This blog is NOFOLLOW Free!

Dirgahayu Indonesia atau Dirgahayu Kemerdekaan?

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Tuesday, 14 August 2007 | 522 pembaca | 10 komentar | Feed
Kategori: Bahasa, Budaya, Opini, Refleksi

bendera1.jpg

Masa-masa “heroik” menuju puncak peringatan HUT ke-62 RI sudah membahana di seluruh penjuru tanah air. Kampung-kampung bertaburan bendera Merah Putih dan umbul-umbul warna-warni. Spanduk dengan berbagai slogan dan semboyan bertengger meriah di gapura masuk kampung. Nasionalisme kita yang selama ini terbang, terapung-apung, dan tenggelam akibat berbagai kesibukan tiba-tiba tersentil oleh “atmosfer” dan aroma perayaan yang begitu ramai dan meriah. Dengan tiba-tiba kita ingat Soekarno-Hatta, Jenderal Soedirman, Diponegoro, Antasari, atau sederet nama-nama pahlawan yang lain.

***

Terlepas dari munculnya sikap nasionalisme yang datang secara “tiba-tiba” itu, ada kelatahan sikap dalam penulisan spanduk yang bisa menimbulkan salah tafsir akibat penalaran yang salah. Lihatlah contoh berikut ini!

Dirgahayu Kemerdekaan RI Ke-62

Jika dicermati, ada logika yang rancu dalam slogan tersebut. Pertama, penggunaan kata “dirgahayu” yang diikuti dengan kata “kemerdekaan”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dirgahayu mengandung arti berumur panjang (biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang memeringati hari jadinya). Beranjak dari arti leksikal ini, maka penggunaan kata “dirgahayu” yang diikuti dengan kata “kemerdekaan” jelas tidak tepat. Bukankah yang diberi ucapan “panjang umur” itu Indonesia, bukan pada “kemerdekaan”-nya? Yang benar mestinya “Dirgahayu Indonesia” atau “Dirgahayu Republik Indonesia” yang berarti “Panjang Umur Indonesia” atau “Panjang Umur Republik Indonesia”.

Kekeliruan kedua adalah penggunaan “RI” yang diikuti dengan kata bilangan (numeralia) tingkat “ke-62″. Logikanya: Indonesia atau RI itu hanya satu. Jadi, tidak ada RI ke-2, ke-3, atau ke-62. Jika ingin menggunakan kata bilangan tingkat untuk menunjukkan usia kemerdekaan RI, ucapan yang benar adalah “Selamat HUT ke-62 RI”. Jadi, yang ke-62 itu adalah hari ulang tahunnya, bukan “Indonesia” atau “RI”-nya.

Yang sering luput dari perhatian kita juga adalah masalah penulisan kata bilangan. Dalam kaidah Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dijelaskan bahwa penulisan kata bilangan tingkat yang menggunakan angka Arab harus diawali dengan awalan ke- diikuti tanda hubung, sedangkan jika menggunakan angka romawi tidak perlu menggunakan awalan ke-. Jadi, penulisan yang benar: “Selamat HUT ke-62 RI” atau “Selamat HUT LXII RI”. Persoalannya sekarang, kita mau pilih yang mana? ***

Tulisan Terkait:

10 komentar terhadap “Dirgahayu Indonesia atau Dirgahayu Kemerdekaan?”

  1. ginan (1 comments) (Wednesday, 15 August 2007 @ 12:24 am)

    MERDEKA…!!!!
    Agustusan Sekarang Kira2 saya Lomba Karung dapat Juara Tidak Ya…???

    ————————-
    Pasti juara!!! Daftar aja untuk Kelompok TK, ha..ha… Merdeka!!!

    [Reply]

  2. alex (14 comments) (Wednesday, 15 August 2007 @ 12:37 am)

    minta izin di-trackback, ya? :)

    —————-
    Trim’s Bung Alex. Postingan mengenai penggunaan istilah “dirgahayu” bisa dilacak juga di sini!

    [Reply]

  3. irresponsible alex anthem (Wednesday, 15 August 2007 @ 12:46 am)

    62 Usianya 69 Angkanya

    *klik untuk memperbesar*
    Angka 69 itu memang angka yang aneh…
    Di Wikipedia yang konon selalu benar angka 69 itu bisa berarti banyak hal. Bisa judul sebuah novel karya Ryu Murakami - yang juga menjadi judul film dari novel yang sama - atau hanya…

  4. hanna (35 comments) (Wednesday, 15 August 2007 @ 1:00 pm)

    Merdeka !

    Wah,wah… Kalau tidak membaca tulisan ini bisa-bisa saya ikut salah juga.Bapak guru bahasa Indonesia ya ? Jadi ingin belajar lebih banyak tentang bahasa Indosesia nih.
    trim’s.

    ————
    Tentang aku kan bisa dibaca di sini, he3x. Merdeka!

    [Reply]

  5. hendriadi (5 comments) (Wednesday, 15 August 2007 @ 1:58 pm)

    kalau dicermati ini mirip dengan ” SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI”, yang notabene ID adalah hari raya

    Bangkitlah Indonesia ku

    ——————-
    Ho-oh merdeka!

    [Reply]

  6. hanna (35 comments) (Wednesday, 15 August 2007 @ 2:38 pm)

    He3, sudah saya baca semua.Salut sama bapak.
    Trim’s

    ———-
    Wah, jadi ge-er nih. Trims ya?

    [Reply]

  7. SQ (21 comments) (Wednesday, 15 August 2007 @ 6:26 pm)

    wah…analisis kata nya luar biasa, kebetulan saya juga suka nulis nih, bisa jadi masih banyak kata atau kalimat yang luput dari perhatian, seperti kalimat salah satu, banyak perdebatan tentangnya…benderanya bagus..merdeka

    —————
    Jadi ge-er nih! Ntar blognya saya kunjungi. Makasih silaturahminya. Merdeka!

    [Reply]

  8. mathematicse (50 comments) (Wednesday, 15 August 2007 @ 11:16 pm)

    Merdeka!!!

    Hmmmh, saya baru tahu …, pantesan saya suka lihat banyak perbedaan-perbedaan penggunaan kata “dirgahayu”.

    Sekarang saya jadi tahu….

    Terimakasih pak, bikin saya tambah semangat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. :D

    Merdeka!!!

    ————
    Merdekaaaaa, Pak! Teriaknya lebih kenceng nih, Pak!

    [Reply]

  9. Yari NK (177 comments) (Friday, 17 August 2007 @ 6:53 am)

    Kalau kesalahan sudah meluas, sepertinya kamus bahasa Indonesianya yang harus ‘disesuaikan’ deh…. hehehehe….
    Saya juga punya contoh2 dalam bahasa asing di mana, kesalahan2 karena sudah meluas akhirnya dapat ‘diterima’.
    Contohnya:
    Dalam bahasa Perancis le smoking diambil dari bahasa Inggris smoking jacket atau tuxedo, yang artinya dalam bahasa Indonesia mungkin adalah jas/jaket yang biasanya dipakai untuk pesta makan malam, biasanya habis makan malam banyak di antara prianya yang menghisap pipa, makanya disebut smoking jacket. Kalau dalam bahasa Inggris, smoking adalah berasap atau merokok, yang tentu salah kaprah. Namun karena orang Perancis sudah banyak yang terlanjur menyebutnya le smoking, maka akhirnya dibenarkan dan diresmikan sebagai kata dalam bahasa Perancis yang artinya smoking jacket dalam bahasa Inggris.
    Begitu pula dalam American English di mana, banyak huruf dihilangkan seperti contoh color, maneuver, esthetics, dsb. Di mana seharusnya adalah colour, manoeuvre, aesthetics, mula2nya adalah kesalahan eja, namun karena sudah menjadi kebiasaan orang Amerika, maka akhirnya kesalahan2 tersebut diterima sebagai bagian dari American English.
    Dan banyak contoh lainnya….. :D

    ——————-
    Setuju banget Bung Yari. Bahasa Indonesia memang harus bersikap luwes dalam menghadapi perubahan. Harus ada dinamika agar Bhs. Indonesia tidak berada di puncak menara gading yang justru asing bagi penuturnya. Mengapa harus repot-repot mencari padanan istilah asing kalau padanannya sendiri justru tidak komunikatif dan susah dimengerti. Tentang hal ini juga bisa dibaca DI SINI.

    [Reply]

  10. Adi Nugroho (1 comments) (Friday, 17 August 2007 @ 7:47 pm)

    dah lama ga nulis puisi

    ———————
    Sekali-kali memang perlu bikin postingan puisi, Bung. Biar ada variasinya, gitu loh, he3x.

    [Reply]

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda! Benar-benar merupakan berkah dan kehormatan buat saya!

Cek dulu nama, email, dan URL Web (blog) sebelum berkomentar!




:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »



«« “Bunuhlah Imajinasiku dengan Puisiku!” | Guru, Blog, dan Profesionalisme »»

Tulisan Terbaru

1000buku

Kategori

Bahasa | Blog | Budaya | Cerpen | Esai | Kurikulum | Opini | Pendidikan | Politik | Refleksi | Sastra | Tradisi

Tulisan Terbaru

Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global (Saturday, 11 October 2008 - 22 komentar)
Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender (Friday, 10 October 2008 - 70 komentar)
Dunia Pendidikan, Realitas Sosial, dan Ujian Nasional (Wednesday, 8 October 2008 - 68 komentar)
Mencermati Pembusukan Penggunaan Bahasa Indonesia (Monday, 6 October 2008 - 124 komentar)
Makna Kekerabatan di Balik Mudik Lebaran (Friday, 3 October 2008 - 109 komentar)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H (Monday, 29 September 2008 - 142 komentar)
Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup (Saturday, 27 September 2008 - 61 komentar)
Refleksi Menjelang Lebaran (Friday, 26 September 2008 - 99 komentar)
Di manakah Allah ? (Friday, 26 September 2008 - 0 komentar)
Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam” (Thursday, 25 September 2008 - 109 komentar)


Komentar Terbaru


Plurk.com





Tulisan Sahabat



Kontak gmail