Topeng

Cerpen: Sawali Tuhusetya

Entah! Setiap kali memandangi topeng itu lekat-lekat, Barman merasakan sebuah kekuatan aneh muncul secara tiba-tiba dari bilik goresan dan lekukannya. Ada semilir angin lembut yang mengusik gendang telinganya, ditingkah suara-suara ganjil yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Perasaan Barman jadi kacau. Kepalanya terasa pusing. Sorot matanya tersedot pelan-pelan ke dalam sebuah arus gaib yang terus memancar dari balik topeng. Dalam keadaan demikian, Barman tak mampu berbuat apa-apa. Terpaku dan mematung. Getaran-getaran aneh terasa menjalari seluruh tubuhnya. Barman benar-benar berada dalam pengaruh topeng itu.

Memang hanya sebuah topeng. Bentuknya pun mungkin sudah tidak menarik. Permukaannya kasar. Dahinya lebar. Hidung pesek dengan kedua pipi menonjol. Goresan dan lekuknya terkesan disamarkan, tidak tegas. Warnanya pun sudah kusam, menandakan ketuaan. Orang-orang kampung menyebutnya topeng tembem. Tapi dengan topeng itulah nama ayah Barman, Marmo, pernah melambung sebagai pemain reog yang dikagumi pada masa jayanya.

Sang Primadona

Cerpen: Sawali Tuhusetya

Dada Tarmi naik-turun. Napasnya tiba-tiba terasa sesak. Kehadiran Surtini benar-benar membikin hatinya gerah. Sudah hampir sepuluh tahun ia malang melintang di dunia ketoprak tobong, belum pernah seorang pun yang mampu menggeser perannya sebagai rol dalam sebuah lakon. Yang membikin hatinya makin masygul, tidak ada seorang pun yang berupaya melakukan pembelaan-pembelaan. Betapa tidak sakit hati kalau tiba-tiba saja ia dicampakkan begitu saja, dibuang ke tong sampah.

Terbayang setiap kali pentas, ia bisa menghibur dirinya di tengah himpitan hidup yang berat dan sumpek. Ia bisa dengan mudah melupakan segala thethek-bengek urusan hidup yang serba ruwet. Baginya, panggung pertunjukan adalah istana yang mampu melambungkan mimpi-mimpi hidup yang serba enak dan menghanyutkan. Ia bisa dengan mudah memerankan permaisuri raja yang agung, putri istana yang cantik dan dimanjakan, pahlawan wanita yang dipuja banyak orang, pendekar yang dikagumi, atau bidadari yang dikelilingi banyak dayang. Tapi, kini kebahagiaan itu raib sudah. Tarmi menyedot napas panjang. Terasa benar, tenggorokannya amat berat seperti terganjal beban yang menyumbatnya.

Kaidah Ejaan (Bagian 1)

Dalam bahasa Indonesia terdapat kata dasar, kata berimbuhan (awalan, sisipan, akhiran) kata ulang, dan kata majemuk. 1. Kata dasar ditulis sebagai kesatuan yang berdiri sendiri. Contoh: sahabat, daerah, datang, pergi,…

Jam dan Pukul

1. Kata jam dan pukul masing-masing mempunyai makna sendiri, yang berbeda satu sama lain. Namun, seringkali pemakai bahasa kurang cermat dalam menggunakan kedua kata itu masing-masing sehingga tidak jarang digunakan…

Maupun, Tetapi Juga, Melainkan

Sekarang, coba Anda perhatikan penggunaan konjungtor pada kalimat berikut ini! "Jadi dalam menggunakan bahasa lisan maupun bahasa tutur,......." Jika diperhatikan, ada dua kesalahan mendasar dalam kalimat tersebut, antara lain: 1.…

Masing-masing dan Tiap-tiap

Coba perhatikan dengan saksama pemakaian kata "masing-masing" dan "tiap-tiap atau setiap" berikut ini! Contoh pemakaian yang salah: 1. Masing-masing calon peserta kontes kecantikan harus mendaftar pada panitia. 2. Masing-masing negara…

Sekalipun dan Satu Kali pun

Kapan partikel "pun" ditulis terpisah dan kapan ditulis serangkai? 1. Kita lihat dulu beberapa contoh yang salah.  a. Ia sering ke Bali, tetapi satu kalipun ia belum pernah singgah ke…

Ultah, Orbek, Seleb

Memasuki Ruang Bahasa Indonesia, mungkin Anda merasa seolah-olah masuk ke dalam suatu lingkungan yang serba formal. Baik pemakaian kosakata maupun penggunaan tata bahasa Indonesianya pun harus baku. Suasananya terasa kaku….…

Diva, Primadona, dan Maestro

Di harian Jawa Pos, ditemukan penggunaan kata "diva" seperti pada beberapa kalimat berikut ini. 1. Cantik ala diva? Mau tahu rahasia seorang diva menjaga kecantikannya? 2. Diva pop Hong Kong,…