Home | Sastra | OTONOMI PENGAJARAN SASTRA

OTONOMI PENGAJARAN SASTRA

Sunday, 15 July 2007 (12:48) | 767 pembaca | 5 komentar | Print this Article

GAUNG kegagalan pengajaran apresiasi sastra di sekolah sudah lama terdengar. Banyak pengamat menilai pengajaran apresiasi sastra selama ini berlangsung monoton, tidak menarik, bahkan membosankan. Siswa tidak diajak untuk menjelajah dan menggauli keagungan nilai yang terkandung dalam teks sastra, tetapi sekadar dicekoki dengan pengetahuan-pengetahuan tentang sastra yang bercorak teoretis dan hafalan.

Mereka tidak diajak untuk mengapresiasi (baca: memahami dan menikmati) teks-teks sastra yang sesungguhnya, tetapi sekadar menghafalkan nama-nama sastrawan berikut hasil karyanya. Dengan kata lain, apa yang disampaikan guru dalam pengajaran sastra barulah kulit luarnya saja, sehingga peserta didik gagal menikmati “lezat”-nya isi dan aroma kandungan nilai dalam karya sastra. Kondisi pengajaran sastra yang semacam itu tidak saja memprihatinkan, tetapi juga telah “membusukkan” proses pencerdasan emosional dan spiritual siswa.

Belajar apresiasi sastra pada hakikatnya adalah belajar tentang hidup dan kehidupan. Melalui karya sastra, manusia akan memperoleh gizi batin, sehingga sisi-sisi gelap dalam hidup dan kehidupannya bisa tercerahkan lewat kristalisasi nilai yang terkandung dalam karya sastra. Teks sastra tak ubahnya sebagai layar tempat diproyeksikan pengalaman psikis manusia.

Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju proses globalisasi, sastra menjadi makin penting dan urgen untuk disosialisasikan dan “dibumikan” melalui institusi pendidikan. Karya sastra memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang. Dengan bekal apresiasi sastra yang memadai, para keluaran pendidikan diharapkan mampu bersaing pada era global dengan sikap arif, matang, dan dewasa.

Dalam konteks demikian, kedudukan sastra menjadi semakin penting. Bukan saja sastra memiliki kontribusi besar dalam memperhalus budi, memperkaya batin dan dimensi hidup, melainkan juga lantaran telah masuk dalam kurikulum pendidikan. Persoalannya ialah, kedudukan sastra dalam kurikulum kita dinilai masih dipandang dengan sebelah mata. Pelajaran sastra belum mandiri, belum memiliki otonomi untuk mengatur dirinya sendiri. Ia masih “nunut” dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.


***
MENGAPA otonomi pengajaran apresiasi sastra menjadi penting dipersoalkan? Setidaknya ada tiga argumen yang layak dikemukakan. Pertama, berdasarkan kenyataan di lapangan, tidak semua guru Bahasa Indonesia mampu menyajikan pengajaran apresiasi sastra dengan baik. Guru yang mahir mengajarkan bahasa belum tentu mampu tampil memikat saat mengajar sastra. Menyajikan puisi, misalnya, selain dituntut menguasai materi ajar, guru juga harus mampu memberikan contoh yang memikat dan sugestif di depan siswanya saat membaca puisi. Hal ini sulit dilakukan oleh guru bahasa yang kurang memiliki minat serius dan “talenta” yang cukup tentang sastra. Dalam kondisi demikian, mana mungkin peserta didik mampu memiliki bekal apresiasi sastra yang memadai.

Kedua, guru sastra bisa lebih berkonsentrasi dan total “beraksi” dalam mengampu mata pelajaran, sehingga terangsang untuk terus meningkatkan profesionalismenya. Dengan adanya spesialisasi, maka guru bahasa yang minat dan talentanya lebih condong ke sastra dapat lebih mengaktualisasikan kemampuannya, sehingga mampu menciptakan atmosfer pembelajaran apresiasi sastra yang kondusif, menarik, variatif, interaktif, dan menyenangkan.

Ketiga, beban berat dunia pendidikan yang mengemban misi memanusiakan manusia akan menjadi lebih ringan. Sebab, lewat pengajaran apresiasi sastra yang mandiri proses internalisasi nilai-nilai budaya, moral, watak dan kepribadian, serta cipta dan rasa akan lebih bisa berkembang. Dengan kata lain, otonomi pengajaran apresiasi sastra akan memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi dunia pendidikan.

Sudah saatnya dunia pendidikan kita memosisikan sastra pada aras yang lebih “terhormat” dalam kurikulum. Perlu ada pemikiran matang dan serius untuk memisahkan pelajaran sastra dari pelajaran bahasa ke dalam kurikulum berbasis kompetensi yang akan datang. Sudah terlalu lama pendidikan kemanusiaan (termasuk sastra) di negeri ini dimarjinalkan dan mengalami “pembusukan”, sehingga gagal menghasilkan anak-anak bangsa yang cerdas, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual. Tidak kalah penting untuk dipikirkan adalah bagaimana lembaga pencetak calon guru sastra mampu melahirkan lulusan yang benar-benar “siap”, bukan lulusan “karbitan” yang tampil gagap saat diterjunkan di lapangan.

Kategori: Sastra | Tags:

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSastra Koran di Tengah Imaji Kekerasan (Monday, 26 May 2008, 812 pembaca, 40 respon) Tradisi penulisan teks sastra lewat koran (sastra koran) sudah lama muncul. (Hampir) semua sastrawan kondang memanfaatkannya. Gerson Poyk, Abdul Hadi WM, Danarto, Seno Gumira Ajidarma, Gus Mus, Hamsad Rangkuti, atau Afrizal Malna –sekadar menyebut...
imgCatatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *) (Saturday, 24 May 2008, 511 pembaca, 40 respon) Oleh: Kurnia Effendi Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat...
imgDiskusi Buku dan Peluncuran Kumcer (Sunday, 11 May 2008, 562 pembaca, 64 respon) Sebagaimana yang dipublikasikan oleh Kang Kombor, jika tidak ada aral melintang, Jumat, 16 Mei 2008, pukul 13.30-18.00 WIB, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, buku...
imgMampukah Sekolah Menjadi “Benteng” Utama Apresiasi Sastra? (Wednesday, 26 March 2008, 2,234 pembaca, 51 respon) Rendahnya tingkat apresiasi masyarakat (publik) terhadap sastra hingga kini masih terus menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat dan pemerhati sastra. Acara baca puisi, cerpen atau teater, apalagi seminar/diskusi, sering luput dari perhatian...
imgSastrawan Masuk Sekolah: Sebuah Agenda yang Tertinggal (Sunday, 2 March 2008, 612 pembaca, 42 respon) Sastrawan Masuk Sekolah (SMS) yang dulu pernah gencar digelar oleh Yayasan Indonesia, Majalah Horison, dan Depdiknas, agaknya kini tak terdengar lagi gaungnya. Agenda yang pernah menghadirkan sastrawan papan atas semacam Taufik Ismail, Sutardji Calzoum...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "OTONOMI PENGAJARAN SASTRA" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 15 July 2007 (12:48)) pada kategori Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

5 Responses to "OTONOMI PENGAJARAN SASTRA"

  1. WordPress 2.5.1 WordPress 2.5.1

    [...] OTONOMI PENGAJARAN SASTRA GAUNG kegagalan pengajaran apresiasi sastra di sekolah sudah lama terdengar. Banyak pengamat menilai… [...]

  2. Hanna M G(new comment) <img src="http://sawali.info/wp-content/plugins/firestats/img/flags/id.png" alt="INDONESIA" title="INDONESIA" class="fs_flagicon" height="11" width="16"> <img src="http://sawali.info/wp-content/plugins/firestats/img/browse says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.1 Firefox 2.0.0.1 pada Windows 2000 Windows 2000

    :?:
    Pengajaran sastra saat ini lebih banyak teori daripada prakteknya, padahal kegiatan apresiasi sastra lebih dapat berjalan dengan baik jika siswa langsung dapat memahami dan menikmati suatu karya sastra.

  3. Abbas says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.2 Firefox 2.0.0.2 pada GNU/Linux GNU/Linux

    mudah2an acara kongres sastra di kudus selain mengobati kerinduan keringnya kegiatan sastra juga menggugah komunitas sastra untuk berkontribusi dalam apresiasi sastra di sekolah. kira2…..

  4. Unknown Unknown

    [...] pembelajarannya “hancur” dan babak belur. Lebih-lebih pembelajaran apresiasi sastra. Para siswa tidak diajak untuk mengapresiasi (baca: memahami dan menikmati) teks-teks sastra yang sesungguhnya, [...]

  5. Unknown Unknown

    [...] pembelajarannya “hancur” dan babak belur. Lebih-lebih pembelajaran apresiasi sastra. Para siswa tidak diajak untuk mengapresiasi (baca: memahami dan menikmati) teks-teks sastra yang sesungguhnya, [...]

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (77 queries: 0.921 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP