Home » Antologi PBP » Cerpen » Sastra » Sang Pembunuh

Sang Pembunuh

Sepekan lagi, aku akan segera terbebas dari sekapan penjara terkutuk ini. Hampir sepuluh tahun, aku dipaksa mengakrabi dunia lembaga pemasyarakatan yang busuk. Busuk baunya dan orang-orang yang menghuninya. Ini memang sudah menjadi kenyataan tak terbantakan. Penjara memang tempatnya para pesakita. Setidaknya, mereka pernah berbuat keji dalam kamus hukum jelas terurat bahwa orang yang dinyatakan bersalah harus menjadi penghuni bui. Menurut orang yang arif dan bijak, bui itu konon bisa dijadikan sebagai medium pertobatan agar para penghuninya tidak mengulang perbutannya.
Tapi itu teori yang terlalu absurd jika diterapkan untuk saya. Seperti sudah saya kemukakan bahwa saya menjadi penghuni ruang sumpek berjeruji besi ini karena dipaksa. Saya telah menjadi korban permainan busuk juragan Karta yang kaya.

Sepuluh tahun yang lalu, kampung kami kedatangan serombongan tamu dari kota. Orangnya bersih-bersih dan berperut gendut. Dari tampilan fisik, mereka jelas orang-orang yang sukses menimbun harta. Mobil yang mereka pakai masih kinyis-kinyis. Mereka menuju rumah juragan yang memanag dikenal sebagai orang yang punya banyak hubungan dengan orang-orang kota.

Sehari kemudian, juragan Karta berkoar-koar di tengah-tengah penduduk. Ia bilang, kampung akan dibikin mau dan modern. Jalan-jalan diaspal, penduduk akan dmakmurkan, dan para pemuda akan disediakan lapangan kerja. Karuan saja, para penduduk berjingkrak-jingkrak. Bayangan kemajuan kampung berkelebat di setiap kepala, tak terkecuali saya. Siapa orangnya yang tidak senang melihat kampungnya tersentuh kemajuan dan kemakmuran?

Tapi dasar juragan Karta. Usai meyakinkan penduduk dengn janji-janji kemajuan dan kemakmuran, lelai berjidat klimis itu mulai kasak-kusuk memasang jerat. Melalui antek-anteknya, juragan Karta tak habis-habisnya merayu para penduduk untuk merelakan lahan pertaniannya dijual. Dengan dalin demi kemajuan dan kemakmuran kampung, para penduduk dirayu –lebih tepat dipaksa—untuk segera melepas tanahnya dengan ganti rugi yang sangat tidak sepadan. Kalau ada penduduk yang tidak mau menerima, dengan enteng dicap sebagai rakyat yang antipembangunan, bahkan diancam dan diteror dengan berbagai cara. Keadaan ini membuat rakyat gelisah.

Saya dan Mas Karjo mengadukan hal itu kepada Pak Lurah. Anehnya, Pak Lurah justru membela habis-habisan juragan Karta dengan alasan semua itu dilakukan semata-mata untuk kepentingan rakyat. Alasan klise yang biasa meluncur dari mulut para pejabat. Luput mendapat lindungan Pak Lurah, kami dan beberapa penduduk yang lain menghadap Pak Camat. Tap tak ada bedanya dengan jawaban Pak Lurah, malah kami dituduh sebagai kelompok pembangkang. Sebuah tuduhan yang amat menyakitkan.

Akhirnya, kami nekad menghadap Pak Bupati. Akan tetapi, kami selalu dihaang petugas. Kami tidak diperkenankan menghadap. Petugas bilang, ada urusan yang lebih penting daripada sekadar menerima aduan kami. Pupus sudah harapan untuk mendapatkan perlindungan. Menthog. Kami sempat berpikir, semua pejabat pasti sudah dilobi oleh orang kota itu.

Sementara itu, ulah juragan Karta kian mengila di kampung. Kami dipaksa untuk segera tanda tangan, tanpa punya kesempatan untuk mengetahui isi pernyataan.

“Besok lahan Sampeyan semua mulai siap untuk disulap menjadi pabrik yang besar!” cerocos Pak Karta pongah. Pandangan matanya memancarkan keangkuhan. “Siapa yang tidak mau menerima akan rugi sendiri!”

Orang-orang kampung tak berkutik. Dengan ganti rugi seadanya, mereka antr tanda tangan atau cap jempol sambil menerima dhuwit ganti rugi. Saya dan Mas Karjo merasa muka dengan ulah Pak Karta bersama antek-anteknya. Kami tetap tak bersedia tanda tangan. Saya dan Mas Karjo pulang dengan tangan hampa. Sejak saat itu, saya dan Mas Karjo mulai menerima perlakuan yang tidak manusiawi. Antek-antek Pak Karta semakin sinis dan menebarkan benih kebencian. Barangkali, kami telah dianggap klilip juragan Karta yang mesti disingkirkan. Anehnya, para penduduk yang gencar memperjuangkan hak-haknya yang dirampok ikut-ikutan membenci kami. Mereka selalu berpaling muk, bahkan cepat-cepat menghindar setiap beradu pandang.

Suatu malam, Mas Karjo bertangdang ke rumah. Ulah juragan Karta bersama netek-anteknya masih menjadi perbincangan kami. Karena semua jalan telah tertutp dan menthog, kami nekad untuk menghadap Pak Gubernur. Tapi belum sempat tekad itu terwujud, malapetaka itu datang secara tiba-tiba. Antek-antek juragan Karta nglurug ke rumah saya.

Dengan wajah beringas, mereka menghajar tubuh Mas Karjo hingga babak belur. Saya berusaha melawan, tapi sia-sia saja. Kekuatan sangat tidak seimbang. Maut pun tak bisa dihindari ketika salah seorang antek dengan gerakan tak terduga mengayunkan parang ke perut Mas Karjo. Tubuh Mas Karjo menggelepar bersimbah darah. Perutnya menganga lebar dengan usus terburai. Melihat tubuh Mas Karjo dipastikan tak bernyawa, dengan cepat antek-antek itu berhamburan keluar rumah. Parang yang digunakan untuk membabat perut Mas Karjo yang masih berlumuran darah segar dibiarkan tergeletak di lantai. Istri saya yang sudah terlelap mimpi segera terbangun begitu mendengar suara ribut-ribut. Sambil menyeka sisa-sisa mimpi di pelupuk magtamata, istri saya menjerit histeris ketika melihat tubuh Mas Karjo tersungkur mengenaskan.

Belum sempat kami menggotong tubuh Mas Karjo yang sudah jadi mayat, tiba-tiba saja dari luar terdengar suara hiruk-pikuk ditingkah langkah-langkah kaki yang cepat menuju ke rumah saya. Diikuti antek-antek juragan Karta yang tadi menganiaya Mas Karjo hingga tewas, para penduduk dengan wajah penuh kebencian menuduh saya telah membunuh Mas Karjo. Parang berlumuran darah yang tergeletak di lantai dijadikan barang bukti. Saya segera digiring berama-ramai ke rumah Pak Lurah malam itu juga. Saya mendengar istri saya yang terus-terusan menjerit histeris di sela-sela mulut para penduduk yang menebarkan emosi berlebihan. Saya tak berkutik menghadapinya. Para penduduk benar-benar menganggap saya sebagai sang pembunuh

Keesokan harinya, saya dijemput polisi. Setelah melalui proses pengadilan yang melelahkan, akhirnya saya divonis sepuluh tahun penjara. Terlihat jelas, betapa licik dan busuknya cara yang ditempuh juragan Karta. Sayang, selama ini hanya saya yang mengetahuinya. Para penduduk seperti telah terperangkap dalam sihir kebohogannya.

Sepuluh tahun hidup di penjara, membuat saya begitu akrab dengan suasana kerangkeng para pendosa ini. Ruangan yang sempit dan pengap yang sering menjadi sarang tikus dan kecoa, membikin saya benar-benar hidup seperti di neraka. Belum lagi bau pesing WC yang tak pernah dikuras. Rasa rindu terhadap bau ketiak istri kadang-kadang sangat menyiksa perasaan. Yang menjengkelkan, ulah para napi yang tak jarang memaksa saya untuk melakukan sodomi. Uh, benar-benar menjijikkan.

Ulah para sipir penjara pun tak kalah brengseknya. Meka tak segan-segan menolak kedatangan sanak saudara para napi sebelum menyelipkan uang rokok. Bahkan, sering kepergok melepaskan sementara para tahanan berkantong tebal yang ingin mencium hawa kebebasan di luar tembok penjara. Itulah yang sering membikin napi-napi yang lain merasa iri. Aneh memang! Para napi ternyata tidak lebih busuk dari para sipir. Meski tidak semua berbuat korup seperti itu, tapi jelas bisa membuat citra penjara merosot.

Saya termangu di pojok sel. Menjelang hari-hari akhir pembebasan, Narti, istri saya yang masih menggemaskan itu, ternyata tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Setumpuk pertanyaan menyergap dada saya. Api kecemburuan tak jarang membakar perasaan. Pakah ia tertarik dengan laki-laki lain? Sepuluh tahun memang bukan waktu yang singkat. Wanita mana yang tahan menderita ditinggal suami bertahun-tahun tanpa sentuhan nafkah lahir batin? Di lorong benak saya berkelebat wajah juragan Karta dan antek-anteknya yang tengah menggerayangi istri saya. Maklum, belum sempat menabur benih keturunan ke perut Narti, saya keburu terbuang ke ruang yang sumpek ini.

Akhirnya, hari kebebasan saya dari sekapakn penjara jatuh juga. Dengan menghirup udara di luar tembok penjara sepuas-puasnya, saya menjejakkan kaki ke kampung halaman dengan penuh sergapan tanda tanya di dada. Bayangan Narti, juragan Karta dan antek-anteknya, serta tatap kebencian parra penduduk muncul berganti-ganti di layar batin saya.

Saya tercengang melihat perubahan yang terjadi di kampung. Jalan-jalan sudah mulus beraspal. Deru mesin pabrik membahana di seantero kampung. Gedung pabrik berdiri kokoh di atas bekas lahan pertanian rakyat yang begitu luas. Di mata saya, pabrik itu tak ubahnya hantu yang terus-terusan menyedot darah rakyat, tapi rakyat tak bisa berkutik. Pasrah. Lahan yang mestinya menjadi sumber kehidupan utama para penduduk telah menjelma menjadi simbol ekonomi sekelompok orang.

Bayangan kebencian para penduduk atas kehadiran saya kembali di kampung sirna ketika melihat mereka berubah ramah dan bersahabat. Senyum terlepas di bibir mereka saat bertemu saya di sepanjang jalan. Saya membalasnya. Mereka tampak tidak pangling, meski sudah sepuluh tahun tak bertemu. Saya merasakan kesejukan dan kedamaian tiba-tiba menyembul di lorong sanubari. Namun, kepala saya terasa seperti tersambar petir begitu tiba di rumah. Kosong dan tak terawat, menunjukkan bahwa rumah itu sudah lama tak dihuni.

“Kang, istri Sampeyan telah diambil Juragan Karta!” seloroh Dul Gempo yang sedari tadi mengikuti saya. Darah saya berdesir. Tubuh bergetar menahan amarah dan dendam. Tanpa berkata-kata lagi, saya berjingkat cepat menuju rumah Juragan Karta. Lelaki tua keparat itulah yang telah menghancurkan hidup saya. Para penduduk saling bertatapan melihat tingkah saya. Mereka berduyun-duyun membuntuti. Dengan dada disergap amarah, saya mendengar, para penduduk sudah lama hendak menyatroni Juragan Karta, tetapi tak punya keberanian. Mereka merasa tertipu, apalagi belakangan ini banyak buruh pabrik yang dipecat tanpa pesangon.

Setiba di rumah gedong Juragan Karta, saya segera memburu lelaki berjidat klimis itu. Hati saya bertambah panas ketika melihat lelaki itu tengah bercengkerama begitu mesra dengan Narti di kamar. Amarah saya menggelegak. Seperti dituntun oleh sesuatu yang gaib, dengan gerakan kilat, tangan dan kaki saya menari-nari di tubuh Juragan Karta. Tubuhnya segera limbung di lantai keramik, babak belur. Narti menjerit-jerit. Belum puas menghajar, saya melolos pedang yang terpanjang di tembok kamar. Lantas dengan cepat, pedang itu saya tebaskan ke leher Juragan Karta yang telah loyo tak berdaya. Leher itu hampir putus. Darah muncrat membasahi wajah saya. Narti menjerit histeris hingga akhirnya pingsan. Kini, aku menjadi sang pembunuh yang sebenarnya.

Di luar, para penduduk beramai-ramai melempari rumah Juragan Karta. Kaca bagian epan hancur berkeping-keping. Genting-genting bocor terkena timpukan batu. Berama-ramai, para penduduk bergerak menuju pabri. Seperti dirasuki iblis, mereka membawa minyak tanah dan ditumpahkan ke bangunan pabrik. Dalam sekejap, begitu nyala api menyulutnya, si jago merah membubung tinggi, melalap pabrik seisinya. Kampung gempar seperti digoyang gempa.
(Wawasan, 12 Desember 1999)

tentang blog iniTulisan berjudul "Sang Pembunuh" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (3 November 2007 @ 14:58) pada kategori Antologi PBP, Cerpen, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Ada 1 komentar dalam “Sang Pembunuh

  1. Pingback: Kehidupan "Wong Cilik" dalam Teks Cerpen | Catatan Sawali Tuhusetya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *