Top

Sastra Kita Miskin Pemberontakan?

Sunday, 27 July 2008 | 308 pembaca | 35 komentar
Kategori: Budaya, Pendidikan, Refleksi, Sastra

Sekitar tahun 1983, Budi Darma pernah menyatakan, jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya para sastrawan kita belum berbobot. Atau, tulislah sebuah puisi yang nyentrik. Paling tidak, ada dua kandungan tafsir yang tersirat di balik pernyataan pengarang novel Olenka itu. Pertama, sebagai ”pasemon” terhadap ”tradisi” pengarang yang suka bikin sensasi lewat eksperimentasi penciptaan yang mentah dan konyol, tanpa dibarengi akuntabilitas moral dan etik. Artinya, pemberontakan hanya dilakukan untuk memburu ketenaran nama an sich, tidak berbasisikan kultur penciptaan yang dengan sangat sadar dilakukan untuk melahirkan teks-teks kreatif yang bernilai. Kedua, pemberontakan bisa dimaknai sebagai... (Baca lanjutannya!)

Surat Terbuka buat Triyanto Triwikromo

Monday, 11 February 2008 | 105 pembaca | 39 komentar
Kategori: Budaya, Cerpen, Refleksi, Sastra, Tradisi

Aku tahu, saat ini Sampeyan sedang dililit banyak kesibukan. Waktu menjadi demikian berharga buatmu. Setiap menit, bahkan detik, bahkan juga setiap tarikan napas, selalu berharga untuk mengekspresikan imaji-imaji liar yang menumpuk di kepala. Aku selalu mendengar suara “pemberontakan”-mu sebagaimana tercermin dalam teks-teks cerpenmu. Ada nuansa romantisme, cinta, teror, darah, kebencian, perempuan, warna lokal, mitos, dan juga tradisi. Yang selalu kuingat dari cerpen-cerpenmu adalah suasana absurdisme yang meneror, untuk selanjutnya membawa imaji pembaca ke dalam sebuah ruang tafsir yang rumit, kompleks, tetapi sekaligus membawa daya kejut. Triyanto –kalau boleh aku menyapamu demikian sebagaimana nama yang diberikan oleh kedua... (Baca lanjutannya!)