Home » Opini » Nasionalisme Kita Telah “Mati Suri”?

Nasionalisme Kita Telah “Mati Suri”?

……….
Aku memandang zaman.
Aku melihat gambaran ekonomi
di etalase toko yang penuh merk asing,
dan jalan-jalan bobrok antar desa
yang tidak memungkinkan pergaulan.
Aku melihat penggarongan dan pembusukan.
Aku meludah di atas tanah.

Aku berdiri di muka kantor polisi.
Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.
Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.
Dan sebatang jalan panjang,
punuh debu,
penuh kucing-kucing liar,
penuh anak-anak berkudis,
penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.
………

(WS Rendra dalam SAJAK SEORANG TUA DI BAWAH POHON)

Sengaja saya kutip puisi si Burung Merak untuk mengawali postingan ini. Mumpung lagi hangat-hangatnya soal nasionalisme mencuat ke permukaan menjelang 17 Agustusan ini. Sebuah puisi yang sarat parodi dan sindiran terhadap spirit nasionalisme kita yang dinilai mulai terkikis dan tergerus oleh nilai-nilai global. Bahkan, ada yang secara ekstrem menyatakan bahwa nasionalisme di negeri ini telah mati suri. Betapa tidak! Lihat saja anak-anak muda kita yang dengan begitu bangga menjadi pemakai benda-benda merk serba asing. Demikian juga ibu-ibu pejabat kita yang lebih suka menghambur-hamburkan uangnya ke Singapura daripada ikut memberikan keuntungan kepada para pedagang kaki lima. Lihat juga betapa banyaknya orang kaya baru alias OKB yang suka memarkir milyaran atau trilyunan rupiah di bank-bank luar negeri ketimbang ikut andil membesarkan bank-bank di negerinya sendiri. Agaknya, nasionalisme kita sudah benar-benar dijajah oleh “tuhan” lain bernama materialisme, hedonisme, konsumtivisme, fatalisme, chauvinisme, dan isme-isme culas lainnya.

Sementara itu, di tingkat akar rumput, nilai-nilai primordialisme dan sukuisme menjelma menjadi sebuah kekuatan mengerikan yang siap mengancam keutuhan dan integrasi sebuah bangsa. Sahabat saya, Budi Maryono, wartawan Suara Merdeka yang juga seorang penyair pernah menulis sebuah puisi (saya lupa judulnya) yang salah satu lariknya berbunyi: “Seandainya Garuda Pancasila bisa menangis/tenggelamlah kita ke dalam banjir air matanya// Sebuah lirik yang amat menyentuh nurani kita sebagai sebuah bangsa yang sejak dulu dikenal ramah dan santun yang tiba-tiba saja berubah perangai menjadi beringas dan vandalistis. Betapa negeri ini sudah hampir rapuh disergap oleh sebuah “perang” peradaban. Keramahan dan kesantunan yang menjadi bagian dari “roh” dan kepribadian bangsa nyaris telah tenggelam oleh nilai-nilai kekerasan dan agresif. Kerusuhan dalam kasus Pilkades di desa-desa, Pilkada di berbagai daerah, tawuran antarkampung, atau tawur antarsuporter sepak bola, seolah-olah sudah menjadi pemandangan yang galib dan lazim.

Dalam kondisi sosial yang chaos semacam itu, siapakah yang salah dan harus dipersalahkan? Pertanyaan semacam ini sungguh bukan hal yang mudah untuk dijawab. Yang paling gampang kita tuding tentu saja orang-orang yang berada dalam lingkaran kekuasaan yang secara hierarkis dan struktural akan menjadi anutan oleh lingkaran di bawahnya. Rakyat akan selalu melihat dan menyaksikan bagaimana mereka mengelola sebuah bangsa yang besar. Kalau orang-orang yang mestinya jadi anutan saja masih suka pamer otot dan cakar-cakaran, bagaimana mungkin rakyat di lapisan bawah bisa bersikap santun dan ramah?

Kembali ke persoalan nasionalisme. Jenderal Soedirman bisa dijadikan sebagai sosok nasionalis dan sekaligus juga negarawan yang layak diteladani kiprahnya.

Keteguhan hati Jenderal Soedirman makin tampak ketika ia hendak menghadiri perundingan gencatan senjata dengan Belanda. Minggu 20 Oktober 1946, bersama Kepala Staf APRI, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, dari Yogya ia bertolak ke Jakarta menggunakan kereta api luar biasa (KLB). Apa lacur mendekati Jakarta, di Stasiun Klender, KLB itu dihentikan oleh tentara Belanda. Mereka meminta agar pengawal Panglima tidak membawa senjata, kalau ingin memasuki Jakarta.

“Aturan apa itu, pengawal panglima dilarang membawa senjata!” tegas Jenderal Sudirman sebagai reaksi. “Tidak! Tidak bisa begitu! Ini pelanggaran kehormatan panglima tentara negara yang berdaulat! Kita kembali ke Yogya saja!” Perundingan gencatan senjata pun batal.

Blunder tentara Belanda di perbatasan kemudian buru-buru dikoreksi oleh pemerintahnya. Melalui kawat kereta api, mereka meminta maaf atas insiden konyol itu, yang disampaikan kepada Panglima di Stasiun Cirebon, ketika KLB berhenti di sana. Panglima diharap berkenan ke Jakarta lagi beserta para pengawalnya. Kali ini boleh membawa senjata!

Keteguhan sikap sebagai salah satu pengejawantahan sikap nasionalisme semacam itulah yang amat kita rindukan muncul dari sosok para figur elite kita. Harga diri, kehormatan, dan kepribadian merupakan elemen-elemen pemerteguh kekuatan nasionalisme yang mampu mengatasi berbagai bentuk penghinaan dan pelecehan martabat bangsa.

Ironis memang. Ketika bank-bank di negeri sudah banyak yang collaps, lantas orang-orang berduit buru-buru memarkir uangnya di bank luar negeri, bisakah itu disebut sebagai sebuah nasionalisme? Ketika bangsa kita sudah mampu memproduksi pakaian dengan berbagai mode yang tak kalah bermutu, tetapi justru kita nggak mau menggunakannya, bisa jugakah itu disebut sebagai sebuah nasionalisme? Ketika saudara-saudara dari suku lain hendak ikut berbaur bersama, hidup berdampingan, bisakah disebut sebagai sebuah nasionalisme kalau suku asli merasa risi, lantas memusuhinya dengan pedang dan pentungan? Ketika negeri lain dengan pongahnya berhasil merebut sebuah pulau atau mengklaim wilayah-wilayah perbatasan sebagai miliknya, bisakah itu disebut sebagai sebuah nasionalisme, kalau bangsa kita ternyata hanya bersikap diam dan apatis?

Nah, menjelang 17 Agustus, agaknya kita perlu melakukan tafsir ulang terhadap makna nasionalisme dalam arti yang sesungguhnya. Kita perlu terus mempertautkan benang-benang sejarah yang centang-perenang akibat akumulasi berbagai persoalan yang rumit dan kompleks. Kita perlu menghidupkan lagi “Soedirman-Soedirman” baru untuk mendesain semangat nasionalisme terus mendarah daging dan bernaung turba dalam jiwa dan raga negeri ini. Yang tidak kalah penting, para elit, tokoh-tokoh masyarakat, atau figur-figur publik lainnya harus mampu menjadi patron teladan bagaimana memaknai nilai nasionalisme ke dalam tindakan nyata, bukan umbar omongan saja. Dengan cara semacam itu, semangat nasionalisme yang dinilai makin memudar, bahkan mati suri, bisa tumbuh memunculkan pamor ke seluruh persada nusantara dengan sinarnya yang lembut dan santun.

Nah, dirgahayu Indonesia! Merdeka!

tentang blog iniTulisan berjudul "Nasionalisme Kita Telah “Mati Suri”?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (8 Agustus 2007 @ 22:06) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 13 komentar dalam “Nasionalisme Kita Telah “Mati Suri”?

  1. Nasionalisme kita memang sudah hampir mati suri pak. Mungkin karena gara-gara hak rakyatnya yang selalu dikebiri, jadi mereka pikir ngapain juga mikir nasionalisme segala. Mikirin diri sendiri aja sudah susah koq.

  2. Sebenarnya arti yang pas untuk nasionalisme itu tidak pernah ada. Jadi bagi saya makna nasionalisme itu tidak perlu sampai memusingkan kepala kita.Kita tidak dapat mengclaim bahwa “Saya” adalah nasionalisme sejati sedangkan “anda” belum.Dengan mata saya yang kebetulan juga sipit, dan kemudian dihadiahi Tuhan Yang Maha Murah Hati sebuah negeri yang elok yang diberi nama Indonesia kepada saya dan 220 juta saudara saya yang warna kulit dan bentuk matanya macam2 maka sudah sepantasnya saya bersyukur dan selalu ada rasa tanggungjawab untuk ikut partisipasi membuat negeri ini lebih baik walau dengan usaha sekecil apapun juga.Tuhan ingin mempersatukan kita dalam sebuah negara NKRI,Tuhan ingin kita hidup berdampingan sebagai saudara,Tuhan ingin kita membangun negeri tercinta ini. Tuhan ingin kita merawat,memelihara dan membesarkan Indonesia suatu hari kelak. Walaupun saya sering dihambat untuk membuat Kartu Rumah Tangga dan KTP,tapi saya tak peduli.Saya sadar hidup penuh lika liku,sayapun tahu itu hanya tingkah segelintir oknum yang tidak perlu sampai memaksa saya memeriksa dan mempertanyakan warna kulit dan bentuk mata saya kembali,apakah saya bangsa Indoensia.Yang saya inginkan adalah Indonesiaku yang Kuat,superior dan makmur.

    —————————-
    Setuju banget. Nasionalisme tidak membedakan warna kulit, suku, agama, ras, atau kelompok tertentu. Dus, siapa pun yang bangga dengan negerinya sendiri sehingga tidak merasa inferior dan rendah diri sebagai sebuah bangsa, di situlah nasionalisme akan muncul. Nasionalisme kita terusik manakala bangsa dan negeri kita dijelek-jelekkan oleh orang asing atau oleh orang Indonesia sendiri yang tega ngemplang duit rakyat milyaran hingga trilyunan rupiah. Jadi, menurut saya, nasionalisme tak ada dalam jiwa para koruptor itu. Ok, salut buat Anda yang bangga sebagai warga dan bangsa Indonesia. Semoga banyak penghuni negeri ini yang punya sikap seperti Anda. Merdeka!

  3. Terima kasih bapak-bapak.Alangkah indahnya dunia ini bila kita semua dapat berbaur satu jiwa,satu rasa.Bahu membahu,saling berbagi kasih.Tapi sepertinya jaman sudah berubah manjadi lo lo , gua gua.Sungguh menyedihkan ya…

    ——————
    Itulah harapan kita semua Mbak Hanna, bisa hidup rukun dan damai tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, atau warna kulit. Oh, ya, Mbak Hanna, komentar Mbak Hanna di blog ini mendapatkan respon yang bagus dari para pengunjung. Intinya sama. Menaruh empati, semoga kejadian buruk yang pernah terjadi tak akan terulang kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *