Home » Blog » Program Guraru Awards: Sebuah Kilas Balik

Program Guraru Awards: Sebuah Kilas Balik

Bahasa

Oleh: Sawali Tuhusetya

Beberapa waktu yang lalu, pengelola program Guru Era Baru (Guraru) yang diprakarsai Acer Indonesia menyodorkan beberapa pertanyaan menarik berkaitan dengan keikutsertaan saya dalam Program Guraru Awards 2011. Sekilas profil dan keikutsertaan saya dalam program tersebut telah dipublikasikan di website Guraru.

Berikut kilas balik keikutsertaan saya dalam Program Guraru Awards 2011 yang saya petik berdasarkan pertanyaan-pertanyaan menarik dari pengelola Guraru.

Pada tahun 2011 (tanggal dan bulannya lupa?), Bu Sukajiyah, seorang rekan sejawat yang baik hati menginformasikan program Guraru Awards kepada saya. Uniknya, justru dialah yang telah mendaftarkan blog saya dalam ajang bergengsi di kalangan guru tersebut. Jadi, rekan sejawat yang kebetulan mengajar di sekolah yang sama itulah yang telah berjasa besar dalam mendekatkan saya pada Guraru Awards.

Setelah rekan sejawat yang baik hati itu mendaftarkan blog saya, jujur saja saya terus berusaha untuk melacak informasi tentang kehadiran Program Guraru Awards itu lebih jauh. Selama ini saya belum menemukan program kompetisi blog yang secara khusus berusaha merangkul guru secara intens agar benar-benar bermakna dan bermanfaat bagi pengembangan profesionalisme guru, khususnya dalam memanfaatkan teknologi internet untuk kepentingan pembelajaran dan pendidikan pada umumnya. Baru di Guraru Awards itulah saya menemukan “habitat” blog guru yang sesungguhnya. Guraru Awards memang program virtual yang saya nilai tepat untuk mengembangkan tagline “membangun semangat berbagi” yang selama ini telah saya saya jadikan sebagai bagian dari motivasi dan inspirasi saya dalam melakukan aktivitas ngeblog. Semangat semacam itulah yang telah mendorong saya untuk berpartisipasi dalam Program Guraru Awards.

Menurut hemat saya, Program Guraru Awards bukanlah kompetisi blog biasa yang setelah dinyatakan sebagai pemenang, putuslah hubungan “emosional” antara peserta dan penyelenggara. Guraru Awards tampil beda. Ia tidak hanya sekadar menjadi ajang kompetisi blog untuk menjaring peserta sebanyak-banyaknya, tetapi ada semacam “ikatan emosional” yang kian mendekatkan peserta kepada Program Guraru Awards. Kehadiran website guraru.org dengan dukungan jejaring sosial semacam twitter atau facebook makin mendekatkan jarak antara guru dan Guraru Awards. Saya suka suasana egaliter yang dikembangkan di Guraru Awards, sehingga semua peserta bisa berinteraksi dalam atmosfer pertemanan yang akrab, menyenangkan, dan penuh dengan sentuhan nilai kekeluargaan. Itulah alasan utama saya berpartisipasi dalam Program Guraru Awards.

Pemenang Bukan Target Utama
Sesungguhnya menjadi pemenang dalam Program Guraru Awards bukanlah target utama saya. Saya hanya berusaha mengembangkan tagline “membangun semangat berbagi” dalam ngeblog, sehingga sebisa mungkin saya berusaha untuk meng-update tulisan secara rutin dengan kualitas isi dan bahasa yang tetap terjaga.

Menulis, bagi saya, merupakan sebuah kebutuhan untuk berekspresi. Menulis bisa dijadikan sebagai media “katharsis” dan therapi batin di tengah peradaban yang  “sakit”. Sebenarnya ada banyak cara yang bisa dijadikan sebagai inspirasi untuk menulis. Namun, dari sekian banyak cara, yang lebih banyak mendominasi aktivitas saya dalam menulis adalah membaca, berpikir, dan berimajinasi. Saya tidak biasa menulis “sekali jadi”. Isi dan bahasa menjadi dua ranah yang perlu saya pertimbangkan dengan cermat, sehingga pembaca tidak hanya sekadar menemukan informasi, tetapi juga mendapatkan sesuatu yang mampu menyentuh nurani kemanusiawiannya. Oleh karena itu, saya tergolong penulis atau blogger yang kurang begitu produktif dalam menulis.

Saya tidak tahu persis bagaimana proses penjurian dalam Program Guraru Awards Tahun 2011 yang menentukan blog saya masuk dalam 15 finalis, hingga akhirnya ditetapkan menjadi salah satu pemenang. Saya hanya berusaha untuk meng-update tulisan di blog secara rutin dengan kualitas isi dan bahasa yang sebisa mungkin tetap terjaga. Selama mengikuti Program Guraru Awards, saya tidak pernah tergerak untuk mengajak, apalagi meminta, rekan-rekan guru atau blogger untuk mendukung saya agar menjadi pemenang. Bahkan, saya juga tidak pernah menginformasikan keikutsertaan saya dalam Program Guraru Awards, baik melalui blog maupun media sosial. Biarkan blog yang berbicara, bukan “intervensi” pemiliknya yang secara masif berusaha memengaruhi otoritas juri melalui banyaknya dukungan yang lebih sering terkesan narsis dan sarat dengan kepura-puraan. Saya percaya sepenuhnya atas otoritas dewan juri dalam menentukan blog mana saja yang memang layak menjadi pemenang sekaligus menjadi ikon dan “brand” Guraru Awards.

Tentu saja saya sangat senang dan bersyukur menerima anugerah sebagai salah satu pemenang Guraru Awards 2011. Anugerah ini benar-benar di luar dugaan karena selama mengikuti Program Guraru Awards, saya tidak pernah memublikasikan keikutsertaan saya, apalagi berupaya menjaring dukungan dari rekan-rekan guru atau blogger, baik melalui blog maupun media sosial. Saya seperti menemukan “habitat ngeblog” yang sesungguhnya setelah menerima anugerah ini.

Dalam konteks demikian, saya memberikan apresiasi tinggi kepada Acer Indonesia yang telah memiliki kepedulian meningkatkan profesionalisme guru dalam memanfaatkan teknologi internet untuk pembelajaran dan pendidikan. Saya kira ini merupakan sumbangsih nyata dari Acer Indonesia terhadap kemajuan dunia pendidikan di negeri ini yang kualitasnya masih sering dipertanyakan banyak kalangan. Selain memberikan hadiah menarik dan berharga kepada pemenang, juga memberikan kesempatan kepada pemenang untuk berbagi pengalaman kepada rekan-rekan sejawat dalam memanfaatkan teknologi internet, khususnya blog dan media sosial, dalam pembelajaran dan pendidikan melalui Seminar Guru Era Baru (Guraru).

Melalui Seminar Guraru, kita dapat mengetahui kondisi kompetensi guru yang sesungguhnya dalam memanfaatkan teknologi internet untuk pembelajaran dan pendidikan. Berdasarkan dialog dan interaksi dengan rekan-rekan sejawat dalam Seminar Guraru di beberapa kabupaten wilayah Jawa Tengah, misalnya, secara jujur mesti diakui, masih ada kesenjangan kompetensi guru yang luar biasa dalam memanfaatkan teknologi internet. Sebagian besar di antara mereka masih “rabun” teknologi internet. Selain kendala minimnya jaringan internet dan kondisi geografis, juga masih minimnya dukungan dari pengambil kebijakan untuk mengakrabkan guru pada internet dan teknologi informasi.

Kesan saya terhadap Program Guraru Awards luar biasa. Saya kira Guraru Awards merupakan satu-satunya program kompetisi blog guru di negeri ini yang benar-benar riil untuk mengakrabkan guru dalam memanfaatkan teknologi internet. Guraru Awards tidak hanya sekadar menjaring pemenang, tetapi juga ada upaya serius untuk membumikan teknologi internet dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui aksi-aksi konkret, baik melalui Seminar Guraru maupun diskusi virtual melalui tagar #Gurarutalk di akun Twitter. Melalui dua aksi konkret ini setidaknya guru terpacu untuk menjadi pembelajar yang sesungguhnya; tidak hanya sekadar menjadi guru kurikulum, tetapi juga menjadi guru inspiratif.

GuraruMeskipun Guraru Awards baru tiga kali digelar Acer Indonesia sejak tahun 2010, tetapi telah sukses menyedot animo guru untuk berbondong-bondong mengikutinya. Dari tahun ke tahun menunjukkan trend peningkatan jumlah peserta yang cukup signifikans. Hal ini sangat beralasan karena Guraru Awards memang bukan kompetisi blog biasa. Ada upaya serius dari Acer untuk meningkatkan IT Literacy di kalangan guru melalui aksi-aksi konkret. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk berbagi informasi dan pengalaman secara virtual melalui website http://guraru.org dalam suasana terbuka dan egaliter, sehingga, disadari atau tidak, muncul ikatan “emosional” antarpeserta dan penyelenggara. Guru Awards bisa menjadi semacam “laboratorium virtual” yang memicu “adrenalin” guru untuk “berakrobat” secara inovatif dalam pembelajaran abad ke-21.

Yang tidak kalah menarik, peserta yang ditetapkan sebagai pemenang dilibatkan dalam berbagai event edukatif, semacam seminar, diskusi online, dan berbagai aksi konkret lainnya. Saya kira Program Guraru Awards bisa dijadikan sebagai media virtual bagi guru-guru kreatif dan inovatif untuk menemukan “habitat” yang sesungguhnya. Nah, peluang semacam itu sangat terbuka bagi rekan-rekan sejawat melalui Guraru Awards 2013 yang memberikan kesempatan emas bagi rekan-rekan sejawat untuk membuktikan kreativitas dan inovasi pembelajaran di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berubah. Nah, selamat mengikuti Program Guraru Awards 2013, semoga sukses selalu ada dalam genggaman tangan kita semua. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Program Guraru Awards: Sebuah Kilas Balik" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (20 September 2013 @ 00:25) pada kategori Blog. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 15 komentar dalam “Program Guraru Awards: Sebuah Kilas Balik

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *