Top

Kunta Wijayandanu untuk Anoman

Friday, 9 May 2008 | 134 pembaca | 23 komentar
Kategori: Budaya, Refleksi

Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Kawasan bukit Kutarunggu yang selama ini dikenal sebagai “kantong” bebas kekerasan, belakangan ini berubah panas dan menegangkan. Hampir setiap hari, ada-ada saja aksi bar-bar, anarkhi, dan vandalisme yang meluncur ke permukaan. Ulah kekerasan berdalih sentimen kesukuan, agama, ras, dan antargolongan merajalela. Banyak konglomerat hitam, koruptor kakap, atau wayang-wayang berkantong tebal yang urung ber-week end bersama sang gundik di puncak bukit yang sejuk itu. Pelancong-pelancong asing yang dulu berseliweran pun kini menjadi pemandangan langka. Suasana bukit Kutarunggu yang panas dan menegangkan membikin aktivitas Prof. Kesawasidhi terhambat. Undangan seminar dari berbagai negara terpaksa di-pending. Acara-acara... (Baca lanjutannya!)

Bhismaaa…!

Thursday, 3 April 2008 | 1,463 pembaca | 28 komentar
Kategori: Budaya, Refleksi, Tradisi

Suasana alun-alun negeri Kasi bagaikan suara lebah cari sarang. Onar. Seluruh penduduk tumpah ruah di tanah lapang yang berada di jantung kota itu. Sinar matahari yang membakar kulit bukan halangan bagi mereka untuk berdesak-desakan. Bau keringat, suara batuk, aroma parfum murahan yang mulai luntur, berbaur dengan aroma bau mulut dan gas asam orang yang kencang berhembus dari lubang anus. Makin siang, alun-alun seperti bergetar, digoyang ribuan kaki yang hendak menyaksikan sebuah sayembara. Berkali-kali terdengar suara pekik yang membahana. Bersambung-sambungan. Tak hanya penduduk Kasi yang meluber di alun-alun. Para putra mahkota dan pangeran dari seluruh penjuru negeri juga tumpah ruah di atas panggung kehormatan. Mereka bertekad mengikuti... (Baca lanjutannya!)