Sastrawan Kalimantan Selatan dalam “Sang Peneroka”

Kategori Sastra Oleh

Hamberan Syahbana
Lahir di Banjarmasin, 14-07-1948, pensiunan guru SMPN 12 Banjarmasin ini mulai menulis Puisi, cerpen dan esai sejak akhir tahun 70-an. KTP No. 637103.140748.0002. Alamat Jalan Rawasari Ujung Komplek Dalem Sakti Nomor 14, RT 66 RW 04 Kelurahan Pelambuan Banjarmasin. Karya-karyanya dipublikasikan di media masa lokal dan beberapa antologi bersama. Akun facebook sebagai Hamberan Syahbana. Tahun 2010 menerima Penghargaan Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan.

Hamberan Syahbana
KITA MASIH PUNYA HARGA DIRI
Buat KJ

Di km 60 ini
Kita masih punya semangat menyala meski digoncang
gempa puting beliung dan nanjir bandang
garang menerjang
tidak seperti mereka yang tak punya malu
pura-pura gagu bagai lembu
pura-pura tak pernah ragu seteguh batu
berani mengharu biru nyatanya hanya benalu
menumpang makan di ranting di cabang di batang
bahkan diam-diam memotong dari belakang

Di km 60 ini
Kita masih setia
tidak seperti mereka yang duduk satu meja
makan dan minum darah saudara seiring
yang tak pernah kenyang
pura-pura sejiwa sehati
padahal hanya pelabuhan pura-pura menanti
kapal yang tak pernah mau berlabuh di sini

Di km 60 ini
Kita masih punya harga diri tidak seperti mereka itu
masih punya nyali tapi tak punya malu

Banjarmasin, 2014 (halaman 155)

Hamberan Syahbana
ANGIN DINGIN DI DESAKU

Desaku dingin di angin pagi
kaulah desaku hijauku suburku di pagi
yang tak pernah ragu berbagi rezeki
dengan elang pengembara melayang di
awang sementara anak petani menanam padi di sawah
berharap gemilang tak akan pernah sirna dari desa

kaulah bening fajar di
ufuk muara berlimpah ruah tengadah pasrah di
hamparan amanah di
tebaran manik-manik tasbih doa mohon kirimi kami
berjuta berkah berjuta anugerah
berlimpah ruah turun di desa
menjemput cinta
di kerling senyum dara jelita

Jan. 2014   (halaman156)

Hamberan Syahbana
JEMBATAN INI

Jembatan ini ‘tlah Kauberi seribu tali yang tak terlihat
kuat mengikat hanya kita yang dapat lewat
menumpas sekarat hingga habis sengsara
hanya kita yang dapat
melibas halang rintang menembus tembok bengis
membongkar hingar-bingar
hanya kita yang mampu menghajar pemburu bandel
hanya kita yang dapat berbuat yang berat-berat ini

Jembatan ini ‘tlah Kauberi seribu kaca pembesar
yang dapat melihat berjuta orang di bawah sana
berlariang menghamburkan duit sembunyi-sembunyi
takut bagai belut di dasar liang
menjaga mulut berbagi rahasia
berpura-pura setia mengharap berkah

Banjarmasin, 2014   (halaman 157)

Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara
Lahir di Hulu Sungai Tengah, 5 Juni 1994. Menghadiri Temu Karya Sastrawan Nusantara (Tangerang, 2013). Menghadiri pembacaan puisi peringatan 9 tahun tsunami Aceh (Smong) di Mess Aceh Jakarta 2013. Karyanya tergabung dalam antologi bersama antara lain: Puisi Menolak Korupsi jilid 2 b (Antologi Penyair Indonesia, 2013), Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2014, Pengantin Langit (Antologi Puisi Anti Teroris Bersama Penyair Indonesia 2014), Bebas Melata Menyulam Sayang  (Antologi Puisi Penyair 3 Negara, 2014) dll. Buletin Sastra Noktah (Majalah Sastra Nusa Tenggara Barat), Banjarmasin Post, dll. Pendiri dan Pembina Sanggar Buluh Marindu. Alamat: Kapuh Padang Rt 005 Rw 003, Kec. Haruyan, Kab. Hulu Sungai Tengah 71363, Kalsel.

Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara
MATAN HUMA BETANG, YAKU GANANG IKAU
Kurniawan Junaedhie

limpang huma betang
kutatah larik seloka di kulit maranti
dengan sebilah bulu karuai dicelup ke darah tingang
kugurat hurup menggeleparlah sejadinya
kasap kubaca:
ternyata, maut jua perjanjian seluruhnya

mandau tercabut sarungnya
belahlah kulit binatang merah jambu
kucari nestapa di alur jantung hitam babi hutan
tak kutemui barang sebercak
keselamatanlah kami hatur atasmu
dalam keberkahan Nining Batara

malam tiba, bingkaslah kabut
denting sampek  menyayat bulan kepayang
ringgitan melambai enam puluh kandil damar disulut
sebentar lagi lindap padamlah dilibas Nining Raja Kuasa

o, Kurniawan Junaedhie
dingsanak kami di tanah seberang
lewat hembus angin kami titip salam
lewat ricik air batu kami titip harap

rampatai huma betang
bau kuntum turun dayang menyeruak menghantar bau sapamu
di pedalaman, kami kirimkan riak sungai doa puja-puji
dan setangkai anggrek tebu hutan bergayut di buluh kuning
hadiah tahun berulangmu

bila termangu dadamu sesak, sedikit ngilu
maka kamilah menombak sulugi rindu padamu

banyak risalah perjalanan kehilangan inti sari
dan tatah kehidupan patah reliefnya
berguru pada alam, menikahi malam memperanakkan sajak
kini diri bagai sebatang pohon merbau digerangi anai-anai
tapi urat tangan tungkai kakimu masih kokoh mencengkram perpijak
di pematang lapuk huma usia kau tancapkan suratan

Banjarmasin menjelang luruh, 2014   (halaman 290-291)

Keterangan:
Dalam tutur Dayak
matan: mulai dari
huma betang: rumah panjang khas suku Dayak, biasa didiami lebih dari satu kepala keluarga
yaku: aku
ganang: kenang / mengenang
ikau: engkau, kamu
limpang: tangga dari sebatang kayu
maranti: jenis tanaman pohon
karuai: salah satu jenis burung khas Kalimantan
tingang: burung enggang, salah satu jenis burung khas  Kalimantan
mandau: jenis parang khas Kalimantan
nining batara: yang maha kuasa dalam kepercayaan suku Dayak
sampek: alat musik petik khas suku Dayak
ringgitan: janur dari pucuk enau salah satu perangkat upacara suku Dayak
dilibas: dilewati
dingsanak: keluarga / saudara
rampatai: lantai dari jalinan bambu
turun dayang: jenis anggrek hutan di pedalaman Kalimantan
sulugi: batang bambu yang diruncingkan
anai-anai: sejenis rayap

Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara
SEMBAHYANG BIANGLALA

bila tiba padamu musim bunga batu
yang diberi wudhu basahan embun safir paling tulus
dan matahari ditabuh pecah bertalu
membangunkan kawanan burung-burung derakuku
yang menepi di tebing kubah surau kumuh
tiang gereja roboh, candi kuil runtuh

di majelis semesta, dari takbir warna-warna duniawi
melangsungkan sembahyang bianglala dan kita semakin sunyi
pada kediaman terpahat di tembok-tembok kota
mengutuk kita menjadi jama’at lalai

pernahkah angin dingin sebisu ini, perbincangan beku di reranting daun
cericit kelelawar berzikir di lereng gua, kesepian abadi
isyarat rahasia bulu kuduk

Banjarmasin, 2014   (halaman 292)

Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara
KOTA ANJING

di mulutmu, kudengar salak anjing
menggonggongku dari kengerian dunia

kusaksikan kesalahan kitab hidup
diwariskan turun-temurun
membuat mereka melahirkan kebengisan
lalu mati tanpa iringan doa, melainkan caci maki
mnghantarkan dari kerangkeng kota

di jalan lengang, lampu-lampu taman pecah
rok-rok perempuan mengibarkan birahi mengangkang malam hari
puntung rokok berserakan membarakan barah kota
becek selokan mengeruhkan dendam kesumat
dari dengus nafas gang-gang yang tak pernah ramah

hanya pada grafiti tembok-tembok gedung khianat
mereka pahatkan kebebasan dari rantai kekejaman modernisasi
diliput debu batu aspal bangkai kucing berserakan
sesungguhnya kota ini memelihara banyak anjing-anjing pemarah

Barabai, 2014   (halaman 293)

Syarif Hidayatullah
Lahir di Marabahan, tepian Sungai Barito 20 Oktober. Lulusan pond-pest Al-Mujahidin Marabahan, sekarang kuliah di Jurusan Ekonomi Syariah IAIN Antasari Banjarmasin. Aktif di LKM Sukma (Lembaga Pers Mahasiswa suara kritis mahasiswa) serta menjabat sebagai ketua umum di Pondok Huruf Sastra (PHS) organisasi kampus. Puisi-puisinya pernah dimuat di Banjarmasin Post, Media Kalimantan, Sastra Mata Banua dan kumpulan puisinya juga termuat di buku Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke-10 “Tadarus Rembulan”, 2013; Tifa Nusantara; 2013; “Solo dalam Puisi” ,2014; Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia jilid 1, 2014;  Sajak untuk Pemimpin Negeri, 2014; Karena Cinta itu Manusia 2014, Tubuh Bencana, 2014; Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia jilid 2, 2014. Biku antologi tunggalnya “Estetika dalam Sandiwara”. Sekarang tinggal di Jalan Manunggal 2 Gang 5 Kel. Kebun Bunga, Kec. Banjarmasin Timur Rt 27 Rw 02 Nomor 103 Kode Pos 70235.

Syarif Hidayatullah
DARI TEPIAN SUNGAI BARITO
KJ

Kita tak pernah bertemu mulut
Ketika bercengkramanya embun dan rembulan
Dan jikalau waktu bertanya?
Mata ini hanya mengenal dari puisi yang kau rangkai
Atau sajak yang kau mainkan dalam tinta yang menghitam

Dalam waktu yang dipakai menit
Hurup-hurup kita berterbangan, saling berbisik rindu
Dan kadang aksaraku dihempas sang mentari
Ditelanjangi gerimis, kedinginan dalam peanaku yang tumpah

Kita hanya bercengkrama dalam antologi yang sama
Dengan tebasan rasa yang berbeda
Maka izinkanlah,
Aku mengenalmu dalam goresan yang mungkin tak diperhatikan para gemintang

Semoga umurmu semakin berkah, Bah !
Doa dari tepian sungai Barito

Marabahan, 10 September 2014    (halaman 371)

Syarif Hidayatullah
AKU DAN KAMU YANG TAK HENTI BERCERITA

Saat kau datang bersama embun yang membisu
Aku masih asik bercengkrama dengan rembulan
Dan mimpi yang beranjak pergi mengoyak mentari
Sedang hujan membakar dirinya
Dalam rintik-rintik rindu pada bumi

Saat kau datang bersama api yang membakar kulit keriputku
Aku masih menyusu dalam kandungan kepompong
Kau bercerita tentang perahu yang membawamu ke alam yang kau sendiri
tak kenal
Mengingat tentang tubuh yang terbungkus tanah

Saat kau datang bersama malam yang redup di tubuh kunang-kunang
Aku masih terlalu risau dengan pikiran matahari yang telah menghamili senja
Menyilaukan harapan yang tak bisa lagi kau gantungkan di tiang langit

Di hari ini saat kau datang bersama masa lalu yang telah membuat kumenangis
Aku berada di depanmu dan berbisik kepada pelangi
Dan tersenyum kepada bidadari

Aku di sini masih dalam kepingan embun

Banjarmasin, 4 Januari 2014    (halaman 372)

Syarif Hidayatullah
KITA ADALAH AKSARA

Berhembuslah wahai engkau angin malam
Bersama riak gemuruh yang menghempaskan waktu
Menerbangkan aksara yang tersusun indah tentang puisi yang terukir di
pondok ini
Melelehkan rasa tentang kata

Apakah kita ini puisi?
Atau hanya sekedar aksara buta
Yang berhembus tanpa arti
Yang bersemayam tanpa mimpi

Kita adalah aksara
Yang menterjemahkan mimpi sang hurup
Kalimat-kalimat yang kita rangkai setiap hari
Akankah menjadi puisi yang tak bertepi
Atau hanya sekedar aksara !

Bantuil, 25 Januari 2014   (halaman 373)

Semoga berlanjut pada jalinan yang lain, lain tempat lain nama lain tokoh. Salam gumam asa

Banjarbaru, 18 Desember 2014.

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Sastra

Membalas Cerita Ombak

MEMBALAS CERITA OMBAK Ali Syamsudin Arsi Kata-kata ombak: ( 1 ) “Ya
Go to Top