Surat Terbuka buat Triyanto Triwikromo

Kategori Budaya Oleh
Budaya

Oleh: Sawali Tuhusetya

Aku tahu, saat ini Sampeyan sedang dililit banyak kesibukan. Waktu menjadi demikian berharga buatmu. Setiap menit, bahkan detik, bahkan juga setiap tarikan napas, selalu berharga untuk mengekspresikan imaji-imaji liar yang menumpuk di kepala. Aku selalu mendengar suara “pemberontakan”-mu sebagaimana tercermin dalam teks-teks cerpenmu. Ada nuansa romantisme, cinta, teror, darah, kebencian, perempuan, warna lokal, mitos, dan juga tradisi. Yang selalu kuingat dari cerpen-cerpenmu adalah suasana absurdisme yang meneror, untuk selanjutnya membawa imaji pembaca ke dalam sebuah ruang tafsir yang rumit, kompleks, tetapi sekaligus membawa daya kejut.

Triyanto –kalau boleh aku menyapamu demikian sebagaimana nama yang diberikan oleh kedua orang tuamu– yang baik. Entah, sudah berapa tahun kita tak bertemu. Pertemuan terakhir pun aku sudah lupa di mana. Yang sempat kuingat ketika Sampeyan menjadi moderator diskusi dalam Pertemuan Sastrawan Jawa Tengah di Purwokerto, Jawa Tengah, sekitar tahun 2000-an. Setelah itu, kita hanya bisa kontak lewat SMS. Itu pun sekarang sudah jarang kita lakukan. Ya, sudah, kita memang telah ditakdirkan untuk mengikuti “jalan hidup” yang telah disuratkan oleh-Nya. Sampeyan menjadi seorang jurnalis dan sastrawan yang telah mengglobal, sedangkan aku menekuni duniaku sebagai seorang guru, hanya ingin menjadi seorang shi fu, meski terkesan ndesa dan katrok. *halah*

Bukannya aku menyesal menjadi seorang guru. Justru aku merasa bahagia dan sangat menikmatinya. Yup, ini juga sekaligus memenuhi “panggilan hidup” sebagaimana yang selalu disuarakan oleh Emakku ketika aku masih kecil. Emakku akan merasa amat berbahagia seandainya aku bisa menjadi seorang guru. Alhamdulillah, aku sudah memenuhi amanat emakku yang kini sangat menikmati hidup di sebuah kampung yang sunyi menjelang masa-masa senjanya.

Triyanto yang baik. Entah, tiba-tiba saja aku merasa cengeng. Romantisme masa lalu tiba-tiba saja mengusik perasaanku. Aku kangen sekali untuk bisa bertemu denganmu. Apalagi, tanpa kuduga, kamu meninggalkan jejak komentar di sini. Sungguh, komentarmu membuat perasaanku seperti mendengarkan terompet orkestra yang berirama pedih. Menyayat-nyayat. Teringat saat kita masih bersama-sama menimba ilmu di sebuah lembaga keguruan. Mungkin Sampeyan sudah lupa, kalau kita pernah menggelandang di kompleks Mberok Semarang yang kumuh, bercengkerama dengan para “wadam” hingga akhirnya kita terusir setelah mereka gagal mengajak kita berkencan. Kita pun lari terbirit-birit hingga akhirnya terdampar di Pasar Johar. Karena capek, kita pun terlelap di atas box reot yang biasa dipakai para pedagang berjualan. Ketika Subuh tiba, kita pun sempat terkejut, lantaran sandal kulit usang yang kita pakai, diembat juga para pencoleng Pasar Johar yang sering berkeliaran seperti nyamuk-nyamuk liar yang menyedot darah kita semalaman.

Pernah juga kita bersama-sama dengan Mas S. Prasetyo Utomo dan Herlino Soleman menikmati malam di Bumi Wanamukti, Semarang, tempat Mas Mahmud Hidayat tinggal selama ini. Malam itu juga kita dikejutkan oleh suara-suara teriakan orang-orang kampung yang hendak menangkap seorang pencuri. Kita pun bersama-sama berhamburan keluar. Lantas, bikin sayembara untuk mengabadikan peristiwa itu menjadi sebuah cerpen. Ternyata, Sampeyan memang hebat. Dari peristiwa itu, Sampeyan berhasil membikin sebuah cerpen berdaya kejut tinggi “Ritus Tikus”. Masih ingatkah Sampeyan pada peristiwa itu? Lantas, pada malam yang berbeda, kita sering menghabiskan waktu untuk berdiskusi, bahkan berdebat, soal genre sastra dan filsafat. Topik yang selalu berat yang Sampeyan tawarkan.

Tak lama kemudian, nama Sampeyan sering tertulis di koran lengkap dengan cerpen-cerpen bergaya surealis dan absurd itu. Sampeyan pun dipercaya untuk menjadi penjaga gawang tetap “analisis puisi mingguan” di harian sore Wawasan. Namun, tak lama kemudian, aku tak tahu lagi kabar Sampeyan. Beberapa teman bilang, Sampeyan sedang “hiatus” dan melakukan “metamorfosis”. Bertahun-tahun peristiwa itu berlalu hingga akhirnya nama Sampeyan mulai melejit sebagai cerpenis papan atas dengan semakin banyaknya cerpen-cerpen Sampeyan yang khas itu muncul di Kompas. Tak lama kemudian, aku mendengar kabar bahwa Sampeyan telah memiliki sebuah antologi cerpen Rezim Seks dan dipercaya menjadi redaktur Sastra-Budaya di harian Suara Merdeka. Bahkan, Sampeyan juga mulai intens berkomunikasi dengan sobat Herlino Soleman hingga akhirnya berhasil menerbitkan kumpulan cerpen bersama Pintu Tertutup Salju. Buku itu pula yang berhasil membawa kita duduk satu meja dalam forum diskusi dan bedah buku yang digelar oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Kendal.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita juga sempat bertemu dalam forum Temu Sastrawan Jawa Tengah di Purwokerto bersama Kang Ahmad Tohari, S. Prasetyo Utomo, Gunoto Sapari, SN Ratmana, ES Wibowo, Timur SS, dll. Nah, sejak saat itu, nama Sampeyan makin melambung hingga menembus batas dan sekat-sekat geografis. Aku mendengar kabar, Sampeyan sering mengadakan lawatan sastra ke luar negeri. Syukurlah, aku jadi ikut senang dan bangga. Tak lama kemudian, muncullah buku-buku kumpulan cerpen Sampeyan berikutnya, semacam Ragaula, The Wings of the Dog, Malam sepasang lampion, atau Children Sharpening the Knives. Sejak saat itu pula, aku merasa semakin sulit berkomunikasi dengan Sampeyan. Ketika berlangsung acara Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kudus (19-21 Januari 2008) yang lalu, aku berharap Sampeyan bisa hadir. Ingin rasanya segera melepas kangen setelah sekian tahun tak bertemu. Namun, ternyata Sampeyan sedang mengikuti acara Residensi Sastra di Sydney Australia. Ketika di Kudus, aku pun sempat bertemu dengan Maman S. Mahayana dan sempat ngobrol di warung kopi hingga larut malam di bawah guyuran hujan yang membadai. Banyak hal yang kami obrolkan, termasuk “ngrasani” Sampeyan .

Lebih membanggakan lagi ketika aku membuka website Penakencana. Ternyata, Sampeyan juga yang menjadi Direktur Program Anugerah Sastra Pena Kencana yang heboh itu. Betapa tidak! Sampeyan telah berkiprah secara nyata hadir untuk memangkas jalur yang terlalu lama dan ingin lebih memartabatkan sastrawan.

Karena itu selain setahun sekali memberikan penghargaan tertinggi untuk satu puisi dan cerpen terbaik, juga meningkatkan jumlah hadiah. Untuk 2008, puisi dan cerpen terbaik, masing-masing Rp 50 juta. Nilai penghargaan itu diharapkan dari tahun ke tahun meningkat.

Itu kata Sampeyan dalam sebuah pengantar yang sempat aku baca. Luar biasa! Sebuah penghargaan yang bisa menjadi sebuah Indonesia yang I dalam menghidupkan martabat sastrawan. Aku percaya, masih ada kiprah-kiprah Sampeyan yang lain yang luput dari perhatian awamku sehingga tak terjamah dalam surat ini.

Triyanto yang baik. Untuk sementara, demikian surat terbuka yang sengaja aku tulis sebagai wujud apresiasi dan simpati dari seorang teman lama sekaligus sebagai ekspresi rasa kangen dalam menjelajahi romantisme masa silam yang pernah kita lalui bersama. Semoga Sampeyan masih sempat punya waktu dan berkenan untuk membaca surat cengeng ini. Mohon maaf apabila kehadiran surat ini sudah mengusik ketenanganmu.

Terima kasih.

Selamat berjuang dan salam kreatif, kawan.

Dari seorang teman lama,

Sawali Tuhusetya

oOo

Catatan:

Yang ingin membaca cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo, silakan klik di sini.

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

40 Comments

  1. Waduh, senengnya sudah dapet balesan surat dari Pak Triyanto.

    Pak Sawali, mengenang romantisme masa silam memang menyenangkan ya? Dengan mendengar kabarnya saja, bahwa teman-teman kita sudah jadi “orang”, suatu kebanggaan tersendiri bagi kita.

    Maaf Pak, boleh ya, saya sedikit memberi masukan? Ada inkonsistensi penyebutan nama diri di postingan ini, kadang “aku” kadang “saya”.

    isnuansa’s last blog post..Bayi Atau Brownies?

    oOo
    makasih mbak is, yak! yup, sesekali mengenang nostalgia masa silam ada perlunya juga, mbak. iya, ya, mbak is, bener sekali. itu semata kekeliruan saya, hehehehe …. habis, dalam suasana hati yang sedang kangen, *halah* penggunaan kata ganti seringkali berubah-ubah, cermin suasana hatinya yang sedang “gelisah”, hehehehe 😆 makasih ya mbak masukannya.

  2. Jadi pingin kenal sama Riyanto euy … apa dia punya bloh Pak Swali? Minimal sampaikan salam, ada orang dari Kalimantan yang sangat bangga siapa saja menulis, kagum dengan kiprah TT. Tolong ya Pak. TQ.

    Ersis W. Abbas’s last blog post..Menulis Menembak Diri

    oOo
    Yup, bisa juga dan saya yakin triyanto pun akan senang bisa berkenalan dg pak ersis. mungkin pak ersis bisa kontak lewat e-mailnya, pak. sama2 juga, pak. alamat email triyanto sudah saya kirim via email, pak. makasih.

  3. Sawali yang baik,

    Aduh, sori baru bisa membaca surat indah Sampeyan. Surat yang tentu mengingatkan –meski saya tak pernah bisa melupakan– saya pada berbagai peristiwa heboh pada masa-masa menggelandang dan memungut tema-tema kehidupan dari berbagai ruang dan waktu.

    Seharusnya semua orang tahu betapa Sampeyan adalah salah satu dari guru-guru terbaikku. Ha ha ha, meskipun sekarang aku bekerja di Suara Merdeka, rupa-rupanya Allah tidak memperbolehkan hamba yang pernah kuliah di IKIP ini tidak mendarmabaktikan ilmunya untuk orang lain. Karena itu atas ridanya, aku diberi kesempatan mengajar Penulisan Kreatif dan Penulisn Iklan di Fakultas Sastra Undip. Malah IAIN Walisongo juga memintaku mengajar “Penulisan Populer”. Ini berkah kehidupan yang terindah.

    Sawali yang baik,
    Hidup memang aneh, unik, dan tak terduga. Aku tak pernah membayangkan bakal bisa mengililingi empat benua (Amerika, Eropa, Australia, dan Asia, tetapi cerpen dan karya jurnalistikku ternyata punya sayap dan menerbangkan aku ke tempat-tempat yang asing dan jauh itu. Aku juga tak pernah membayangkan bisa menulis begitu banyak buku, karena mesin tik pun dulu tak punya. Aku juga tak membayangkan memimpin lembaga pemberi penghargaan terbesar di Indonesia, karena sejarah kemiskinan yang membelit terlalu lama.

    Sawali yang baik,
    Di luar kehendak Tuhan, ada satu hal yang membuat segalanya berubah: kerja keras. Aku menulis, ketika yang lain tidur nyenyak. Aku menulis, ketika yang lain dugem. Aku menulis, ketika yang lain memilih melecehkan orang lain. Aku terus menulis, ketika yang lain tak mau belajar merasakan rasa sakit dan penderitaan.

    Sawali yang baik,
    Maaf aku terlambat membaca permintaanmu untuk menulis endorsment. Jika masih ada kesempatan, maka aku akan bilang: Cerpen-cerpen Sawali adalah suara lain dari sejarah wong cilik yang senantiasa diabaikan dan digelapkan. Suara cerpen Sawali adalah silent majority yang kelak menjadi ledakan dahsyat jika terus-menerus ditekan dan disudutkan di kotak sampah peradaban

    Salam kangen selalu
    Triyanto Triwikromo
    Sahabat Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Mendatang

    oOo
    wah, makasih banget, sobat, akhirnya sampeyan berkenan juga membaca dan sekaligus berkunjung ke gubugku ini. ini sebuah kehormatan bagi saya setelah sekian lama kita tak pernah bertemu. komentar sampeyan sudah bisa membuat saya lega, bangga, sekaligus terharu. meski jarang bertemu, saya masih rutin mengikuti kiprah sampeyan, baik lewat koran maupun lewat dunia maya. bahkan, pernah juga punya pemikiran untuk membuat blog khusus temen-temen seperjuangan, seperti mas pras, atau herlino. lewat blog itu, kita bisa menjalin kreativitas bersama melalui dunia maya di sela-sela kesibukan kita masing2. sudah ada beberapa cerpen karya temen2 yang berhasil saya kumpulkan. inginnya segera saya publish. namun, keinginan itu belum juga bisa terwujud. di blog itu, kita juga bisa menampilkan teks2 cerpen yang pernah dimuat di berbagai media cetak sehingga bisa dibaca secara meluas dan mengglobal oleh berbagai kalangan.
    sahabat triyanto yang baik. alhamdulillah, kalau pada akhirnya sampeyan berhasil menemukan “dunia”-mu yang sesungguhnya. apalagi sekarang memiliki kesempatan untuk menyampaikan dan sharing ilmu sampeyan di biodang penulisan kreatif di UNDIP dan juga di IAIN Walisongo. mudah2an banyak manfaatnya bagi mahasiswa sampeyan.
    terima kasih juga endorsnya. belum telat kok, insyaallah tetap akan saya sertakan dalam kumcer, melengkapi pengantar pak maman s mahayana, juga endors dari temen2 yang lain. endors sampeyan akan sangat besar manfaatnya buat saya.
    terima kasih juga atas salamnya. mudah2an Allah mempertemukan kita bersama-sama teman yang lain pada sebuah ruang dan waktu. salam untuk istri dan ananda, semoga Allah tak henti-hentinya mengulurkan tangan gaib-Nya untuk keselamatan dan kesejahteraan keluarga kita, amiin.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Budaya

Pilpres, Mudik, dan Lebaran

Oleh: Sawali Tuhusetya Suasana Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Go to Top