Kamis, 30 Oktober 2014

Saturday, 25 August 2007 (21:16) | Pendidikan | 18918 pembaca | 14 komentar

Setidaknya ada tiga bahasa plesetan tentang KTSP. Pertama, KTSP diplesetkan sebagai Kurikulum Tidak Siap Pakai. Plesetan ini mengisyaratkan bahwa para guru –sebagai “loko” pendidikan– belum siap menerima perubahan. Para guru tampaknya akan lebih siap apabila semua dokumen kurikulum telah disiapkan dengan rapi dari Jakarta seperti kurikulum sebelumnya. Jadi, Bapak-bapak dan Ibu-ibu guru tidak perlu lagi direpotkan menentukan indikator setiap KD, menyusun silabus dan RPP, atau menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). :D Ya, seperti model pendidikan bergaya sentralistis begitulah. Semuanya serba disiapkan dari pusat. Ironis, ya?

Kedua, KTSP diplesetkan sebagai Kurikulum Tetap Sama Produknya. Plesetan ini mengisyaratkan bahwa KTSP yang seharusnya mencerminkan karakter siswa didik, latar belakang sosial-budaya masyarakat setempat, dan kondisi sekolah, kenyataannya tak ada bedanya. KTSP antarsekolah, bahkan di seluruh Indonesia sama saja produknya. Itu karena “kreativitas” para guru melakukan copy-paste draft KTSP dari sekolah tertentu atau model KTSP yang dikeluarkan BSNP. :D Kang Guru memberikan komentar menarik dalam tulisan saya tentang “Reformasi Sekolah, Kepemimpinan Feodalistis, dan KTSP” seperti berikut ini.

Reformasi pendidikan barus sebatas kurikulum yang berubah,…. pelaksanaannya belum…. manajemennya belum…..gurunya belum… kepseknya…. belum juga, lantas apa dong yang diharapkan dari hanya perubahan kurikulum???

——————-
Melatih guru agar terampil copy-paste silabus dan RPP toh, Kang, hehehehe D
————-

Ya, “canggih” juga setelah flashdisk “penular virus” itu membudaya di kalangan guru. Hanya tinggal copy-paste, silabus dan RPP sudah siap pakai. :D Hanya tinggal mengganti identitas sekolahnya doang.

Ketiga, KTSP diplesetkan menjadi Kalau Tidak Siap Pensiun. Begitu rumitkah KTSP itu sehingga benar-benar membebani guru? Meski hanya sekadar plesetan, idiom-idiom seperti tampaknya mencerminkan masih carut-marutnya dunia pendidikan kita. Perubahan kurikulum sering kali tidak diimbangi dengan persiapan yang matang sehingga membuat kalangan guru kalang kabut.

Kini, tampaknya Depdiknas tak mau lagi “kecolongan”. Jangan sampai hanya lantaran kesulitan menyusun dokumen KTSP (dokumen I dan II), KTSP jadi urung dilaksanakan. Oleh karena itu, Depdiknas menggelar sosialisasi KTSP secara serempak di seluruh provinsi hingga kabupaten.

Agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam merumuskan dokumen kurikulum, Depdiknas telah menerbitkan “Materi Sosialisasi & Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)”. Panduan tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan penyusunan KTSP sehingga model copy-paste dapat diminimalkan. Sekolah diharapkan benar-benar kreatif sehingga KTSP yang disusun mampu mencerminkan karakter peserta didik, latar belakang sosial-budaya masyarakat setempat, dan kondisi sekolah.

Rekan-rekan sejawat yang belum memiliki panduannya bisa men-download pada halaman DOWNLOAD.

Buku KTSP

Naskah Word

Powerpoint

———————-

*Segitu dulu ah infonya. Capek deh! :D *

Tulisan berjudul "Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (25 August 2007 @ 21:16) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Menuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 80144 pembaca, 76 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi...

Virtual Host Berbasis Open Source untuk Pembelajaran Interaktif dan Mencerdaskan (Monday, 19 October 2009, 53159 pembaca, 140 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Selama dua hari (Sabtu dan Minggu, 17-18 Oktober 2009), saya mengikuti pelatihan “Pembelajaran Internet Berbasis Open...

Perubahan Paradigma Pendidikan (Sunday, 14 September 2008, 67441 pembaca, 15 respon) SEIRING dengan perubahan dan dinamika masyarakat yang terus bergerak menuju arus globalisasi, problem dan tantangan yang harus dihadapi oleh dunia...

Menjadikan Sekolah sebagai Basis Pengembangan Bahasa Indonesia (2-Habis) (Friday, 18 July 2008, 65748 pembaca, 49 respon) Diakui atau tidak, kesan bahwa sekolah baru sebatas menjalankan fungsinya sebagai tempat mentrasfer ilmu secara kognitif masih kuat melekat dalam...

Setelah Berpindah Server (Sunday, 1 June 2008, 25929 pembaca, 48 respon) Selama empat hari, saya tidak bisa meng-up date blog. Bukan apa-apa, melainkan sedang terjadi perpindahan server oleh dapurhosting (DH). Lewat...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

14 komentar pada "Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP"

  1. sunu ambarsi says:

    tambah njlimet saja ya, KTSP mestinya adalah kurikulum minimal yang dibakukan nasional + beberapa program tambahan yang mendukung visi misi sekolah, jangan malah dikurangi. Meski Nambah juga tidak gampang karena sekarang ditengarai sebagai akal-akalan tuk siasati pemenuhan 24 jam. Memang repot, kita memang harus akur, mandiri dalam kebersamaan, syukur berpolitik tuk bisa ikut tentukan kebijakan.

  2. srijaka says:

    Kurikulum Ganti? jangan kaitkan ganti menteri tapi ada yang lebih perlu kita sikapi secara positip,bahwa kurikulum itu seperangkat alat untuk menghantarkan murid menjadi sempurna, tentu harus menyesuaikan perkembangan zaman yang penuh tehnologi ,maka kalau tak sesuai ya ganti
    tapi jika tak ganti ya..tinggal aja .yaaa aku tertarik tulisan bapak.

Leave a Reply