Home » Antologi PBP » Cerpen » Sastra » Sepotong Kepala

Sepotong Kepala

Para penduduk bergidik ngeri menyaksikan jasad Sukardal yang hanya tinggal gembungnya, seperti bangkai babi yang barusan dibantai tukang jagal. Sepotong kepalanya menggelinding entah di mana. Bayangan kebiadaban menggerayangi setiap kepala.
“Untuk apa orang gembung seperti Sukardal dibunuh!” teriak seseorang disambung gumam-gumam lirih yang tumpah di tengah kerumunan penduduk.

“Benar-benar biadab!” sahut yang lainnya.

“Kalau bukan iblis, pasti demit yang melakukannya!”

“Belum tentu juga, Kang! Aku yakin, pelakunya pasti manusia! Zaman sekarang, cukup banyak orang yang perangainya melebihi kebiadaban iblis dan demit!”

“Eh! Jangan sok tahu, sampeyan! Jangan suka memastikan sesuatu yang belum jelas kebenarannya! Bisa-bisa sampeyan diperkarakan orang!”

“Kenapa mesti diperkarakan! Saya tidak menuduh siapa-siapa, kok! Apa untungnya saya menuduh orang!”

“Eh! Masih sewot juga, sampeyan! Saya hanya mengingatkan, hati-hati bicara dalam suasana genting seperti ini!”

“Sudah, sudah! Tak ada gunanya berdebat kusir! Tidak sopan!” potong seorang lelaki tua berikat kepala hitam dengan suaranya yang berat dan wibawa. Berkali-kali, lelaki tua itu memiringkan kepalanya. Bola matanya mengerjap-ngerjap, menelanjangi jasad Sukardal yang masih terkapar di pelataran rumah bersimbah darah. Para penduduk ikut-ikutan memelototi jasad Sukardal.

“Bagaimana, Mbah? Ada petunjuk yang Mbah dapatkan?” tanya seseorang.
“Tidak ada!” sahut lelaki tua itu. Dingin. Kerumunan penduduk kembali ditingkahi

gumam-gumam lirih yang tak jelas alurnya. Riuh. Mereka menebak misteri kematian Sukardal dengan jalan pikirannya masing-masing. Sesekali terdengar suara orang bersitegang. Namun, ketika lelaki tua berikat kepala hitam itu menegurnya, suasana kembali tenang.

“Sudahlah! Untuk apa saling beradu mulut! Semua telah terjadi! Sukardal telah mati, tak mungkin ia bisa hidup kembali! Yang penting kita pikirkan sekarang adalah mengurus jenazahnya untuk dimakamkan seperti layaknya orang meninggal!” kata lelaki tua itu dengan tatapan matanya yang tajam menyapu wajah para penduduk. Seperti tersihir, para penduduk perlahan-lahan menjauhi jasad Sukardal, lantas segera bersijingkat melibatkan diri dalam kesibukan mempersiapkan upacara pemakaman.Semua penduduk kampung tahu betul siapa itu Sukardal.

Sudah hampir setahun ini, ia telah berubah akalnya. Seharian, ia lontang-lantung ke sana ke mari, menggelantungkan celana panjangnya yang tak pernah dicuci di bahunya dengan mulut yang selalu menyeringai, tersenyum dingin. Sukardal tak pernah mandi, hingga para penduduk hafal betul dengan bau tengiknya yang khas dalam jarak beberapa meter. Kaum perempuan selalu memalingkan muka sembari menutup hidungnya rapat-rapat jika kebetulan berpapasan dengan Sukardal. Setelah kecapaian, ia sering tidur di pinggir jalan, di pelataran rumah, atau di bibir got.

Sudah berkali-kali keluarganya membawa dia berobat ke rumah sakit jiwa atau ke orang pintar. Namun, gendengnya tak kunjung sembuh. Sanak keluarganya merasa putus asa dan membiarkan Sukardal sibuk dengan dunianya sendiri. Meskipun demikian, ia tak pernah mengganggu orang. Bahkan dia tampak begitu akrab dengan anak-anak kecil yang suka usil dan meledeknya. Sukardal tak pernah marah. Mulutnya selalu menyeringai, tersenyum dingin, setiap kali diolok-olok. Sering kali ia terlihat berjoget ria ketika beberapa anak kecil mengarak dan mengiringnya dengan lagu-lagu sumbang yang menyindir dan menghinanya. Tapi, Sukardal justru makin bersemangat menikmati segala sindiran, olok-olok, dan cercaan yang ditujukan kepada dirinya.

Menurut kabar yang beredar, lelaki bertubuh tambun itu stres berat setelah mendengar berita istrinya, Manirah, hamil di perantauan dan diperistri lelaki asing. Saat masih sehat akalnya, Sukardal begitu percaya atas kesetiaan Manirah. Sukardal tahu, Manirah bukanlah tipe perempuan yang gampang takluk oleh rayuan lelaki. Sebelum resmi jadi istrinya, Manirah sudah berkali-kali dibujuk oleh Pak Jaidul, juragan tembakau yang kaya, untuk dijadikan bini mudanya. Padahal, tidak sedikit jumlah kaum perempuan yang kepencut sama lelaki separuh baya itu. Bukan itu saja. Manirah juga sudah sering kali dilamar oleh para pemuda dari kampung sebelah. Maklum, Manirah memang tergolong perempuan yang cantik. Tubuhnya padat dan sintal, berkulit mulus. Jika tersenyum, tampak lesung pipit menghias pipinya yang ranum, hingga sering membuat perasaan lelaki berdenyar-denyar. Namun, Manirah tetap bergeming, malah memilih Sukardal, pemuda miskin, sebagai suaminya.

Penghasilan Sukardal yang tak menentu dari perasan keringatnya sebagai kusir dokar tampaknya membikin tekanan hidup keluarga muda itu makin bertambah berat. Dininabobokan oleh kisah para TKW yang sukses, membuat Manirah bertekad untuk ikut mengais rezeki di negeri orang. Menyadari kekurangannya yang gagal menjanjikan harapan hidup buat istrinya, Sukardal mengizinkan Manirah terbang ke tanah seberang. Dia begitu percaya akan kesetiaan dan keteguhan hati istrinya, sehingga dia tak perlu merasa khawatir dan waswas terhadap istrinya.

Kekaguman dan kebanggaan Sukardal terhadap istrinya makin bertambah ketika dia rutin menerima kiriman duit yang terus mengalir. Berkat kerja keras istrinya, dia mampu membangun rumah dan membeli beberapa petak sawah. Sukardal pun berhenti dari pekerjaannya sebagai kusir dokar. Namun, alangkah tersentaknya ketika ia mendengar kabar dari Yu Jimah, tetangganya yang barusan pulang dari tanah seberang, bahwa Manirah telah hamil dan diperistri oleh lelaki asing.

Kabar itu benar-benar membikin Sukardal kelimpungan. Stres berat. Perasaan dan pikirannya seperti dihantam godam bertubi-tubi. Kekaguman dan kebanggaan terhadap istrinya mendadak sirna. Berhari-hari lamanya, Sukardal hanya menghabiskan waktunya untuk mengutuk dan menyumpah-nyumpah istrinya. Tanpa disadari, Sukardal berubah menjadi lelaki yang kehilangan akal sehatnya. Gemblung, gendeng, dan sinting. Nurani lelakinya serasa tak sanggup lagi memahami perangai istrinya yang dianggap telah berkhianat dan menjual kehormatannya kepada lelaki asing yang tak dikenalnya.

Sukardal makin tenggelam dalam dunianya yang ganjil. Ia terus mengelana dalam pengembaraan batin yang jauh. Hingga akhirnya, ketika fajar pecah di ufuk timur, para penduduk menemukan tubuh Sukardal telah menjadi mayat, tanpa kepala, terkapar bersimbah darah di pelataran rumahnya.

“Apakah pemakaman ini tetap kita lanjutkan, Mbah?” tanya seseorang di balik hiruk-pikuk orang-orang di rumah mendiang Sukardal. Para penduduk saling bertatapan. Sesekali terdengar kesibukan orang membelah kayu, memotong bambu, dan keriuhan-keriuhan yang lain di pojok rumah sana.

“Memangnya kenapa?” sahut seorang lelaki tua berikat kepala hitam.

“Tegakah kita melihat jenazah Sukardal dikubur tanpa kepala?”

“Lebih tega mana kamu menyaksikan jenazah Sukardal tak terurus?”

“Tapi, ee…e, bukankah jenazah orang yang akan dikubur harus lengkap, Mbah?”

“Siapa bilang? Haruskah kita menunggu kepala Sukardal ditemukan dulu? Kalau ketemu tidak ada masalah, tapi kalau tidak bagaimana? Apakah akan kita biarkan gembungnya sampai membusuk? Ah, yang benar saja!”

Seperti tersihir, para penduduk hanya bisa mengangguk-angguk mengiyakan kata-kata Pak Tua itu.Akhirnya, proses pemakaman jenazah Sukardal tetap dilanjutkan. Ketika matahari tepat di atas perkampungan, jenazah Sukardal yang telah terkemas dalam keranda, siap diberangkatkan dari rumah duka. Beberapa pelayat tertunduk takzim saat Pak Lebai membacakan doa. Berkali-kali, Pak Lebai memohon kepada para pelayat untuk melepaskan kepergian Sukardal sebagai orang yang baik dan ahli ibadah agar arwahnya diterima di sisi-Nya. Para pelayat serentak menyahut dan mengamininya.Ketika jenazah hendak diangkat dari pelataran, mendadak terdengar deru mobil membelah perkampungan dan berhenti tepat di pelataran rumah mendiang Sukardal. Para pelayat serentak menjatuhkan ekor matanya ke arah perempuan yang baru saja keluar dari perut mobil. Mereka terkejut saat menatap seorang perempuan cantik bertubuh sintal, padat, dan berkulit mulus itu berjalan menuju ke rumah duka.

“Manirah?” gumam beberapa pelayat sambil mengerutkan jidatnya.

“Siapa yang meninggal, Pak?” tanya perempuan cantik itu kepada beberapa pelayat.

“Dasar perempuan sundal! Tega-teganya kamu mengkhianati Kang Sukardal hingga jadi gendeng! Kamulah yang telah menyebabkan kematiannya! Dasar!” sahut seorang lelaki muda dengan sorot mata kemurkaan.

“Kang Sukardal?” teriak histeris perempuan itu sambil berjingkat menuju ke arah keranda yang siap diangkat. Air matanya mengalir deras membanjiri kedua belah pipinya yang ranum. Seperti dibimbing oleh sesuatu yang gaib, tiba-tiba saja perempuan itu merangkul keranda dan hendak membukanya. Namun, dicegah beberapa penduduk.

“Hei, perempuan sundal! Jangan kamu kotori jenazah Kang Sukardal dengan tanganmu yang najis itu! Hu! Menjijikkan!” sergah seorang lelaki muda sambil menarik lengan perempuan itu.

“Aku ingin melihat wajah Kang Sukardal untuk terakhir kalinya!”

“Tidak bisa! Kamu sudah bukan lagi istri Kang Sukardal!” Perempuan cantik itu hanya bisa melongo saat beberapa penduduk mengangkat keranda itu menjauhi pelataran. Sesekali, beberapa penduduk menoleh ke arahnya dengan tatapan mata sinis dan kebencian. Tiba-tiba saja, perempuan cantik itu merasakan kepalanya maat pusing. Bola matanya nanar dan berkaca-kaca. Darahnya mendesir. Dadanya yang padat diserbu setumpuk pertanyaan. Tubuhnya limbung, terkapar mencium tanah.Manirah, perempuan cantik itu, belum paham juga kenapa para penduduk berubah sinis dan benci kepadanya. Hanya Mak Sarmini, kakak perempuan Sukardal, yang tampak santun dan menyambut baik kehadirannya.

“Kamu tahu, kenapa para penduduk berubah membencimu?”

“Tidak, Yu!”

“Setelah kamu pergi, Sukardal jadi sinting begitu mendengar kabar kamu hamil dan diperistri orang asing! Meninggalnya pun sungguh mengerikan! Jasadnya hanya tinggal gembungnya saja! Entah siapa yang tega membunuhnya dengan cara yang kejam seperti itu!” Kepala Manirah serasa dihantam sebongkah batu. Hatinya tersayat-sayat.

“Siapa yang telah menyebarkan fitnah itu, Yu! Demi Allah, saya tidak hamil apalagi diperistri orang asing! Huh!” Manirah tak mendapatkan jawaban apa-apa. Mak Sarmini telah berjingkat meninggalkannya. Tuduhan keji dan kematian tragis yang merenggut nyawa Sukardal, benar-benar membuat Manirah terpukul. Jauh-jauh ia mengadu nasib di negeri orang, ia rela jadi gedibal orang asing, semuanya dilakukan untuk kebahagiaan keluarganya. Tapi apa yang ia dapatkan setelah kembali ke kampung halaman, sungguh di luar dugaan. Para penduduk benar-benar menganggap dirinya sebagai perempuan pengkhianat dan pendosa yang pantas dikucilkan.

Pikiran Manirah jauh menerawang. Berhari-hari lamanya, ia hanya mengurung diri di rumah. Di layar benaknya, muncul berganti-ganti wajah Sukardal yang putih bercahaya dan sorot mata kebencian para penduduk.Genap sepekan kematian Sukardal, para penduduk dikejutkan kabar ditemukannya sepotong kepala lelaki gendeng itu yang hampir tenggelam di tengah lumpur sungai. Tanpa rasa risih, dengan diiringi beberapa penduduk, seorang lelaki muda menenteng potongan kepala Sukardal, menuju ke rumah Manirah.

Mendengar keriuhan di luar, Manirah berjingkat dari biliknya. Begitu melihat seorang penduduk menenteng kepala Sukardal, tiba-tiba saja dia sangat bernafsu merebutnya, lantas mendekap dan memeluknya dengan ketulusan yang begitu sempurna, seperti anak kecil yang telah lama merindukan barang mainannya yang hilang.Sejak saat itu, para penduduk tak pernah melihat Manirah keluar dari rumahnya. Menurut penuturan penduduk yang pernah mengintipnya, Manirah selalu memeluk, menimang, dan menciumi potongan kepala Sukardal dengan cucuran air mata yang tak pernah berhenti mengalir dari pelupuk matanya yang sayu dan pucat. ***
(Media Indonesia, 6 Januari 2002)

tentang blog iniTulisan berjudul "Sepotong Kepala" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (2 November 2007 @ 15:17) pada kategori Antologi PBP, Cerpen, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Ada 4 komentar dalam “Sepotong Kepala

  1. cerita miris tentan kesetian pasangan yang terpisah oleh jarak dan lautan.. walauapun tanpa mengekspose background cerita, tapi nuansa ‘lain’ bisa saya rasakan dari cerpen ini. Salute buat pak Wali…

  2. Pingback: Kehidupan "Wong Cilik" dalam Teks Cerpen | Catatan Sawali Tuhusetya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *