Home | Opini, Refleksi | Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP

Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP

Saturday, 25 August 2007 (21:16) | 1,388 pembaca | 14 komentar | Print this Article

Setidaknya ada tiga bahasa plesetan tentang KTSP. Pertama, KTSP diplesetkan sebagai Kurikulum Tidak Siap Pakai. Plesetan ini mengisyaratkan bahwa para guru –sebagai “loko” pendidikan– belum siap menerima perubahan. Para guru tampaknya akan lebih siap apabila semua dokumen kurikulum telah disiapkan dengan rapi dari Jakarta seperti kurikulum sebelumnya. Jadi, Bapak-bapak dan Ibu-ibu guru tidak perlu lagi direpotkan menentukan indikator setiap KD, menyusun silabus dan RPP, atau menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). :D Ya, seperti model pendidikan bergaya sentralistis begitulah. Semuanya serba disiapkan dari pusat. Ironis, ya?

Kedua, KTSP diplesetkan sebagai Kurikulum Tetap Sama Produknya. Plesetan ini mengisyaratkan bahwa KTSP yang seharusnya mencerminkan karakter siswa didik, latar belakang sosial-budaya masyarakat setempat, dan kondisi sekolah, kenyataannya tak ada bedanya. KTSP antarsekolah, bahkan di seluruh Indonesia sama saja produknya. Itu karena “kreativitas” para guru melakukan copy-paste draft KTSP dari sekolah tertentu atau model KTSP yang dikeluarkan BSNP. :D Kang Guru memberikan komentar menarik dalam tulisan saya tentang “Reformasi Sekolah, Kepemimpinan Feodalistis, dan KTSP” seperti berikut ini.

Reformasi pendidikan barus sebatas kurikulum yang berubah,…. pelaksanaannya belum…. manajemennya belum…..gurunya belum… kepseknya…. belum juga, lantas apa dong yang diharapkan dari hanya perubahan kurikulum???

——————-
Melatih guru agar terampil copy-paste silabus dan RPP toh, Kang, hehehehe D
————-

Ya, “canggih” juga setelah flashdisk “penular virus” itu membudaya di kalangan guru. Hanya tinggal copy-paste, silabus dan RPP sudah siap pakai. :D Hanya tinggal mengganti identitas sekolahnya doang.

Ketiga, KTSP diplesetkan menjadi Kalau Tidak Siap Pensiun. Begitu rumitkah KTSP itu sehingga benar-benar membebani guru? Meski hanya sekadar plesetan, idiom-idiom seperti tampaknya mencerminkan masih carut-marutnya dunia pendidikan kita. Perubahan kurikulum sering kali tidak diimbangi dengan persiapan yang matang sehingga membuat kalangan guru kalang kabut.

Kini, tampaknya Depdiknas tak mau lagi “kecolongan”. Jangan sampai hanya lantaran kesulitan menyusun dokumen KTSP (dokumen I dan II), KTSP jadi urung dilaksanakan. Oleh karena itu, Depdiknas menggelar sosialisasi KTSP secara serempak di seluruh provinsi hingga kabupaten.

Agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam merumuskan dokumen kurikulum, Depdiknas telah menerbitkan “Materi Sosialisasi & Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)”. Panduan tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan penyusunan KTSP sehingga model copy-paste dapat diminimalkan. Sekolah diharapkan benar-benar kreatif sehingga KTSP yang disusun mampu mencerminkan karakter peserta didik, latar belakang sosial-budaya masyarakat setempat, dan kondisi sekolah.

Rekan-rekan sejawat yang belum memiliki panduannya bisa men-download pada halaman DOWNLOAD.

Buku KTSP

Naskah Word

Powerpoint

———————-

*Segitu dulu ah infonya. Capek deh! :D *

Kategori: Opini, Refleksi | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgVirtual Host Berbasis Open Source untuk Pembelajaran Interaktif dan Mencerdaskan (Monday, 19 October 2009, 641 pembaca, 133 respon) Selama dua hari (Sabtu dan Minggu, 17-18 Oktober 2009), saya mengikuti pelatihan “Pembelajaran Internet Berbasis Open Source Tanpa Internet” di SMA Muhammadiyah Weleri, Kendal, yang menghadirkan Mas Reza Ervani dari Rumah Ilmu Indonesia sebagai...
imgMenjadikan Sekolah sebagai Basis Pengembangan Bahasa Indonesia (2-Habis) (Friday, 18 July 2008, 3,572 pembaca, 49 respon) Diakui atau tidak, kesan bahwa sekolah baru sebatas menjalankan fungsinya sebagai tempat mentrasfer ilmu secara kognitif masih kuat melekat dalam imaji publik. Fungsinya sebagai pusat pembentukan nilai yang mengacu pada perubahan mendasar dalam sikap,...
imgSetelah Berpindah Server (Sunday, 1 June 2008, 189 pembaca, 48 respon) Selama empat hari, saya tidak bisa meng-up date blog. Bukan apa-apa, melainkan sedang terjadi perpindahan server oleh dapurhosting (DH). Lewat e-mail, DH menyarankan supaya saya tidak meng-update blog selama 2 x 24 jam. Namun, terjadi keanehan. Setelah...
imgCukup Satu Malin Kundang Saja! (Tuesday, 27 May 2008, 748 pembaca, 63 respon) Baru saja kita menyaksikan sebuah adegan drama di atas panggung kehidupan sosial. Tragis dan ironis sekaligus. Tragis lantaran harus ada korban. Kaum muda kita, mahasiswa-mahasiswa yang gencar menyuarakan penolakan kenaikan BBM itu, ada yang harus...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 25 August 2007 (21:16)) pada kategori Opini, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

14 Responses to "Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP"

  1. sunu ambarsi says:
    Menggunakan Opera 9.64 Opera 9.64 pada Windows XP Windows XP

    tambah njlimet saja ya, KTSP mestinya adalah kurikulum minimal yang dibakukan nasional + beberapa program tambahan yang mendukung visi misi sekolah, jangan malah dikurangi. Meski Nambah juga tidak gampang karena sekarang ditengarai sebagai akal-akalan tuk siasati pemenuhan 24 jam. Memang repot, kita memang harus akur, mandiri dalam kebersamaan, syukur berpolitik tuk bisa ikut tentukan kebijakan.

  2. srijaka says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.4 Firefox 2.0.0.4 pada Windows XP Windows XP

    Kurikulum Ganti? jangan kaitkan ganti menteri tapi ada yang lebih perlu kita sikapi secara positip,bahwa kurikulum itu seperangkat alat untuk menghantarkan murid menjadi sempurna, tentu harus menyesuaikan perkembangan zaman yang penuh tehnologi ,maka kalau tak sesuai ya ganti
    tapi jika tak ganti ya..tinggal aja .yaaa aku tertarik tulisan bapak.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (87 queries: 0.941 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP