Jumat, 18 April 2014

Tuesday, 14 August 2007 (16:48) | Bahasa | 7080 pembaca | 21 komentar

Masa-masa “heroik” menuju puncak peringatan HUT ke-62 RI sudah membahana di seluruh penjuru tanah air. Kampung-kampung bertaburan bendera Merah Putih dan umbul-umbul warna-warni. Spanduk dengan berbagai slogan dan semboyan bertengger meriah di gapura masuk kampung. Nasionalisme kita yang selama ini terbang, terapung-apung, dan tenggelam akibat berbagai kesibukan tiba-tiba tersentil oleh “atmosfer” dan aroma perayaan yang begitu ramai dan meriah. Dengan tiba-tiba kita ingat Soekarno-Hatta, Jenderal Soedirman, Diponegoro, Antasari, atau sederet nama-nama pahlawan yang lain.

***

Terlepas dari munculnya sikap nasionalisme yang datang secara “tiba-tiba” itu, ada kelatahan sikap dalam penulisan spanduk yang bisa menimbulkan salah tafsir akibat penalaran yang salah. Lihatlah contoh berikut ini!

Dirgahayu Kemerdekaan RI Ke-62

Jika dicermati, ada logika yang rancu dalam slogan tersebut. Pertama, penggunaan kata “dirgahayu” yang diikuti dengan kata “kemerdekaan”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dirgahayu mengandung arti berumur panjang (biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang memeringati hari jadinya). Beranjak dari arti leksikal ini, maka penggunaan kata “dirgahayu” yang diikuti dengan kata “kemerdekaan” jelas tidak tepat. Bukankah yang diberi ucapan “panjang umur” itu Indonesia, bukan pada “kemerdekaan”-nya? Yang benar mestinya “Dirgahayu Indonesia” atau “Dirgahayu Republik Indonesia” yang berarti “Panjang Umur Indonesia” atau “Panjang Umur Republik Indonesia”.

Kekeliruan kedua adalah penggunaan “RI” yang diikuti dengan kata bilangan (numeralia) tingkat “ke-62″. Logikanya: Indonesia atau RI itu hanya satu. Jadi, tidak ada RI ke-2, ke-3, atau ke-62. Jika ingin menggunakan kata bilangan tingkat untuk menunjukkan usia kemerdekaan RI, ucapan yang benar adalah “Selamat HUT ke-62 RI”. Jadi, yang ke-62 itu adalah hari ulang tahunnya, bukan “Indonesia” atau “RI”-nya.

Yang sering luput dari perhatian kita juga adalah masalah penulisan kata bilangan. Dalam kaidah Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dijelaskan bahwa penulisan kata bilangan tingkat yang menggunakan angka Arab harus diawali dengan awalan ke- diikuti tanda hubung, sedangkan jika menggunakan angka romawi tidak perlu menggunakan awalan ke-. Jadi, penulisan yang benar: “Selamat HUT ke-62 RI” atau “Selamat HUT LXII RI”. Persoalannya sekarang, kita mau pilih yang mana? ***

Tulisan berjudul "Dirgahayu Indonesia atau Dirgahayu Kemerdekaan?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 August 2007 @ 16:48) pada kategori Bahasa. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Keperkasaan Tidak Hanya Menjadi Milik Kaum Lelaki (Saturday, 21 December 2013, 220534 pembaca, 12 respon) (Refleksi Hari Ibu Tahun 2013) Perempuan-Perempuan Perkasa Puisi Hartoyo Andangdjaja Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari...

Tragedi Cebongan dan Upaya Pembasmian Premanisme (Sunday, 7 April 2013, 64513 pembaca, 9 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Dugaan publik terhadap keterlibatan oknum Kopassus dalam Tragedi Cebongan (23 Maret 2013) akhirnya terbukti setelah tim...

Banjir dan Daya Pikat Jakarta (Sunday, 20 January 2013, 47881 pembaca, 19 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Jakarta banjir bukanlah persoalan baru. (Nyaris) setiap musin hujan tiba, kota megapolitan ini menjadi “pelanggan...

Ramadhan dan Kesalehan Sosial (Thursday, 19 July 2012, 40048 pembaca, 45 respon) Ramadhan, kata para pemburu kebenaran hakiki, ibarat kawah candradimuka. Ia (Ramadhan) tak hanya sekadar menjadi momentum untuk menjalankan rutinitas...

Komunitas Budaya sebagai Katalisator Kebudayaan (Saturday, 28 April 2012, 35183 pembaca, 25 respon) Komunitas Budaya sebagai Katalisator Kebudayaan *) Oleh Sawali Tuhusetya Kelambanan kolektif kita, ujar Taufiq Ismail suatu ketika, akan diterjang...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

21 komentar pada "Dirgahayu Indonesia atau Dirgahayu Kemerdekaan?"

  1. Gatot Budi Utomo says:

    Dirgahayu Kemerdekaan RI ke 62.

    Sepintas kalimat ini benar. Coba kita cermati. Benarkah istilah KEMERDEKAAN RI? Kapankah RI merdeka? REPUBLIK INDONESIA TIDAK PERNAH DIJAJAH BELANDA ATAU JEPANG. Yang dijajah adalah Rakyat dan Bangsa Indonesia, BUKAN Republik. Jadi, kalau mau diluruskan, katakan KEMERDEKAAN INDONESIA, KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA, ATAU KEMERDEKAAN RAKYAT INDONESIA. Dasar hukumnya adalah NASKAH PROKLAMASI dan PEMBUKAAN UUD 1945 ALINEA 3 DAN 4:

    “Proklamasi: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan KEMERDEKAAN INDONESIA……dst”.

    PEMBUKAAN UUD 1945 Alinea 3: “Atas berkat rahmat Allah ….. maka RAKYAT INDONESIA menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

    PEMBUKAAN UUD 1945 Alinea 4: “Kemudian dari pada itu …….. maka disusunlah KEMERDEKAAN KEBANGSAAN INDONESIA……dst”.

    Mari kita luruskan istilah yang kurang tepat ini. Bukan saja dari segi penggunaan Bahasa Indonesia, melainkan juga dari segi hakikat maknanya. kata Republik lahir setelah Indonesia Merdeka, sebagai bentuk negara yang dipilih oleh founding fathers bangsa Indonesia setelah terlepas dari penjajahan.

    Kemerdekaan Indonesia juga perlu dipertahankan dan disyukuri. Maka penggunaan kata Kemerdekaan Indonesia bermakna agar kemerdekaan negara dan bangsa kita berumur panjang, selamanya.

    Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

    Dirgahayu Republik Indonesia
    Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia
    Dirgahayu Rakyat Indonesia
    Dirgahayu Bangsa Indonesia
    Dirgahayu Negara Indonesia
    Selamat HUT ke 66 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    ———–gatot budi utomo, kepala puslitbang TVRI.

  2. Akhidul says:

    Meskipun telat komentar, aku senang dengan tulisan ini. Aku pernah protes hal yang sama kepada temanku yang membuat spanduk untuk memperingati Kemerdekaan RI. Sayang, spanduk sudah jadi. Semoga tahun depan tidak terjadi lagi.

    Aku jadi berpikir, masalah kecil seperti ini saja banyak orang gak mau tahu, apalagi anak SMP saat menghadapi ujian Bahasa Indonesia, hahaha.

Leave a Reply