Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP

Kategori Pendidikan Oleh

Setidaknya ada tiga bahasa plesetan tentang KTSP. Pertama, KTSP diplesetkan sebagai Kurikulum Tidak Siap Pakai. Plesetan ini mengisyaratkan bahwa para guru –sebagai “loko” pendidikan– belum siap menerima perubahan. Para guru tampaknya akan lebih siap apabila semua dokumen kurikulum telah disiapkan dengan rapi dari Jakarta seperti kurikulum sebelumnya. Jadi, Bapak-bapak dan Ibu-ibu guru tidak perlu lagi direpotkan menentukan indikator setiap KD, menyusun silabus dan RPP, atau menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). 😀 Ya, seperti model pendidikan bergaya sentralistis begitulah. Semuanya serba disiapkan dari pusat. Ironis, ya?

Kedua, KTSP diplesetkan sebagai Kurikulum Tetap Sama Produknya. Plesetan ini mengisyaratkan bahwa KTSP yang seharusnya mencerminkan karakter siswa didik, latar belakang sosial-budaya masyarakat setempat, dan kondisi sekolah, kenyataannya tak ada bedanya. KTSP antarsekolah, bahkan di seluruh Indonesia sama saja produknya. Itu karena “kreativitas” para guru melakukan copy-paste draft KTSP dari sekolah tertentu atau model KTSP yang dikeluarkan BSNP. 😀 Kang Guru memberikan komentar menarik dalam tulisan saya tentang “Reformasi Sekolah, Kepemimpinan Feodalistis, dan KTSP” seperti berikut ini.

Reformasi pendidikan barus sebatas kurikulum yang berubah,…. pelaksanaannya belum…. manajemennya belum…..gurunya belum… kepseknya…. belum juga, lantas apa dong yang diharapkan dari hanya perubahan kurikulum???

——————-
Melatih guru agar terampil copy-paste silabus dan RPP toh, Kang, hehehehe D
————-

Ya, “canggih” juga setelah flashdisk “penular virus” itu membudaya di kalangan guru. Hanya tinggal copy-paste, silabus dan RPP sudah siap pakai. 😀 Hanya tinggal mengganti identitas sekolahnya doang.

Ketiga, KTSP diplesetkan menjadi Kalau Tidak Siap Pensiun. Begitu rumitkah KTSP itu sehingga benar-benar membebani guru? Meski hanya sekadar plesetan, idiom-idiom seperti tampaknya mencerminkan masih carut-marutnya dunia pendidikan kita. Perubahan kurikulum sering kali tidak diimbangi dengan persiapan yang matang sehingga membuat kalangan guru kalang kabut.

Kini, tampaknya Depdiknas tak mau lagi “kecolongan”. Jangan sampai hanya lantaran kesulitan menyusun dokumen KTSP (dokumen I dan II), KTSP jadi urung dilaksanakan. Oleh karena itu, Depdiknas menggelar sosialisasi KTSP secara serempak di seluruh provinsi hingga kabupaten.

Agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam merumuskan dokumen kurikulum, Depdiknas telah menerbitkan “Materi Sosialisasi & Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)”. Panduan tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan penyusunan KTSP sehingga model copy-paste dapat diminimalkan. Sekolah diharapkan benar-benar kreatif sehingga KTSP yang disusun mampu mencerminkan karakter peserta didik, latar belakang sosial-budaya masyarakat setempat, dan kondisi sekolah.

Rekan-rekan sejawat yang belum memiliki panduannya bisa men-download pada halaman DOWNLOAD.

Buku KTSP

Naskah Word

Powerpoint

———————-

*Segitu dulu ah infonya. Capek deh! 😀 *

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

14 Comments

  1. tambah njlimet saja ya, KTSP mestinya adalah kurikulum minimal yang dibakukan nasional + beberapa program tambahan yang mendukung visi misi sekolah, jangan malah dikurangi. Meski Nambah juga tidak gampang karena sekarang ditengarai sebagai akal-akalan tuk siasati pemenuhan 24 jam. Memang repot, kita memang harus akur, mandiri dalam kebersamaan, syukur berpolitik tuk bisa ikut tentukan kebijakan.

  2. Kurikulum Ganti? jangan kaitkan ganti menteri tapi ada yang lebih perlu kita sikapi secara positip,bahwa kurikulum itu seperangkat alat untuk menghantarkan murid menjadi sempurna, tentu harus menyesuaikan perkembangan zaman yang penuh tehnologi ,maka kalau tak sesuai ya ganti
    tapi jika tak ganti ya..tinggal aja .yaaa aku tertarik tulisan bapak.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Pendidikan

Go to Top