Home » Cerpen » Perempuan di Lambung Kota

Perempuan di Lambung Kota

Cerpen Adek Alwi
Dimuat di Suara Karya (05/02/2009)

PEREMPUAN itu sudah lenyap ditelan Jakarta, justru di depan mataku pula. Padahal tengah kubangun bulan di wajahnya, agar kami dapat mandi cahaya purnama di suatu kota yang serba tidak tergesa-gesa. Dan bercakap-cakap berdua dengan suara rendah tentang hidup sehari-hari, anak-anak, para sahabat, tetangga ataupun sanak-famili.

Selama ini tak pernah lagi aku dan perempuan itu merasakan lembutnya sinar bulan seperti pada masa kanak-kanak kami yang semakin jauh. Sekalipun purnama, bulan telah menjelma bulatan kemerahan megap-megap di balik mendung jelaga. Dan aku pun, demikian pula perempuan itu, sudah tidak punya waktu untuk menatapnya. Hidup yang senantiasa bergegas menorehkan penat-penat yang tidak usai pada tubuh; semua seolah terampas, menyisakan pikiran suntuk dan jiwa yang menggapai-gapai.

Maka pada wajah perempuan itu kubayangkan pula sebuah rumah; tak terlalu besar tetapi memiliki pekarangan yang lapang-luas serta teduh oleh pohon-pohon. Di pekarangan itu anak-anak berlarian mengeluarkan suara-suara riang, dan bunga-bunga tumbuh bermekaran. Pekarangan, semerbak harum bunga, suara riang kanak-kanak itu harmoni yang akan kau jumpai jika bertamu ke rumah itu. Kau tentu datang dari muka rumah, dari ruas jalan yang tidak pernah padat dijejali kendaraan. Udara segar, angin sesekali merendah. Semua berisi oksigen yang tidak tercemar.

Di teras rumah itu aku dan perempuan itu berbincang malam-malam, diterangi sinar bulan. Sulur-sulur cahaya bulan terasa lembut membelai kulit. Dan aroma bunga merebak dibawa angin yang mendesis. “Bahagia rasanya melihat bulan memancarkan cahaya tanpa sesuatu yang menghalang,” demikian perempuan itu berkata, bak suara bisik. Suaranya lunak lancar, bebas dari rupa-rupa himpitan, sehingga waktu mengalir dengan ringan. Senyum serta sinar matanya mentari pagi yang menyalakan semangat serta harapan, melumerkan penat-penat seperti lemak meleleh jadi peluh pada tubuh. Sesungguhnyalah ia bukan sekadar wanita tetapi sekaligus perempuan. Karena itu aku berulang-ulang berharap dalam hati, “Teruslah memandang, terus senyum kepadaku, wahai perempuan.”

Sedangkan suara kanak-kanak yang riang itu akan senyap di malam hari, saat mereka terlelap memperlihatkan wajah-wajah yang damai. Atau pada pagi hari, ketika keduanya pergi sekolah. “Aku ingin anak-anak sekolah sampai tinggi.” Perempuan itu berkata seolah-olah memancangkan tekad pada diri sendiri. Jari-jarinya membetulkan selimut anak-anak, dipandangnya mereka berganti-ganti, serta dirapikannya rambut anak perempuan yang tergerai ke pipi.

“Aku pun begitu,” kubilang. “Aku tidak ingin mereka putus sekolah, apalagi tidak bersekolah sama sekali.”

Perempuan itu menunduk.

“Tidak patut kau sangsi,” kataku membujuk.

Dia tetap menunduk. “Dan mereka tidak tumbuh di lingkungan kumuh pengap yang mengerdilkan jiwa,” ujarnya.

“Bukankah sudah kita miliki lingkungan yang tidak demikian?” bisikku seraya memandangnya dengan sayang.

Perempuan itu diam lagi. Kemudian mendadak ia menoleh ke arahku. Di sinar matanya kelihatan dia bayangkan lingkungan yang didamba; yang memungkinkan jarak pandang menjadi maksimal, tidak patah-patah pendek disergap tembok, rumah, gedung-gedung serta manusia. Termasuk aktivitas manusia dewasa, yang tidak patut dilihat anak-anak. Lingkungan yang memberi istirahat pada telinga dari segala hiruk-pikuk, sekaligus menghadirkan variasi-variasi bunyi: gemericik air, kicauan burung, desau angin pada daun, juga suara jangkrik. Sedangkan telapak kaki dapat merasakan hangat tanah dan rumput, bukan cuma beton yang dingin beku.

Kemudian aku lihat mata perempuan itu memancarkan cahaya, seakan yang didamba telah menjadi nyata. Cahaya itu merambat pada bibir, pipi, wajah yang oval, rambut, lengan dan akhirnya sekujur tubuh perempuan itu memancarkan cahaya, gilang-gemilang. Mataku terbelalak takjub menyaksikan dari balik kuduk dan ketiak orang-orang yang berjejal di dalam bus kota. Aku terpesona. Sungguh terpesona!

Akan tetapi penumpang bus kota tak seorangpun yang peduli, bahkan sewaktu cahaya perempuan itu mencemerlangi seisi bus, dan membersit ke luar, kilau-kemilau. Seperti biasa orang-orang sibuk dengan pikiran-pikiran yang memberat, penat yang tak kunjung usai. Bus kota sesak dengan orang yang naik di setiap halte. Dan kernet terus berteriak, “Kota! Kota! Kosong, kosong!”

Aku tidak tahu di halte mana perempuan itu menyetop bus lantas naik. Sejak kapan dia berdiri di bagian depan, terselip di sela-sela penumpang, serupa mawar di tengah-tengah semak dan ilalang. Situasi dan kondisi dalam bus kota, kau tahu, tidak memungkinkan kita mengedar pandang ke mana-mana. Hidung dan mataku beberapa senti saja dari tubuh, kepala, maupun ketiak manusia. Lagi pula, mau apa jelalatan? Lebih baik terus menggantung dan merem, melerai penat. Tapi, jangan tidur, waspadai dompet, jaga kakimu agar tidak menginjak jempol. Jadilah patung pada sepetak ruang seukuran dua telapak kaki hingga kau tiba di halte tujuan!

Bus terus menyeret diri serupa kerbau bunting di jalan panas berdebu. Jalanan padat. Di kiri kanan berjajar rapat gedung-gedung menjulang; kotak-kotak tinggi yang menghalangi bulan dan matahari. Sudah sampai di mana? Sudirman? Thamrin?

Perempuan itu masih terselip di tengah-tengah penumpang, serupa mawar di gerumbul semak dan ilalang. Mata, bibir, wajah dan sekujur tubuhnya memancarkan cahaya. Tidak ada yang peduli. Tidak ada penumpang melihat cahaya itu, selain aku. Apakah cahaya ini yang dilihat Ken Arok memancar dari tubuh Ken Dedes? Ah. Aku ingat ibu yang risau di kampong, karena anaknya masih membujang di usia tiga puluh lima. Tidak gampang cari jodoh di Ibu Kota, ibu! Jodoh yang kau tawarkan pun akan menuai derita hidup di Jakarta, bagai laron menemukan celaka pada lampu!

Tetapi, perempuan itu? Sudah dua kali kulihat dia di sela-sela penumpang, bak mawar di tengah semak dan ilalang. Apakah baru dua kali dia naik bus jurusan ini? Atau setiap hari, seperti aku, tetapi dengan bus berbeda? Ah. Sungguh tak tahu aku di halte mana dia naik dan turun. Penumpang selalu sesak menghalangi penglihatan.

Namun kini aku tidak akan lengah. Tidak akan kulepaskan dia walau sekejap, meskipun harus menyeruak di ketiak penumpang. Aku harus mengenalnya. Sudah dua kali kulihat cahaya gemilang memancar dari tubuhnya, bagai cahaya yang dilihat Ken Arok pada Ken Dedes. Pada wajahnya sudah kulihat bulan, juga rumah berpekarangan lapang, anak-anak, serta bunga-bunga bermekaran.

Dan cahaya perempuan itu seolah-olah membantuku mengikutinya. Sewaktu mataku terhalang oleh penumpang, masih kulihat dia di bagian depan. Lalu bahunya bergeser, beringsut, mendekati pintu. Sejurus kemudian bus bergoncang. Berderit. Berhenti mendadak. Penumpang oleng serempak. Dan perempuan itu loncat ke halte.

Aku menyeruak di sela-sela penumpang. “Tunggu! Stop! Stop!” Terdengar gerutuan akibat kaki terinjak, rusuk tertikam sikuku. Kernet berteriak, “Kasih jalan! Kasih jalan! Geser, geser!” Aku terus menyeruak serupa babi menguak semak-semak. Bus bergetar lagi. Aku loncat. Hup. Kaki kiriku mendarat mulus di halte, disusul sol sepatu kanan. Tapi perempuan itu telah berkelebat masuk halaman gedung menjulang. Aku bergegas. Begitu aku sampai di depan gedung menjulang, dia telah menyelinap ke dalam. Lenyap.

Aku longak-longok di lobi gedung. Namun perempuan itu sudah tidak tampak. Kudekati lift gopoh-gopoh. Saat itulah pangkal lenganku dijepit jari-jari yang kuat, disertai suara berat, “Mau apa kamu, ha?!” Aku menoleh, dan kujawab pertanyaan itu sembari meringis.

“Perempuan?” Petugas keamanan itu balik bertanya, matanya menatap curiga.

“Yang baru lewat.”

“Banyak yang lewat. Mau apa kamu, ha?!”

“Cuma bertemu. Hm, kawan kawan lama.”

Ia tatapi tas yang kusandang. Tiga lelaki kekar mendekat. Jantungku berdebar. Buru-buru aku bilang, “Sudahlah, kalau Bapak tidak melihat.”

“Eit, tunggu dulu! Tidak bisa begitu!”

Jantungku makin berguncang. Seseorang menjepit lenganku kembali dengan jari-jari sekuat tang. Satu orang memeriksa seantero tubuhku dengan detektor. Yang lain nanap mengawasi. “Apa dalam tas?!” Alamak. Dicurigai mereka pula awak bawa bom.

Sementara itu, orang-orang sudah berkerumun di sekeliling kami. Berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk ke arahku. Tasku digeledah. Isinya dikeluarkan: ransum makan siang, handuk kecil, dan berkas pekerjaan yang aku kerjakan di rumah. Tetapi, urusan belum selesai. KTP-ku diperiksa pula. Ditanya lagi namaku, alamat, pekerjaan. Benar-benar petugas keamanan yang berdedikasi. Sayang, bom tidak henti meledak di berbagai tempat.

Hampir pukul sebelas siang ketika aku dilepaskan dari gedung menjulang tinggi itu. Tubuhku loyo, kuyup berpeluh. Jam masuk kantor telah menguap ke langit Jakarta yang garing.

Tegak di halte dikerumuni debu, di mataku menyeringai Bu Personalia yang berdisiplin teguh. “Macet?! Artinya, otak dan jiwa Saudara tinggalkan di kampung! Badan tok yang belasan tahun digotong-gotong ke Jakarta. Uh!”

Aku menunduk, sia-sia membantah.

“Berangkat lebih pagi!” teriaknya menggeletar. “Atau, tengah malam saja sekalian!” Juga, bakal sia-sia menyebut-nyebut rumah di perkampungan kumuh padat di pinggir kota. Di dalam gang melingkar-lingkar tidak ubahnya mi. Gotnya hitam muara segala bau, padat sesak sepanjang waktu oleh manusia yang tidak henti memproduksi anak serta rupa-rupa suara.

“Saudara kira karyawan perusahaan ini tinggal di Menteng atau di Pondok Indah, hah?! Jangan macam-macam Saudara, ya!”

“He, Saudara sebetulnya masih mau kerja atau tidak, sih!”

Tentu saja masih. Aku loncat ke dalam bus, menggantung serupa kera. Alasan keterlambatan belum kudapat. Dan perempuan itu muncul lagi. Ah. Sudah dua kali dia kulihat memancarkan cahaya gemilang. Di wajahnya kulihat bulan, rumah dengan pekarangan yang lapang, anak-anak, dan bunga-bunga yang subur bermekaran.

Bus terseok-seok menyeret diri di bawah matahari Jakarta yang garang. Debu menyerbu. Penumpang membisu, digayuti pikiran-pikiran yang memberat, penat yang tak kunjung usai. Dan, alasan ketelatan belum kudapat. Boleh jadi nanti, menjelang tiba di kantor. Tapi, mungkin pula tak akan ada lagi, bagai kesempatan bersua dengan perempuan itu. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Perempuan di Lambung Kota" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (5 Mei 2009 @ 07:56) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *