Home » Sastra » Tulisan Berpindah Tangan » 80263 views

Tulisan Berpindah Tangan

Kategori Sastra Oleh

Oleh: Ali Syamsudin Arsi

Sebuah upaya
pelatihan menulis
dengan suasana kebersamaan.

Memperkenalkan teknik ini kepada guru-guru
bertujuan untuk dapat diterapkan kepada anak didiknya
masing-masing di dalam setiap proses pembelajaran.

Sebagai salah satu jawaban
bahwa sebenarnya
menulis puisi itu mudah dan menyenangkan.

Tidak ada waktu lain selain menulis, menulis dan menulis.

Ada sebuah nasihat penting bagi yang ingin menjadi penulis handal: “Jangan pernah berhenti menulis, maka setiap hari lakukan menulis agar dapat menyelesaikan 10 halaman.”

Jangan tunda menulis selagi ada kesempatan untuk itu. (Menulis itu Genius, Roland Fishman, halaman 176)

Dengan “tulisan berpindah tangan” yakinlah bahwa anak didik akan lebih cepat cerdas dan berani cepat menyelesaikan tulisannya.

Misalnya ada perintah begini,
“Nah, anak-anak tulislah jam berapa kamu tidur malam tadi, tulislah sepanjang 4 baris dan gunakan kata-kata yang menurut kamu indah dan menarik.

Kalian menulis dalam hitungan 1 sampai 10.Bila sudah sampai hitungan 10 maka tidak ada lagi yang menulis.
Baiklah,
sekarang mulai menulis.
Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan
sepuluuuuuuuuuuuhhhhhhhhhh.

Setelah hitungan 10 maka berancang-ancang akan memindahkan buku
atau kertas berisi tulisan kepada rekan yang lain.
Sebaiknya distribusi tulisan melingkar agar perpindahannya menjadi beraturan.

Selain menulis
siswa juga diajak untuk membaca tulisan yang ada di tangan mereka,
baik itu tulisannya sendiri maupun tulisan kawannya.

Kamu nanti dapat menemukan ceritamu sendiri pada saat kamu sedang menulis.(Menulis itu Genius, Roland Fishman, halaman 178)

Pernahkah kita ajarkan kepada anak-anak didik di saat membaca dengan selalu menggerakkan tangan mereka, baik tangan sebelah kiri atau tangan sebelah kanan, atau kedua belah tangan mereka.

Pernahkah kita ajarkan kepada anak-anak didik di saat membaca dengan mengarahkan wajah mereka ke depan, sesekali atau bahkan pada seluruh pembacaan karena telah menguasai sepenuhnya kalimat yang disuarakannya.

Pernahkah kita ajarkan kepada anak-anak didik untuk menggunakan telunjuk, kepal atau berbagai bentuk jemari di saat mereka menggerakkan tangan dalam setiap pembacaan berlangsung.

Bagaimana penguasaan bahan bacaan dengan teknik “buka dan tutup, buka dan tutup kembali”.

Pernahkah kita ajarkan kepada anak-anak didik membaca tanpa mengeluarkan suara tetapi gerak bibir tetap mengucapkan setiap kata dalam bacaan dan gerak tangan berjalan sesuai dengan yang dimau oleh pembacaan.

Sebenarnya bukan bagaimana kita bertanya tentang cara menulis tetapi yang paling penting sudahkah kita benar-benar menulis.

Mari kita menulis puisi dengan teknik “keroyokan”.

Dengan “tulisan berpindah tangan” kita ajak anak-anak didik bermain-main, ceria dan senang, bahwa menulis adalah sebuah tamasya dalam ruang imajinasi, kebersamaan dan membuka ruang alam pikiran atau bahkan pengalaman mereka masing-masing.

Mari kita membaca bersama-sama, berdiri dan bersuara dengan lantang.

Benar !!! Menulis itu memerlukan keberanian. Berani memulai dan berani mengakhiri.

Mengapa hingga detik ini Anda belum juga menulis, menarilah dengan lincah kata-kata di ujung jemari Anda, maka di masa yang akan datang ada tertulis nama Anda dalam setiap karya tulis yang Anda selesaikan karena Anda benar-benar telah menulis.

Lihat dan dengarkan orang-orang membaca tulisan Anda.

Salam hangat, salam gumam asa.

Contoh

Bukan. Bukan. Bukan itu yang kita mau.

Tapi, tunggu. Kita akan lihat dahulu apa yang akan terjadi.

Oh, tidak. Itu tidak mungkin. Kita salah dalam menilainya.

Jangan ragukan kemampuannya.

Bukan. Bukan. Bukan itu yang kita mau.

Coba pikirkan baik-baik, dia telah berjalan ke arah yang salah, tetapi, oh, tidak, tidak, bukan itu yang saya harapkan, sebab, saya melihatnya melompat secara tiba-tiba dan orang tua itu telah mendekatinya, sungguh, sangat tiba-tiba, dan ….

Hei, siapa yang sedang duduk di sana.

Lihatlah. Ya lihatlah.

Ia membuat mainan dan sangat jelas bahwa ia sedang bermain-main.

Oh, maafkan kami. Kami sudah mencoba apa yang akan kita lakukan seperti apa yang seharusnya dilakukan.

Mendekatlah.

Dan.

Tidak.

Oh maaf.

Setelah itu bagaimana.

Tetapi.

Sungguh.

Ia melambaikan tangan, apa maksudnya.

***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

19 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Sastra

Membalas Cerita Ombak

MEMBALAS CERITA OMBAK Ali Syamsudin Arsi Kata-kata ombak: ( 1 ) “Ya
Go to Top