“Kemesraan” Koran dan Blog

Kategori Blog Oleh

Ada yang bilang bahwa kehadiran blog di jagad maya bakal menjadi saingan berat bagi media cetak, khususnya koran, dalam merebut konsumen. Pendapat ini memang cukup beralasan, sebab blog mampu menyajikan informasi aktual secara cepat dan bisa diakses oleh jutaan orang. Kapan saja si pemegang admin mau, meluncurlah postingan-postingan terbaru. Sedangkan, koran harus melewati proses yang panjang dan melelahkan, mulai dari “hunting” berita, sortir, editing, layout, hingga percetakan. Setelah beres, baru sampai ke tangan konsumen. Alasan semacam itu yang dinilai bisa menurunkan “kredibilitas” koran sebagai media informasi dan hiburan bagi publik. Kehadiran blog dinilai bisa menjadi “ancaman” serius bagi dunia media cetak.

Namun, apakah memang benar demikian? Tidak bisakah “kemesraan” antara koran dan blog diciptakan sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi publik dalam menyerap informasi?

Kekhawatiran bahwa kehadiran blog bisa menjadi saingan, bahkan ancaman, bagi kelangsungan hidup sebuah koran, dalam pandangan awam saya, terlalu berlebihan. Koran dan blog memiliki karakteristik yang berbeda. Segmennya pun berbeda. Prosesnya beda. Bahkan, legalitas hukumnya juga berbeda. Untuk menerbitkan sebuah koran, prosesnya butuh waktu dan mesti menempuh prosedur birokrasi yang agak rumit. Meskipun sejak reformasi sudah ada kemudahan-kemudahan dalam penerbitan koran, tetap saja prosesnya tak secepat dan segampang kita membuat blog. Hanya dalam hitungan menit, blog bisa dibuat dan saat itu juga blog kita sudah bisa merayap ke seantero jagad blogosphere. Dari segi content, koran pun mesti mematuhi kode-etik jurnalistik. Ini artinya, penerbitan koran mesti memperhatikan rambu-rambu yang tak boleh dilanggar agar tak kena “semprit”. Dunia blog? Sepanjang yang saya tahu, hingga saat ini belum ada kode etik bloging. Masalah content diserahkan sepenuhnya kepada pemegang admin. Asalkan tidak melanggar Term of Service (TOS) dari situs penyedia layanan blog, si pemegang admin masih bisa menyuarakan gagasan, pikiran, dan perasaannya di kompleks dunia maya melalui blog yang dikelolanya.

Meskipun memiliki perbedaan karakter, koran dan blog bisa “dikawinkan” sehingga mampu melahirkan “anak-anak informasi” yang dibutuhkan publik. Salah satu koran yang sudah “kawin” dengan blog adalah Suara Merdeka (SM). Koran yang terbit di Semarang, Jawa Tengah, dengan mengusung slogan “Perekat Komunitas Jawa Tengah” ini sudah lebih dahulu memulainya. Setiap hari Minggu, secara khusus SM menyediakan rubrik Blogprint dengan menampilkan salah satu postingan blog yang dinilai layak muat. Untuk bisa dimuat, terlebih dahulu kita harus mendaftar dulu melalui e-mail koneksm@yahoo.com dengan mengirimkan alamat blog kita. Gampang kok! Namun, kita juga mesti bersabar menunggu antrean karena banyaknya bloger yang mendaftar. Yang mau ikutan, buruan mendaftar. Kita juga akan mendapatkan informasi lewat email apabila postingan blog kita akan dimuat. Sebelum versi cetaknya dimuat, kita juga bisa melihat tampilan postingan blog kita di sini.

Kebetulan postingan saya tentang ““Perceraian” antara Budaya dan Pendidikan: Tanya Kenapa?” dimuat di SM pada hari Minggu, 17 Februari 2008 yang lalu. *Narsis, yak, hiks!* Berikut ini skrinsutnya.

(Mohon maaf kalau gambarnya kabur, hiks. Maklum, *halah* jujur saja saya sangat awam dalam soal photografi dan photoshop, hehehehe :mrgreen: * ).

(Tampilan SM versi CyberNews)

Di tengah kekhawatiran banyak kalangan tentang suramnya masa depan koran di tengah maraknya dunia blog, agaknya langkah SM layak diacungi jempol. Rubrik Blogprint setidaknya bisa menjadi bukti bahwa kehadiran blog bukanlah sebuah ancaman, melainkan justru sebagai mitra yang sama-sama mampu memberikan nilai tambah, baik bagi SM maupun bagi sang bloger.

Mudah-mudahan langkah SM diikuti oleh koran-koran yang lain. Atau, bisa jadi sudah ada koran lain yang lebih dahulu “kawin” dengan blog? *halah* Tak lupa, saya mengucapkan selamat ulang tahun ke-58 kepada Suara Merdeka *terlambat nih* semoga benar-benar mampu menjadi perekat komunitas Jawa Tengah. Sekaligus, koran yang didirikan oleh H Tommy Hetami (Alm) pada 11 Februari 1950 itu juga mampu menjadi penyangga budaya dan nilai-nilai kearifan lokal yang dinilai mulai tergerus oleh derasnya arus budaya global. Dirgahayu Suara Merdeka! ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

44 Comments

  1. wah, bagus tuh kalo koran dan blog bisa bekerja sama.
    Tapi saya jarang baca koran edisi cetak. Biasanya baca yang onlen aja

    away’s last blog post..Persaingan dalam dunia kerja

    ooo
    ya mas away, saya kira sama saja kok. yang ol malah bisa dibaca kapan saja. yang cetak begitu usai dibaca, biasanya langsung masuk kotak sampah.

  2. Ciri utama blog selain kebebasan bagi si empunya untuk menulis apa saja adalah interaktivitas antara pemilik blog dan pengunjungnya. Ada diskusi antara penulis dan pengunjung bahkan antara pengunjung dengan pengunjung. Hal semacam ini sudah lama dimiliki oleh Media Indonesia Online dan Detik.

    Terhadap apa yang dicontohkan pada tulisan di atas, saya memberikan acungan jempol kepada Suara Merdeka karena secara sadar ikut memasyarakatkan blog kepada offline reader. Selama ini blog hanya dinikmati oleh mereka yang melek internet. Namun, Suara Merdeka mau membagi apa-apa yang ada di internet (dalam hal ini blogosfer) kepada mereka yang di darat. Sungguh hebat!

    MAW’s last blog post..Bajaj Pulsar Pakai Box Dikasih Fairing Bagus Nggak?

    ooo
    bener banget tuh mas arif. blog sangat beda jauh dg koran yang ndak interaktif. blog sebaliknya. meski demikian, kedua media ini tetep masih sama2 dibutuhkan oleh publik.

  3. Wih… mantep tuch pak. Masa’ koran terancam ? Stahu saya untuk kalangan yang tidak biasa mengakses internet, koran itu masih sering dibaca lo pak. Apalagi pemakai internet di Indonesia masih kurang dari 50% jumlah penduduk…

    Tapi ide bagus tuch koran menampilkan artikel blog…

    Gyl’s last blog post..Menyembunyikan Sakitnya Hati

    ooo
    yup, ok juga tuh pendapat mas gyl. koran masih tetap dibutuhkan kok, khususnya bagi warga masyarakat yang masih ksulitan mengakses internet.

  4. menarik sekali tulisannya bung. tapi sepertinya kemesraan itu sudah ada. buktinya banyak orang-orang koran yang justru ‘gila’ ngeblog. tapi sering seseorang yang jenuh pada hipokrisi koran, malah lari ngeblog. moga dunia blog makin menemukan identitasnya.

    Panda’s last blog post..RUMAH

    ooo
    yap, makasih bung panda. bener juga yak, tapi mudah-mudahan blog tetap makin banyak menyedot peminat. biar dunia maya makin heboh, hehehehe 😆

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Blog

Setelah 9 Tahun Ngeblog

Juli 2007 merupakan saat pertama saya belajar ngeblog (=mengeblog). Sering berganti-ganti engine,

Enam Purnama Tanpa Jejak

Sudah enam purnama, saya tidak meninggalkan jejak di blog ini. Sejatinya, enam
Go to Top