25Aug 2007 14 Comments
Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP
Setidaknya ada tiga bahasa plesetan tentang KTSP. Pertama, KTSP diplesetkan sebagai Kurikulum Tidak Siap Pakai. Plesetan ini mengisyaratkan bahwa para guru –sebagai “loko” pendidikan– belum siap menerima perubahan. Para guru tampaknya akan lebih siap apabila semua dokumen kurikulum telah disiapkan dengan rapi dari Jakarta seperti kurikulum sebelumnya. Jadi, Bapak-bapak dan Ibu-ibu guru tidak perlu lagi direpotkan menentukan indikator setiap KD, menyusun silabus dan RPP, atau menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Ya, seperti model pendidikan bergaya sentralistis begitulah. Semuanya serba disiapkan dari pusat. Ironis, ya?
Kedua, KTSP diplesetkan sebagai Kurikulum Tetap Sama Produknya. Plesetan ini mengisyaratkan bahwa KTSP yang seharusnya mencerminkan karakter siswa didik, latar belakang sosial-budaya masyarakat setempat, dan kondisi sekolah, kenyataannya tak ada bedanya. KTSP antarsekolah, bahkan di seluruh Indonesia sama saja produknya. Itu karena “kreativitas” para guru melakukan copy-paste draft KTSP dari sekolah tertentu atau model KTSP yang dikeluarkan BSNP.
Kang Guru memberikan komentar menarik dalam tulisan saya tentang “Reformasi Sekolah, Kepemimpinan Feodalistis, dan KTSP” seperti berikut ini.
Reformasi pendidikan barus sebatas kurikulum yang berubah,…. pelaksanaannya belum…. manajemennya belum…..gurunya belum… kepseknya…. belum juga, lantas apa dong yang diharapkan dari hanya perubahan kurikulum???
——————-
Melatih guru agar terampil copy-paste silabus dan RPP toh, Kang, hehehehe ![]()
————-
Ya, “canggih” juga setelah flashdisk “penular virus” itu membudaya di kalangan guru. Hanya tinggal copy-paste, silabus dan RPP sudah siap pakai.
Hanya tinggal mengganti identitas sekolahnya doang.
Ketiga, KTSP diplesetkan menjadi Kalau Tidak Siap Pensiun. Begitu rumitkah KTSP itu sehingga benar-benar membebani guru? Meski hanya sekadar plesetan, idiom-idiom seperti tampaknya mencerminkan masih carut-marutnya dunia pendidikan kita. Perubahan kurikulum sering kali tidak diimbangi dengan persiapan yang matang sehingga membuat kalangan guru kalang kabut.
Kini, tampaknya Depdiknas tak mau lagi “kecolongan”. Jangan sampai hanya lantaran kesulitan menyusun dokumen KTSP (dokumen I dan II), KTSP jadi urung dilaksanakan. Oleh karena itu, Depdiknas menggelar sosialisasi KTSP secara serempak di seluruh provinsi hingga kabupaten.
Agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam merumuskan dokumen kurikulum, Depdiknas telah menerbitkan “Materi Sosialisasi & Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)”. Panduan tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan penyusunan KTSP sehingga model copy-paste dapat diminimalkan. Sekolah diharapkan benar-benar kreatif sehingga KTSP yang disusun mampu mencerminkan karakter peserta didik, latar belakang sosial-budaya masyarakat setempat, dan kondisi sekolah.
Rekan-rekan sejawat yang belum memiliki panduannya bisa men-download pada halaman DOWNLOAD.
———————-
*Segitu dulu ah infonya. Capek deh!
*
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (25 August 2007 @ 21:16) pada kategori Opini, Refleksi dan telah dikunjungi oleh . Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Nov 18, 2009 @ 12:27:10
tambah njlimet saja ya, KTSP mestinya adalah kurikulum minimal yang dibakukan nasional + beberapa program tambahan yang mendukung visi misi sekolah, jangan malah dikurangi. Meski Nambah juga tidak gampang karena sekarang ditengarai sebagai akal-akalan tuk siasati pemenuhan 24 jam. Memang repot, kita memang harus akur, mandiri dalam kebersamaan, syukur berpolitik tuk bisa ikut tentukan kebijakan.
Nov 20, 2009 @ 17:10:51
terima kasih masukannya, mas. semoga ini mendapatkan perhatian serius dari para pengambil kebijakan.
Jun 03, 2009 @ 20:14:17
Kurikulum Ganti? jangan kaitkan ganti menteri tapi ada yang lebih perlu kita sikapi secara positip,bahwa kurikulum itu seperangkat alat untuk menghantarkan murid menjadi sempurna, tentu harus menyesuaikan perkembangan zaman yang penuh tehnologi ,maka kalau tak sesuai ya ganti
tapi jika tak ganti ya..tinggal aja .yaaa aku tertarik tulisan bapak.
Jun 04, 2009 @ 00:51:40
terima kasih masukan dan apresiasinya, pak srijaka.
Jul 05, 2008 @ 14:23:46
salut buat blog. smoga dapat jadi pemacu bagi kemajuan guru
Apr 30, 2008 @ 13:05:09
Yang paling sering saya dengar di kampus yang “Kurikulum Tidak Siap pakai”
Perubahan kurikulum dari masa ke masa tidak lain tujuannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan kan pak? Lha yang tidak siap kira-kira kurikulumnya atau Gurunya ya pak?
Tottzs last blog post..Hitam Pekat Asap Bus yang Menyebalkan
ooo
ke
wew… implementasi kurikulum memang membutuhkan partisipasi semua pihak *halah sok tahu nih* mas tottz. selain konsepnya bagus, guru harus benar2 sipa menerapkannya. tanpa hal itu, kurikulum diubah berkali-kali juga tdk akan ada imbasnya terhadap kemajuan dunia pendidikan kita.
Apr 27, 2008 @ 09:15:47
Dengan adanya otonomi pengelolaan pendidikan salah satunya KTSP, maka sekolah diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum di sekolah. Tetapi tentunya kurikulum yang dikembangkan harus memiliki landasan yang tepat, mengapa dikembangkan seperti itu? berdasarkan potensi apa ? keinginan apa? dll.Saya yakin kurikulum sering berganti ada tujuan menyempurnakan kurikulum yang sebelumnya yang sudah tidak sesuai dengan kemajuan zaman atau alasan lainnya. Tergantung kepada sikap kita sebagai guru untuk mengemas kurikulum tersebut sebaik mungkin dan dilaksanakan melalui aturan yang benar.Misalnya ketika kita membuat RPP, buatlah RPP yang sesuai dengan apa yang ingin kita lakukan. RPP tersebut dibuat bukan sekedar untuk memenuhi syarat administratif, tetapi betul-betul dibutuhkan.Orang sunda mengatakan jangan bilang atuda tetapi bilanglah cacakan.Nampaknya kita harus menjadi seorang guru yang berkarakter guru….
ooo
yups, pendapat yang mencerahkan mas fyan. saya setuju banget. memang seharusnya begitu. RPP tdk hanya sekadar kopipes, tapi benar2 disusun melalui perencanaan yang matang.
Apr 08, 2008 @ 22:36:21
KTSP=Kurikulum Terserah Sampeyan Pripun
Fadhiel yang sedang bingung dan pusing’s last blog post..Pamit
Oct 28, 2007 @ 19:13:42
@ haryanto:
Makasih masukan dan sarannya, Pak. Tapi, saya hanya merekam dan memberikan kesaksian terhadap apa yang saya lihat dan saya dengar. Namanya juga otokritik. Dunia pendidikan kita harus selalu siap untuk menerima kritik dari berbagai kalangan agar terus berkembang secara dinamis sehingga mutu pendidikan yang sudah lama didambakan dapat terwujud. OK, salam.
Oct 28, 2007 @ 17:17:08
pak jgn buat plesetan yg tdk mendidik
maka dukunglah tetang KTSP tersebut ok
makasih ya
Sep 03, 2007 @ 18:47:42
Kalau boleh saya tambahah satu tentang plesetan KTSP itu " Kamu Tulis Saya Pinjam". Soalnya banya rekan-rekan guru yang kerjanya hanya menyalin silabus atau RPP dari rekan-rekan guru yang lain. Dasar guru fotokopy.
—————-
Ok, bisa jadi juga, Bung!
Hahahaha
Aug 29, 2007 @ 00:29:02
Kreativitas nampaknya masih merupakan barang mewah dimata guru ….
——————-
Ya, begitulah Kangguru kondisi riil yang ada saat ini. Secara kuantitas, jumlah guru di jajaran Depdiknas negeri ini mungkin paling banyak dibanding jumlah pegawai di sektor lain. Tapi, masalah kualitas tunggu dulu. Penataran, Diklat, Workshop, atau apa pun istilahnya, tampaknya belum cukup untuk meningkatkan kualitas dan kinerja guru. Kangguru mungkin punya cara lain?
Aug 26, 2007 @ 21:17:33
Saya pikir ini masalah pemeliharaan kebodohan dan kekacauan pemikiran berjamaah. Kurikulum itu, minimal terpilah dua macam, kurikulum tertulis dan diaplikasikan. Idealnya antara kurikulum sebagai ‘garis besar petunjuk’ dilaksanakan segaris dengan kurikulum sebagaiman ‘diterapkan di sekolah.
Dalam sejarah pendidikan indonesia ini tidak pernah macth. Kenapa, kedua pihak sama-sama memelihar kedunguan. Perancang kurikulum (pemerintah, Depdiknas, Pusat Pengembangan Kurikulum) memikir kurikulum ideal menurut mereka, laku … melimpahkan kepada guru tanpa persapan memadai.
Sepengetahuan saya, harus sosialisasi, dipersiapan buku-buku pengajaran, sarana pendukung, sampai ke hal-hal kecil. Itu tidak dilalkukan, tapi jalan terus.
Guru menghinakan diri sebagai pelaksana apa yang dibuat pemrintah (tanpa mengunyah) apalgi ‘bekerjasama’ meranang kurikulum. Paling sial seperti KBK tempo hari. Guru disuruh belajar sendir, dan mau, e … begitu agak paham, datang KTSP. Diam saja dan nunut saja.
Kebodohan kedua belah pihak itu yang dipelihar, dan … terus mengerutu. Ya, ngak bakalan berubah polanya sampai kiamat. Lebih celaka, ya sama-sama mencari solusi yang pas dong.
Caranya?
Guru harus beroroto, guru jangan sebgai korban ‘kemauan’ pihak lain saja dong. Masyak hanya sebagai pelaksana, sebagai tukang ajar.
Mari kita pikirkan.
Salam
—————
Terima kasih, Pak Abbas. Komentar Bapak cukup menarik. Saya setuju itu. Pelaksanaan KTSP, meskipun sudah memasuki tahun kedua, terutama bagi sekolah yang sudah mengujicobakan KBK sebelumnya, tapi implementasinya masih amburadul. Saat ini guru masih dibuat kalag kabut untuk menyusun dokumen II (silabus dan RPP). Ini sebuah hal yang ironis, bukan? Kurikulum sdh jalan. Landasan hukumnya pun sdh jelas. Tapi, kenapa pada tahap implementasi masih ruwet.
Saya setuju komentar Bapak dengan istilah pemeliharaan kebodohan dan kekacauan pemikiran berjamaah.
Barangkali ini menyangkut masalah kultura juga, ya, Pak. Sejak dulu, Depdiknas maunya serba idealis –meski idealismeya lebih dimanfaatkan untuk jaga gengsi dan mengejar daya saing bangsa– tapi tak pernah berpikir dampaknya di lapangan. Sebaliknya, para guru pun sudah terbiasa menunggu petunjuk dari atas. Maunya serba disiapkan model “paketan”.
Idealnya memang sebelum kurikulum diluncurkan, semuanya sudah harus siap, termasuk memberdayakan para guru yang berada di garda depan dalam pelaksanaan kurikulum. Ini persoalan serius yang terus-menerus harus ditemukan solusi yang sama2 menguntungkan bagi kemajuan peningkatan mutu pendidikan.
Ok, terima kasih atas komentar dan silaturahminya, Pak.
Aug 26, 2007 @ 04:36:41
Sayang memang negeri kita ini. Kurikulum sering berganti-ganti. Namanya keren-keren, konsepnya bagus-bagus. Tapi sayang, tidak dibarengi oleh kesiapan guru-guru di “lapangan” (sekolah).
Oh, iya. Komentar Kangguru, setidaknya jadi sebuah contoh bagaimana keadaan sebenarnya, keadaan tentang pelaksanaan kurikulum di sekolah itu.
Terus, yang saya sayangkan begini. Dalam rentang 4 tahun saja, nama kurikulum berubah-ubah. Mulai dari KBK, terus katanya ganti lagi namanya jadi Kurikulum 2004. Terus tak lama kemudian KTSP. Namun, hakekat pergantian itu sepertinya kurang berpengaruh secara berarti ( significant ) bagi perbaikan kualitas pendidikan kita. Salah-salah, guru-guru malah dibuat repot oleh pergantian tersebut.
============================
Tentang bahasa Indonesia.
Pak, boleh bertanya ya?
“Loko” = “lokomotif”?
Terus mengenai penggunaan kata “bahasa” di judul artikel ini maksudnya apa? Apakah maksudnya “bahasa = plesetan”?
Terimakasih atas penjelasannya. Maaf suka nanya-nanya terus.
——————
Terima kasih Pak Al-Jupri, saya jadi makin bersemangat apabila kita sharing pengalaman, Pak.
1. Ya, begitulah, Pak. Model kurikulum di negeri kita. Hampir setiap ganti menteri hampir bisa dipastikan ganti kebijakan, khususnya kurikulum. KTSP sebenarnya juga merupakan penjelmaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004. Hanya saja, landasan hukumnya belum jelas karena belum disahkan oleh Mendiknas. Setelah diujicobakan dan dipermak sana-sini, akhirnya “disulap” jadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), termasuk di antaranya: (a) pengurangan beban belajar (yang semula 1 jam=45 menit menjadi 40 menit); (b) materi lebih dirampingkan; (c) memberikan otonomi kepada guru untuk menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sendiri; dan (d) memiliki landasan hukum yang jelas, yakni Permendiknas No. 22, 23, dan 24 tahun 2006 ttg Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan Pelaksanaan SI dan SKL.
2. KTSP memang membutuhkan kreativitas tersendiri dari guru, bukan hanya penyusun dokumennya, seperti silabusa dan RPP, melainkan juga kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran, mulai dari pemilihan metode, media, hingga pada penilaian dan tindak lanjutnya. Tanpa itu, KTSP tampaknya tak berbeda jauh nasibnya dengan KBK. Tak heran apabila Kangguru pun sempat pesimis tentang perubahan kebijakan yang sering bongkar pasang kurikulum itu.
==========
Tentang bahasa Indonesia:
1. “Loko” = “lokomotif”? (Betul, Pak. Itu hanya kiasan, Pak. Bukankah guru yang menggerakkan jutaan anak-anak bangsa negeri ini yang tengah gencar menuntut ilmu? Kalau guru alias “loko”-nya loyo, mana mungkin bisa menggerakkan “gerbong”-nya menuju peradaban yang lebih mencerahkan?
2. Bahasa plesetan itu –menurut hemat saya, Pak –sama maknanya dengan bahasa yang sengaja diplesetkan sebagai bentuk sindiran, cibiran, atau mungkin parodi untuk menertawakan kondisi tertentu yang dianggap mengalami proses “anomali”. KTSP pun sedang mengalami situasi seperti itu. Bahkan, saya pernah iseng-iseng nulis di koran –merespon tulisan Pak Suyanto (dulu masih menjadi rektor UN Yogyakarta, sekarang Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah)– kalau tanpa pemberdayaan guru, KBK akan menjadi Kurikulum Bakalan Konyol.
Suatu ketika mohon saya ditulari kisah2 menariknya dari Belanda, ya, Pak. Ok, salam. Trims.
Ini opini pribadi yang jauh dari objektivitas penafsiran ilmiah lho, Pak.