Pemulung dan Nilai Kepahlawanan Sejati

Kategori Opini Oleh

Peristiwa-peristiwa heroik ketika negeri ini memasuki masa-masa revolusi fisik, sejatinya merupakan fase historis yang bisa digunakan untuk mencerahkan ingatan kolektif bangsa bahwa negeri ini pernah memiliki pahlawan-pahlawan sejati. Secara ragawi, sosok pahlawan sejati yang terlibat dalam konflik dan pertempuran fisik bisa jadi memang sudah tidak ada. Roh, semangat, dan kesejatian nilai kepahlawanan mereka telah diabadikan lewat buku-buku sejarah, museum, monumen, atau nama-nama jalan.

Meski demikian, tidak lantas berarti nilai-nilai kepahlawanan dengan sendirinya ikut terkubur ke dalam kubangan sejarah masa silam. Kesejatian nilai kepahlawanan bisa terus tumbuh dan berkembang seiring dengan dinamika dan konteks zamannya ke dalam bentuk dan wujud yang berbeda. Ini artinya, siapa pun memiliki “talenta” untuk menjadi pahlawan sejati melalui ranah perjuangan yang digelutinya. Pahlawan sejati bisa muncul dari kalangan politisi, penegak hukum, pejabat, pegawai rendahan, bahkan dari kalangan rakyat jelata sekalipun.

pmlCobalah tengok sejenak perjuangan seorang pemulung yang tak kenal lelah mengumpulkan puing-puing rupiah dari tong-tong sampah dan tempat-tempat kumuh. Mereka bergerak ketika semburat merah matahari pecah di ufuk timur hingga semburat jingga matahari tampak temaram di ufuk barat. Melalui barang-barang bekas yang memberat di punggung, para pemulung kembali ke markas. Lantas, mereka memilah-milah dan mengumpulkan serpihan-serpihan sampah sesuai dengan jenisnya, untuk selanjutnya dijual kepada para penadah.

Untuk mendapatkan rupiah, seorang pemulung mesti melewati beberapa fase perjuangan yang tidak ringan. Mereka mesti menghadapi stigma yang sudah lama ditimpakan oleh para petugas Tibum. Mereka telah dicitrakan sebagai sampah yang mesti disingkirkan. Berkali-kali, mereka harus berhadapan dengan barikade petugas Tibum yang telah diindoktrinasi lewat dogma-dogma ketertiban umum yang menyesatkan. Penggarukan, penggusuran, atau pemaksaan kehendak, sudah merupakan hal yang biasa mereka lakukan kepada orang-orang yang dianggap menyandang masalah sosial. Dengan beban keranjang dan senjata ”pulung” di tangan, para pemulung sering diangkut dengan cara paksa di atas mobil bak terbuka, seperti layaknya kerumunan babi yang barusan jadi korban jagal. Di markas petugas, mereka tak jarang ”diteror” dengan cara-cara fasis. Hujatan, sumpah serapah, dan sikap-sikap tak ramah lainnya seringkali dipertontonkan oleh bapak-bapak petugas yang tengah mempraktikkan kekonyolan-kekonyolan. Marah-marah tanpa memiliki kesanggupan untuk mencarikan solusi mata pencaharian yang lebih baik.

pmlTak hanya itu. Para pemulung juga harus menghadapi konstruksi sosial dan kultur masyarakat yang telah dihinggapi doktrin-doktrin materialisme dan hedonisme. Para pemulung sering dicitrakan sebagai “orang jahat” alias maling yang pantas dicurigai. Di jalan-jalan dan gang masuk kampung, misalnya, seringkali terpampang tulisan dengan huruf yang sangat mencolok: “PEMULUNG DILARANG MASUK!” dan sejenisnya. Dalam pemahaman awam saya, tulisan semacam itu tak lebih dari sebuah “pembiadaban” berdasarkan cara pandang pemikiran yang sempit dan nihil dari sentuhan nilai kemanusiaan. Mungkin ada beberapa pemulung yang “tersesat” sehingga punya keinginan untuk memiliki sesuatu yang tiba-tiba saja menggoda nafsu dan selera rendahnya. Namun, hal-hal yang bersifat kausistik semacam itu tak bisa dijadikan sebagai sebuah premis bahwa pemulung identik dengan maling.

Jadi pemulung bukanlah harapan dan cita-cita. Tak seorang pun yang menginginkan predikat semacam itu melekat pada dirinya. Namun, situasi kemiskinan struktural yang sudah demikian menggurita di negeri ini, disadari atau tidak, telah melahirkan terciptanya pemulung sebagai mata pencaharian baru. Jangan salahkan mereka jika kehadirannya terpaksa mengganggu kenyamanan pandangan mata para pemuja gaya hidup materialistis dan hedonis.

Para pemulung bisa jadi tak paham apa makna pahlawan yang sesungguhnya. Namun, secara riil, mereka telah mengaplikasikan nilai-nilai kepahlawanan sejati ke dalam setiap aliran darah, desahan napas, dan kucuran keringatnya. Mereka rela berkorban untuk direndahkan martabatnya tanpa punya pamrih untuk menggugatnya. Mereka rela diberi stigma sebagai maling tanpa punya pamrih untuk melakukan pemberontakan. Mereka juga merelakan dirinya dipanggang terik matahari demi memenuhi tuntutan perut sanak keluarganya. Sungguh kontras dengan perilaku koruptor yang sudah jelas-jelas terbukti mengemplang harta rakyat, tetapi masih menempuh berbagai cara untuk bisa lolos dari jeratan hukum.

Para pengambil kebijakan seharusnya memiliki kepekaan dalam menangani masalah-masalah sosial yang menghinggapi kaum dhuafa. Jangan gampang melakukan pembiadaban dan menempuh cara-cara fasis untuk menyingkirkan wong cilik yang sedang mencari peruntungan dan perbaikan nasib keluarganya jika tak sanggup memberikan jaminan penghidupan yang layak. Para pahlawan yang sudah berada di alam keabadian bisa jadi akan menangis dan merintih menyaksikan para petugas yang tak henti-hentinya melakukan teror, intimidasi, dan kekerasan terhadap sesamanya. Jangan sampai negeri ini jadi ”Malin Kundang” akibat ingatan kolektif bangsa yang sudah mulai melupakan kiprah para pahlawan sejati. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

209 Comments

  1. Yang sungguh mengenaskan, di dunia pemulung pun sudah menjelma hirarki penghisapan manusia atas manusia. Tawar-menawar harga hanya bisa terjadi antara bandar dengan pabrik daur ulang; sedangkan pemulung harus tunduk pada harga dan standar-standar yang didiktekan oleh lapak; dan lapak sendiri tunduk pada bandar besar.

    Mungkin dirasa tidak masuk akal bahwa kapitalisme sudah merasuk ke dunia rongsokan ini, namun, begitulah nyatanya. Dan, sistem upeti pun sudah “membudaya” di sini, terutama di antara para lapak, bandar besar, dan apa yang disebut ketua wilayah. Bolehlah Anda sebut ini mafia dekil dan bau apek. Tapi, meski menyimpan uang di bawah bantal dan tak percaya pada sistem perbankan, para bandar besar dan ketua wilayah bisa saja pergi ke dealer Ferrari dengan membawa duit berkarung-karung, kemudian pulang dengan menunggang mobil super mewah berlogo kuda jingkrak itu.

    Mungkin komentarku ini agak OOT ya Pak Sawali. Sebenarnya ini hanya satu cara untuk “melapor”, bahwa aku akan kembali aktif blogwalking.

    Tabik.

    Baca juga tulisan terbaru Robert Manurung berjudul MUI : Amrozi Cs Tidak Mati Syahid

  2. Ironis.. Judul yang dikombi ama gambar yang Pak Guru tampilkan.

    Banyak sosok-sosok pahlawan di sekitar kita. Hanya saja kita jarang menghentikan langkah sejenak untuk mau melihat dan merasakan itu, sehingga jarang kita memperoleh hikmah semangat dari yang terlewat tadi. Kalau gejala yang ada seperti demikian mungkin perlu sosok-sosok tersebut diekspos lebih gencar lagi, supaya kumpulan semangat-semangat yang barangkali ‘hanya’ dari individu kecil yang jarang dilirik terakumulasi, menulari bagai wabah positif menjadi semangat yang sporadik dan saling beradhesi membentuk semangat yang lebih besar terus dan terus..

    Semangat, pengorbanan, kerja, mulai dari yang kecil, di sekitar kita, dan dimulai mulai saat ini…untuk kondisi negeri ini yang memang membutuhkan perjuangan.

    Mungkin untuk hari pahlawan ini ucapan selamatnya bukan diakhiri dengan sekian jumlah tanda seru, melainkan sekian jumlah tanda tanya…

    Baca juga tulisan terbaru dhoni berjudul Candi Murca : Ken Arok, The Spirit of Karautan

  3. dari awal saya selalu menganggap kalau pemulung adalah pahlawan, yakni pahlawan bagi bumi ini. mereka menyeleksi sampah yang bisa didaur ulang, membantu membersihkan bumi dari tumpukan sampah yang tak sanggup diurai.
    hendaknya kita bisa memberi apresiasi bagi semua pekerjaan yang baik, termasuk pekerjaan pemulung.

  4. Pekerjaan mereka memang sangat membantu sebagai salah satu cara dalam pemisahan bahan-bahan yang bisa di daur ulang…. tapi mungkin karena ad beberapa dari mereka yang tidak tanya2 dulu dalam memilih dan memilah barang mana saja yang boleh dan tidak untuk dimanfaatkan kembali, jadilah mereka tertuduh dalam bebrapa tindak kriminal kecil.
    ya semoga saja ulah sebahagian kecil dari mereka tidak sampai mencemari pekerjaan mulia mereka.. 😀

    Baca juga tulisan terbaru Daiichi berjudul Obama Wins

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Opini

Go to Top