Arsip
July 2008 (11)
Detailed Monthly Archive
- 23: Nasib Penerbit dan Penulis Buku Teks Pasca-BSE (42)
- 21: Sepasang Tanduk Bertengger di Kepalaku (47)
- 18: Menjadikan Sekolah sebagai Basis Pengembangan Bahasa Indonesia (2-Habis) (43)
- 17: Sampeyan Percaya Pemilu 2009 Akan Menghasilkan Perubahan? (62)
- 14: Memberhalakan Ijazah (78)
- 13: Menjadikan Sekolah sebagai Basis Pembinaan Bahasa Indonesia (1) (44)
- 12: Membangun Peradaban yang Sensitif terhadap Seni dan Budaya (32)
- 10: Menanggapi Tuduhan sebagai Penjiplak (65)
- 06: Tak Ada Lagi Alasan untuk Mengebiri Sastra! (63)
- 05: Bahasa Blog: Antara Gaya dan Kepentingan Ekspresi (52)
- 03: Pembelajaran Berperspektif Gender (41)
June 2008 (19)
Detailed Monthly Archive
- 30: Mengintip “Dapur” Blog untuk Menyentuh SEO (57)
- 28: Gejala Tutur Indon-English dan UU Kebahasaan (35)
- 27: Buku Sekolah Elektronik: Terobosan yang Jitu dan Visioner? (50)
- 25: Keberingasan Pelajar, Tanggung Jawab Siapa? (56)
- 23: Sihir Euro 2008 dan Budaya Massa (24)
- 22: Refleksi Pasca-Ujian Nasional (23)
- 21: E-Learning dan Etika Pemanfaatan Media (23)
- 19: Lingkaran Kekerasan dalam Institusi Pendidikan (38)
- 17: Ritual Tapa Nyusup ala Salyapati (40)
- 15: Dunia Pendidikan Kita Miskin Sentuhan Pembelajaran Elektronik? (38)
- 14: Senandung Duka Usai Pesta (39)
- 12: Mengapa Statistik Blog Berada di Titik Nol? (56)
- 10: Memanfaatkan Account Gmail untuk Berlangganan Postingan (34)
- 09: Mampukah Pemberdayaan MGMP Menjadi “Therapi Kejut” bagi Guru? (31)
- 07: Ketika Kobaran Api Mengepung Shinta (35)
- 06: Pasang Surut Menyusuri Kompleks Blogosphere (39)
- 05: Mengakrabkan Siswa pada Budaya dan Tradisi (33)
- 02: Pringas-Pringis (62)
- 01: Setelah Berpindah Server (34)
May 2008 (15)
Detailed Monthly Archive
- 27: Cukup Satu Malin Kundang Saja! (61)
- 26: Sastra Koran di Tengah Imaji Kekerasan (39)
- 24: Catatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *) (38)
- 21: Arogansi Tumenggung Wilmuna (38)
- 19: Reformasi Kultural: Sebuah Indonesia yang Tertinggal (38)
- 18: Dari Kumcer, Kopdar, hingga Seminar: Sebuah Perjalanan Budaya (50)
- 12: Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita (65)
- 11: Diskusi Buku dan Peluncuran Kumcer (64)
- 10: Kesadaran Kolektif yang Terkoyak (41)
- 09: Kunta Wijayandanu untuk Anoman (23)
- 07: Kopi-paste: Perlukah Minta Izin? (39)
- 06: Cerpen dari Mantan Murid (35)
- 05: Guru Ngeblog: Apa Untungnya? (39)
- 03: Selamat Jalan, Slamet Pambudi! (22)
- 02: Benarkah Dunia Pendidikan Kita Sedang “Sakit”? (38)
April 2008 (18)
Detailed Monthly Archive
- 30: Melly Kiong dan Bukunya (37)
- 29: Pilkada Pasca-Reformasi, Quo-Vadis? (32)
- 25: Masih Adakah “Semar” dalam Lingkaran Elite Kekuasaan? (45)
- 23: Petaka di Balik Cupumanik Astagina (21)
- 21: Bloger Bersatu untuk Hak Asasi Manusia (37)
- 20: Kartini-Kartini Muda: Jangan Terjebak Seremoninya! (25)
- 19: Mampukah Cerita Rekaan Memperkaya Batin Pembaca? (25)
- 17: Kritik Model “Wayang Slengekan” (25)
- 15: Revitalisasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah (25)
- 14: Perlukah Pendidikan Antikorupsi Masuk Kurikulum? (21)
- 13: Elegi Pasca-Perang (19)
- 12: Slank, Wakil Rakyat, dan Budaya Antikritik (23)
- 11: Bandwith, Bandwith, Bandwith! (22)
- 09: Mewaspadai Komersialisasi Pendidikan (27)
- 07: Setelah Memperoleh Sertifikat Pendidik, Lalu Bagaimana? (37)
- 05: Santhet (21)
- 03: Bhismaaa…! (27)
- 01: Sanggupkah Kaum Perempuan Membangun Fitrahnya? (35)
March 2008 (13)
Detailed Monthly Archive
- 30: Dimensi Kehidupan Manusia dalam Teks Sastra (28)
- 26: Mampukah Sekolah Menjadi “Benteng” Utama Apresiasi Sastra? (47)
- 23: Gatutkaca Memburu Teroris (32)
- 22: Banner Baru “Menolong Mereka yang Kelaparan” (23)
- 21: Kopdar dan Sentuhan Nilai Kemanusiaan (27)
- 16: Istirahat Sejenak! (1)
- 14: Pengakuan Dosa Seorang Bloger “Kurang Ajar”
- 13: Nasi Aking dan Sirnanya Empati Kita terhadap Sesama (49)
- 11: Revitalisasi Pendidikan Kemanusiaan (32)
- 09: Bersembunyi di Balik Jargon Eufemisme (40)
- 08: Gapit *) (25)
- 06: Pendidikan Spiritual di Sekolah, Apa Kabar? (41)
- 02: Sastrawan Masuk Sekolah: Sebuah Agenda yang Tertinggal (41)
February 2008 (21)
Detailed Monthly Archive
- 29: Roy Suryo, Bloger, dan Sikap Hipokrit (74)
- 28: Senja Kala di Pancalaradya (21)
- 27: Ubuntu? Ufh…. (36)
- 24: Mitos dan Selubung Masa Silam: Tabir Penulisan Cerpen (41)
- 22: Kehidupan “Wong Cilik” dalam Teks Cerpen (34)
- 22: Guru Menulis BTP: Kenapa Tidak? (20)
- 20: Mereka adalah Anak-anak yang Memiliki Dunianya Sendiri (45)
- 18: “Kemesraan” Koran dan Blog (44)
- 17: Perubahan “Wajah” (45)
- 16: Sang Bunga Layu Sebelum Mekar (17)
- 15: Jika Dunia Pendidikan “Memberhalakan” Pasar (36)
- 13: Perselingkuhan Samba dan Dewi Hagyanawati (30)
- 11: Surat Terbuka buat Triyanto Triwikromo (37)
- 10: “Perceraian” antara Budaya dan Pendidikan: Tanya Kenapa? (34)
- 08: Halaman Khusus Guru “Go-Blog” (22)
- 08: Anoman Sang Pembebas (20)
- 06: Terbebas dari Ruang “Tahanan” Akismet (33)
- 06: Ujian Nasional dan Kekuasaan Hegemoni Negara (24)
- 04: Dhawangan (15)
- 03: Terjerat Akismetkah? (34)
- 02: “Perang Sastra” Terus Berlanjut? (19)
January 2008 (58)
Detailed Monthly Archive
- 31: Menimbang Bobot Literer “Puisi Blog” (23)
- 30: Kenapa Blog Ini Jadi Boros Bandwith? (33)
- 27: Selamat Jalan Sang Jenderal Besar! (30)
- 26: Hilangnya “Aura” Kesenian Kota Semarang (16)
- 25: Reformasi Sekolah, Apa Kabar? (23)
- 24: Marto Klawung (31)
- 22: Menjadi Shi Fu (25)
- 21: Perlukah Pengarang Melakukan “Pemberontakan”? (21)
- 20: Sutardji Calzoum Bachri, Maman S. Mahayana, dan Saut Situmorang (25)
- 16: Memburu Cinta yang Hilang di Rimba Sastra (37)
- 14: Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa (35)
- 13: Kembali Ke Sekolah (39)
- 12: Perlukah Kita Menjadi Narcisus? (48)
- 10: Perempuan Bergaun Putih (49)
- 09: “Demam” Ngeblog di Kalangan Guru Makin “Parah” (43)
- 09: Selamat Tahun Baru 1429 H (19)
- 08: “Demam” Ngeblog di Kalangan Guru Terus Berlanjut (45)
- 07: Andrea Hirata Menjadi Presiden? (38)
- 06: Guru Bahasa, Sastra, dan KTSP (29)
- 05: Surat dari Pak Triman untuk Mendiknas (4)
- 05: Guru Demo, Tanya Kenapa? (4)
- 05: Stop Pengadaan Seragam Sekolah! (0)
- 05: Budaya Meneliti di Kalangan Guru (12)
- 05: Pindah Rumah pada Awal Tahun (48)
- 04: Perubahan Paradigma Pendidikan (9)
- 03: Tumbal (11)
- 03: Blog Guru (23)
- 02: Pendidikan dan Moralitas Kaum Terpelajar (0)
- 02: Wujudkan Reformasi Sekolah agar Tak Lagi Sekadar Wacana (3)
- 02: Akankah Kurikulum 2004 Berakhir Konyol? (0)
- 02: Kecemasan Menjelang UN (0)
- 02: Kelas Unggulan dan Akselerasi, Sebuah Tragedi (3)
- 02: BOS BUKU DATANG, SEKOLAH MERADANG? (2)
- 02: MENUNGGU LONCENG KEMATIAN (1)
- 02: Latar Belakang Sertifikasi (2)
- 02: MAMPUKAH SERTIFIKASI GURU MENDONGKRAK MUTU PENDIDIKAN? (3)
- 02: MENGEMBALIKAN KE-“RESI”-AN SEORANG GURU (1)
- 02: MENYIKAPI ANGKA KERAMAT 4,26 (0)
- 02: MENGEBIRI KARYA GURU (1)
- 01: Inovasi Pembelajaran (6)
- 01: Kang Sakri dan Perempuan Pemimpi (3)
- 01: Sepotong Kepala (1)
- 01: Kepala di Bilik Sarkawi (2)
- 01: Kang Panut (1)
- 01: Warni Ingin Pulang (1)
- 01: Sang Pembunuh (1)
- 01: Pulang (1)
- 01: Wisuda (0)
- 01: Pengakuan (0)
- 01: Aib (0)
- 01: Ancaman (0)
- 01: EVALUASI KTSP SMP DI KABUPATEN KENDAL (5)
- 01: Pendidikan Pencerah Spiritual (1)
- 01: Bahasa Indonesia, antara Modernisasi dan Jatidiri (1)
- 01: Membangun Tradisi Demokrasi Lewat Pendidikan (1)
- 01: Membumikan Nilai Demokrasi di Sekolah (1)
- 01: Siapkah Guru Sastra Menyongsong KBK? (1)
- 01: MEMPERTANYAKAN APRESIASI MASYARAKAT TERHADAP PROFESI GURU (6)
December 2007 (12)
Detailed Monthly Archive
- 31: “Wejangan” di “Pertapaan” Cokrokembang (6)
- 29: Diskusi Kelompok Terbimbing Model Tutor Sebaya (2)
- 28: Quo Vadis Kurikulum Pendidikan Kita (Sebuah Refleksi Akhir Tahun) (4)
- 26: Selamat Natal dan Tahun Baru 2008 (5)
- 25: Banner untuk Guru (8)
- 24: Blog Ini Sempat Tewas (6)
- 21: Surat Buat Mak di Kampung (4)
- 19: Kesetiakawanan Sosial dan Pengorbanan Ismail (3)
- 17: Guru yang Dibenci Sekaligus Dirindukan (12)
- 16: Pertunjukan Tayub di Grobogan (2)
- 16: Penjara (1)
- 09: Tak Perlu Bersikap Reaktif! (0)
November 2007 (9)
Detailed Monthly Archive
- 28: Korpri dan Neofeodalisme dalam Birokrasi (2)
- 26: Jagal Abilawa (1)
- 24: Gerah Gara-gara Guru (6)
- 12: Penerbitan Mandiri dan “Kopdar Mini” (2)
- 11: Sertifikasi Guru, Sebuah “Indonesia” yang Tertinggal (13)
- 11: Membudayakan Aktivitas Ngeblog di Kalangan Guru (15)
- 07: Kang Panut (1)
- 06: Teks Fiksi dan Kehadiran Dokumentator (1)
- 01: Bang Kempul Bergaya Selebritis: Sebuah Refleksi (4)
October 2007 (12)
Detailed Monthly Archive
- 26: Topeng (2)
- 25: Membebaskan Dunia Pendidikan dari “Virus” Politik (0)
- 23: “Fasisme” dalam Dunia Pendidikan (0)
- 20: Sang Primadona (1)
- 18: Mengapa Pamor Guru Meredup? (2)
- 16: Download Inovasi pembelajaran (10)
- 14: Membudayakan Cinta Lingkungan Hidup (0)
- 13: Usai Shalat Ied, Lantai Masjid Jebol! (0)
- 10: Kembali Ke Fitrah (0)
- 09: Catatan dari Balik Kabut (0)
- 09: Sastra Koran versus Sastra Cyber (0)
- 09: Di Manakah Empati Kita terhadap Sesama? (1)
September 2007 (4)
Detailed Monthly Archive
- 19: Taufiq Ismail tentang “Gerakan Syahwat Merdeka” (1)
- 11: Bangsa yang Malas Membaca (17)
- 07: Siapa Mau Jadi Bloger “Pemberontak”? (15)
- 04: Guru Indonesia: Generasi yang Hilang? (19)
August 2007 (16)
Detailed Monthly Archive
- 28: Benarkah Pelajar Kita Mengidap “Rabun” Sastra? (29)
- 27: Legenda Sisyphus dan Bongkar Pasang Kurikulum (20)
- 25: Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP (10)
- 23: Catatan Tercecer dari Semiloka Nasional: Peran TIK dalam Revitalisasi Pembelajaran (6)
- 20: Reformasi Sekolah, Kepemimpinan Feodalistis, dan KTSP (13)
- 18: Sastra dan Anomali Sosial Generasi Muda Masa Kini (11)
- 16: Guru, Blog, dan Profesionalisme (15)
- 14: Dirgahayu Indonesia atau Dirgahayu Kemerdekaan? (10)
- 12: “Bunuhlah Imajinasiku dengan Puisiku!” (20)
- 11: Serbuan Istilah Asing: Globalisasi atau Gombalisasi? (5)
- 08: Nasionalisme Kita Telah “Mati Suri”? (12)
- 06: Puisi Heroik dan Kepekaan Akal Budi (4)
- 05: Terima kasih dan Mohon Maaf Pengunjung (3)
- 05: 17-Agustusan, Jangan Terjebak Seremoninya, Bung! (5)
- 04: Pendidikan Kita hanya Mencetak “Anak Mami”? (6)
- 02: Pekik “Merdeka” dan KTSP (3)
July 2007 (30)
Detailed Monthly Archive
- 15: Menggugat Ujian Nasional yang Antirealitas (0)
- 15: Perubahan Kurikulum dan Martabat Bangsa (1)
- 15: Perubahan Kurikulum di Tengah Mitos Globalisasi (5)
- 15: Kesusastraan Jawa Tengah Miskin Pemberontakan? (1)
- 15: Jika Cerpen Dicemari Limbah Politik (1)
- 15: Romantika, Logika, dan Religiusitas (0)
- 15: Jika Penyair Menjadi Seorang Narcisus (0)
- 15: Tak Harus Bilang “Brengsek” (1)
- 15: Karya Sastra yang Baik Tak Lepas dari Dimensi Hidup (0)
- 15: Dimensi Sosial dalam Sastra (0)
- 15: Menemukan Kristal Hakikat Danarto (2)
- 15: MENGUAK ABSURDITAS CERPEN DANARTO (2)
- 15: Antologi Sastra (0)
- 15: OTONOMI PENGAJARAN SASTRA (5)
- 15: MEMBANGUN “OTONOMI” PEMBELAJARAN SASTRA (3)
- 15: Membangun Budaya Demokrasi melalui Pendidikan (0)
- 15: Memaksimalkan Peran Ibu sebagai Pencerah Peradaban (0)
- 15: Korpri dan Mutu Pelayanan Publik (0)
- 15: Kesetiakawanan Sosial Versus Masyarakat Konsumtif (0)
- 15: Fenomena Pilkades di Era Reformasi (0)
- 15: Cerpen Teror sebagai Bahan Ajar (0)
- 15: “Anak-anak Bukanlah Keranjang Sampah” (0)
- 15: Efisiensi Bahasa Bisa Berbuntut Kebingungan (0)
- 15: Sobokartti: Kapitalisme versus Idealisme (0)
- 15: Wasit Sepak Bola dan Dunia Pendidikan (0)
- 15: Menulis Buku Teks (1)
- 15: Kelulusan dan Perilaku Vandalistis (0)
- 15: “Pencitraan” dan “Pembunuhan” Karakter Siswa Didik (2)
- 12: Ancaman (0)
- 11: Guru dan “Virus” Gaptek (4)
Plugin by iDunzo.com
Dilirik 52 kali oleh 22 pengunjung



hmmm..berapa ya? beli komputer...
:293 


0 komentar terhadap “Arsip”
No comments yet.
Sorry, the comment form is closed at this time.