Home » Fiksi » Sastra » Resensi Buku Gumam Asa, Bungkam Mata Gergaji

Resensi Buku Gumam Asa, Bungkam Mata Gergaji

Menyingkap Nomena Gumam ASA
dalam Buku ”Bungkam Mata Gergaji”
Karya Ali Syamsudin Arsi

Alih-Alih Pendahuluan

Bahasa

PPada mulanya adalah gumam, bukan kata. Yang mula-mula ini berkaitan dengan kelanjutan persinggungan saya dengan sosok  penyair di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.  Entah bagaimana pastinya, bagi saya hal yang kemudian tersebut sebagai ”gumam” itu menjadi sebuah fenomena khusus. Oleh karena bermula dari gumam, maka permulaan ini entah bagaimana pastinya, ternyata menjadi bentuk perkenalan dengan seorang tokoh sastra terkemuka di Banjarbaru, ialah Ali Syamsudin Arsi (ASA).

”Mmm.., mungkin ini orangnya?” begitu gumam saya ketika bulan lalu, saat hadir menyaksikan ASA secara langsung membacakan beberapa buah puisi Sutardji pada acara sastra bulanan Jumat malam di Panggung Bundar Mingguraya, Banjarbaru. Gumam pertanyaan saya itu terafirmasi kemudian, pada sebuah buku bersampul warna merah yang terbubuhi lukisan ”Pintu Larangan” karya Darvies Rasjidin. Sebuah buku kumpulan puisi yang ternyata seperti harus dipastikan bahwa itu bukan kumpulan puisi, setidaknya jenis lain dari kebanyakan jenis kumpulan puisi. Maka tersebutlah buku Kumpulan Gumam Asa yang berjudul ”Bungkam Mata gergaji” itu saya terima langsung dari penulisnya, dari tangan ASA sendiri, di Mingguraya. Sebenarnya buku itu saya peroleh melalui jalan bertukar buku, dengan buku kumpulan puisi saya yang berjudul ”Laila” (kalau memang buku saya itu pasti puisi?),—alih-alih sebagai buku gratisan yang saya dapatkan.

BMGSebelum mengenal sosoknya lebih dekat melalui beberapa kali bincang nyata juga maya, tentu pengetahuan saya tentang Gumam Asa yang minim hanyalah berdasarkan berita dan narasi teks yang saya baca saat jelajah maya. Bahwa ada jenis karya seni satra yang berlainan dengan yang sudah umum dikenal seperti puisi, cerpen, juga prosa. Jenis itu disebut penggagasnya, ASA, sebagai Gumam. Tapi sebagai orang yang bukan berlatarbelakang sastra, tentu persoalan bentuk, jenis, ciri-ciri, dan lain-lainnya yang berdasarkan teori dan kelaziman dalam dunia sastra tidak akan saya ambil pusing, tapi diambil nilainya saja yang lebih umum. Mungkin nilai umum yang musti digali dari nilai khusus atas fenomena Gumam dalam Bungkam Mata Gergaji (BMG) bersampul merah itu. Lalu tangkapan secara umum ini adalah, bahwa Gumam itu berbeda dengan bentuk karya sastra yang lazim di belantara kesusastraan Indonesia Modern kini.

Dari perihal nilai sebagai acuan yang dimbil untuk menyatakan semacam pengalaman saya dalam tulisan ini, maka tentulah nilai yang ada sebagai dasar umum dan dasar khusus menjadi nilai umum dan nilai khusus. Tapi ini bukan sebuah penilaian atas karya sastra dalam bahasa tulis sebagai buku BMG, karena saya bukan penilai. Saya hanya akan coba-coba menyingkap makna di balik teks yang digumamkan ASA melalui ribuan abjad-kata dalam teks BMG-nya. Kalaupun penyingkapan yang pasti sangat subyektif dalam tulisan ini pada akhirnya dianggap penilaian juga, maka anggapan itu sendirilah yang menilainya, bukan saya yang menilai sebagai penilaian.

Sebagaimana penyingkapan yang kerap dituduh sebaagai usaha pencarian makna yang masih gelap lantaran terselubung sebuah tabir gelap, maka tulisan ini tak berada pada usaha seperti itu. Karena ini bukan mengenai peyingkapan kegelapan. Dan karena pula, Gumam Asa di buku BMG bukanlah kegelapan, tapi malah boleh jadi adalah potensi pencerahan.

Fenomena Bahasa
Seorang filsuf Eksistensis Jerman, Martin Heidegger pernah mengungkapkan bahwa dalam bahasa lah bersemayam “sang ada”. Sang ada ini sering ditujukan sebagai entitas nilai yang berada di balik fenomena (fenoumena)—yang juga nilai itu sering dinamai sebagai nomena (noumena). Bungkam Mata Gergaji (BMG) kalau disebut tempat bersemayam sang ada, di mana bentuk persemayaman itu nampak sebagai bahasa teks yang disebut gumam dan dibahasakan ASA sangatlah berindikasi sebagai representasi dari ragam hubungan-hubungan ASA dengan ragam fenomena seperti: lingkungan-sosial, bahasa simbol, pemikiran strategis, dan atau tema-tema wacana tertentu. Fenomena-fenomena itu tak lain sebagai wujud bahasa yang dibahasakan oleh berbagai intensitas relasional antar subyek pendukungnya. Dan muara bahasa itulah yang akhirnya tertangkap sebagai sang ada dari sebalik nilai dalam intensionalitas ASA, melalui teks BMG, teks gumamnya. Singkatnya, BMG merupakan ruang bagi sebuah nilai yang mengandung banyak sekali relasi dari saling-silang antar fenomena itu, dengan sang ASA sendiri.

Gumam ASA sebagai fenomena bahasa, maka ruang semacam ini perlu disambangi melalui pintu-pintu materialistik, sekaligus melalui jendela-jendela esensialistik. Secara material, teks BMG sebagai fenomena bahasa atau simbol ungkap, memiliki bentuknya sebagai karya sastra. Lagi-lagi, tulisan ini tak mau menyelami kajian sastrawi secara teoritis, maka ranah ini hanyalah secara fenomenologis sebagai usaha untuk menyingkap makna dari intensionalitas yang terjadi antara pengetahuan saya sebagai subyek dan teks BMG sebagai obyek. Dan yang melulu materialistik, saya pegang saat berada pada material teks BMG, hingga gumam sebagai ungkap dari yang mungkin maknawi menjadi menarik untuk dedekati secara fenomenologis.

Nomena-Nomena dari Panggilan Hermeneutis
Ketika filsuf Etis—yang lagi-lagi dari Jerman—Emmanuel Kant mengabstraksikan sepasang anak permenungan kritisnya (fenomena dan nomena) sebagai identitas dari citra keadaan (fenomena) dan sang ada itu sendiri (nomena), di sini malah mungkin terasa terlalu jauh untuk membawa fenomena Gumam ASA ke dalam telisik esensial. Maka sebelum tulisan ini menjadi kebablasan atau malah terburu-buru membawa kendaraan gumam ini pada jalan raya metafisika-hermeneutis, lebih nyaman jika gumam ini diarahkan kepada tikungan aksiologis, yang menuju lapangan luas nomena. Satu tanah lapang keagungan nilai kemanusiaan yang masih hijau segar di dalam ingatan pembacaan saya atas BMG.

Semacam suara tegas dan jelas yang memanggil diam di sini, untuk mengajak diri bergerak menjelajahi ranah tafsir. Suara itu sebentuk dengan kejelasan dan pilihan ASA dalam menyampaikan idealismenya melalui gumam. Yah, bergumam secara keras kepala, hal ini dipastikan pada kata pengantarnya dalam BMG, bahwa: ”Gumam memang keras kepala…Berjalan pada jalur yang tepat, ditata, dijaga, dan konsisten.”

Manusia bebal yang tak mau menerima kebenaran bisa saja disebut keras kepala, tentu Gumam ASA berada di pihak yang berseberangan dengan kebebalan itu. Keberpihakan pada nilai keadilan sebagai nafas kemanusiaan selalu saya temui di dalam gumam BMG, dalam racik kreatif iramanya. Kadang gumam itu satu frekuensi dengan gelombang musik rock progresif yang irama dan bentuk lagunya tak simetris, penuh lompatan kejutan imajinatif. Kadangkala suara gumam itu laiknya musik heavy metal yang gagah dan berwibawa mengacungkan kepal perlawanan terhadap kesewenang-wenangan tangan penguasa. Sesekali juga bergumam dalam kepedihan notasi blues untuk berimprovisasi perasan dalam memaknai kepedihan luka goresan hidup.

Semua irama ini tersaji dalam ragam bahasa teks Gumam ASA. Hal inilah yang kemudian menjadi interpretasi pendek akan sebuah nomena, atau penafsiran tak panjang akan sebuah nilai dalam sebentuk gumam BMG yang saya jelaskan selanjutnya.

Sebagaimana pihak yang terpanggil karena suara yang tertangkap oleh telinga baca, maka kreativitas fenomena gumam dari ASA sebagai sebuah konsep yang setidaknya fenomenal, juga terdengar lantang memanggil untuk mengunjungi konsep itu. Gumam sebagai bahasa remang-ramang atau tak punya artikulasi yang jelas; hal itu merupakan konsep yang sangat bernafas posmodernis, di mana pusat pengetahuan itu tak sentris di satu titik ideologis. Dan langkah baca telah memenuhi panggilannya dengan gerak hermeneutis yang boleh jadi seperti interpretasi ideologis. Maka bingkai ideologis sebagai rumusan ide-ide pikiran itu saya jadikan sebagai semecam lensa untuk menangkap nomena-nomena yang bertebaran dalam angkasa teks Gumam ASA.

Menajamkan apa yang  saya sebutkan mengenai suara jelas-jemelas yang tertangkap sebagai idealisme dalam Gumam ASA sebelumnya, maka yang pertama kali tertangkap lensa pembacaan saya adalah judul buku itu sendiri, yakni Bungkam Mata Gergaji. Selain dalam tujuh buah gumam yang ditampilkan dalam buku merah itu, khusus dari judul itu, rasanya seperti menggoda untuk langsung menghampiri Gumam Asa bagian tiga, yang berjudul sama dengan sampul bukunya, Bungkam Mata Gergaji. Pada ungkapan awal di gumam bagian tiga ini jelas sekali kritisisme ekologis sebagai bentuk kesaksian terhadap kerusakan alam. Teks pembuka itu seperti ini: ”Hutan rimba raya terlanjur hangus bertunggul-tunggul, sudah sangat gundul…” (hal. 13). Namun tema ekologis itu merupakan pintu metafor  awal yang mengantarkan tangkapan lensa saya pada tema yang lebih aksiologis, yakni yang  saya sebut ironi etis.

Ironi ini sebagai nilai paradoksal dari manusia-manusia yang tentu saja munafik. Manusia yang menyuguhkan semacam air anggur manis untuk dinikmati, tapi air itu sebenarnya  diolah dari darah orang yang disuguhi air itu. Sedangkan sikap etis adalah perwujudan pemahaman norma-norma yang menjadi acuan manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya. Dari norma yang kerapkali tidak dipraktikkan sebagaimana mestinya, maka penyelewengan etika dapat dinamai ironi sikap etis. Satu ungkapan sikap etis yang menggumamkan ironi sebagai bencana yang sangat buruk diberitakan sebagai pesona. Ironi paradoksal yang dimaksud itu berada pada teks: ”…Negeri kitakah yang tiba-tiba menjelma hutan belantara rimba raya sebagai tebaran pesona dari berpuluh penampilan agar tetap menjadi yang terbaik walaupun tengadah kulit tangan keriput tak pernah dihiraukan sampai tuntas…”  (hal. 13).  Bahwa sikap yang berpihak pada kemanusian adalah dasar dari tema ini, dengan segala keberpihakan pada norma yang diasumsikan penanganan krisis sosial pada ungakapan: ”…tengadah kulit tangan keriput tak pernah dihiraukan sampai tuntas…”.

Maka bagaimanalah saya tak terpanggil untuk menjelajah tatapan tajam gumam ASA yang menyerukan untuk membungkam kemunafikan? Sebentuk kritisisme yang digumamkan itu juga selalu menggoda untuk menariknya pada pojok-pojok pemikiran filosofis, yang juga berbumbu racikan interpretasi pendek dalam luapan ideologis. Ideologi yang terasa kuat dalam gumam bagian tiga adalah sebuah sikap radikal, sebuah pandangan idealis yang berakar pada penolakan terhadap segala ketidakadilan dari tangan-tangan penindas dan nafsu keserakahan manusia. Luapan radikal ini tergambar pada simbolisme mata gergaji yang bisa jadi menyimpan filsafat humanisme. Penolakan terhadap prinsip kerja mata gergaji yang memisahkan nilai kemanusiaan sebagai persatuan nilai. Hal ini nampak-terlihat dalam teks: ”Kerja sebuah gergaji adalah sistem bergerak untuk menjadi terpisah, menjadi berseberangan…Sama-sama merasakan luka berkepanjangan, luka dari bungkam mata gergaji” (hal. 21).

Setelah diamku terpotong oleh sikap radikal mata gergaji yang tajam mengkilat dari gumam ASA, kemudian potongan-potongan diam tadi harus mencelat jatuh ke setiap gumamnya. Dari gumam bagian satu yang berjudul ”Luka Merah, Merah Apel” sampai celatan potongan gumam bagian tujuh. Di gumam bagian satu meskipun bertitel Merah Apel, saya hanya melihat merah darah, tidak melihat apel berwarna merah. Entahlah, mungkin apelnya harus sembunyi dalam ladang sejarah yang gila. Ya, gila.

Seperti melanjutkan kilatan mata gergaji si pemotong diam, gumam ”merah” ini menyampaikan bahwa kita, saya dan Anda juga pastinya ASA sendiri, adalah anak-anak sejarah yang harus menyandang luka. Luka yang entah digoreskan oleh siapa. Goresan ini diuangkap ASA langsung menuduh para pendahulu sebagai orang-orang pencipta sejarah yang kini kita terima apa adanya. Dan yang ada hanyalah luka. Tuduhan ASA ini tentu saja sebuah pikiran kronologis, mungkin malah suatu kesadaran historis; bahwa melalui kronologi sejarahlah sebuah pemahaman akan nilai dapat terjadi. Kalau saja iya, nilai yang dimaksud ini berada pada teks: ”Sejarah terukir di atas batu, anak-anak zaman mempertanyakan keberadaannya, atas kehadirannya, mempertanyakan, sangat mempertanyakan…” (hal. 1). Dari kesadaran sejarah ini, bahwa yang lampau menyapa dan bahkan mencengkeram yang kini, kemudian membawa arti pada kesalinghubungan, bukan keterpisahan. Yang lampau itu menyatu dengan kini. Sejarah bukan saja milik para pendahulu, atau masa kini bukan milik kita saja. Dan ASA bergumam secara retoris mengenai kesalinghubungan itu sebagai romantisme sejarah yang arahnya adalah penggalian etos, mungkin semangat perjuangan para nenek moyang kita. Gumam yang bersumber dari rasa kesadaran sejarah itu berada di sini: ”Ini bukanlah sepasukan dari rasa kecewa tetapi lebih dari sekedar rasa curiga…merasakan kembali apa yang pernah dialami oleh para leluhur, dalam masa-masa pertempuran” (hal. 1).

Sampai titik ini, panggilan hermeneutis pada teks Gumam ASA sudah berhasil menggenapkan kilatan mata gergajinya untuk berfungsi sebagai pemotong kestatisan hidup, kediaman pikiran, setidaknya diam saya di sini sebelumnya. Saya menjadi bergerak menafsir ke sana ke mari. Dinamika dalam gumam yang saya tangkap memang dipastikan saya setujui sebagai nomena humanisme, setidaknya pada awalan gumam pada bagian satu sampai tiga. Nomena ideologis dan pandangan filosofis yang bersikukuh pada maksud meninggikan posisi manusia ke dalam jenjang yang semestinya ini, harus dilalui melewati jalan kesadaran sejarah, serta dengan pencerapan faktual seperti misalnya, dari tema ekologis sebagai kerusakan alam. Nilai-nilai kemanusiaan sebagai idealisme ASA itu juga harus melewati jalan ironi etis yang dipakai untuk membenturkan sebuah paradoksal manusia. Seperti pada segala kemunafikan dan nafsu keserakahan yang terus berlangsung di sekitar kita.

Lalu, pada satu sudut, saya mengamini potret kekinian dan aroma futuristik dalam gumam bagian kedua, khusus dalam teks ”dalam perang dunia yang akan datang”. ASA bergumam terka: ”Perang dunia yang kan datang semakin membingungkan karena terkadang antara musuh itu sendiri tidak saling mengenal, tidak tahu identitas lawan-lawannya” (hal. 7). Pada bagian itu, gambaran anarkis dari isme-isme atau pegangan keyakinan dan pengharapan yang berlangsung pasca Revolusi Industri di Eropa seperti memisahkan pihak-pihak, seperti menceraikan falsafah-falsafah kategoris menjadi kesatuan absurd yang bernama Globalisasi. Segala intensitas dan identitas tak bisa lagi ditengarai secara fenomenologis, apalagi ideologis. Karena segala fenomena pada manusia sebagai nomena yang tak selesai didentifikasi sampai hari ini, selalu menipu dengan cara tak terduga secara kilat kedip mata.

Alih-Alih Penutup
Sebagai yang saya alih-alihkan untuk dijadikan penutup tulisan ini; ketidakselesaian penyingkapan yang saya lakukan adalah dasarnya. Bagaimana mungkin sasuatu yang bergerak dinamis seperti mata gergaji yang memotong penafsiran statis akan mampu teringkap nomenanya, nilainya, maknanya, spiritnya, atau bahkan hakikatnya secara statis. Dari tujuh bagian gumam yang terpampang dalam Bungkam Mata Gergaji bersampul merah itu, satu awalan sudah saya singkap nomenanya seperti jelajah hermeneutis pada uraian sebelumnya. Keberlanjutan nomena yang terkandung pada bagian lainnya, terserahlah khalayak yang akan meneruskannya. Agar usaha singkap ini tak menjadi gumam yang lain di samping Gumam ASA. Atau, jangan-jangan tulisan ini sudah menjadi anak ideologis gumam ASA secara perlahan? Entahlah…

Sumasno Hadi: Kayutangi, Senin, 18 Februari 2013

tentang blog iniTulisan berjudul "Resensi Buku Gumam Asa, Bungkam Mata Gergaji" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (7 Maret 2013 @ 05:56) pada kategori Fiksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 13 komentar dalam “Resensi Buku Gumam Asa, Bungkam Mata Gergaji

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *