Jumat, 31 Oktober 2014

Wednesday, 19 December 2007 (10:53) | Opini | 17200 pembaca | 4 komentar

Hampir saja lupa kalau tanggal 20 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial. Sebuah momen penting yang diabadikan berdasarkan peristiwa bersejarah ketika terjalin kemanunggalan TNI dan rakyat persis sehari setelah agresi militer Belanda, 19 Desember 1948. Kekuatan sipil dan militer “berkolaborasi” ke dalam sebuah aksi patriorik yang terus menjalar dari kampung ke kampung, hingga akhirnya mampu mengenyahkan kekuatan kaum kolonial. Rakyat memberikan apa saja yang mereka punya untuk mendukung militer. Rakyat dari semua golongan turut bertempur, menolong, dan merawat para prajurit yang terbunuh maupun terluka. Sementara itu, kaum militer dengan amat sadar membangun dan mengawal kesetiaan nurani untuk selalu dekat dan mengayomi rakyat.

59 tahun sudah momen historis itu berlalu. Ibu pertiwi telah melahirkan anak-anak bangsa dari generasi ke generasi. Peristiwa demi peristiwa pun terus bergulir membentuk mozaik kehidupan. Seiring dengan itu, masyarakat kita yang dulu begitu kuyup dengan nilai-nilai kesetiakawanan sosial, disadari atau tidak, makin abai, bahkan cenderung cuek terhadap nilai-nilai komunal. Serbuan egoisme dinilai telah menghanguskan kebersamaan dan kesetiaan dalam menjalin komunitas. Bagaimana tidak? Tahu kalau negeri ini masih dihuni oleh jutaan rakyat yang dililit kemelaratan, masih ada juga oknum yang tega menilap Raskin (Beras untuk Rakyat Miskin). Tahu kalau para korban bencana alam amat butuh uluran tangan, ketika bantuan datang, eh, diembat juga. *Aduh!*

Masih adakah ruang dan space di negeri ini bagi nilai-nilai kesetiakawanan sosial untuk bersemayam? Masih bergetarkah gendang nurani kita saat melihat saudara-saudara kita yang terpaksa harus mengais sisa-sisa nasi di tong sampah karena tikaman nasib?

*Refleksi mode on*

(Saya sangat berterima kasih kepada sahabat saya yang sangat saya hormati, * tetapi maaf tidak perlu saya kemukakan identitasnya, yang telah berkenan menegur kebiasaan makan saya yang jelek yang masih suka menyisakan nasi di piring. Bener-bener saya terharu. Merinding. Saat itu juga, dalam layar memori saya berkelebat jutaan petani yang bermandi keringat dibakar terik matahari untuk “menghidupi” perut kita. Juga saudara-saudara kita yang tak henti-hentinya mengais sisa-sisa nasi di tong-tong sampah. Pengalaman itu saya ceritakan kepada istri dan ketiga anak saya, juga saya tularkan kepada murid-murid saya. Saya lihat mata mereka memerah, menahan rasa haru. Betapa teguran sahabat saya itu telah mampu membuka mata hati saya, keluarga saya, dan mungkin juga murid-murid saya untuk selanjutnya kelak saya berharap mereka menuturkannya juga kepada anak cucu.)

*Refleksi mode off*

Masih berpura-pura tidak tahukah kita ketika banyak saudara kita yang harus berbulan-bulan mengungsi lantaran tempat huniannya ditenggelamkan oleh lumpur Lapindo? Masih tegakah kita mengeluarkan janji-janji untuk memenuhi uang ganti rugi, sementara kita dengan seenaknya memarkir uang di bank demi kita tilap bunga dan buahnya?

Sementara itu, pada tanggal yang sama, 20 Desember 2007, kita juga diingatkan kisah pengorbanan Ismail yang telah memfosil dan menyejarah dalam benak kita yang kemudian diabadikan sebagai Hari Raya Qurban.

Meminjam tulisan Swastioko Budhi Suryanto, dalam Surat Ash Shaffat ayat 104-107 dijelaskan bahwa ibadah qurban berawal dari sebuah mimpi Nabi Ibrahim Alaihi Salam yang menggambarkan dirinya menyembelih putra tercintanya, Ismail sebagai bentuk persembahan dan bukti cinta kepada Allah SWT. Ibrahim sangat cemas, tetapi sang putra justru sangat bersemangat dan ikhlas bersedia menjadi qurban untuk disembelih. Meski pada akhirnya Allah tidak memperkenankan pengorbanan manusia, dan Ismail diganti dengan seekor domba yang dibawa langsung oleh Malaikat Jibril.

Dalam pemahaman awam saya, jatuhnya momentum bersejarah dalam waktu yang bersamaan, bisa jadi sebagai “teguran” Sang Pencipta terhadap bangsa kita yang selama ini sudah telanjur asyik-masyuk dalam lingkaran hipokrisi, kepura-puraan, bahkan kebohongan. Kita sedemikian mudahnya berpura-pura miskin ketika beradu kening dengan seorang pengemis dan kaum dhuafa. Bahkan, jika perlu menghardiknya dengan umpatan-umpatan vulger. Sebaliknya, kita bisa dengan pongahnya berpura-pura kaya ketika menjalin relasi dengan orang-orang berkantong tebal. ***

—————————

Mohon maaf, saya sedang belajar menulis postingan pendek, kawan, tanpa sisipan image. Untuk selanjutnya, silakan menerjemahkan lebih lanjut tentang makna kesetiakawanan sosial dan pengorbanan Ismail ini sebagai bahan refleksi di hari Natal dan Tahun Baru 2008.

—————————

Selamat Hari Raya Idhul Adha 1428 H

Semoga semangat pengurbanan Ismail AS tetap bersemayam

dalam hati nurani kita untuk kembali merajut tali kesetiakawanan sosial

yang sempat terkoyak .

**** 

Tulisan berjudul "Kesetiakawanan Sosial dan Pengorbanan Ismail" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (19 December 2007 @ 10:53) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Keteladanan Rasulullah di Tengah Krisis Kepemimpinan Nasional (Tuesday, 14 January 2014, 369558 pembaca, 19 respon) Negeri ini agaknya tengah mengalami krisis kepemimpinan. Mereka yang tengah berada dalam lingkaran elite kekuasaan bukannya berjuang untuk...

Masihkah Elite Negeri ini Mendengar Suara Punakawan? (Sunday, 29 December 2013, 206055 pembaca, 10 respon) Punakawan bagi masyarakat Jawa sudah bukan lagi nama yang asing. Dalam setiap pakeliran wayang kulit, keempat tokoh ini selalu muncul, bahkan...

Budaya Politik dan Pesimisme Bangsa (Friday, 27 December 2013, 149503 pembaca, 3 respon) Menjelang akhir tahun 2013, optimisme bangsa kita masih “galau” –kalau tidak bisa dibilang pesimis– dalam menghadapi dinamika dan...

Keperkasaan Tidak Hanya Menjadi Milik Kaum Lelaki (Saturday, 21 December 2013, 373444 pembaca, 12 respon) (Refleksi Hari Ibu Tahun 2013) Perempuan-Perempuan Perkasa Puisi Hartoyo Andangdjaja Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari...

Tragedi Cebongan dan Upaya Pembasmian Premanisme (Sunday, 7 April 2013, 162525 pembaca, 22 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Dugaan publik terhadap keterlibatan oknum Kopassus dalam Tragedi Cebongan (23 Maret 2013) akhirnya terbukti setelah tim...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

4 komentar pada "Kesetiakawanan Sosial dan Pengorbanan Ismail"

  1. akhnayz says:

    salam kenal pak sawali,,
    maaf pertamax>>>>

  2. marsudiyanto says:

    P.R…
    Aku penganut faham proporsional, faham fifty-fifty ya faham keseimbangan.
    Separo saya ambil dari tulisan P. Sawali, separo saya mix dengan isi otak saya.

    1. Opo bedane “ismail” & “email” ????
    2. Opo bedane “raskin” & “riskan” ???

    Maaf beribu maaf, lagi2 saya hanya nyuplik kata menarik, tanpa pernah menyentuh jiwa postingan Anda. Mataku masih pakai prosesor 486, nek nggo ngloading tulisan akeh, rasane blirik2.

    Semoga “Pak Sawali” menyenangkan seperti wali2 yang lain, semisal Wali Kelas yg ada tunjangannya, atau Walimahan yang ditandai dengan brekatan …

  3. @ Iwan Awaludin:
    Saya juga sering lupa2 ingat tuh, Pak. Untuk hari kesetikawanan sosial nggak libur kok, Pak. :/D

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Selamat Natal dan Tahun Baru 2008

  4. Wah saya baru tahu kalo ada hari kesetiakawanan sosial. Tapi ga libur kan yah Pak? Nanti terlalu banyak libur, jadi ngga efektif. Ngga terasah.

    Iwan Awaludin’s last blog post..Bencana dan Kekerasan

Leave a Reply