Membangun Peradaban yang Sensitif terhadap Seni dan Budaya

Kategori Budaya Oleh

Kelambanan kolektif kita, ujar Taufiq Ismail suatu ketika, akan diterjang tanpa ampun oleh kencang lajunya peradaban milenium yang akan datang ketika batas-batas geografis dan berbagai sekat peraturan sudah diangkat orang. Kita yang terkenal lambat, lamban, lalai, dan lengah, akan tergeser, tergusur, tergasak, dan kemudian tergeletak di pinggir jalan raya peradaban dunia.

Sebuah ”warning” yang layak kita renungkan ketika masyarakat di berbagai belahan dunia sudah hidup bersama dalam satu atap di sebuah ”perkampungan global”. Pernyataan penyair religius itu juga mengingatkan betapa pentingnya kita secara kolektif untuk memberikan perhatian yang lebih serius dan intens terhadap persoalan kesenian dan kebudayaan. Tujuannya? Agar jatidiri dan kepribadian bangsa yang kuyup akan nilai–nilai keluhuran budi bisa terevitalisasi dan teraktualisasi dalam tataran praksis kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, jangan sampai kita terjebak dan latah dalam kelancungan slogan moral dan keagungan budi yang kehilangan basis estetika dan kulturalnya.

Modernisasi, harus diakui, telah banyak membawa dampak perekonomian dan perindustrian yang terus menunjukkan grafik naik. Sudah tak terbilang lagi jumlah kelompok maupun perorangan yang mampu mengaksesnya dengan capaian tingkat kesejahteraan dan taraf hidup yang lebih baik. Meski demikian, modernisasi dinilai juga telah membawa dampak munculnya manusia berkarakter pembangkang, oportunis, munafik, hedonistik, bermoral lemah, megalomaniak, maupun schizopronik; terjadi ketimpangan antara kata dan perbuatan.

Manusia-manusia berkarakter semacam itu konon akan mudah tergelincir ke dalam kubangan kemanjaan nafsu dan selera hidup yang tega tertawa ngakak di atas derita dan bangkai sesamanya. Tatanan hidup tak jauh berbeda dengan siklus kehidupan hukum rimba; makhluk yang lemah dan tak berdaya akan menjadi santapan yang empuk bagi mereka yang kuat dan berkuasa. Dengan kata lain, bingkai kehidupan telah tereduksi oleh peradaban bar-bar, sadis, keras, dan lepas dari kontrol nilai kemanusiaan.

Iklim modernisasi yang bergitu terbuka dalam menawarkan nilai-nilai baru yang dinamis dan progresif, agaknya tak berdaya dalam membangun peradaban yang lebih cerah, bermartabat, dan terhormat. Sikap latah dalam memburu gengsi dan kemaruk dalam menumpuk-numpuk harta, disadari atau tidak, telah melumpuhkan kepekaan sosial dan nurani kemanusiaan, bahkan cenderung menghalalkan segala cara dalam menuntaskan ambisi. Yang lebih mencemaskan, modernisasi dinilai juga telah membuka peluang terhadap meningkatnya kekerasan pada (hampir) semua jenjang, lapis, dan lini masyarakat. Pemerkosaan, pembunuhan, dan berbagai aksi kekerasan seakan-akan sudah menjadi fenomena yang lumrah terjadi di atas panggung kehidupan sosial.

Arus modernisasi dan globalisasi memang mustahil ditolak kehadirannya. Yang diperlukan adalah kesigapan kita untuk bersikap adaptif dan lentur agar nilai-nilai modern, global, dan mondial semacam itu bisa bersinergi dengan nilai-nilai jatidiri dan kepribadian bangsa. Oleh karena itu, diperlukan sikap sensitif untuk menyentuh dimensi kesenian dan kebudayaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam dinamika pembangunan karakter bangsa.

Setidaknya, ada dua argumen yang bisa dikemukakan. Pertama, untuk membentengi bangsa dari gerusan nilai-nilai global dan mondial agar jatidiri dan kepribadian bangsa yang sudah teruji lewat sejarah peradaban yang panjang tetap menampilkan entitasnya. Hal ini tak terlepas dari esensi seni dan budaya itu sendiri sebagai elemen humaniora yang mampu menumbuhkan kepekaan nurani, nilai kesalehan hidup (baik individu maupun sosial), dan makna kearifan hidup. Melalui seni dan budaya, mata hati kita akan makin terbuka terhadap persoalan-persoalan kebangsaan sehingga mampu melihat setiap persoalan secara jernih; tidak mudah terjebak dan tergelincir dalam jalan hidup yang mengedepankan otot dan kekerasan.

Kedua, menjadikan ”paket” kesenian dan kebudayaan tak hanya sebatas sebagai bagian dari mata rantai industri yang menjanjikan keuntungan materiil, tetapi juga menjadikannya sebagai ikon peradaban bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat. Dalam skala mikro, para pelaku seni dan budaya agaknya perlu sigap menangkap momen-momen globalisasi dengan menciptakan karya-karya monumental dan representatif yang mampu menembus batas-batas geografis, tak sekadar menjadi karya masterpiece di negeri sendiri. Lobi kesenian dan kebudayaan antarbangsa pun perlu dibuka dan dihidupkan.

Dalam konteks demikian, pemerintah perlu memberikan ruang berkesenian dan berkebudayaan yang lebih bebas dan leluasa bagi kreativitas kaum seniman dan budayawan, tidak lagi dipasung oleh kecurigaan-kecurigaan yang kurang menguntungkan. Berikan hak bagi kaum seniman untuk bergerak mencari ruang berkreasi, mencari publik, dan melakukan kolaborasi lewat paduan estetika yang memikat dan memesona. Tak perlu lagi ada kebijakan pelarangan dan pemberangusan karya-karya seni kaum seniman dan budayawan.

Melalui manifestasi sikap yang sensitif terhadap seni dan budaya, semoga peradaban negeri ini menjadi lebih santun, terhormat, dan bermartabat; tak ada lagi aroma kekerasan yang tercium di tengah-tengah panggung kehidupan sosial kita. ***

Keterangan: gambar dicomot dari sini.

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

33 Comments

  1. mari Pak kita membangun & berkarya dalam seni budaya yang berkarakter, mencerdaskan, mencerahkan & memerdekakan.
    dalam karya2 para leluhur kita baik sastra maupun seni rupa terlihat begitu dalam penghayatan hidup mereka seperti filosofi arsitektur candi sukuh tentang penciptaan manusia, bangunan kraton dimana sebenarnya kalo kita tahu ada filosofi 21 tataran kasampurnan manusia, juga kidung2 kuno yang memeberi petunjuk keteladanan hidup :mrgreen:
    jangan seperti sekarang seni budaya begitu dikomersialkan seperti, contohnya seni musik yang dg sewenang-wenang dijadikan campursari *tidak ada yang salah sih dg kreatifitas hanya :devil seringnya malah jadi campursaru*

    tomys last blog post..MEMBATU

    >>>
    hehehehe 😆 istilah pak tomy pas banget, “campursaru”, haks. memang begitulah yang sedang terjadi sekarang, pak. nilai2 luhur yang terkemas dalam budaya hakiki seringkali dikalahkan oleh budaya massa yang cenderung “ktich”! :oke

  2. pemahaman seni dan budaya sendiri yang banyak ( kebanyakan )terjadi adalah sangat dangkal karena fenomena yang terjadi saat ini adalah ketika peradapan barat masuk kita lantas ramai memuja dang bangga dengan sebutan gaul funky dlsbg yang sedangkan orang yang masih bersih kukuh terhadap budaya malah dianggap katrok .padahal tidak menutup kemungkinan pemahaman sastra yang baik dan pemahaman terhadap budaya yang adiluhung itu bakal membawa kita dalam proses perubahan profesionalisme yang lebih terkontrol kejadian morat maritnya kenegaraan bisa jadi disebabkan ketidakmengertian memaknai seni budaya kita sendiri (bukankah dalam pewayangan sudah ada gambaranya namun kenapa jadi ratu kok sewenang wenang berarti tak memahami makna pewayangan sebagai seni budaya kita sendiri )
    memahami seni dan budaya berarti menjunjung tinggi nilai peradapan dan merupakan kendali dalam menepis dampak yang memungkinkan kita tergelincir menjadi miskin dan tentu pemimpin yang baik tak mungkin semaunya sendiri ( kali ye kikikik )
    atau mungkin sampe pada peradapan yang begitu ( lho kok )

    kambingkelirs last blog post..BATU MARTA

    >>>
    betul sekali, mas totok. akibat rasa inferior yang berlebihan, budayanya sendiri justru tenggelam akibat silau budaya asing. ini perlu didesain ulang dengan membangun peradaban yang sensitif terhadap seni dan budaya, tak hanya berorientasi pada keuntungan finansial melulu, hehehehe 💡

  3. Salam
    Seni dan budaya yang mengakar dari tradisi bangsa, kayaknya bagai jauh panggang dari api ya jika dihubungkan dengan generasi kekinian, ah siapa yang bertanggung jawab, akhirnya seni dan budaya lokal ujung2nya jadi industri untuk diperjualbelikan bukan terbit karena kesadaran dan kebutuhan jiwa. sayang memang..*tarik nafas*

    nenyoks last blog post..Home SweeT Home

    >>>
    hehehehe 😆 makanya perlu ada upaya serius agar generasi masa kini mulai peduli terhadap seni dan budaya bangsanya. seni dan budaya pun mesti tak hanya dikemas utk keperluan industri tapi harus menjadi ikon bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat. salam juga, mbak nenyok. :oke

  4. Hmm, peradaban yang bagaimana menurut bapak sesuai dengan kondisi bangsa saat ini? Atau kehidupan berpolitik seperti apa yang seharusnya kita terapkan untuk menjadikan negeri ini kembali ke jalan yang benar?

    Iis sugiantis last blog post..Dialog Warisan Sawah Temin!

    >>>
    waduh, pertanyaan yang tak mudah dijawab, mbak is. kalau menurut pemikiran awamku sih peradaban yang berbasis pada nilai2 kearifan lokal. itu bisa dilakukan dengan mendesain peradaban yang sensitif terhadap seni dan budaya. jadi, tak hanya perhitungan2 ekonomis dan keuntungan materi melulu, hehehe 😆 💡

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Budaya

Pilpres, Mudik, dan Lebaran

Oleh: Sawali Tuhusetya Suasana Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Go to Top