This blog is NOFOLLOW Free!

Efisiensi Bahasa Bisa Berbuntut Kebingungan

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Sunday, 15 July 2007 | 36 pembaca | 0 komentar | Feed
Kategori: Budaya

Ragam bahasa jurnalistik memang sering ditandai oleh efisiensi penggunaan tanda baca, diksi, dan kalimat. Akan tetapi, efisiensi itu tak jarang harus dibayar mahal, karena berbuntut kebingungan pada diri pembaca.
“Maunya irit koma, tapi yang terjadi justru orot (boro-Red) pikiran. Sebab, dengan penghilangan koma, pembaca malahan jadi kebingungan. Jadi, mana yang lebih mahal, harga sebuah titik atau kebingungan npembaca?” kata pakar linguistik, Dr. Sudaryanto, di depan guru-dosen bahasa dan redaktur Suara Merdeka.
Sudaryanto mengemukakan hal itu pada Dialog Bahasa dengan Guru-Dosen di kantor Redaksi Suara Merdeka, Jl. Kaligawe, Selasa (29/10/2002). Selain Sudaryanto, tampil sebagai pembicara guru SLTP 2 Pegandon, Drs. Sawali Tuhusetya dan redaktur bahasa Suara Merdeka Gunawan Budi Susanto, SS.
Dosen Universitas Widya Dharma Klaten itu juga mengemukakan, ragam bahasa jurnalistik mengandung kekuatan yang nggegirisi, menggentarkan, dan menggetarkan. “Kekuatan itu bisa muncul dalam aneka bentuk, pancamuka. Bisa bermuka raksasa ganas bila daya ledak tinggi yang ditonjolkan; bisa berwajah bengawan waskita bila kesejukan angin pegunungan yang disemilirkan; bisa bertampang pemabuk teler bila aroma minuman keras yang ditebarkan. Semua itu bergantung pada niat sang jurnalis yang memanfaatkan ragam jurnalistik, katanya.

Kepolosan Hati
Karena itu, menurut dia, bagi seorang jurnalis, alasnya adalah “kepolosan hati” dengan orientasi “terketahuinya persitiwa demi peristiwa kebenaran atau kenyataan yang tak terbantahkan.”
Senada dengan Sudaryanto, Sawali mengungkapkan, prinsip efisiensi berbahasa pada ragam jurnalistik tak jarang memunculkan gejala deviasi. “Sebenarnya sah-sah saja ragam bahasa jurnalistik mengekspresikan ide-ide dengan karakteristik itu. Akan tetapi, jangan terlalu banyak menabrak kaidah bahasa standar jika bahasa jurnalistik ingin memainkan misi pendidikan bahasa bagi masyarakat,” katanya.
Distansi yang terlalu jauh antara ragam bahasa jurnalistik dan ragam bahasa standar yang diajarkan di sekolah, kata Sawali, akan membingungkan para siswa. “Karena itu diperlukan kebijakan untuk memperpendek jarak tersebut,” katanya. ***

Random Posts

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda! Benar-benar merupakan berkah dan kehormatan buat saya!

Cek dulu nama, email, dan URL Web (blog) sebelum berkomentar!




:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »



«« Sobokartti: Kapitalisme versus Idealisme | “Anak-anak Bukanlah Keranjang Sampah” »»

Tulisan Terbaru

1000buku

Kategori

Bahasa | Blog | Budaya | Cerpen | Esai | Kurikulum | Opini | Pendidikan | Politik | Refleksi | Sastra | Tradisi

Tulisan Terbaru

Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global (Saturday, 11 October 2008 - 22 komentar)
Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender (Friday, 10 October 2008 - 70 komentar)
Dunia Pendidikan, Realitas Sosial, dan Ujian Nasional (Wednesday, 8 October 2008 - 68 komentar)
Mencermati Pembusukan Penggunaan Bahasa Indonesia (Monday, 6 October 2008 - 124 komentar)
Makna Kekerabatan di Balik Mudik Lebaran (Friday, 3 October 2008 - 109 komentar)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H (Monday, 29 September 2008 - 142 komentar)
Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup (Saturday, 27 September 2008 - 61 komentar)
Refleksi Menjelang Lebaran (Friday, 26 September 2008 - 99 komentar)
Di manakah Allah ? (Friday, 26 September 2008 - 0 komentar)
Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam” (Thursday, 25 September 2008 - 109 komentar)


Komentar Terbaru


Plurk.com





Tulisan Sahabat



Kontak gmail