Home | Budaya, Opini, Refleksi, Sastra | Mereka adalah Anak-anak yang Memiliki Dunianya Sendiri

Mereka adalah Anak-anak yang Memiliki Dunianya Sendiri

Wednesday, 20 February 2008 (00:28) | 524 pembaca | 46 komentar | Print this Article

Masih ingat lirik Kahlil Gibran yang menyentuh dan mengharukan itu? Coba simak saja deh!

Anakmu Bukan Anakmu

Anakmu bukan anakmu
Mereka putra putri yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kauberikan rumah untuk raganya,
tapi tidak untuk jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat boleh kaukunjungi sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun, jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. ***

Bandingkan juga “petuah” Dorothy Law Nolte berikut ini!

Dari Lingkungan Hidupnya Anak-anak Belajar…

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar menentang.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar jadi penyabar.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan terbiasa berpendirian. ***

Kenapa tiba-tiba berbicara soal anak? Yap, anak-anak merupakan bagian dari sebuah siklus kehidupan sebelum mereka akrab dengan peradaban yang menyentuhnya. Mereka memiliki sebuah dunia yang “mandiri” dan “otonom”. Mereka memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk mengekspresikan naluri dan dunianya. Ketika kemerdekaan mereka dirampas, sama saja kita telah berbuat “biadab” kepada mereka; anak-anak zaman yang kelak akan menorehkan tinta sejarah yang memfosil dalam labirin kehidupan.

(Wakakaka … ini anak saya ke-3 yang biasa bermain-main dengan benda-benda “murahan” yang selalu *halah* diakrabinya. Gambar diambil ketika sekitar rumah dikepung banjir, sehingga “malaikat kecil” itu lebih suka mengekspresikan diri dengan benda-benda bututnya).

(Gambar ini diambil 4 bulan yang silam ketika dia siap-siap mengikuti lomba drum-band bersama teman-teman sekelasnya yang duduk di TK 0 besar. )

Postingan ini juga saya persembahkan buat Mas Samsul, bloger dari Ngawi, yang sedang berbahagia menyambut kelahiran putri pertamanya yang cantik dan imut-imut pada hari Sabtu, 16 Februari 2008 pukul 09.55 WIB yang lalu. Alhamdulillah, semuanya lancar dan sehat. Jadi ikut senang dan bahagia, hehehe :lol: Semoga, kelak bidadari jelita itu menjadi putri yang salehah, taat beribadah, berbakti kepada kedua orang tua, berguna bagi nusa, bangsa, negara, dan agama, amiin. *Halah, ungkapan klasik* BTW, sudah dapat nama yang bagus buat putrinya belum, Mas Sam? Ok, selamat menjadi ayah yang baik bagi putri tersayang dan suami yang setia kepada dua istri tercinta.

Lirik Kahlil Gibran dan “petuah” Dorothy Law Nolte itu bagus juga loh untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak kita agar menjadi anak-anak kehidupan yang sesungguhnya. ***

Kategori: Budaya, Opini, Refleksi, Sastra | Tags: , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgVirtual Host Berbasis Open Source untuk Pembelajaran Interaktif dan Mencerdaskan (Monday, 19 October 2009, 641 pembaca, 133 respon) Selama dua hari (Sabtu dan Minggu, 17-18 Oktober 2009), saya mengikuti pelatihan “Pembelajaran Internet Berbasis Open Source Tanpa Internet” di SMA Muhammadiyah Weleri, Kendal, yang menghadirkan Mas Reza Ervani dari Rumah Ilmu Indonesia sebagai...
imgProstitusi Pelajar dan Beban Sosial Bangsa (Saturday, 28 February 2009, 1,628 pembaca, 114 respon) Berita “Metropolitan” Kompas (27/2/2009, halaman 27) sungguh menyentakkan nurani kita. Sebuah jaringan prostitusi yang ”menjual” pelajar SMP dan SMA sebagai pekerja seks komersial (PSK) berhasil dibongkar aparat. Dalam berita itu dikabarkan, tiga...
imgBanjir! (Monday, 9 February 2009, 2,875 pembaca, 178 respon) Minggu hingga Senin, 8-9 Februari 2009, Kendal, Jawa Tengah, terendam banjir. Praktis bah yang terbilang cukup besar di bulan kedua Tahun Kerbau ini (nyaris) melumpuhkan aktivitas warga. Meski tak sampai masuk rumah, keberangkatan saya ke LPMP Semarang...
imgPertemuan Tak Terduga dengan Sahabat-Sahabat TPC (Wednesday, 28 January 2009, 1 pembaca, 36 respon) Sungguh, saya terharu ketika dikontak Pak Gempur, Minggu sore, 25 Januari yang lalu. Masih berada di wilayah Gunung Kelir dalam rangkaian “Ziarah Wali Bloger Timur-Tengah”, beliau menyampaikan keinginan mengajak teman-teman dari TPC Surabaya untuk...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Mereka adalah Anak-anak yang Memiliki Dunianya Sendiri" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Wednesday, 20 February 2008 (00:28)) pada kategori Budaya, Opini, Refleksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

46 Responses to "Mereka adalah Anak-anak yang Memiliki Dunianya Sendiri"

  1. Menggunakan Firefox 3.0.5 Firefox 3.0.5 pada Windows XP Windows XP

    Benar pak…. Anak hanyalah amanah Allah yang harus dijaga dan diberi pendidikan yang baik. Anak bukan milik kita… Jadi kita hanya mengarahkan yag terbai buat mereka bukan menjadikan mereka seperti kita..hehehe…..

    Baca juga tulisan terbaru afrianti takaful berjudul Bedanya Asuransi Murni Proteksi dengan Investasi

  2. tomy says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.12 Firefox 2.0.0.12 pada Windows XP Windows XP

    yap Pak sebagai orang tua kita emang sperti Kahlil Gibran hanya merntang busur dengan penuh doa & usaha terbaik dari kita :D
    tidak untuk diarahkan pada suatu sasaran sesuai keinginan kita, krena mereka punya dunianya sendiri, mereka berdaulat atas hidup mereka tidak boleh dibelenggu oleh keinginan ortunya. orangtua berharap yang terbaik bagi anaknya namun jangan sampai merenggut kehidupan mereka

    tomy’s last blog post..MERINGKUS TUHAN

    ooo
    yup, sepakat banget, pak tomy. makasih.

  3. Menggunakan Firefox 2.0 Firefox 2.0 pada Windows XP Windows XP

    Khalil Gibran memang selalu inspiring dan nggak pernah basi, biar pun kita sudah ribuan kali membaca sjak-sajak dan prosa-prosanya.

    Kalau “ajaran” Gibran, penyair Lebanon yang besar di Amerika itu, kita gabungkan dengan “etika didaktika” dari Jepang, maka bakal saling melengkapi antara kekuatan semangat dan kecermatan tehnik.

    Yang kumaksud “etika didaktika” dari Jepang adalah Reiki dan inspirasi dari buku Totto-chan yang legendaris itu. Reiki mengajarkan pada kita bahwa jika seorang anak menjadi sasaran pelecehan oleh teman-temannya di sekolah, pastilah karena di rumah pun dia dilecehkan. Hal-hal semacam itulah. Bahkan sikap batin orang tua yang kurang baik terhadap anak, ternyata terdeteksi oleh batin si anak dan mempengaruhinya.

    Sedangkan dari Totto-chan kita mendapat inspirasi mengenai pendidikan yang mengembangkan karakter manusia; kebalikan dari pendidikan sekarang ini yang bersifat dehumanisasi.

    Congrat untuk Pak Sawali, tulisannya sangat berbobot, inspiratif namun renyah dan lezat. Salam.

    Robert Manurung’s last blog post..Ibu Segala Zaman : Ny Tiara Simandjuntak (1)

    000
    yup, sepakat banget bung robert. wah, salut banget nih, komen bung robert selalu memberikan pencerahan baru ttg masalah pendidikan. totto-chan yang belajar di gerbong2 kereta itu, wew… justru malah dapat pendidikan yang bener ttg karakter building. ok, makasih mbanget bung robert pencerahannya.

  4. suci says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    how sweet :) kayaknya ngurus anak emang repot yah
    btw lam knal

    suci’s last blog post..gigit!

    ooo
    wew … kayaknya begitu deh. yap, salam kenal juga, mbak suci! makasih kunjungannya.

  5. Ina says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.3 Firefox 2.0.0.3 pada Windows XP Windows XP

    :D Makasih pak….
    ini jadi tabungan saya buat nanti kl dah punya anak.
    *sok calon aja blm punya.

    :D

    Ina’s last blog post..Time OuT…!

    ooo
    makasih banget ina kalo ternyata ada manfaatnya, hehehehe :lol: btw, masyak belum punya calon sih? yang bener aja, ina?

  6. Nazieb says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.12 Firefox 2.0.0.12 pada Windows XP Windows XP

    Weleh, anaknya mirip ayahnya ya…
    *ya tentu aja lah!!!

    Hmmm.. jadi ingin punya anak :P

    *mohon maaf sedang stress jadi komennya OOT banget

    Nazieb’s last blog post..Breaking the Rule

    ooo
    gpp, mas nazieb. kok stress, emangada apa mas? yang sabar dulu yak!

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (120 queries: 0.858 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP