Sastrawan Kalimantan Selatan dalam “Sang Peneroka”

Kategori Sastra Oleh

Ali Syamsudin Arsi
Lahir di Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalimantan Selatan. Kini tinggal di kota Banjarbaru, Prov. Kalsel. Pendiri dan Ketua Forum Taman Hati, diskusi sastra dan lingkungan, bersama M. Rifani Djamhari. Pendiri dan Pembina Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru. Menerbitkan 7 buku ‘Gumam Asa’ yang berjudul:  1. Negeri Benang Pada Sekeping Papan (Tahura Media, Banjarmasin, Januari 2009).  2. Tubuh di Hutan Hutan (Tahura Media, Banjarmasin, Desember 2009). 3. Istana Daun Retak (Framepublishing, Yogyakarta, April 2010). 4. Bungkam Mata Gergaji (Framepublishing, Yogyakarta, Februari 2011). 5. Gumam Desau (Scripta Cendekia, Desember 2013). 6. Cau Cau Cua Cau (2A Dream Publishing, Juni 2014), 7. Jejak Batu Sebelum Cahaya (Framepublishing, Yogyakarta, Oktober 2014). Bersama Balai Bahasa Kalimantan Selatan menjadi narasumber agenda “Bengkel Sastra” bagi siswa dan juga bagi guru di banyak kota dalam provinsi Kalimantan Selatan. Tahun 1999 menerima hadiah sastra dari Bupati Kabupaten Kotabaru.  Tahun 2005 menerima hadiah seni bidang sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan. Tahun 2007 menerima hadiah sastra bidang puisi dari Kepala Balai Bahasa Banjarmasin. Tahun 2012 menerima penghargaan pada acara Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra, Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Dinas Pariwisata, Budaya dan Olah Raga. Pada malam Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra tahun 2014 kembali mendapat penghargaan sastra oleh Pembko Banjarbaru melalui Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, penilaian berdasarkan standar kekaryaan dan aktifitas bersastra.
Alamat rumah: Jalan Perak Ujung nomor 16, Loktabat Utara, Banjarbaru, 70712.

Ali Syamsudin Arsi

KEPOMPONG WAKTU

  • bagimu KJ

“semuanya tinggallah menunggu, juga aku
di barisan yang sebelah mana pada stasiun yang mana
kapan-kapan, akan menjadi biasa saja,”
sebutir pasir tengadah ke langit biru
bergunduk ia di tepisan jemari halus siput-siput pantai
“ke satu titik kita terus saja kembali
mengatas-nama desau dan gelombang pasang
ada saja kabar dari daun bakau
kering dan gugur bergaram di tanjung pulau,”
sekelompok ikan menyerbu karang
masuk ke celah melayang pergi ditingkah arus bawah hamparan
laut tak pernah sepi

“berputar menari-nari
hilang datang lalu pergi lagi
melingkar-lingkar di satu pusaran,”
kepompong waktu

banjarbaru, juli 2007, (halaman 13)

Ali Syamsudin Arsi
SUNGAI DI KALIMANTAN

wahai sungai, mengalirlah sebagaimana kalian mengalir sejak lama seperti yang aku pahami dalam kekinian dan pengertianku sendiri tentang sejarah masa silam, wahai sungai, meliuklah sebagaimana engkau meliukkan badan dalam jeram-jeram dalam tebing-tebing dalam hutan-hutan, wahai sungai, di atas riakmu pula ada banyak kabar dari satu titik ke titik lain dan ketika pecahan riak menuju gelombang maka saksikanlah bahwa kecipak ikan-ikan dengan ekor selalu bergerak dari satu hentak ke hentak lainnya, wahai sungai dalam rimba belantara wahai hutan dalam gelombang dan wahai sungai dalam pijar dendam membara-bara, wahai sungai keruh yang kian membuncah-buncah, wahai sungai, atas dasar berpasir batu dan kulit kerang juga tanah liat tanah lempung campuran lumpur serta batu-batu, wahai sungai; meluaplah, meluap sampai keluh kesahmu naik di puncak ramai sampai ke pucuk tugu dan tiang-tiang bendera, wahai sungai; saksikan olehmu keangkuhan menara dan banyaknya tiang-tiang istana, istana rapuh yang ditancapkan di mana-mana atas dasar apa, wahai sungai, sampai di mana diam kita bila semua arus telah dengan sengaja disumbat di mana-mana

/asa, banjarbaru, desember, 2013 (halaman 14)

Ali Syamsudin Arsi
LAMBAI TANGAN DI UDARA JARAK

tentu saja aku boleh pulang dengan membawa seikat harapan atas tanah-tanah jejak yang pernah aku lupa dalam hitungan rupa-rupa warna di cerlang cahaya lampu-lampu kota karena gemericik air pancuran adalah bagian yang tak akan mampu melepaskan ikatan dalam setangkai ingatan ke masa-masa silam ia akan selalu bersulam menjadi satu tautan antara waktu terjauh dari lambai ke dalam pusaran kini dan terus akan menuju di lembar-lembar berikutnya bahkan dalam jauh jarak hitungan yang terkadang tak tergapai oleh rumus-rumus kelangkaan

hati kita berpaut, wahai tanah kelahiran

semakin lama dan semakin jauh aku tinggalkan semakin aku tak punya alat untuk melukiskan betapa senyap dan lebur kita dalam lekat yang seharusnya aku mampu memberikan titik-titik warna dari perjalanan bahkan di sepanjang pagar-pagar rumah serta atap-atap daun dan rimbun senyum yang teramat ramah bila aku lupakan hanya karena alasan-alasan di luar segala macam kemampuan

keraskan langkah kita agar daun-daun di pekarangan tetap menjadi jalinan, karena rindu semakin mengepalkan

pun tak ingin, tanah kelahiran menjadi ladang – ladang-ladang gersang –

/asa, banjarbaru, juli 2014 (halaman 15)

Ali Syamsudin Arsi
MONUMEN KATA

anak-anak riang ceria melingkari alas kaki monumen minggu pagi
ini untuk yang kesekian kali datang ke mari
berkali-kali untuk coba memahami, apa semua arti

ada tiang lurus tegak berdiri ada juntai tali ada jerat di ujung sendi kaki;
kaki seorang lelaki kemeja setengah rapi

lelaki bergelantung;  kepala di bawah, di atas kaki dalam sekap
jerat untai tali dengan tatap mata yang tajam mencoba lanjutkan
rangkai kata-kata “ di sini, di tanah subur ini, kata-kata kehilangan …

anak-anak riang ceria melingkari alas kaki monumen minggu pagi
ini untuk yang kesekian kali datang ke mari
berkali-kali untuk coba memahami, apa semua arti

berlembar kertas sebagai alas tepat jumpa ujung mata pena
anak-anak mencoba berani dekatkan tubuh mereka
“Sungguh unik bentuknya, pasti banyak kandungan cerita,”
terdengar kata dari mereka, “Hebat !! Dia bisa menulis seraya badan terbalik
seperti pemain sirkus yang pernah aku saksikan di tengah-tengah keramaian saat musim libur tiba, sungguh,  dia sungguh-sungguh hebat,” salah seorang anak
berseru kepada teman-temannya, yang lain hanya diam tak bersuara,
bingung, dan tak paham, sungguh tak paham
atau lebih tepatnya
belum paham:

tiang lurus tegak berdiri ada juntai tali jerat di ujung sendi kaki;
kaki seorang lelaki dengan kemeja setengah rapi

“Getirkah,” ucap yang lain tiba-tiba

/asa, banjarbaru, januari 2014 (halaman 16)

Ali Syamsudin Arsi
JENDELA YANG KITA BACA

susunan papan berkeping luruh itu semakin lusuh di hamparan pasir
engkau dan teman-teman lainnya menenggelamkan kapal di tengah
lautan semakin bergelombang semakin gemuruh; pasir bergelora
sudah kita rangkai sejumlah kata, dalam catatan sejarah usang
atas nama peristiwa yang semakin bergejolak, jendela patah penyangga
jendela berlubang-lubang, tembus cahaya pagi siang sore juga malam

ada banyak riak atas gelombang, ada banyak memang
ada yang tak pernah tuntas kita renungkan, ada banyak memang

maaf, bila hanya sekedar mewakilkan kalian
di satu wilayah yang tak seharusnya kalian tempati
karena ucap dan laku tak ubahnya luka berkepanjangan

jendela yang kita baca, seperti kobaran api di sekam-sekam

/asa, banjarbaru, desember 2013  (halaman 17)

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Sastra

Membalas Cerita Ombak

MEMBALAS CERITA OMBAK Ali Syamsudin Arsi Kata-kata ombak: ( 1 ) “Ya
Go to Top