Efisiensi Bahasa Bisa Berbuntut Kebingungan
Kategori: Budaya
Ragam bahasa jurnalistik memang sering ditandai oleh efisiensi penggunaan tanda baca, diksi, dan kalimat. Akan tetapi, efisiensi itu tak jarang harus dibayar mahal, karena berbuntut kebingungan pada diri pembaca.
“Maunya irit koma, tapi yang terjadi justru orot (boro-Red) pikiran. Sebab, dengan penghilangan koma, pembaca malahan jadi kebingungan. Jadi, mana yang lebih mahal, harga sebuah titik atau kebingungan npembaca?” kata pakar linguistik, Dr. Sudaryanto, di depan guru-dosen bahasa dan redaktur Suara Merdeka.
Sudaryanto mengemukakan hal itu pada Dialog Bahasa dengan Guru-Dosen di kantor Redaksi Suara Merdeka, Jl. Kaligawe, Selasa (29/10/2002). Selain Sudaryanto, tampil sebagai pembicara guru SLTP 2 Pegandon, Drs. Sawali Tuhusetya dan redaktur bahasa Suara Merdeka Gunawan Budi Susanto, SS.
Dosen Universitas Widya Dharma Klaten itu juga mengemukakan, ragam bahasa jurnalistik mengandung kekuatan yang nggegirisi, menggentarkan, dan menggetarkan. “Kekuatan itu bisa muncul dalam aneka bentuk, pancamuka. Bisa bermuka raksasa ganas bila daya ledak tinggi yang ditonjolkan; bisa berwajah bengawan waskita bila kesejukan angin pegunungan yang disemilirkan; bisa bertampang pemabuk teler bila aroma minuman keras yang ditebarkan. Semua itu bergantung pada niat sang jurnalis yang memanfaatkan ragam jurnalistik, katanya.
Kepolosan Hati
Karena itu, menurut dia, bagi seorang jurnalis, alasnya adalah “kepolosan hati” dengan orientasi “terketahuinya persitiwa demi peristiwa kebenaran atau kenyataan yang tak terbantahkan.”
Senada dengan Sudaryanto, Sawali mengungkapkan, prinsip efisiensi berbahasa pada ragam jurnalistik tak jarang memunculkan gejala deviasi. “Sebenarnya sah-sah saja ragam bahasa jurnalistik mengekspresikan ide-ide dengan karakteristik itu. Akan tetapi, jangan terlalu banyak menabrak kaidah bahasa standar jika bahasa jurnalistik ingin memainkan misi pendidikan bahasa bagi masyarakat,” katanya.
Distansi yang terlalu jauh antara ragam bahasa jurnalistik dan ragam bahasa standar yang diajarkan di sekolah, kata Sawali, akan membingungkan para siswa. “Karena itu diperlukan kebijakan untuk memperpendek jarak tersebut,” katanya. ***
Random Posts
«« Sobokartti: Kapitalisme versus Idealisme | “Anak-anak Bukanlah Keranjang Sampah” »»
Tulisan Terbaru
- Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global
- Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender
- Dunia Pendidikan, Realitas Sosial, dan Ujian Nasional
- Mencermati Pembusukan Penggunaan Bahasa Indonesia
- Makna Kekerabatan di Balik Mudik Lebaran
- Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
- Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup
- Refleksi Menjelang Lebaran
- Di manakah Allah ?
- Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam”
- Nofollow Free: Plugin yang Ramah kepada Pengunjung
- Tag Award: antara Silaturahmi dan Apresiasi
- Pendampingan Penyusunan KTSP
- Membumikan Nilai Demokrasi dari Ruang Kelas
- Lompatan Budaya Membaca yang Tidak Wajar






