Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan

Tuesday, 14 October 2008 | 633 pembaca | 119 komentar

PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. *** Kita pasti masih sangat hafal dan fasih dengan ikrar Sumpah Pemuda semacam itu. Jelas bukan persoalan yang mudah untuk merumuskan sebuah teks yang sanggup mengakomodasi aspirasi semua golongan ketika situasi masih sangat kental dengan warna lokal dan atribut-atribut lain yang berporos pada hal-hal yang bersifat kedaerahan. Namun, agaknya warna lokal dan berbagai atribut primordialisme semacam itu berhasil ditepis oleh para pendahulu negeri ini. Pada Kongres... (Silakan baca lanjutannya!)

Menikmati Silaturahmi Pasca-Lebaran

Sunday, 12 October 2008 | 406 pembaca | 134 komentar

Sabtu, 11 Oktober 2008, merupakan hari pertama masuk sekolah pasca-lebaran. Belum memasuki jam kegiatan pembelajaran efektif. Kami masih memanfaatkannya untuk menikmati silaturahmi dengan sesama guru dan karyawan serta anak-anak dengan berhalal-bihalal. Sekitar 600-an siswa tertunduk takzim sambil berjabatan tangan dengan para guru sebagai wujud permohonan maaf terhadap semua kekhilafan yang setahun lamanya mereka lakukan, baik ketika berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah. Malam harinya, segenap keluarga besar warga RT di kompleks perumahan kami, juga menggelar acara halal-bihalal di depan gubug kami yang kebetulan berdampingan dengan rumah Ketua RT. Terasa benar jalinan komunitas yang rukun dan guyup. Semua borok dan luka yang disebabkan... (Silakan baca lanjutannya!)

Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global

Saturday, 11 October 2008 | 1,824 pembaca | 92 komentar

Dunia sedang gonjang-ganjing. Negeri Paman Syam yang selama ini menjadi poros kapitalisme global sedang terancam. Ibarat bangunan, pondasi utamanya mulai keropos, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada ambruknya pilar-pilar penyangganya. Jika itu terjadi, bisa jadi dunia benar-benar akan mengalami “kiamat kecil”. Namun, pemerintah dengan cepat mengeluarkan pernyataan agar rakyat tidak panik. Tapi tunggu dulu! Sebenarnya yang layak diimbau untuk tidak panik itu siapa? Rakyat, pejabat, atau pemilik modal? Dari sekitar 220 juta penduduk negeri ini, sekitar 40 jutanya tersekap dalam ruang pengangguran dan kemiskinan. Kelompok ini jelas tak akan merasakan pengaruh kemungkinan terjadinya krisis global itu. Yang kebakaran jenggot, pastilah... (Silakan baca lanjutannya!)



Bottom

eXTReMe Tracker YM My BlogCatalog BlogRankSakui Web RankSawali Rank rank blog indonesiaValid CSS!Valid XHTML 1.0 TransitionalValid RSS
Subscribe by AnothrAdd Catatan Sawali Tuhusetya Mippin widgetKSB Free PageRank CheckerValid XHTML 1.0 zimbioTopOfBlogsAjax CommentLuv Enabled 4c0b325a6904582681e88fbab44a6330
freelink | ICRA | gzip | ATRC | speed_test | raven-seo | Gads | GR | upload | WM | sitemap | Gtr | Clbmtr | KS | BlogKS | daily | deteksi | webhost | MGMP | Tuhu | RT