Home » Antologi PBP » Cerpen » Sastra » Penjara

Penjara

Cerpen: Sawali Tuhusetya

Pelupuk mata Badrun mengerjap-ngerjap seperti klilipan. Berat dan pedas. Sudut-sudut matanya masih digerayangi sisa-sisa mimpi. Ia tidak tahu, sudah jam berapa sekarang. Sel tempat ia disekap memang sangat tidak memungkinkan untuk mengetahui dengan pasti pergantian setiap detik, menit, jam, bahkan hari. Ia pun tak ingat lagi, sudah berapa lama menjadi penghuni penjara terkutuk yang sumpek, pengap, dan bau ini.

Yang menjengkelkan, ia harus sering bergaul dengan para penghuni penjara berperangai kasar. Ia sering dijadikan sasaran amarah dan ledakan emosi para pesakitan yang sudah kebelet ingin mencium bau kebebasan di luar tembok penjara. Gertakan, makian, sumpah-serapah, ancaman, pukulan, bahkan ludah bacin tak jarang harus ia terima, tanpa perlawanan. Sangat konyol jika harus melawan mereka. Di penjara ini, hanya okol dan nyali yang berbicara. Makin kuat okol dan nyalinya, mereka malah disegani dan bisa dengan bebas memperlakukan napi lain seenak perutnya.

Yang lebih menjengkelkan, tak jarang Badrun dipaksa melayani nafsu birahi para pendosa yang sudah lama tak pernah mencium ketiak perempuan itu. Perlakuan mereka sungguh kasar bagaikan kuda liar. Melakukan sodomi tanpa kenal waktu. Ia benar-benar merasa jijik dan muak, tapi tak mampu berbuat apa-apa.

Badrun mengambil napas. Bau kotoran dan air kencing segera menyergap hidungnya. Jlamprang –teman satu selnya yang bertubuh kekar dan penuh tato— masih tidur mendengkur, tengkurap di atas tikar lusuh. Badrun melangkah berat menuju lubang bilik berjeruji besi. Di luar sana, ekor matanya segera hinggap pada lalu-lalang para sipir berseragam yang sibuk mengepulkan asap rokok. Sesekali tampak menggerombol, berbincang-bincang, tertawa-tawa, lantas menyebar ke bilik-bilik, menatap para napi dengan wajah garang dan tak bersahabat.

Huh! Benar-benar menjengkelkan, rutuknya dalam hati. Ulah para sipir penjara pun ternyata tak kalah brengseknya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia sering menyaksikan beberapa sipir dengan sikap licik tega “menjual” tugasnya demi uang, tak tahan rayuan napi berkantong tebal yang ingin segera bebas dari sekapan bilik penjara. Dengan berpura-pura mengejar napi yang melarikan diri, sebenarnya mereka sedang berupaya untuk meloloskannya dari kepungan. Berkali-kali peristiwa itu terjadi. Tapi para pejabat teras penjara menganggapnya sebagai risiko sebuah pekerjaan, tanpa ada kemauan untuk mengendalikan dan “memenjarakan” mental bawahannya yang korup. Kalau mental para sipir seperti itu terus dibiarkan, mana mungkin penjara ini mampu menjadi tempat pertobatan bagi para pendosa? Tanya Badrun pada dirinya sendiri.
***

Badrun sebenarnya bukanlah seorang penjahat. Sebelum menjadi penghuni penjara ini, ia bekerja sebagai buruh pabrik tekstil. Ia amat senang dan bahagia dengan pekerjaannya itu. Selain banyak teman sekampungnya yang bekerja di sana, para buruh juga diantarjemput oleh bus pabrik. Penghasilannya kecil memang, tapi itu dianggapnya lebih baik ketimbang harus menjadi “bromocorah” yang suka bikin susah sesamanya. Yang jadi masalah, Sumarni, istrinya, tampaknya sangat tersiksa dengan cara hidup seperti itu. Setiap kali kalender jatuh di angka 20 ke atas, isterinya terus uring-uringan. Berwajah suntrut, sampai-sampai tak berkenan tidur di atas ranjang bersamanya.

“Mbok ya cari sampingan apa gitu toh, Kang! Masak Sampeyan tega membiarkan nasib kita terus-terusan seperti ini! Coba, Kang, Sampeyan pikir! Utang kita di warung Bu Karni makin menumpuk, sementara uang sekolah si Darpono sudah nunggak lima bulan! Ini kemarin dapat surat dari sekolah!” Berondong istrinya dengan mata melotot. Badrun tergeragap.

Diambilnya surat yang tergeletak di atas meja berdebu. Tangan Badrun gemetar. Dahinya berkerut. Bola matanya berkaca-kaca ketika membaca isi surat itu. Sepengetahuannya, uang sekolah anak sulungnya itu selalu ia beresi setiap awal bulan sebelum seluruh penghasilannya jatuh ke tangan isterinya. Ia curiga, jangan-jangan Darpono telah menyalahgunakannya. Tiba-tiba saja darahnya berdesir. Giginya gemeletuk, menahan amarah. Dadanya naik-turun. Ia segera berjingkat menuju bilik anaknya dengan perasaan tak menentu. Di atas kasur tua lusuh, ia melihat Darpono, anak sulungnya, masih meringkuk di balik sarungnya. Dengan amarah yang memuncak, dibangunkan anaknya dengan paksa. Darpono geragapan. Sembari mengucak-ngucak pelupuk mata, bocah yang baru beranjak remaja itu melihat ayahnya seperti monster yang menakutkan.

“Ayo, jawab dengan jujur! Kamu gunakan untuk apa uang sekolah yang ayah berikan, hem?” Bentak Badrun sambil mengguncang-guncang bahu Darpono yang duduk termangu.

“Ayo, jawab!” Tak ada jawaban. Darpono mematung. Di luar sana, sesekali melintas deru kendaraan, samar-samar, lantas lenyap ditelan kabut pagi. Sepi. Hanya terdengar rengekan anak bungsunya dan suara isterinya yang ngedumel dari arah dapur.

Dada Badrun bergemuruh. Wajahnya memerah. Ia merasa telah dipermainkan. Plak! Plak! Plak! Tanpa disadari, telapak tangannya telah menari-nari di wajah anaknya. Darpono merasa kesakitan, terjerembab mencium lantai tanah. Hidungnya mengucurkan darah. Dari arah belakang, istrinya buru-buru menerobos bilik yang sumpek itu sambil menggendong si bungsu yang masih terus merengek-rengek.

Sampeyan jangan gila, Kang! Kalau sampai terjadi apa-apa, apa tidak Sampeyan sendiri yang rugi?” sergahnya sambil meredam amarah suaminya. Dengan kelembutan naluri seorang ibu yang masih tersisa, perempuan kurus bermata cekung itu bergegas membelai wajah Darpono yang terguguk di lantai.

“Biar saja! Itulah upah seorang anak yang mulai belajar jadi penipu!” sahut Badrun ketus.

“Wong diminta Emak, kkk… katanya untuk mbayar utang Bu Karni, kok!” jawab Darpono gagap. Badrun tersentak. Kepalanya segera berpaling menatap wajah isterinya yang tiba-tiba memucat. Salah tingkah.

“Itu juga salah Sampeyan, jadi lelaki nggak becus ngurus kebutuhan keluarga!” sergah Sumarni merasa tidak bersalah.

“Eee… eee! Sudah jelas salah masih bisa cari-cari alasan! Aku sudah banting tulang setiap hari, semuanya untuk keluarga! Tak pernah sepeser pun aku mengantongi uang! Kalau sampai nggak cukup, mestinya kamu yang ngaca, becus nggak ngurus uang belanja?” sahut Badrun sewot, tidak seperti biasanya yang selalu mengalah. Ia merasa, kesabarannya telah habis.

Pertengkaran Badrun dan isterinya makin memuncak. Rumah reot itu seperti diselubungi kabut. Beberapa orang tetangga tampak ikut menguping sambil mengobral gunjingan miring. Badrun merasa risih. Tanpa pamit, ia bergegas menerobos pintu, menyahut pakaian seragam pabrik, lantas menembus jalan raya dengan perasaan amat masygul.

Setiba di pabrik, benak Badrun makin kacau, memikirkan nasib hidup keluarganya yang belum juga bergeser dari lumpur kemiskinan. Tiba-tiba saja gendang telinganya menangkap gemuruh demonstrasi ratusan buruh yang menuntut kenaikan upah. Dengan spanduk seadanya, mereka mengecam bos pabrik yang dianggap tidak pernah memperhatikan kesejahteraan para buruh. Mereka merasa, selama ini hanya dijadikan sebagai “sapi perah”. Badrun mengambil serangkum napas, lantas bergabung bersama para pengunjuk rasa. Di bawah siraman terik matahari, para buruh terus meneriakkan yel-yel. Dengan penuh semangat, Badrun ikut-ikutan menuntut kenaikan upah. Mulutnya terus berteriak-teriak. Kedua tangannya mengepal ke udara seperti hendak meninju langit. Siapa tahu, dengan cara seperti ini nasibnya akan berubah, pikirnya.

Para pengunjuk rasa makin bertambah dan terus bertambah. Di bawah terik matahari, mereka terus bersemangat meneriakkan yel-yel, menuntut agar upah dinaikkan 200%. Jika tidak dituruti, mereka mengancam akan melakukan mogok kerja total. Aksi mereka didukung oleh beberapa kelompok LSM.

Namun, unjuk rasa itu gagal membuahkan hasil. Tuntutan kenaikan upah itu dinilai pihak pabrik tidak masuk akal dan bersikukuh untuk menaikkan upah hanya sebesar 10%. Merasa tak digubris, para buruh mewujudkan ancamannya. Mereka melakukan mogok kerja total. Tapi, kejadian itu tak mengubah keputusan pihak pabrik. Malah berakibat fatal bagi para buruh pabrik. Sebagian pengunjuk rasa yang gencar menyuarakan tuntutan –termasuk Badrun—dipecat tanpa diberi pesangon.

Badrun benar-benar sial. Ia harus pontang-panting ke sana kemari memburu nasib. Sudah hampir sebulan ia mengacak-acak seantero kota, nasib baik belum juga berpihak kepadanya. Pekerjaan belum juga ia dapatkan, hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang lelaki separuh baya berperut buncit dan berpipi gembul di bawah reruntuhan gedung yang habis dibakar para pengunjuk rasa yang kalap. Dengan santun, lelaki separuh baya itu menawari sebuah pekerjaan mudah dengan imbalan yang cukup menggiurkan. Satu juta rupiah sekali kerja. Wajah Badrun berbinar. Setumpuk dhuwit melayang-layang di layar benaknya. Tanpa banyak alasan, Badrun menyanggupi pekerjaan yang ditawarkan lelaki yang tidak dikenalnya itu. Ia benar-benar merasa beruntung. Tanpa harus mengeluarkan banyak keringat, beberapa lembar ratusan ribu sudah jatuh ke tangannya. Badrun pun dengan jitu berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Namun, alangkah terkejutnya ketika Badrun baru berjalan dalam langkah seratus meter, gendang telinganya tiba-tiba mendengar ledakan dahsyat, diikuti suara berderak-derak dan jeritan histeris bersambung-sambungan. Ketika menoleh ke belakang, bola matanya membelalak. Mulutnya menganga. Ia tidak percaya terhadap pemandangan di hadapannya. Sebuah gedung plaza yang megah, yang barusan ia tinggalkan itu dalam sekejap telah porak-poranda. Beberapa sosok tubuh bergelimpangan meregang nyawa. Para pengunjung berlarian lintang-pukang ditingkah jerit dan pekik histeris. Terdengar pula raungan sirine mobil patroli aparat kepolisian mebelah kepanikan orang-orang. Suasana kacau.

Badrun tidak tahu, apa yang menjadi penyebab meledaknya pusat perbelanjaan masyarakat kota itu. Mungkinkah benda dalam plastik kresek yang tadi ia taruh di sebuah sudut etalase? Belum sempat ia memperoleh jawaban, tiga orang anggota polisi bertubuh tegap telah memborgolnya. Badrun tergeragap bagaikan rusa masuk kampung.

“Heh, ayo pijit!” Jangan bengong di situ!” seru sebuah suara yang besar dan berat. Badrun menoleh, tersentak. Rupanya, Jlamprang telah bangun. Itu artinya, ia harus siap melayani semua keinginan penjahat bertubuh kekar penuh tato yang konon sudah pernah membunuh belasan orang tak berdosa. Badrun tak menduga kalau harus menjalani hidup di penjara, bergaul dengan para pendosa yang tangannya sudah terbiasa berlumuran darah. Entah! Sampai kapan ia harus menjadi penghuni bilik berbau busuk itu! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Penjara" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (15 Desember 2007 @ 04:21) pada kategori Antologi PBP, Cerpen, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Ada 2 komentar dalam “Penjara

  1. Pingback: Pendidikan Karakter Memperingati Hardiknas 2010 « Augustinsungkalang@86

  2. Pingback: Kehidupan "Wong Cilik" dalam Teks Cerpen | Catatan Sawali Tuhusetya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *