Drama Eksekusi yang Tragis Itu

Usai sudah drama eksekusi itu. Minggu dini hari (9 November 2008), pukul 00.00 WIB, tiga anak muda –Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra (A2I)—yang selama ini dikenal sebagai mujahid oleh keluarga dan para pengagumnya itu akhirnya menghembuskan napas yang terakhir. Tiga butir serbuan timah panas yang digelontorkan oleh regu tembak Satuan Brimob Polda Jawa Tengah telah cukup membuat roh mereka terpisah dari jasad. Lembah Nirbaya Nusakambangan menjadi saksi kematian tragis yang menimpa terpidana mati Bom Bali I itu.

a2i

Berita itu dengan cepat tersebar ke seantero dunia. Kemajuan teknologi agaknya telah mampu mengendus berbagai peristiwa yang tersembunyi di kolong yang tak tercantum dalam peta sekalipun dengan begitu cepat. Moncong-moncong piranti teknologi telah sanggup memendekkan jarak secara lintas geografis.

Kita tak tahu pasti bagaimana perasaan publik dunia begitu mendengar berita tragis itu. Siapa pun orangnya, pasti tak menginginkan kematian semacam itu. Nyawa senantiasa berada di bawah ancaman moncong senjata. Kita juga tidak tahu, bagaimana perasaan A2I begitu mendengar vonis eksekusi. Senang dan bahagia? Atau justru gelisah dan stress? Wallahu’alam.

Namun, melihat wajah A2I yang masih sanggup tersenyum sumringah menjelang ajal menjemput, sepertinya mereka tak terlalu risau. “Doktrin jihad” yang mereka yakini sebagai jalan kebenaran, agaknya telah membuat mereka mengalami puncak ekstase dalam proses menuju kematian.

Ya, ajal, memang bisa datang kapan dan di mana saja. Tanpa pandang bulu. Bisa jadi, ajal dirahasiakan Tuhan agar manusia selalu siap untuk menyongsongnya sehingga berbalik jalan menuju “jalur lurus”. Dalam konteks ini, A2I mungkin termasuk “beruntung” karena bisa dengan jelas mengikuti detik-detik kematiannya. Sebelum tubuhnya roboh mencium tanah akibat tikaman timah panas, bisa jadi mereka telah menyiapkan bekal menuju ke alam keabadian dengan cara membersihkan diri dari tumpukan dosa yang mungkin pernah mereka lakukan. Mereka bisa saja menangis ketika ingat bom yang diledakkannya di Bali ternyata berdampak luas. Tak hanya korban yang meninggal, tapi juga mereka yang mengalami trauma berkepanjangan.

Namun, sekali lagi kita juga tak tahu, apakah vonis eksekusi telah membuat A2I terbuka ruang kesadarannya untuk mencintai sesama? Apakah inti makna rahmatan lil’alamiin yang memancarkan semangat kedamaian dan kerukunan hidup benar-benar telah diucapkan secara lisan, diyakini dalam hati, dan diamalkan dalam segala sikap dan perilaku menjelang ajal tiba? Kita hanya bisa berharap semoga tak lagi muncul kekerasan dengan dalih dan motif apa pun. ***

Tulisan lain yang berkaitan:

Hari Ibu dan Nasib TKW yang “Ternistakan” (Thursday, 22 December 2011, 1,521 pembaca, 46 respon) Hari ini, Kamis, 22 Desember 2011, seharusnya kaum perempuan di negeri ini terbebas dari segala macam bentuk kekerasan dan penindasan. Pada hari yang...
Menggelorakan Semangat “Historia Vitae Magistra” (Monday, 12 December 2011, 1,276 pembaca, 11 respon) Ada yang menarik dalam bedah Kumcer Nyanyian Penggali Kubur (NPK) karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) yang digelar Kebun Sastra Kendal di Balai...
Di Balik Kematian Muammar Khadafi (Friday, 21 October 2011, 3,000 pembaca, 32 respon) Apa respon dunia begitu mendengar kematian Muammar Khadafi? Ya, ya, selalu saja muncul dua sikap yang kontras; empati atau antipati, di balik...
Ada apa dengan Kandidat Intelektual Kita? (Saturday, 24 September 2011, 2,067 pembaca, 44 respon) Untuk ke sekian kalinya dunia pendidikan kita kembali tercoreng ulah kaum pelajar dan mahasiswa yang mempraktikkan aksi premanisme dan bar-bar. Para...
Bimasena: Antara Keperkasaan dan Kelembutan Hati (Tuesday, 24 May 2011, 2,671 pembaca, 22 respon) Penduduk Ekacakra resah. Mereka hidup dalam tekanan dan ketakutan. Maut mengintai dari berbagai sudut kampung dan kota. Bau teror dan kekerasan...
tentang blog iniTulisan berjudul "Drama Eksekusi yang Tragis Itu" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (10 November 2008 @ 03:09) pada kategori Refleksi, Religi dan telah dikunjungi oleh 1 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: