbeda dengan idiom-idiom kekerasan yang acapkali dikumandangkan oleh para pengikut anarkisme di Spanyol.

Persoalannya sekarang, mengapa negeri kita yang sudah lama dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi bisa demikian mudah tereduksi oleh unsur-unsur anarkisme dalam ranah politik dan demokrasi? Mengapa banyak orang yang bisa demikian mudah mengatasnamakan demokrasi dengan menggunakan cara-cara anarkis dalam menggapai tujuan dan ambisi?

Secara teoretis, anarki bisa dibilang sebagai reaksi terhadap merebaknya nilai-nilai kapitalisme yang berupaya menihilkan entitas sosial sebagai prinsip kebersamaan dalam hidup dan kehidupan. Dalam prinsip kapitalisme, nilai-nilai individualisme menjadi demikian kuat dan dominan sehingga dikhawatirkan akan membunuh “roh” sosial sebagai salah satu ciri paguyuban masyarakat secara komunal. Dalam upaya membendung gerakan kapitalisme, para pengikut anarkisme berupaya menggunakan aksi kerumunan dengan mengedepankan nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan. Namun, dalam perkembangannya, ajaran anarkisme dianggap telah jauh berubah menjadi ajaran “sesat” yang menghalalkan darah sesamanya. Melalui aksi kerumunan, mereka berupaya menciptakan situasi “anomali” dan chaos sehingga tujuan yang mereka harapkan bisa terwujud.

Anarkisme yang menggunakan jalan kekerasan pun tak jarang menyusup ke dalam pori-pori politik dan demokrasi di negeri ini. Lihat saja berbagai aksi kerumunan yang mengatasnamakan demokrasi yang tergelar di atas panggung sosial kita. Ibarat sebuah adegan teater, mereka bisa demikian mulus menjalankan peran sebagai algojo-algojo demokrasi yang tak henti-hentinya berteriak, menghujat, dan meneriakkan yel-yel pemaksaan kehendak yang tampil melalui ekspresi wajah yang beringas dan liar. Sifat-sifat individualistik mereka telah melebur ke dalam karakter kerumunan yang bengal dan tak terkendali. Demikian juga dalam berbagai aksi politik yang dengan sengaja membangkitkan sentimen-sentimen kelompok untuk mendapatkan simpati publik. Massa dan kerumunan telah berubah menjadi “penguasa” dadakan yang bisa demikian mudah melakukan tekanan dan aksi-aksi vandalistis.

Sungguh disayangkan kalau ranah politik sebagai seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan harus ternoda oleh aksi-aksi anarki dengan mengatasnamakan demokrasi yang dikendalikan melalui massa dan kerumunan. Berserikat dan berkumpul memang menjadi hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi. Namun, sungguh naif kalau lantas dimanfaatkan oleh segelintir orang atau kelompok guna menggapai ambisi kekuasaan tertentu dengan menjadikan darah dan nyawa sebagi tumbalnya. Dengan dalih dan motif apa pun penggunaan aksi massa dan kerumunan yang mengandung aroma fasisme dan anarkisme, sungguh, tak bisa ditolerir. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Politik, Demokrasi, dan Anarki" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (12 Februari 2009 @ 02:20) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 171 komentar dalam “Politik, Demokrasi, dan Anarki

  1. Memang orang2 sekarang tidak bisa menyelesaikan masalahnya
    dengan kepala dingin,,,…

    Padahal kalau saja mereka itu bisa mengendalikan emosinya ,,,
    pasti sekarang juga tidak akan ada kejadian seperti pengeboman lach,
    penyiksaan dalam RT ,DLL..

  2. coba baca lebih tentang metode anarkisme bung. lebih luas dan g subjektif.. trus buat bung yang menilai orde baru lebih bagus dari sekarang,, masa iya sih bung? kita dibungkam bung, bahkan menulis atau berbicara tentang kemiskinan dan pertentangan kelas saja kita uda dianggap pembangkang. masalahny pada saat orba, pemerintah bergerak sangat lihai, menutup mulut setiap warga yang kira-kira dianggap membangkang. media pada saat itu juga di intervensi oleh pemerintah, dijadikan alat propaganda dan mesin-mesin pendukung pemerintah dalam segala hal. media menyiarkan berita yang dimaui pemerintah saja, bahkan media mebuat berita bohong demi menegakkan kekuasaan yang ada. ada protes juga pada saat itu tapi dilenyapkan, ada aksi massa juga sampai pada tindakan brutal (bukan anarki, tolong jgn pakai kata ini) tapi dibungkam oleh tindakan militer, mahasiswa pun di normalisasikan melalui Unit kegiatan Mahasiswa. sekali lagi anarkisme bukan sifat brutal atau aksi merusak. dia adalah paham anti hirarki. salam

    • terima kasih masukannya, mas. saya tdk mengatakan bahwa orba lebih bagus dari sekarang. saya hanya ingin memberikan sebuah ilustrasi bahwa maraknya kekerasan yang terjadi pascareformasi bisa menjadi sebuah preseden dan memberikan pencitraan yang kurang bagus buat rakyat seolah2 hidup di era reformasi justru jauh lebih buruk ketimbang ketika orba berkuasa kalau kekerasan itu terus terjadi.

      • @Sawali Tuhusetya, ok kawan sawali, benar juga, tapi mari kita lihat akar masalahnya juga, kekerasan marak terjadi karena apa? ada ketidakpuasan dari masyarakat (kalo kekerasan itu dari masyarakat) apa pemerintah uda slesein tanggungjawabnya sebagai pelayan? sedangkan kekerasan yang marak akhir2 ni juga lebih banyak dan lebih kejam dilakukan oleh aparat (polisi, satpol pp, brimob) lebih kejam dan tak tersentuh hukum, kalo iya pun, mereka tetap dilegalkan dengan istilah “itu bukan dari instansi, itu oknum aparat”.. bah. masyarakat sekarang bebas menilai, pascareformasi ini kejahatan sistem tidak lagi terselubung, dia terbuka dan merajalela dan dibantu oleh hukum. otoritas negara dalam bentuk apapun tetap sama, membagi-bagi kelas masyarakat dan membuat jurang dalam, salam bung,, blogx tetap bagus
        .-= Baca juga tulisan terbaru anarcho berjudul "Nyanyian-nyanyian Binatang di Negeri Manusia" =-.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *