Home | Budaya, Politik, Refleksi, Sastra, Wacana | Meratapi Nasib Bahasa Ibu

Meratapi Nasib Bahasa Ibu

Sunday, 22 February 2009 (02:27) | 1 pembaca | 10 komentar | Print this Article

UNESCO telah menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Pencanangan tersebut diwujudkan dalam bentuk Monumen Martir (Shaheed Minar) di Kampus Universitas Dhaka sebagai bentuk apresiasi terhadap pengorbanan bahasa Bangla, 21 Februari 1952. Sebagai bagian dari masyarakat dunia yang memiliki banyak bahasa Ibu (bahasa daerah), mau atau tidak, bangsa kita perlu melakukan upaya refleksi dan re-evaluasi terhadap keberadaan bahasa Ibu.

Dengan nada sedih, harus kita katakan bahwa keberadaan bahasa Ibu di sebuah negeri yang multietnik dan diglosia seperti di negara kita, nyaris terpinggirkan. Keterpukauan dan euforia globalisasi, disadari atau tidak, telah menumbuhkan sikap apatis terhadap upaya pelestarian dan pengembangan bahasa Ibu. Bangsa kita terlalu silau untuk melihat semua yang berbau global sebagai trend dunia yang mesti dianut. Banyak di antara kita yang lupa, bahwa bangsa kta memiliki banyak nilai kearifan lokal yang luput digali dan dikembangkan lebih jauh menjadi aset budaya bangsa yang agung dan adiluhung.

Berkaitan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional, agaknya perlu ada pemikiran ulang untuk benar-benar menjadikan bahasa Ibu sebagai ikon pemerkaya khazanah budaya bangsa sehingga bangsa kita tak kehilangan kesejatian diri sebagai bangsa yang multikultur dan multietnik. Keterpukauan terhadap globalisasi juga telah menumbuhkan sikap latah dengan mengagungkan penggunaan bahasa asing secara berlebihan. Yang lebih menyedihkan, justru ada upaya sistematis untuk meminggirkan peran bahasa Ibu. Hal itu terjadi dengan munculnya institusi pendidikan yang di-setting dengan menggunakan bahasa asing (baca: Inggris) sebagai bahasa pengantarnya.

Kita tidak antibahasa asing. Justru kita perlu bersikap lentur dan luwes dalam menerima pengaruh bahasa dan kosakata asing sebagai upaya untuk memperkaya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sekaligus sebagai bahasa resmi. Meski demikian, pengabaian terhadap keberadaan bahasa Ibu, sungguh sebuah langkah keliru. Dunia pendidikan yang notabene menjadi agen kebudayaan, perlu menjadi pionir bagaimana seharusnya bersikap dalam menghadapi gencarnya gerusan serta penetrasi budaya asing.

Senyampamg belum telanjur punah, kini sudah saatnya ada kesadaran kolektif bangsa untuk kembali menghidupkan bahasa Ibu sebagai bahasa komunikasi dalam lingkungan keluarga dan di aras lokal. Kesadaran kolektif ini perlu ditindaklanjuti melalui aksi nyata dengan memasukkan bahasa Ibu sebagai bagian kurikulum pendidikan. Tanpa ada upaya serius merevitalisasi bahasa Ibu, maka kepunahan bahasa yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal itu hanya tinggal menunggu waktu. Relakah bahasa Ibu kita mengalami nasib merana hingga akhirnya tak lagi dikenang dan digunakan sebagai bahasa pergaulan dalam konteks komunikasi.

Sungguh, kita akan benar-benar meratap dan berduka seandainya dalam beberapa generasi mendatang, bekas kejayaan bahasa Ibu itu sudah tak lagi terlacak jejaknya.

Kategori: Budaya, Politik, Refleksi, Sastra, Wacana | Tags: ,

Tulisan lain yang berkaitan:

Tidak ada tulisan lain yang berkaitan!
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Meratapi Nasib Bahasa Ibu" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 22 February 2009 (02:27)) pada kategori Budaya, Politik, Refleksi, Sastra, Wacana. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

10 Responses to "Meratapi Nasib Bahasa Ibu"

  1. wahyubmw says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    Usul pak, anak2 diajari bahasa Ibu, sebelum bahasa Ibu di UAN kan …hiks

    Baca juga tulisan terbaru wahyubmw berjudul BEREBUT ….

  2. marshmallow says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    duh, tulisan ini membuat saya benar-benar miris.
    saya mungkin salah seorang yang tidak turut melestarikan bahasa ibu karena jarang menggunakannya sehari-hari. mungkin lingkaran setan juga, sebab saya memang tidak diperkenalkan dengan berbahasa itu secara aktif sejak kecil. giliran sekarang ingin menggunakannya, sering mendapat cemoohan karena nggak pas atau logatnya aneh dan lucu. salah saya mungkin karena cepat menyerah dengan olok-olok itu ya, pak?

    saya juga tak bisa membayangkan kalau bahasa daerah kita yang kaya akhirnya punah karena orang tak lagi bangga menggunakannya.
    di daerah sumbar sendiri, jujur saja, anak-anak (modern) tidak lagi dibiasakan menggunakan bahasa daerah di rumah dengan dua alasan utama:
    1. bahasa daerah toh akan dikenal anak-anak di lingkungan sekolah dan pergaulan di luar rumah, jadi tidak perlu diperkenalkan lagi di rumah tangga, dan
    2. anak-anak musti pula dibiasakan berbahasa indonesia agar logat indonesianya tidak “aneh” dan kampungan.

    saya sendiri tidak anti semua bahasa. tapi seperti tulisan pak sawali, sayang sekali kalau kekayaan negeri kita dalam berbahasa ini hilang karena kita lebih cenderung menggunakan bahasa yang global.

    Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul Kabut Kintamani

  3. Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    bahasa ibu ibarat arsip yang disepelekan sebagian orang…….

    Baca juga tulisan terbaru Nyante Aza Lae berjudul Cinta dan Jablai

  4. endar says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    jebul pertamax ya.. hore..

    Baca juga tulisan terbaru endar berjudul Kesederhanaan yang perlu saya teladani.

  5. endar says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    tentu kita tidak rela pak bahasa kita punah. saya pernah membaca suatu artikel tapi agak lupa, bahwa tiap tahun ada bahasa yang punah ditelan jaman. mungkin ini adalah efek dari gombalisasi. yang artinya bahwa akan ada keterikatan antar bangsa atau antar manusia dimana batasan wilayah, bahasa, dll menjadi bias

    Baca juga tulisan terbaru endar berjudul Kesederhanaan yang perlu saya teladani.

  6. Sawali says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    iya, bener banget, mas endar. kalau ndak ada upaya revitalisasi, pelan tapi pasti keberadaan bahasa ibu (termasuk bahasa jawa) bisa musnah ditelan gelombang globalisasi.

  7. Sawali says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    @endar,
    hehehe … ndak susah utk komen vertamax di blog ini kok, mas endar.

  8. Sawali says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    @Nyante Aza Lae,
    wah, bagus juga tuh ungkapannya, mas kurnia.

  9. Sawali says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    @marshmallow,
    merevitalisasi bahasa ibu tdk berarti “alergi” terhadap bahasa asing, mbak yulfi, hehehe … sebagai masyarakat multibahasa, agaknya generasi masa depan negeri ini juga akan lebih bagus kalau mereka mampu menguasai 3 bahasa, bahasa ibu, nasional, dan asing.

  10. Sawali says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    @wahyubmw,
    hehehe … kalau bahasa ibu agaknya mustahil di-UN-kan, pak wahyu, karena setiap daerah memiliki bahasa ibu yang berbeda-beda.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (72 queries: 0.658 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP